Love 39

1107 Words
Setelah menerima panggilan dari Jimmy, Reya tak segera kembali karena Bongbong dan Bonbon yang merasa lapar. Karena itu ia membiarkan keduanya untuk makan sebelum akhirnya kembali ke dorm. Setelah selesai makan siang, Reya dengan segera mengantar keduanya untuk segera kembali pulang. Reya sibuk mengendari mobil miliknya, Bonbon duduk di sebelahnya sementara Bongbong duduk di kursi penumpang belakang. Bonnbon menatap Reya dengan cemas, apalagi sejak tadi Reya memilih diam setelah salah satu gadis telur itu mengetahui tentang kehamilannya. Merasa ada yang aneh dnegan Bonbon, membuat Bongbong menyentuh bahu saudara kembarnya. Tak ada yang ia katakan, tapi dengan jelas raut wajah Bongbong berubah menjadi cemas. Bongbong menyerap informasi yang diberikan oleh Bonbon tentang apa yang ia ketahui setelah menyentuh Reya tadi. "Eonni, jangan pergi," ucap Bongbong memohon. "Iyaa, nggak akan pergi. Asal kalian janji jangan bilang ini ke Yunki atau Jimmy. Mereka kan kerja, kalau tau ini bisa kepikiran nanti," ucap reya berusaha tenang setelah keduanya sukses membuat perasaanya menjadi ketakutan. DuoB saling tatap, sebenarnya mereka merasa tak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Reya. Hanya saja mereka menganggukkan kepalanya kemudian setelah mendengar apa yang dikatakan gadis itu. Yang jelas kedua gadis squinoid itu juga tak mau membuat sang ayah merasa cemas dengan apa yang mereka katakan. Perjalan tak terlalu jauh untuk sampai di apartemen. Ketiganya segera berjalan turun dari mobil, dan melangkahkan kaki bersama. Berjalan menuju lobby keduanya bertemu dengan Jijji dan Soogi. Soogi tadi menyempatkan diri untuk menjemput buah hatinya itu. Soogi segera bangkit dan berjalan menghampiri Reya. jijji kini bahkan telah memeluk sang bibi. "Jijji udah pulang ya?" tanya Reya diikuti anggukan oleh Jijji. "Iya, Jijji kangen sama imo Reya, udah lama enggak ketemu," ucap Jijji. "Iya, imo juga kangen banget sama Jijji." Reya menjawab kemudian mencium kedua pipi gadis cantik itu. "Aku enggak bawa kartu pengenal, jadi enggak bisa naik ke atas," ucap Soogi. Belakangan penjagaan terhadap member BTL diperketat. Termasuk akses masuk yang dijaga khusus oleh staf. Soogi sebenarnya bisa saja menghubungi tae. Hanya saja ia memilih untuk menunggu Reya. Setelahnya mereka semua berjalan masuk. Dan kini semua telah berkumpul di ruang tengah. Reya belum mengetahui detai ceritanya ia kini hanya duduk di sofa sementara duo kembar itu menatap dengan heran pada Profesor Go yang juga menatap hasil karyanya dengan kagum, membuat dirinya terkejut karena kini bisa melihat dengan jelas kalau keduanya benar-benar mirip dnegan Zana mendiang putrinya. Melihat squnoid buatannya merasa bingung, Prof Go mengulurkan tangannya. "kalian bisa baca apa yang ada dalam pikiranku kan?" Profesor Go bahkan mengetahui kemampuan yang dimiliki keduanya. Tentu saja itu karena ia sendri yang memasukan gen buatannya ke dalam squnoid. Bonbon dan Bongbong tak bergerak keduanya masih enggan karena terasa mencurigakan. "Sudah berapa bulan sejak mereka menetas?" Tanya profesor Go. "Kurang lebih 6 bulan," jawab Yunki Profesor Go menghela nafasnya terlihat kecewa. "kalau begitu 6 bulan lagi sampai mereka bisa benar-benar lepas dari induknya." "Induk?" Gumam semua yang ada di sana bersamaan. "Iya, orang yang menyentuh tombol untuk menghidupkan mereka. Mereka akan belajar dan mengembangkan pikiran selama setahun sampai mengerti semua hal. Aku akan mengembangkan obat agar mereka bisa kubawa lebih cepat." "Nggak mau!!" Teriak duoB bersamaan. "Bonbon mau sama appa." Rengek Bonbon dan berlari ke arah Yunki. "Aku juga," rengek Bongbong dan berlari memeluk Tae. Tentu saja hal ini membuat Profesor tak bisa dengan segera membawa Bonbon dan Bongbong yang mash begitu tergantung pada induk mereka masing-masing. Ia harus menunggu lebih lama lagi untuk membuat keduanya dewasa dan akan melakukan pengecekan juga beberapa perbaikan yang dibutuhkan. Setelah pertemuan dengan Profesor Go berakhir dengan kegagalan. Kini tae mengantarkan wanita yang ia cintia itu untuk kembali pulang ke rumah. Sejak tadi Tae memerhatikan Soogi yang memilih untuk diam. Sementara Jijji ikut Reya ia ingin menginap di rumah Reya karena besok adalah hari libur. Reya akan mengajak Jijji uuntuk berjalan-jalan dulu ke Sungai Han untuk sekadar menikmati es krim. Tentu saja Soogi mengijinkan karena dengan itu Jijji bisa merasa memiliki keluarga lain. Mobil terhenti tepat di depan rumah Soogi, Tae dengan perhatian segera membukakan sabuk pengaman wanitanya. "Terima kasih," ucap Soogi. Tae menatap Soogi, "Nun ada yang mau kamu omongin sama aku?' Soogi menatap Tae kemudian mengangguk, wanita itu telah memutuskan kalau ia akan mengatakan tentang kehamilannya pada Tae. Ia tak mungkin menunda lagi karena perutnya akan semakin besar. Lagipula tae memang ayah dari anak ini. Sejak ia bercerai, Soogi tak melakukan hubungan dalam bentuk apapun dengan makhluk bernama laki-laki. Hanya dengan Tae malam itu karena ia yang tengah mabuk berat. Tae dan Soogi melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Soogi meminta pria pemilik senyum kotak itu untuk duduk menunggu sementara ia mengambil minuman bersoda untuk Tae dan air mineral untuk dirinya. Soogi kembali dan memberikan minuman untuk Tae. Ia lalu duduk di samping pria yang kini menatapnya dengan penasaran itu. "Aku mau ngaku," ucap Soogi membuka pembicaraan di antara mereka. "Ngaku apa Nun?" tanya Tae penasaran. "Aku udah melakukan pemeriksaan kehamilan." Soogi menjawab. "Aku tau dan hasilnya positif kan?" Tae bertanya lalu tersenyum dan itu jelas membuat Soogi heran. "Kok kamu tau?" "Sikap dan tingkah kamu yang buat aku menyimpulkan sendiri. Kamu pikir aku datang setiap pagi cuma untuk sarapan? Aku mau nemenin kamu siapa tau kamu mual dan ngalamin morning sickness. Aku bersyukur kalau kamu enggak ngalamin itu semua selama kehamilan anak kita." Tae mengatakan semua pada Soogi dan jelas itu membuat wanita itu merasa terharu dengan apa yang dilakukan Tae. Soogi menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia jelas merasa bahagia karena diperhatikan dnegan baik oleh ayah dari janin yang kini berada dalama rahimnya. Tae memeluk Soogi, "Jangan nangis, nanti anak kita sedih juga karena ibunya nangis." "Aku takut akan ngerusak karir kamu," ucap Soogi. Tae kecupi pucuk kepala Soogi, " Aku udah bilang kalau aku siap dnegan semua kan?? Kenapa kamu masih ragu juga? Aku enggak akan bertanya kalau belum siap dan memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi kedepannya." Tae melepaskan pelukannya, lalu menatap Soogi yang masih meneteskan air matanya. Ia lalu menghapus air mata dari wajah wanita yang ia sayangi itu yang kini juga telah menjadi ibu dari anaknya kelak. "Yang jadi pikiran aku bagaimana cara kita kasih tau ke Jijji," ucap Tae. "Jijji pasti kecewa sama aku." Soogi berujar sedih. Tae menggelengkan kepalanya, ia kembali memeluk Soogi. "Enggak, kamu itu ibu yang hebat. Mungkin Jijii akan marah, tapi aku percaya dia bisa nerima lambat laun. Meski awalnya ia akan marah ke aku. Jangan nangis lagi ya,"pinta Tae tak ingin Soogi bersedih. "jangan miki apapun, tentang karir aku, fokus utuk sehatkan diri kamu untuk baby dan Jijji. oke?" Soogi mengangguk seolah ada beban berat yang baru saja ia lepaskan. Jelas ia merasa begitu beruntung karena Tae begitu bertanggung jawab atas kesalahan yang telah mereka lakukan bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD