8

976 Words
Selama sebulan kemudian rutinitas membantu Ry yang mabuk untuk berganti pakaian menjadi tugas terakhir Flo setiap malamnya dan tentu saja ia harus terus waspada karena takut Ry akan menciumnya lagi walau kadang-kadang memang laki-laki itu lakukan tapi beruntung dia selalu jatuh tertidur sebelum berbuat lebih jauh dan semakin lama Flo semakin terbiasa bahkan menyukai ciuman laki-laki itu. "Apa ada sebuah restoran yang kamu inginkan untuk merayakan ulang tahunmu?" Flo menatap Ry tak percaya pagi itu tak menyangka jika ternyata laki-laki itu ingat hari ulang tahunnya. "Tidak ada tapi maukah malam ini kamu makan malam bersamaku di rumah?" tanya Flo. "Baiklah," ujar Ry kemudian berangkat ke kantor. Saat pulang dari kampus Flo segera sibuk memasak makan malam sambil menunggu kepulangan Ry yang dia tahu tak akan lama lagi tapi saat menunggu selama satu jam laki-laki itu tak juga pulang. "Apa dia lupa pada janjinya?" Ponsel Flo berbunyi dan nomor yang tertera tak memiliki nama tapi ia bergegas mengangkatnya karena takut jika hal itu penting. "Apa saya berbicara dengan, Mrs. Kenrick?" "Iya, Anda siapa?" "Saya suster di rumah sakit San Sierra. Mr. Kenrick mengalami kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit ini." "Apa Ry baik-baik saja?" tanya Flo panik. "Atau dia terluka parah?" "Mr. Kenrick baik-baik saja hanya saja kami tak bisa mengizinkan dia untuk pulang sendiri karena kepalanya sempat terbentur cukup keras tapi dia meyakinkan kami jika dia baik-baik saja jadi dokter mengizinkannya pulang jika ada yang menjemputnya dan dia meminta kami menghubungi Anda." "Aku akan segera ke sana," ujar Flo kemudian bergegas ke rumah sakit yang dimaksud. Dia menelepon sopir untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Saat tiba di sana dengan cepat ia mencari keberadaan Ry dan menemukan dia sedang berbaring disebuah ruangan. "Ry, apa kamu baik-baik saja?" Seketika Ry membuka matanya dan menatap Flo. "Ya," ujarnya dingin dan kemudian bangun dari sana. "Ayo, pulang!" ujarnya lagi dan melangkah ke pintu. "Bergegaslah!" perintahnya saat melihat Flo sedikit tertinggal di belakangnya. Flo sangat geram melihatnya dan dirinya menyesal karena sempat merasa begitu khawatir dengan manusia kutub itu. "Aku rasa mobilnya yang terluka bukan kamu," gerutu Flo saat kekesalannya memuncak. "Tentu saja tak mungkin ada yang bisa mengalahkan manusia kutub," sambungnya hingga Ry berbalik dan memelototinya dengan kesal. Hal itu tentu saja sangat efektif untuk membungkam Flo. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam hingga sampai di rumah dan Ry bergegas mandi kemudian mereka makan malam. Saat selesai Ry memberikan sesuatu padanya. "Apa ini?" "Hadiah ulang tahun untukmu," ujarnya kaku. Flo tersenyum senang mendengarnya tak menyangka jika laki-laki itu akan memberikan hadiah padanya. Dengan refleks ia bangun dari duduknya kemudian mengecup pipi Ry dengan pelan. "Terima kasih," ujarnya. "Tidak usah berlebihan," ujar Ry sinis hingga membuat Flo kembali kesal dibuatnya. "Sudahlah, harusnya aku sudah tahu kamu tak mungkin tiba-tiba akan jadi baik selamanya," gerutu Flo. "Tapi aku tetap berterima kasih untuk hadiahnya," sambung Flo dan menuju kamarnya. "Kamu bahkan tak tahu apa isinya tapi sudah berterima kasih." "Aku tak peduli apa isinya karena yang penting bagiku adalah kamu mau repot-repot ingat ulang tahunku meski pernikahan kita hanya status saja," ujar Flo tersenyum senang tak menyadari jika sesaat Ry terpaku melihat senyumnya. Flo kemudian kembali menghampiri Ry dan memeriksa luka di kepalanya. "Apa kamu yakin kalau kamu baik-baik saja?" "Ya, kenapa? Apa kamu berharap sesuatu terjadi padaku hingga kamu terlepas dariku?" "Apa kamu harus selalu bertingkah semenyebalkan ini?" "Jika di dekatmu." "Apa maksudnya itu?" "Sudahlah." "Apa plester lukamu harus diganti?" "Tidak saat ini tapi mungkin besok." "Baiklah, panggil aku jika kamu butuh sesuatu," ujar Flo. "Hmmm." Flo kemudian bergegas masuk ke kamarnya tak sabar lagi untuk membuka kado ulang tahunnya. Hati Flo semakin bahagia saat membuka hadiah itu yang ternyata isinya beberapa novel edisi terbatas yang sudah diincarnya selama ini. *** Keesokan harinya Flo sedikit cemas saat jam 7 pagi Ry tak juga keluar dari kamarnya. Dirinya kemudian mengetuk pintu kamarnya tapi tak ada jawaban dari sana. "Ry," panggilnya tapi tetap tak ada jawaban. Jadi dia membuka pintu dan kemudian masuk ke dalam. Ia menemukan Ry masih bergelung dibalik selimut tampak begitu lelap. "Haruskah aku membangunkannya? Jika aku tak membangunkannya bagaimana jika dia marah?" bimbang Flo sambil terus menatap Ry. Akhirnya ia memutuskan membiarkan saja Ry tidur karena perusahaannya tak mungkin akan hancur hanya karena laki-laki itu tak masuk sehari. Ia mendekat pada Ry dan memeriksa kepalanya takut jika laki-laki itu mungkin demam. Ia bernapas lega saat ternyata laki-laki itu baik-baik saja. Saat akan bangun ia mengurungkan niatnya dan kemudian menatap wajah Ry yang tampak berbeda jika sedang tidur. "Apa kamu akan terus menatapku sampai bangun?" Flo begitu terkejut mendengarnya hingga dengan cepat ia berdiri dari sana tapi laki-laki itu sudah menangkap tangannya dan menariknya hingga ia terjatuh di atas tubuh Ry. "Ry!" jeritnya saat laki-laki itu membalikkan tubuhnya hingga gantian Flo yang berada di atasnya. Ry menatap kedua mata Flo dengan intens kemudian turun menyusuri hidung gadis itu dan semakin turun menyusuri bibirnya. Tanpa Flo sadari ia menjilati bibirnya di bawah tatapan Ry. "Apa itu undangan agar aku menciummu?" bisik Ry perlahan yang membuat Flo merasakan sesuatu mengalir di udara dan mendarat di tubuhnya. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia takut mungkin saja Ry akan mendengarnya. "Kamu mau apa?" Jawaban Ry hanyalah tatapan tajamnya pada bibir Flo dan dia semakin dekat hingga bibirnya menyentuh bibir Flo menciumnya perlahan, memagut dan menyusuri bibir Flo dengan lidahnya. Ry terus menggoda bibir Flo agar membuka untuknya tapi dering ponsel menghentikan perbuatannya. Dengan cepat dia melepaskan Flo dan meloncat turun dari ranjang. "Ada apa Carly?" "....." "Baiklah, aku akan segera ke sana," ujar Ry. Saat dia kembali menatap ranjang, Flo sudah tak ada di sana. Dia tak tahu harus senang atau kesal karena gangguan dari sekretarisnya. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka, gratis kok guys ^^. Anggap saja love kalian sebagai tanda cinta untuk author, hehehe. Selain itu kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD