Sejak hari itu Flo berusaha untuk tak bertatapan dengan Ry walau sungguh mustahil dan jika mereka bertatapan ia segera mengalihkannya dengan cepat.
Tapi larangan Ry membuatnya lumayan frustrasi setelah satu bulan merasa bagai dipenjara, apalagi dengan adanya CCTV di mana-mana kecuali dikamarnya. Jadi tentu saja tempat itu merupakan lokasi favoritnya sekarang.
Lamunan Flo terganggu saat ponselnya berbunyi dan tertera nama Jeff di sana. Dulu ia mungkin akan langsung mengangkatnya tanpa banyak pikir tapi sekarang ia harus sadar diri jika statusnya sudah berubah menjadi kakak ipar Jeff dan mereka tak mungkin bisa seperti dulu lagi.
Ia kemudian mengabaikan panggilan itu tapi Jeff terus meneleponnya berkali-kali hingga sebuah pesan teks masuk.
Jeff : "Angkat telepon dariku atau aku akan datang ke sana."
Dengan berat hati akhirnya Flo mengangkat telepon itu.
"Ada apa, Jeff?"
"Aku tidak tahu bagaimana keadaanmu di sana sekarang tapi walau kamu sudah jadi kakak iparku tapi kamu juga masih sahabatku. Jadi aku mau memberikanmu sebuah solusi."
"Apa?" tanya Flo.
"Aku punya kekasih yang juga tinggal di sana dan namanya Avalee. Kalau mau kamu bisa hubungin dia dan menjalin pertemanan dengannya."
"Makasih, Jeff, aku pikirkan dulu."
Sambungan telepon pun terputus dan Flo hanya menatap nomor yang Jeff berikan padanya hingga ia memutuskan menghubungi Ava dan sejak itu mereka jadi berteman dekat tapi Flo tak berani mengajaknya ke rumah.
***
Sejak Ry mengalami kecelakaan hari itu, Flo sedikit heran karena suaminya tak pernah mabuk-mabukan lagi dan ia memberanikan diri mendekat padanya saat ia terus memijat kepalanya.
"Apa kepalamu sakit?" tanya Flo.
Ry menatap Flo tak menyangka jika wanita itu berbicara padanya.
"Ya, hanya sedikit."
"Mau aku ambilkan obat?"
"Boleh."
Dengan cepat Flo bergegas mengambil obat dan memberikannya pada Ry.
"Sebaiknya kamu istirahat agar sakitnya bisa segera hilang."
"Pekerjaanku tinggal sedikit lagi, kamu tidur duluan saja."
"Aku ingin meminta sesuatu. Apa boleh?" tanya Flo.
"Apa?"
"Boleh aku mengajak temanku Ava ke rumah."
"Kamu sudah tahu jawabannya."
"Tapi, Ry, hanya Ava dan tidak yang lain. Dia juga perempuan jadi apa yang membuat kamu menolak permintaanku?"
"Tapi hanya Ava, 'kan?" tanya Ry menatapnya tajam.
"Iya."
Flo lega mendengarnya saat Ry mengizinkannya dan sejak itu ia dan Ava semakin dekat. Dirinya memberanikan diri mengajak Ava ke rumah sebab gadis itu curiga karena melihatnya selalu murung dan tak mau mengajaknya ke rumah. Jadi mau tidak mau dia mencoba memberanikan diri meminta izin suaminya walau mereka masih merahasiakan tentang siapa Ava sebenarnya.
Flo cemas Ava mungkin akan memberitahu Jeff jika ia terus menolak untuk mengajak Ava ke rumah.
***
Suatu hari Jeff tiba-tiba muncul di rumah mereka dan ia sedikit panik karenanya sebab takut jika Ry akan kembali mengajak teman-temannya ke rumah. Ia ketakutan karena dirinya tahu jika Ry tak suka Jeff ada di rumah ini.
Ia ingat hari di mana ia tahu dari Sarah jika Jeff pernah meminta untuk tinggal di sini tapi Ry melarangnya dengan alasan akan menganggu mereka yang sedang berusaha saling mengenal. Saat itu Flo sedikit kesal mendengarnya tapi memang tak ada yang bisa ia lakukan dan karena hal itu juga yang membuat ia tahu jika Ry tak akan suka Jeff muncul di rumah tanpa sepengetahuannya.
Sepanjang waktu ia menelepon suaminya tapi tak diangkat hingga pesan teks singkat darinya membuat ia lega karena ternyata Ry sudah tahu.
"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Ry dingin pada Jeff saat dia baru pulang.
"Santai saja, Kak, aku cuma mau berkunjung saja."
"Berapa lama?"
"Kakak usir aku?"
Flo bisa melihat jika Ry terlihat mulai marah saat ini jadi ia menengahinya.
"Sudah, ayo, aku antar kamu ke kamar, Jeff."
Flo sedikit cemas saat ingat di mana ia akan tidur malam ini sebab dengan adanya Jeff di rumah ini ia tak mungkin tidur pisah kamar dengan Ry.
"Aku saja yang antar karena ada yang ingin aku bicarakan dengannya."
Mereka segera menatap Ry dan sedikit bergidik ngeri mendengar permintaannya.
"Mudah-mudah kamu masih bisa turun dengan selamat, Jeff," bisik Flo tak tahan untuk tak menggoda Jeff dan dirinya dihadiahi tatapan tajam oleh kedua bersaudara itu hingga ia bergidik ngeri jadinya.
Sudah menikah dengan laki-laki itu berbulan-bulan tak membuat rasa takutnya lebih baik. Ia bersyukur laki-laki itu tak pernah mencoba menciumnya lagi.
Meski takut Ry akan marah dengan kedatangan Jeff hal itu tak bisa menghilangkan rasa senangnya dengan kedatangan sahabatnya. Mereka terus berbincang-bincang hingga larut malam tanpa mereka sadari bahkan ia tertidur di sofa.
***
Flo membuka matanya perlahan dan tak pernah tidur senyenyak ini. Dirinya sangat panik saat menemukan jika ada seseorang di sampingnya. Saat menatap ke samping ia menemukan Ry tidur di sana dan dengan panik ia berteriak hingga sebuah tangan membekapnya.
"Mau Jeff datang ke sini karena teriakanmu?!" hardik Ry sedikit kesal karena dibangunkan dengan cara seperti itu.
Mata Flo semakin terbelalak saat menemukan laki-laki itu bertelanjang d**a. Berbagai pikiran aneh berkecamuk di kepalanya.
Ia berusaha melepaskan bekapan tangan Ry pada mulutnya agar dia bisa berbicara.
"Kamu kenapa di sini?"
"Tentu saja tidur, ini kamarku."
"Kenapa aku bisa berada di kamarmu, Ry?"
"Mau Jeff lapor Mama dan Papa kalau kita pisah kamar?"
"Tentu saja tidak tapi kamu tidak melakukan sesuatu padaku bukan semalam?"
"Menurutmu?"
"Aku sedang tidak bercanda, Ry!"
"Aku melakukan sesuatu padamu pun aku berhak melakukannya."
Wajah Flo merona merah mendengarnya dan ia semakin salah tingkah saat laki-laki itu menatapnya dengan tatapan aneh.
Dengan cepat ia turun dari ranjang dan bergegas berlari ke kamar mandi. Dirinya yakin jika tak ada yang terjadi semalam dan laki-laki itu hanya ingin menakutinya.
Selesai mandi ia memakai jubah mandi dan menemukan Ry masih di sana. Ia mau tak mau keluar karena tak membawa pakaian ganti.
"Bagaimana dengan pakaianku, Ry?"
"Sudah aku pindahkan semua. Ada di lemari itu."
Flo kemudian membuka lemari dan menemukan semua pakaiannya memang ada di sana bahkan hingga pakaian dalamnya. Wajahnya kembali merona merah karena hal itu.
"Semua ini kamu yang pindahkan?" tanya Flo tanpa berbalik karena tak percaya laki-laki itu tidak canggung memindahkan pakaian dalamnya juga.
Hingga ia merasakan seseorang berdiri di belakangnya dan dirinya menyadari betapa dekat tubuh mereka berdua.
"Kenapa memangnya?" bisik Ry di telinganya.
Flo merasakan jika tubuhnya meremang karena hal itu dan ia menahan napas serta tak berani bergerak sama sekali saat merasakan hembusan napas Ry pada lehernya.
"Tidak kenapa-kenapa," jawab Flo berharap Ry segera menjauh darinya.
"Jangan memiliki pikiran yang aneh-aneh jika tidak ingin hal itu menjadi kenyataan," bisiknya kembali di telinga Flo yang membuat ia bingung memikirkan apa maksudnya.
Flo bisa bernapas dengan lega saat akhirnya Ry menjauh darinya. Dengan cepat ia berpakaian dan bergegas keluar dari kamar itu sebelum suaminya selesai mandi.
***
Akan segera hadir sequel dari teman mereka. Ini juga inspirasi dari kisah nyata dan sudah seizin yang punya cerita. Si cowok merupakan teman Mr. America sejak sebelum menikah dan si cewek merupakan teman Flo setelah mereka menikah.