Noid 40

1791 Words
Malam di Sungai Han yang tak pernah sepi. Selalu banyak orang yang berjalan-jalan, sekadar duduk menikmari pemandangan sungai yang cantik, berolah raga malam atau seperti Jijji dan Reya yang kini tengah sibuk menikmati jajanan yang mereka beli. Keduanya menikmati waktu berdua bersama. Reya membeli es krim cokelat untuk Jijji dan ia menikmati es krim Vanilla. Keduanya lalu duduk di kursi yang disediakan di taman yang berada di sisi -sisi sungai. Jijji menyantap es krim miliknya dengan lahap. Reya memerhatikan gadis cantik di sampingnya yang tengah sibuk menyantap es krim. Menghabiskan waktu bersama Jijji ternyata bisa juga menghilangkan beban yang selama ini ada di dalam pikiran Reya. Rasanya menyenangkan, sedikit banyak ya bisa lupa tentang hal yang membuatnya bimbang. Sebenarnya tadi Jimmy berniat untuk ikut. Hanya saja Reya menolak, ia ingin menghindari makasihnya itu untuk sementara waktu sampai ia mendapatkan keputusan yang terbaik. "Es krimnya enak banget loh Makasih ya imo," ucap Jijji. "Sama-sama sayang," sahut Reya seraya membelai rambut panjang Jijji. Jijji menatap Reya, Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. "Menurut imo Om Tae itu gimana?" Reya menatap gadis kecil di hadapannya dengan heran. Apalagi yang jadi pertanyaannya adalah perihal tentang Tae hubungan khusus dengan Soogi. "Menurut imo, Om Tae itu baik." "Baik aja?" tanya Jijji lagi. Reya anggukan kepalanya, ia tau mungkin anak itu tengah memutuskan . Apa ia akan menerima Tae dalam kehidupannya atau sebaliknya. Tentu saja kali ini reya harus membantu melancarkan hubungan antara Soogi dan Tae dan ia juga berharap jika tae bisa menjadi ayah sambung yang baik untuk Jijji. "Hmm, menurut imo, Om tae itu emang kadang aneh. Tapi, apa yang dia lakuin itu memang buat sekitarnya bahagia. Om Tae juga sosok yang bertanggung jawab kok. Om tae juga penyayang, buktinya, dia mau kok bantu ibu Jijji urus semua keperluan untuk sidang kemarin. Om Tae bahkan enggak takut untuk ngejemput Ibu dan Jijji di pengadilan. Padahal dia tau betul kalau itu bisa mengancam karirnya. Tapi, Om tae tetap mau kan jemput Jijji dan Ibu?" reya bertanya, sejak tadi ia tak mengalihkan pandangan dari Jijji. reya ingin Jijji yakin dengan semua kebenaran yang ia katakan tentang Tae. Jijji menganggukkan kepalanya, ia bisa mengerti apa yang dikatakan Reya. Ia juga menyadari jika tae begitu menyayanginya dan juga sang ibu. "Jijji tau kalau Om tae memang baik sama ibu, tapi apa Om Tae bisa enggak nyakitin Ibu Jijji? Daddy juga dulu sayang sekali sama ibu, tapi akhirnya Daddy malah memilih orang lain." Jijji mengungkapkan apa yang menjadi ketakutannya. Ia takut jika sang ibu disakiti lagi. Ia tak ingin sang ibu terluka lagi dan menjadi sedih karena terpaksa harus meninggalkan atau ditinggalkan. "Kadang kita memang harus meninggalkan seseorang untuk bisa bersama jodoh pilihan Tuhan sebenarnya Ji. Percaya deh, imo yakin kalau ibu dan Om Tae adalah pasangan yang bisa saling melengkapi." Jijji anggukan kepala. "Jijji juga kadang mikir itu imo. Soalnya mereka sama-sama aneh." Apa yang dikatakan Jijji membuat Reya terkekeh. Apalagi saat mengucapkan itu wajah Jijji terlihat begitu kesal. "Kita pulang yuk Ji, udah malem nih," ajak Reya. Si cantik Jijji menganggukkan kepalanya, keduanya kemudian melangkahkan kakinya untuk segera kembali ke rumah Reya. Sudah terlalu malam bagi keduanya untuk tetap berada di luar malam ini. Sementara itu kedua kembar tengah berada di ruang tengah setelah belajar malam. Mereka masih tetap harus mengerjakan tugas berupa pelajaran membaca dan berhitung yang diberikan Reya atau Soogi. Tentu saja para squinoid itu harus tetap belajar untuk mengembangkan kemampuan mereka. Akan ada waktunya keduanya harus melakukan kehidupan layaknya manusia normal. Sementara saat ini para ember BTL tengah sibuk dengan urusan masing-masing meninggalkan si kembar bersama Heosok dan Yunki yang tengah terlelap. "Bong, jadi Profesor Go itu ayah kita?" tanya Bonbon. Bongbong mengangguk ia lalu merebahkan tubuhnya di samping saudara kembarnya. "Iya,, dan kita benar-benar berasal dari telur. Hmm, aku pikir itu cuma mimpi." Bonbon dan Bongbong saling menatap. "Aku kira kita tumbuh dari dalam perut juga." Saat itu Heosok yan sedang mengambil minuman berjalan mendekat ia lalu duduk di sofa. "Dalam perut? Siapa yang ada dalam perut?" tanya Heosok penasaran. "Aku kira kita berasal dari dalam perut seperti--" Bongbong menghentikan ucapannya setelah Bonbon menyentuh tangan kembarannya itu. Bongbong gelengkan kepala, ia ingat jika tak boleh mengatakan tentang kehamilan Reya pada siapapun. "Perut siapa?" Heosok bertanya penasaran ia takut kalau si kembar mendapatkan pelajaran yang aneh dari saudara sepupunya, Minmin. "Enggak ada samchon, hmm, kita cuma sedih ternyata kita berasal dari telur. Aku dan Bonngbong kira kita berasal dari perut seperti yang ada dii televisi." Bonbon menjelaskan. sementara itu perkataan Bonbon membuat Bongbong terdiam dan berpikir. "Memang bagaimana caranya supaya bayi bisa ada di perut Samchon?" "Nde?!" Heosok terkejut dengan pertanyaan yang ia dengar. Tentu saja ini menjadi masalah yang sulit baginya karena ia tak bisa menjelaskan bagaimana caranya kepada kedua gadis itu. "Gimana caranya buat bayi?" Bonbon mengulangi. Meskipun kedua squinoid itu bisa membaca perasaan dan pikiran melalui sentuhan. Keduanya tak bisa membaca beberapa hal salah satunya adalah mengenai sebuah hubungan. Itu semua karena saat tangan disentuh orang tersebut tidak memikirkan hal semacam itu sehingga para quinoid tak bisa membacanya. Mendengar pertanyaan yang ia terima pria pemilik senyum cerah itu memilih untuk meninggalkan tempat. Iya berjalan dengan cepat dari ruang tengah menuju kamarnya untuk segera beristirahat. Kepalanya mendadak jadi sakit setelah mendapatkan pertanyaan dari bongbong. Melihat Heosok yang berlari dengan cepat kedua squnoid itu saling tatap bingung. Seolah saling bertanya tentang apa yang salah dari pertanyaan yang mereka berikan. *** Setelah Nami bertemu dengan profesor Go, sementara aja di situ tinggal di rumah sang profesor. Profesor memberikan saran agar Nami segera kembali ke Jepang. Ia memberitahu bahwa akan menghubungi pihak pemerintahan Jepang untuk melindungi dirinya dari kejaran para bodyguard suruhan profesor Sam yang berniat untuk mencari tahu tentang squinoid. Pagi-pagi sekali namanya telah bersiap menyiapkan koper besar berisi pakaian miliknya untuk segera berangkat ke Jepang. Sebuah mobil sedan hitam telah terhenti Di rumah sederhana milik profesor Go. Rumah yang ditempati oleh profesor adalah peninggalan mendiang istrinya dulu rumah sederhana dengan 2 kamar. Satu kamar utama dan satu kamar yang didesain untuk Zana Putri semata wayangnya yang meninggal karena sakit. Di depan rumah ada sebuah taman kecil dengan ayunan besi tua berwarna putih yang masih dirawat hingga saat ini oleh profesor. Pagi-pagi tadi Nami juga telah menyiapkan sarapan sebagai ucapan terima kasihnya kepada profesor Go karena telah menolongnya. "saya berterima kasih karena profesor mau memaafkan dan membantu saya ," ucap Nami. Profesor Go mengangguk ia jelas sudah memaafkan apa yang dilakukan Nami. "Aku harap nantinya kamu akan lebih baik lagi. Dan belajar untuk mengembalikan sesuatu yang bukan milik kamu. Setidaknya, kamu enggak memberikan benda yang bukan menjadi milik kamu." Nami mengangguk Iya setuju dengan apa yang dikatakan oleh profesor Go. Nami belajar banyak tentang kesalahan yang ia buat akibat seenaknya memberikan barang yang bukan miliknya kepada orang lain. Selama lebih dari 6 bulan dia hidup dengan tak tenang. Dikejar dan diawasi oleh orang-orang suruhan profesor Sam yang berniat untuk mengambil squinoid. Tentu saja Gadis itu tak ingin mengulangi masa-masa buruknya. "Baik, sekali lagi terima kasih prof." Nami kemudian berjalan keluar diantar oleh profesor go sampai Gadis itu masuk ke dalam mobil. Mobil itu melaju meninggalkan rumah profesor untuk mengantarkan Nami ke bandara dan kembali ke Jepang. *** Sementara pagi ini Namjun kini telah berada di ruangan direktur Kim. Kemarin malam sang leader dihubungi dan diminta untuk datang pagi-pagi ke ruangannya. Kini Namjun duduk di kursi yang berhadapan dengan sang direktur. "Kalian harus melanjutkan comeback." Ucap direktur. "Apa sudah enggak ada masalah?" Tanya Namjun. "Seminggu ini aku memerhatikan, dan sepertinya enggak ada masalah sama sekali. " Ucap sang atasan. Tentu saja berita yang disampaikan oleh direktur membuat sang leader merasa senang karena mereka akan kembali melanjutkan proyek comeback yang tertunda. Bukan hanya comeback BTL tetapi juga beberapa jadwal member akan kembali di jalankan seperti biasanya. Salah satunya adalah shooting drama Seojin dan Minji yang sempat tertunda. Direktur Kim memerhatikan reaksi para penggemar selama para member beristirahat dari kegiatan comeback. Para penggemar BTS sudah tumbuh semakin dewasa mereka sudah mengerti dan menerima bahwa para member pada akhirnya akan memilih pasangannya masing-masing. Pengakuan Namjun bahwa Minggu adalah kekasihnya awalnya menjadi berita yang sangat heboh dan banyak pertentangan. Hanya saja lambat laun semakin banyak respon positif yang diterima apalagi mengingat usia leader BTL itu yang kini sudah menyentuh kepala tiga. Setelah berbicara dengan manajer Namjun kembali ke studio rekaman. Ia menghubungi para member untuk memberitahu bahwa direktur mengizinkan mereka untuk melanjutkan album comeback dan tentu saja itu membuat semua member merasa senang. *** Di lokasi lain yaitu di rumah Reya saat ini ada Soogi yang gini sudah ikut sarapan bersama Reya dan Jijji. Wanita itu memilih datang pagi-pagi sekali karena Ia ingin memberitahu buah hatinya mengenai kehamilannya dan juga hubungannya dengan Tae. Sesekali Reya melirik Soogi yang seolah memberitahu Reya bahwa ia tengah mengandung. Soogi menggerakkan tangannya ke arah perut. Yang ditangkap oleh Reya adakah Soogi bertanya padanya tentang kehamilannya. Reya menggelengkan kepala, ia menjawab bahwa ia tak hamil. Soogi kemudian mengirimkan pesan pada Reya karena sejak tadi Gadis itu tak bisa memahami apa yang ia katakan Soogi: Aku mau kasih tau Jijji aku hamil dan hubungan aku sama Tae. "Hah?!" Reya terkejut ia tersentak kaget membaca pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya itu. Tentu saja apa yang dilakukan oleh reia membuat dua orang yang kini tengah sarapan bersamanya itu menatap dengan heran. Jijji penasaran kenapa sang Tante tiba-tiba berteriak "Kenapa imo teriak?" Tanya Jijji. "Enggak apa-apa ji." Reya menjawab cepat. "Ji, ibu mau ngomong boleh?" tanya Soogi Jijji anggukan kepala. "Silahkan." "Ibu mau minta maaf. Mungkin Jijji akan kecewa sama ibu. Tapi, ibu ingin Jijji ngerti, meski akan tetap berat untuk dimengerti." Soogi buka suara. Sementara Reya menata Jijji yang kini menatap dengan penuh tanda tanya. "Ibu dan Om Tae mungkin akan menikah, ibu tau mungkin Jijji akan menolak—" "Jijji setuju." Sahut Jijji membuat sang ibu terkejut. "Nde?" Soogi coba yakinkan lagi apa yang ia dengar barusan. "Jijji setuju," sahut anak itu coba meyakinkan. Soogi tersenyum, ia merasa senang dan lega karena Jijji bisa menerima apa yang ia sampaikan barusan. "Syukur ibu senang Jijji bisa nerima ini. Satu lagi." Jijji yang baru saja akan menyantap roti panggang miliknya terhenti dan menatap kembali sang ibu. "Satu lagi?" Soogi mengangguk. "Jijji akan punya adik." "Adik?!" Reya membelai kepala Jijji lembut. "Jijji juga bisa menerima kan?" Tak ada jawaban yang diberikan oleh gadis kecil itu selain ia merasa ke arah ibunya terlihat kecewa. Jijji lalu hela napasnya. "Hmm, Jijji bisa terima kok." Jawabnya singkat dan lemas. Soogi menatap Reya, ia juga kini merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang terlihat tak bisa menjaga diri. Hanya saja ia dan Tae telah setuju untuk membesarkan anak di dalam kandungannya bersama-sama. Reya menatap Soogi dan coba meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Hanya butuh sedikit waktu buat Jijji bisa juga menerima sang adik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD