Siang ini Tae mengunjungi Soogi untuk mengajak wanita yang ia cintai itu ke dorm sebelum mereka menjemput Jijji siang ini. Sengaja pria itu tak makan siang untuk menikmati santapan siang buatan Soogi.
Pria itu duduk seraya tersenyum menatap Soogi yang tengah memasak. Sepertinya kini makan siang di rumah Soogi. Akan menjadi kebiasaan yang menyenangkan untuk dirinya. Belakangan tae sering membayangkan bagaimana jika ia hidup bersama Soogi, wanita yang begitu ia cintai. Soogi memang belum memberitahu kehamilannya pada Tae. Karena ia merasa kalau itu belum bisa ia lakukan karena ia memikirkan tentang comeback yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Meski saat ini comeback ditunda, tapi pihak manajemen sama sekali tak mengatakan perihal pembatalan. Soogi meyakinkan diri kalau ia akan memberitahu Tae di saat yang tepat.
"Tae bisa bantu aku?" tanya Soogi.
Tanpa berkata--kata Tae segera berdiri dan berjalan menghampiri. Melihat Soogi yang sudah menuangkan sup rumput laut yang bagus untuk kehamilannya.
"Kenapa kamu masak sup rumput laut Nun?' tanya Tae.
Soogi menoleh kemudian kembali menyendokkan sup ke dalam mangkuk. "Aku cuma lagi mau makan itu aja, ayo bawa ke meja aku bawa daging ini." pinta Soogi.
Tae kemudian membawa sup dan meletakan di atas meja makan. Ia lalu segera duduk kembali menunggu Soogi yang kini sudah berada di hadapannya dan tengah menyajikan nasi di mangkuk milik TAe.
"Segini cukup?" tanya Soogi.
"Cukup," jawab Tae.
Soogi kemudian memberikan mangkuk kepada tae, setelahnya ia mengambilkan nasi untuk dirinya sendiri. Mereka makan siang bersama Tae tak banyak bicara karena ia sibuk memerhatikan Soogi yang makan dnegan lahap dan itu membuat ia tersenyum sendiri karena merasa gemas melihat Soogi makan dengan kedua pipinya yang menggembung seperti seekor tupai.
"Hari ini kalian mau latihan?" tanya Soogi.
"Hari ini akan ada gadis yang ngaku kalau dia yang bawa telur squizy itu." Tae menjawab masih sambil menyantap makan siangnya.
Soogi menatap antusias pada pria di hadapannya. "Hah?! Dia yang kasih kalian Bonbon sama Bongbong?!"
"Iya, Namjun hyung bilang dia takut kalau mungkin akan terjadi sesuatu. Maka dari itu dia penasaran dan meminta agar kita semua ketemu sama gadis itu. Jimmy bawa Reya dan aku bawa kamu, karena kalian sama-sama perempuan, Yunki Hyung bilang kalau mungkin nanti gadis itu akan lebih nyaman."
"Kan ada MInji?"
"Minji belum berani kemana-mana karena dia masih diikuti wartawan sampai saat ini."
"Aduh kesian," ucap Soogi.
"Kalau kamu sama aku kamu mungkin akan juga diikutin kaya gitu Nun. Tapi, jangan takut ya karena aku akan selalu ada buat kamu." Tae mengatakan itu dengan tulus, ia tersenyum lalu kembali menyantap makan siang miliknya.
Soogi menatap Tae sesaat tak menampik segala yang dikatakan pria itu membuat ia merasa nyaman dan tenang. Ia lama bertahan dengan berusaha tak bersandar pada siapapun hanya mengandalkan pijakan kakinya demi dirinya dan Jijji. Kini kehadiran Tae membuat ia merasa bisa kembali meletakan harapan yang telah lama ia sandarkan pada angan dan angin. Sejujurnya, Soogi takut jika merasa lemah dan kemudian ditinggalkan. Hanya saja, kali ini ia merasa apa yang dikatakan Tae sebuah ketulusan yang bisa ia percayai.
Selesai makan keduanya segera melangkahkan kakinya ke luar untuk segera menuju dorm. Langkah mereka terhenti saat melihat sosok yang kini berada di hadapan mereka. Buat Soogi dan tae saling menatap.
Sementara saat ini di dorm Jimmy tengah menonton televisi bersama. Sementara Namjun, Seojin dan Jeon-gu kini berada di ruang tamu menunggu Heosok yang tengah menghampiri Nami di pantry. heosok telah menghubungi Nami dan akan bertemu lebih cepat.
Saat itu Heosok berjalan masuk melewati Jimmy dan Reya bersama dengan Nami yang berjalan di belakangnya. Langkah kaki yang Jimmy dengar membuatnya menoleh. Ia melihat Heosok yang berjalan mendekat dengan seorang gadis yang mengikutinya di belakang. Jimy sudah tau dengan pasti kalau gadis yang kini berjalan di belakangnya adalah Nami. Gadis yang menanyakan tentang telur pada Heosok.
"Yang lain ke mana jimm?" tanya Heosok lagi.
"Di ruang tamu," jawab jimmy.
"Aku rasa Bongbong dan Bonbon lebih baik aku bawa ke luar dulu gimana? Aku takut kalau mereka terlalu kaget atau gimana?" Reya mengemukakkan pendapatnya. ia merasa jika si kembar lebih baik berada di luar sementara semua hal akan dibicarakan.
Jimmy anggukan kepalanya, ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Reya. bagaimanapun kedua telur itu masih memiliki pemikiran layaknya remaja yang sulit untuk ditebak.
"Oke kalau gitu aku minta tolong ya Rey?"
"Oke, aku ke luar sama mereka kalau semua sudah jelas tolong segera hubungi aku ya?" ucap Reya segera dijawab anggukan oleh Jimmy dan Heosok.
Reya berjalan menuju kamar saat Heosok, Jimmy dan Nami berjalan menuju ruang tamu. Nami memerhatikan Reya ia adalah penggemar BTL ada sedikit rasa kecewa saat melhat kedekatan Jimmy dan Reya saat keduanya tengah menyaksikan televisi tadi.
nami kini di hadapkan pada para Member BTL yang sudah nunggu. Entah naas atau keberuntungan baginya kini. Sebagai penggemar seharusnya ia merasa bahagia karena kini dikelilingi sang idola. Hanya saja kini perasaannya tak keruan karena jelas saat ini ia berada di sana karena masalah yang ia buat.
"Jadi kamu bisa jelasin gimana dan darimana kamu dapat telur itu?" tanya Namjun membuka pembicaraan di antara mereka.
Nami menjelaskan tentang asal muasal gadis itu menemukan telur. Telur itu tertinggal di bandara saat Prof Go kembali ke Korea dan ia mengira jika itu adalah sebuah lampu atau mainan yang unik. telur berisi boneka cantik itu sengaja ia simpan hingga tiba saat ia datang ke acara jumpa fans BTL. Kemudian hidupnya mulai tak tenang saat dua orang dengan tiba-tiba membuntuti. Sejak itu ia diminta untuk mencari dan mendapatkan kembali telur ajaib itu.
"Jadi alasan aku ada di sini saat ini juga karena kedua orang itu." Nami mengakhiri ceritanya.
"Jadi mereka yang buat telur itu?" tanya Yunki.
Nami menggelengkan kepalanya, "harusnya kalau mereka yang buat, mereka ggak akan susah-susah buat cari formula yang mereka pakai. Tapi , ini mereka terus bilang harus tau formula pembuatannya dan bahkan ketika aku tanya appa sebenarnya isi telur itu mereka cuma menjawab engggak tau atau meminta aku untuk diam."
Ke enam member bangtan, memikirkan apa yang dibicarakan Putri. Masalahnya, mereka sudah terlanjur sayang pada dua telur itu. Selama beberapa bulan ini mereka menjadi dekat layaknya anak sendiri?
"Jadi sekarang nyawa kamu terancam?" Tanya Heosok.
Nami mengangguk, "Mereka bilang kalau aku enggak bisa ambil telur itu di bulan ke tiga ini mereka akan bunuh aku."
Apa yang dikatakan Nami membuat semua member merasa kasihan. hanya saja tentu saja mereka juga tak tau bagaimana caranya untuk membantu Nami.
"Gimana kalau kita lapor polisi?" Tanya Jeon-gu.
"akan lebih sulit karena kita pasti juga harus menjelaskan tentang Bonbon dan Bongbong," Namjun buka suara. Tentu saja alasan pengejaran ini harus diceritakan sementara mereka tak mengetahui siapa pemilik telur ini sebenarnya.
melirik ke arah ke enam pria tampan di hadapannya.
***
Saat itu Tae dan Soogi berjalan bersama Soogi dan Prof Go memasuki dorm. Sosok yang membuat langkah Tae dan Soogi terhenti adalah Profesor Go. Awalnya Soogi mengira kalau ia ingin meminta Jijji untuk mengikuti beasiswa musik lagi. Namun, prof Go malah bertanya tentang squinoid buatannya. Tae bertanya tentang apa dan bagiamana telur itu, semua jawaban yang dilontarkan sang profesor memberitahu kalau profesor itu benar-benar yang mengembangkan dan pemilik dari telur itu.
Semua terkejut saat Tae masuk bersama Soogi juga orang asing yang belum mereka kenal.
"Hyung ini Profesor Go dia yang menciptakan Bongbon dan Bongboong," ucap tae.
yang lain kemudian mempersilahkan sang profesor untuk duduk. Segera prof Go memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang asal muasal squinoid dengan detail.
"Jadi itu DNA dari anak profesor yang sudah meninggal?" Tanya Namjun.
Profesor Go mengangguk, "Betul itu aku buat dari Dna anak perempuanku yang meninggal."
Mendengar itu member BTL jelas merasa sedih dan bersalah. Hanya saja tetap masalah ini harus mereka ketahui dari akar agar bisa mengambil keputusan yang tepat.
"Loh, bukannya itu ilegal prof?" Tanya Namjun lagi.
"Iya, maka dari itu. Aku ingin minta ke dua anakku itu. Mereka itu bahan percobaan yang masih dalam tahap pengembangan. Mempermudah manusia menciptakan anak tanpa pernikahan. Ini permintaan pemerintah Jepang. Karena populasi manusia mereka yang semakin sendikit. Tapi— ada pihak lain yang tau masalah ini. Mereka mengejar limpahan uang yang akan didapat dari proyek ini." Jelas profesor Go. "Dan untuk Nami, tak perlu khawatir. Aku akan minta pemerintahan Jepang membantu penanganan masalah ini. Kalau boleh aku tau dimana kedua Squinoid itu?"
"Ah, mereka ke luar. Aku akan menghubungi mereka sebentar." Ucap Jimmy segera mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi sang kekasih.
Reya mengajak duo squinoid itu ke luar, mereka mampir ke sebuah minimarket. Mereka saat ini asik makan es krim. Tapi, Reya malah melamun dan sibuk dengan pikirannya. tentu saja apa yang ia pikirkan adalah tentang anak dalam kandungannya dan juga apa ia harus memberitahu jimmy tentang kehamilannya.
Bonbon melirik ke arah Bongbong. Bongbong hanya mengangkat bahu. Ia sendiri bingung tak tau apa yang terjadi dengan reya.
"Eonni —" panggil Bongbong.
"Hmm?" Tanya Reya sedikit tersentak kaget.
"Esnya lumer." Ucap Bongbong lagi sambil menunjuk es yang mencair ke tangan reya.
"Ah iya," Reya segera menghapus es yang mencair di tangan dan meja dengan tisu yang berada di atas meja tepat berada di hadapannya. Bonbon ikut menghapus es yang mencair di tangan Reya.
"Eomma, kenapa?" Tanya Bonbon.
"Gapapa kok, makan esnya ya," ucap Reya tak ingin membuat kedua anak itu cemas.
Duo telur saling menatap, Bonbon terlihat paling cemas dengan reya.
"Apa ini karena sesuatu dalam perut eomma?" Tanya Bonbon.
Saat itu ponsel Reya berdering, Jimmy menghubunginya agar segera kebal ke dorm. Setidaknya reya memiliki alasan untuk tak menjawab pertanyaan Bonbon barusa.
"Kita pulang Yuk, ada yang mau ketemu sama kalian."