bc

Gara-gara Foto Profil!

book_age18+
28
FOLLOW
1K
READ
HE
friends to lovers
heir/heiress
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Baru satu minggu bekerja, Dea sudah dituduh yang tidak-tidak oleh anak dari pemilik perusahaan, Rasyidan Abizard, hanya karena sebuah foto profil. Awalnya Dea sungkan mengingat laki-laki itu anak bos besar, tapi lama-lama kesabarannya habis juga.

Spin-off Hai, Bapak Muda!

Genre komedi, jadi jangan dibawa serius, ya. Juga, banyak kata kasar (modern).

chap-preview
Free preview
Part 1: Main Tuduh!
“Ini mau ke mana, Bu?” Dea terus mengikuti langkah atasannya dengan rasa penasaran. “Nanti juga kamu tau nyampenya ke mana,” jawab Saroh ketus. Beberapa detik kemudian, lirikan matanya terarah ke samping tempat Dea berjalan. “Nanti kasih tau saya, kenapa kamu dipanggil ke lantai ini.” “Loh? 'Kan, Ibu yang nyuruh saya ikut ke sini?” Dea jelas saja mengernyitkan dahi. “Bukan saya, tapi Pak Rasyid.” Saroh memberitahu sambil terus berjalan ke sebuah ruangan. “Pak Rasyid ... security yang di depan itu?” Dea ingin memastikan dugaannya. “Hus!” Saroh mengacungkan tangannya ke atas seperti sedang diabsen guru. “Enak aja security depan. Pak Rasyid itu anaknya Pak William!” ungkapnya, melotot kesal. “Ada urusan apa sama saya ya, Bu?” Dea terlihat cemas, takut-takut mendapat masalah. “Harusnya saya yang tanya gitu, ada urusan apa Pak Rasyid sama kamu?” Saroh malah balik bertanya, menatap curiga. “Lah?” Dea melongo. Mulai berpikir kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, Dea benar-benar tak bisa menebak apa-apa. Pemilik perusahaan besar itu memang bernama William, tapi Dea yang masih baru bekerja di sana, tentu tak pernah melihatnya. Lalu, untuk apa anak dari pemilik kantor itu memanggilnya? Dea tidak masuk ke ruangan yang dituju seorang diri, melainkan bersama Saroh. Sayangnya wanita ketus itu segera pergi, meninggalkan Dea bersama Rasyidan Abizard. Dea makin merasa aneh, karena pria itu hanya diam, bahkan tak menoleh sedikit pun bagai dirinya tak kasat mata “Maaf, Bapak panggil saya?” tanya Dea dengan sopan. “Kamu tau kenapa bisa ada di sini?” Rasyidan menyandarkan punggungnya, bergaya sok. “Bapak, 'kan, belum bilang apa-apa. Bu Saroh juga bingung kenapa saya dipanggil ke sini.” Dea merasa konyol. Sungguh, demi langit dan bumi, Dea bukanlah seorang dukun yang bisa menerawang sesuatu. Yang benar saja! “Saya juga bingung kenapa kamu bisa kerja di sini.” Rasyidan lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Wajah Rasyidan mendadak berubah tak enak dipandang, seperti sedang menahan sesuatu. “Terus? Saya mau disuruh apa, Pak? Apa saya buat kesalahan?” Dea bertanya dengan sangat hati-hati. “Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana.” Rasyidan berlari kecil menuju toilet. Suara brat bret brot terdengar begitu nyaring mengiringi langkah demi langkah pria itu. Bahkan setelah memasuki toilet, suara khas sakit perut tak bisa teredam oleh tembok, pintu, dan atap. Wajah Dea memerah, lubang hidungnya kembang kempis, bibirnya mengkerut, menahan tawanya yang hampir meledak. Tapi, tunggu. Untuk apa Rasyidan memanggil Dea ke ruangannya? Tatapan pria itu sangat mengintimidasi seolah Dea telah mencuri batu akiknya. Dea jadi merasa bersalah, padahal tak tahu juga salahnya apa. Meski cara kerjanya terbilang lelet karena masih baru, setidaknya ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Aneh saja jika kesalahan Dea dalam bekerja, langsung ditangani Rasyidan selaku anak pemilik perusahaan, dan bukanlah Saroh yang biasanya mengoceh, persis pedagang di pasar yang sedang mengadakan diskonan. Sedang sibuk menerka-nerka, pintu ruangan tiba-tiba terbuka, memperlihatkan sepasang suami istri. “Pak, Bu.” Dea mengangguk ramah, padahal tak tahu siapa mereka. “Hai.” Wanita yang baru saja datang, Elvina, langsung menghampiri Dea sambil menampilkan senyumnya yang hangat. “Udah lama nunggu?” tanyanya lembut. “Nggak, kok, Bu.” Dea memaksakan senyumnya yang mengerikan. Entah mengapa, ia merasa tak enak hati. “Kerja di sini?” William ingin tahu. “Iya.” Dea mengangguk canggung. “Gak salah Rasyi mau cepet nikah, kamunya cantik gini.” Elvina mengusap lengan Dea lembut, masih dengan senyumnya yang mengembang. “Siapa nama kamu?” William hanya basa-basi. “Dea, Pak.” Dea kembali tersenyum ragu. “Semoga kesabaran kamu seluas samudera punya pacar kayak Rasyi.” William ikut tersenyum, tapi kalimatnya menyinggung putranya sendiri. “Papa apa, sih?” Elvina menatap kesal, tak terima. “Dea pasti udah tau banget sifat Rasyi, dan Dea terima-terima aja,” ucapnya penuh percaya diri. “Iya, 'kan?” tanyanya pada Dea. Dea mendadak beloon, dengan konyolnya mengangguk pelan atas pertanyaan Elvina. Dea jadi ingat sesuatu yang terjadi pada temannya, Sabila Khansa, yang mulanya pura-pura menjadi kekasih dosennya sendiri dan berakhir dengan pernikahan. Apa Rasyidan juga ingin berpura-pura menjadi kekasihnya? Jika benar begitu, Dea tak akan kaget setelah memprediksi usia Rasyidan yang sudah sangat dewasa, kurang lebih 34 tahun. Harusnya dia sudah menikah bahkan memiliki anak, bukan? Tapi, aneh juga jika pria itu tiba-tiba mengajaknya pura-pura berpacaran tanpa kesepakatan apa pun lebih dulu. Lupakan, Dea tak ingin pusing kenapa Rasyidan ingin berpura-pura menjadi kekasihnya. Juga, lupakan tentang tingkah konyol pria itu tadi. Dea lebih memikirkan adegan-adegan yang harus ia lakukan nanti, sebagai kekasih anak dari bos besar. “Ini yang kamu bilang tadi? Calon istri kamu?” Elvina menunjuk Dea saat Rasyidan keluar dari toilet. “Bu—bukan calon istri aku, Ma.” Rasyidan kikuk seketika, mengelak cepat. “Terus? Kata kamu calon menantu Mama.” Elvina terlihat bingung campur kesal. “Iya, dia emang calon menantu Mama.” Rasyidan tak berkelit tentang ‘calon menantu’ yang ditujukan pada Dea. “Ya udah, berarti calon istri kamu, dong? Masa calon istri Rasya?” Elvina tak habis pikir. “Calon istri si Ricky!” Rasyidan mengoreksi dengan kesal. “Enak aja calon istri aku.” “Loh?” Elvina jelas tercengang. “Kamu pacarnya Ricky?” tanyanya pada Dea. Tanpa menunggu detik berikutnya, Dea langsung menggelengkan kepalanya dengan antusias. Bertemu Rasyidan aja baru kali ini, lalu siapa manusia yang bernama Ricky itu? Hey, seseorang bisa tolong jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi? Dea merasa sedang bermimpi, tapi mengapa mimpinya serumit ini? “Ngaku kamu! Jangan cuma manfaatin uangnya aja, kamu juga harus ngaku. Saya nihanin baru tau rasa!” Rasyidan bersungut-sungut, tak percaya elakkan Dea. “Jadi sebenarnya Dea ini pacar kamu atau pacar Ricky? Kok jadi kamu yang mau nikahin?” Elvina bingung bukan main. “Maksud aku, aku nikahkan dia sama Ricky, Ma.” Rasyidan menekankan kata-katanya dengan gemas. “Sebentar.” William ikut terlihat bingung. “Ini ada apa sebenarnya? Coba jelasin, biar Papa paham.” Rasyidan lalu menjelaskan sesuatu. Adiknya yang bernama Ricky, sering kali meminta uang padanya, bahkan pada kakak tertuanya dalam jumlah besar. Awalnya Rasyidan mengira uang tersebut akan dipakai kebutuhan sang adik, nyatanya dia mengirimkan uang itu pada seorang wanita yang dikenalnya di sebuah aplikasi chat. Tak tahu apa saja yang sudah Ricky lakukan bersama 'kekasih' online-nya, yang jelas, Rasyidan sering melihat wajah Dea di ponsel Ricky. Tidak masalah jika hubungan Ricky bersama wanita itu berjalan dengan semestinya, justru masalahnya dia memutuskan hubungan hingga Ricky dilanda kegalauan mendalam sekarang ini. Sempat ingin mencari tahu tentang identitas asli dari foto wanita di ponsel Ricky, Rasyidan malah melihat langsung wajah Dea secara tak sengaja tadi pagi. Tanpa bertanya lebih dulu pada sang adik, ia yakin memang Dea orangnya yang sudah berani memberikan harapan pada Ricky, lalu membuangnya begitu saja. Sebuah kebetulan William dan Elvina memang akan mengunjungi kantor Abizard Group, dan Rasyidan meminta mereka untuk cepat datang dengan mengatakan ada calon menantunya, yaitu Dea. Siapa sangka, kedua orang tuanya malah salah paham dan mengira Dea adalah kekasihnya, bukan kekasih Ricky. Sementara itu, Dea bingung setengah mati. Foto yang ditunjukkan Rasyidan memang foto dirinya, tapi tidak dengan nama akunnya. Satu lagi, ia tak memiliki aplikasi chat yang disebut Rasyidan. Jelas saja tak kenal Ricky, apalagi memanfaatkan uang pria itu. Tapi, Dea didesak pengakuan yang tidak ia lakukan. Menyebalkan!

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook