Noid 36

1093 Words
Di dorm saat ini Heosok, Jeon-gu, Namjun dan Seojin sibuk menunggu sarapan yang dibuatkan oleh si kembar dan juga Mimin. Setelah pengakuan dari sang leaders membuat mereka kini mendapatkan waktu untuk beristirahat sejenak karena jadwal comeback mereka dan terpaksa ditunda. Para penggemar bukan hanya mendatangi kantor B home tetapi juga banyak yang penasaran hingga menunggu para member BTL hingga larut malam. Kedatangan para penggemar dan juga para pencari berita yang terus saja menunggu itu jelas mengganggu kegiatan para member. Lagi pula saat ini yunki sedang sakit dan dalam masa pemulihan. Sehingga tertundanya comeback mereka ini, bisa memberikan waktu kepada si pucat untuk beristirahat lebih banyak. Sehingga mereka bisa kembali dengan formasi yang lengkap. Heosok menatap member lain. Iya teringat bahwa kemarin ia bertemu dengan Nami yang bertanya tentang keberadaan telur yang kini telah menjadi gadis kembar itu. "Kemarin aku ketemu perempuan yang nanyain tentang keberadaan telur?" Heosok membuka percakapan di meja makan pagi ini setelah hening beberapa saat. Beberapa member menoleh menatap penasaran. Tentu saja yang mereka pikirkan adalah bagaimana ia tahu mengenai telur itu. "Kok dia bisa tahu kalau di sini ada telur?" Tanya Seojin penasaran. "Tentu aja dia tahu karena orang itu yang ngasih kita hadiah telur ajaib itu." Heosok memberikan jawaban karena kemarin ia telah bertanya kepada Nami tentang bagaimana ia bisa mengetahui tentang telur ajaib itu. "Lebih baik kamu segera panggil dia buat datang ke sini. Supaya kita bisa tahu sebenarnya telur itu telur apa." Namjun memberikan saran. Seojin mengangguk menyetujui apa yang dikatakan sang leader. "Meskipun kita udah sayang banget sama si kembar kita enggak tau mereka ini apa, dan gimana penanganan yang tepat." "Iya Hyung, gimana kalau mereka berubah lagi jadi sesuatu?" Jeon-gu menimpali. Buat semua yang berada di sana memikirkan apa yang dikatakan si bungsu. Dalam pikiran mereka Bagaimana jika duo kembar itu berubah menjadi sosok yang menyeramkan atau membahayakan. Tatapan Seojin membulat diet juga memikirkan apa yang dikatakan oleh Jeon-gu. Ia menatap Heosok yang sama takutnya. Lalu di saat mereka semua sedang memikirkan tentang kemungkinan buruk itu, kedua kembar berjalan mendekat membawakan mereka nasi goreng kimchi dan juga aneka frozen food yang sudah mereka goreng. Gadis-gadis itu terlihat begitu bahagia dan tersenyum sambil mengantarkan sarapan yang mereka buat untuk para member BTL. Namjun menggelengkan kepalanya ia menolak mentah-mentah Apa yang kini tengah berada dalam pikirannya, bahwa kedua makhluk yang kini sedang menyiapkan dan menyajikan sarapan itu, adalah sosok yang akan menjadi sesuatu yang menyeramkan atau mengancam. "Udah, udah, kalian jangan mikir macam-macam lihat tuh mereka tuh lucu banget. Masa mereka bisa menjadi sesuatu yang membahayakan?" Tanya Namjun pada member lain. Heosok dan Seojin mengangguk, keduanya lalu menatap pada Bonbon dan bong-bong yang kini sedang menyajikan nasi goreng ke piring-piring para member. Tapi, Jeon-gu kini malah sudah sibuk dengan makanan di atas piringnya setelah sukses membuat para member lain berpikiran buruk tentang squinoid. "Yang jelas kita tetap harus manggil Gadis itu untuk menjelaskan sebenarnya makhluk ini itu apa?" Ucap Namjun. "Besok aku akan hubungi dia Hyung," sahut Heosok. Sementara yang tengah dibicarakan kini sudah mulai menyantap masakan mereka sendiri sebagai sarapan. Bonbon juga telah memisahkan sarapan untuk yonki yang akan ia berikan nanti ketika si pucat sudah terbangun dari tidurnya. *** Sementara pagi ini Tae sudah sampai di depan rumah Soogi. Pria itu sengaja bangun lebih pagi untuk bisa datang ke rumah wanita yang ia sukai itu. Meskipun hasil keputusan pengadilan bahwa Jijji akan tetap dirawat oleh sang ibu itu tetap membuat dia merasa cemas. Karena di hari-hari sebelum keputusan pengadilan Soogi terlihat gelisah dan mengeluh sakit kepala. Pria dengan senyum kotak itu kini telah duduk di ruang makan sementara Soogi sedang menyiapkan sarapan pagi. Ia membuat sup tofu, juga dengan lauk ikan makarel bakar, dilengkapi dengan kimchi lobak. Setelah makanan siap ia menyiapkan ke atas meja makan. "Stop, kamu duduk aja Nun. Biar aku yang bawa sup nya." Tae membantu membawakan sup ke atas meja makan karena ia takut Soogi akan kepanasan. "Makasih Tae," ucap Soogi yang kemudian duduk. Tae bergerak menuju kompor dia memakai pegangan anti panas sebelum mengangkat sup yang sudah disiapkan Soogi di atas mangkok kaca besar. Ia berjalan dengan hati-hati kemudian meletakkan sup itu di atas meja kemudian duduk di samping Soogi. "Tumben kamu pagi-pagi udah ke sini?" Tae mengangguk sambil menyendok sup sebelum ada aba-aba dari Soogi. "aku ke sini soalnya masih khawatir sama keadaan kamu sama jijji. Tapi, pas ke sini jijji udah enggak ada." "Iya Jijji harus sekolah lebih pagi karena ada kegiatan di sekolah pagi ini. Aku udah nggak papa, udah baik-baik aja. Apalagi yang dengar keputusannya Kalau akhirnya anak aku hak asuhnya jatuh ke tanganku," jelas Soogi ia tak ingin membuat Tae khawatir. "Bagus, lah aku seneng kalau kamu udh baik-baik aja Nun. Apa James hubungi kamu setelah kejadian kemarin?" Tanya Tae. Soogi gelengkan kepala. "Tapi aku yakin dia akan secepat mungkin balik ke Amerika. Karena udah enggak ada hal yang dia harapkan di sini. Meski aku mau hubungan dia dan Jijji tetap baik-baik aja, tapi aku malah ngerasa ketakutan sekarang." Tae mengangguk, ia jelas mengerti mengapa saat ini Soogi merasa ketakutan. Tentu saja itu karena tuntutan hak asuh yang telah dilakukan James tempo lalu. Membuat perasaan wanita itu menjadi berbeda dan merasa seolah bahwa James akan merebut anaknya tentu saja itu membuat Soogi merasa ketakutan dan tak nyaman pada mantan suaminya itu. Soogi menatap Tae yang kini tengah menikmati santapan paginya dengan lahap. Iya memikirkan apakah akan memberitahu tentang kehamilannya pada Tae. "Kenapa Nun?" Tanya Tae yang merasa diperhatikan. "Tae, Kalau aku hamil gimana?" Tanya Soogi penasaran. "Aku bakal tanggung jawab. Kita nikah secepatnya Nun." Jawab Tae yakin. "Kamu hamil Nun?" Soogi tak menjawab, "secepatnya? Kamu nggak takut karir kamu hancur? Tae terdiam sesaat, ia tersenyum lalu menggenggam tangan Soogi . "hal yang paling menakutkan memang ketika kita jatuh setelah cukup lama ada berada di atas. Tapi, aku juga sadar, nggak akan selamanya ada di atas. Dan aku juga tau nggak bisa selamanya aku hidup sebagai Taetae Member BTL. Aku mau jadi Taetae seorang ayah dari anak-anaknya. Aku mau hidup sebagai seorang laki-laki dengan wanita yang sayang dan disayangi wanita pilihannya. Aku ingin jadi seorang yang akan dipanggil ayah. Aku juga mau bangun tidur dan di sebelahku bukan lagi Namjun Hyung tapi seorang wanita, ibu dari anak-anakku nanti. Aku udah hampir 35 tahun nun, aku siap untuk itu semua,* jawab Tae diiringi senyuman berusaha meyakinkan wanitanya bahwa semua akan baik-baik saja. Soogi hanya terdiam, jujur jawaban dari Tae benar-benar menggetarkan hatinya. Ia yakin jika Tae bisa jadi ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak. Ia sendiri masih bingung apa ia harus menceritakan masalah kehamilannya pada Tae?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD