Siang ini suasana U and I kopi milik Reya tengah ramai. Di taman yanng berada di samping kafe dibuat spot yang cantik dengan nuansa vintage yang bisa digunakan oleh para pelanggan untuk mengambil foto yang aestetik. Spot itu memang sengaja dibuat sebagai kebutuhan anak muda masa kini yang menyukai kegiatan fotografi, mengambil gambar terbaik dan cantik agar mendapatkan respon positif di sosial media. Dan Reya memanfaatkan itu untuk menarik pelanggan agar coffee shop miliknya semakin ramai pelanggan.
Gadis itu kini tengah duduk di ruangannya. Sejak pagi ia merasa sedikit mual membuat tubuhnya juga terasa sedikit tak enak karena kehamilan yang ia rasakan. Apalagi sejujurnya respon yang diberikan Jimmy tempo hari membuat ia kecewa.
Pintu di ketuk membuat Reya menoleh.
"Masuk," sahutnya dari dalam.
Seorang gadis masuk, ia adalah Ahreum salah satu karyawan yang menjadi salah satu orang kepercayaannya. Ahreum juga adalah teman saat ia sekolah menengah pertama dulu. Ahreum dan sang adik, Yuna menjadi salah satu pekerja yang dipercaya oleh Reya.
"Kenapa?" tanya Reya.
"Aku lihat dari kamu datang sampai sekarang kamu belum makan. Ini udah siang apa kamu mau sesuatu?" tawar Ahreum yang khawatir dengan keadaan Reya.
Reya menggelengkan kepalanya. "Aku lagi enggak mau makan apa-apa."
Ahreum berjalan mendekat, ia lalu duduk di kursi yang tepat berada di hadapan Reya. "Inget punya asam lambung."
Reya menatap Ahreum yang kini menatapnya dengan menaik turunkan alisnya. "Enaknya makan apa ya?"
"Matcha cheese cake?"
Reya menggelengkan kepala, rasanya membayangkan itu saja sudah membuat dirinya mual. "Enggak dulu deh."
"Hmm, tumben banget?" tanya Ahreum penasaran. Biasanya Reya tak pernah menolak jika berkaitan dengan cheese cake.
Reya menganggukkan kepalanya, "Males aja."
"Bosan ya?" tanya Ahreum lagi.
reya mengangguk. "Aku mau wafel tanpa toping buat ganjal perut, bisa minta tolong kamu kasih tau Inho buatin?"
Ahreum menganggukkan kepala. "OKe, minumnya?"
"Air mineral cukup. Terima kasih Ahreum, maaf aku ngerepotin kamu."
"No need thank you Rey. Tunggu ya, aku tau kamu pasti enggak enak badan. Soalnya kalau kamu sehat pasti udah keliling dan cek semuanya." Ahreum jelas sangat mengetahui jika saat ini sang atasan dalam kondisi yang tak baik. Melihat kebiasaan yang sering dilakukan Reya.
Setelahnya Reya kembali sendiri. Ia merebahkan kepalanya di atas meja kerjanya. Kepalanya terasa berat memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Sejujurnya, dalam hatinya berdebar merasakan kebahagian mengetahui jika ada janin yang tumbuh di dalam rahimnya. Namun, mengetahui reaksi Jimmy kemarin menunjukkan kalau pria itu tak menginginkan kehamilan ini. Reya memegangi perutnya, mengusapnya perlahan.
"Semakin lama akan semakin berat, baby .., maaf aku mungkin ibu yang enggak bertanggung jawab."
Tak lama ponsel Reya berdering ia segera mengambil ponsel miliknya yang tergeletak tepat di atas meja. Ia melihat nama pemanggil dan menemukan nama Jimmy. Ia segera menerima panggilan kekasihnya itu.
"Yeoboseyo," sapa Reya.
"Chagiya kamu di mana?" tanya Jimmy
"Aku ada di kafe kenapa?"
"Aku ke sana, aku pingin jalan-jalan sama kamu. Kita jajan yuk?" ajak Jimmy.
"Oke aku tunggu kamu ya?''
"Iya, aku sebentar lagi sampai, aku tunggu di pintu belakang kaya biasa ya?"
"hmm, oke," sahut Reya.
Jimmy kemudian mematikan panggilannya. Sementara Reya mulai merapikan tas miliknya, kemudian memakai kemeja flanel over size miliknya yang tergantung di kursi. Setelahnya, gadis itu berjalan ke luar dari ruangannya. Ia melangkah menuju dapur dan duduk di kursi yang berada di sudut dapur.
Inho tengah membuah wafel yang tadi diminta oleh Reya. Sambil menunggu matang pria itu berjalan menuju lemari pendingin, mengambil sebotol air mineral dan memberikan pada Reya.
"Minumnya dulu ya," ucap Inho.
"Inho-yaa minta tolong buatin satu frappuccino red velvet sama wafelnya dibungkus aja ya," kata Reya meminta tolong.
Inho mengangguk. "Mau ke luar?"
"Iya, tolong ya."
"Oke Bos."
Reya menunggu tak lama, setelahnya ia berjalan ke pintu belakang untuk menunggu Jimmy sambil membawa minuman yang ia pesan khusus untuk kekasihnya. Mobil hitam milik Jimmy terlihat berhenti tak jauh dari sana. Reya segera berjalan dengan cepat menghampiri dan segera masuk ke dalam. Jimmy tersenyum melihat Reya, Sementara saat itu gadis pujaan hatinya itu kini tengah merapikan posisi duduknya.
"Ini buat kamu," ucap Reya memberikan minuman untuk Jimmy.
Jimmy menerima an segera meneguknya. "Tau aja kamu aku haus."
Reya hanya tersenyum sambil sibuk merapikan sabuk pengaman. Setelahnya, mobil itu melaju membelah jalanan sepi di kota Seoul. Reya segera mengunyah wafel yang tadi dibuat oleh Inho.
"Chagi kamu mau?" tawar Reya.
Jimmy menoleh sesaat dan mengangguk, Reya segera menyuapi Jimmy. "Enggak pakai toping?"
"Enggak, aku lagi males makan makanan manis," jawab Reya.
Jimmy memerhatikan kekasihnya yang terlihat pucat. "Kamu sakit ya?"
Reya gelengkan kepalanya ia tak ingin membuat Jimmy cemas. "Enggak kok."
"Kita ke rumah kamu aja kalau gitu, kamu pucet gitu dari kemarin. Harusnya kamu istirahat sayang, jangan memaksakan diri untuk ke kafe."
"Iya, aku istirahat.'
Jimmy kemudian meletakan tangannya ke atas kepala Reya dan mengusap-usap. Ia merasakan kening Reya yang demam. Sementara apa yang dilakukan Jimmy membuat ia merasa nyaman. Lalu ketika tangan kekasihnya itu ingin bergerak menjauh, Reya menahannya.
"Bisa tangan kamu di sini dulu, pusing aku berkurang." Reya meminta.
Jimmy mengangguk seraya kemudian memijat lembut kepala Reya yang kini tengah memejamkan matanya.
"Enak?"
"hmm," sahut Reya sambil mengangguk.
"Aku nyetir dulu ya, aku pijat kepala kamu di rumah nanti, aku juga buatin bubur buat kamu." Jimmy menggenggam tangan kekasihnya lalu mengecupnya kemudian kembali fokus dengan kemudinya.
***
Sementara kini Profesor berada di ruangannya ia terdiam dan berpikir. Di atas mejanya telah ada foto-foto para squinoid buatannya, Bonbon dan Bongbong. Ia sudah mendapatkan titik terang hanya saja ia masih memikirkan cara yang tepa untuknya bisa mengambil kembali mahluk ciptaannya itu untuk disempurnakan kembali. Squinoid yang ia buat itu masih berupa sampel dan masih dalam tahap pengembangan. Hanya saja seelah melihat apa yang terjadi dan terlihat dua gadis squinoid yang diambil darii DNA puteri tunggalnya itu telah berhasil tumbuh dengan baik. Jelas itu menjadi bukti kalau ciptaannya itu bisa berkembang sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Saat itu sang asisten masuk Nona Shin, berjalan mendekat membawakan segelas kopi untuk sang profesor. Ia kemudian duduk di kursi yang berada tepat di samping Profesor Go.
"jadi mereka sudah pasti ditemukan Prof?"
Profesor Go mengangguk. "Hanya butuh cara untuk membawa mereka kembali. Bagaimanapun mereka manusia meski memiliki kelebihan tertentu karena aku menambahkan beberapa gen dari hasil penelitian yang ingin dikembangkan oleh pemerintah barat sebelumnya."
"Kita harus segera mengambil squinoid itu sebelum Prof Sam yang mendapatkannya."
Prof Go anggukan kepala tentu saja ia akan mencoba mendapatkan kembali squnoid buatannya untuk disempurnakan dan tak akan ia biarkan diambil oleh pihak yang tak bertanggung jawab.