Part 2:

1238 Words
“Gak bisa kamu ngelak seenaknya gitu. Gak tau, 'kan, Abizard bisa ngapain aja sama kamu?” Rasyidan tetap mendesak pengakuan yang tidak Dea lakukan. “Berani-beraninya manfaatin adik saya!” lanjutnya, menatap tak senang. “Sumpah, Pak, saya gak punya aplikasi itu.” Dea masih bersikeras mengelak. “Tapi ini foto kamu.” Rasyidan memperlihatkan foto Dea di aplikasi yang dimaksud. “Tapi namanya bukan nama saya.” Dea mengingatkan. “Nama bisa aja ngarang, biar kamu susah dilacak.” Rasyidan tetap tak percaya. “Foto juga bisa aja nyuri dari sosial media saya.” Dea tak mau kalah. “Banyak alasan kamu, ya.” Rasyidan berdecih malas. “Pokoknya, saya minta kembalikan uang yang kamu terima, atau saya nikahin kamu sama Ricky.” “Pak, kenapa gak cari tau aja siapa yang terima uangnya? Jangan main hakim sendiri.” Dea melotot tanpa sungkan, masa bodoh dengan keberadaan William dan Elvina yang sepatutnya ia hormati. “Ngapain repot-repot nyari orang yang terima uang dari Ricky? Orangnya ada di depan saya.” Rasyidan tersenyum kecut. “Saya harus bilang apa lagi? Saya udah bersumpah kalo saya gak punya aplikasi itu, dan saya juga gak kenal sama yang namanya Ricky!” Dea kehilangan kendali, membentak Rasyidan dengan berani. “Udah, udah, udah.” William menengahi dengan tenangnya. “Kamu boleh keluar,” titahnya pada Dea. “Gak bisa gitu dong, Pa. Seenggaknya dia harus ngaku dulu. Masalah mau balikin uangnya atau nggak, aku bisa ambil dari gaji dia.” Rasyidan tak setuju, tak puas sebelum mendengar pengakuan. “Bukan dia orangnya.” William menatap malas. “Pa, lihat baik-baik fotonya. Ini foto dia.” Rasyidan kembali memperlihatkan foto Dea di ponselnya. “Kapan kamu foto ini?” tanya William tanpa minat. “Pasti pake filter biar kelihatan cantik, masih muda, terus Ricky tertarik.” Rasyidan sewot sendiri. “Foto lima tahun yang lalu, Pak.” Dea menjawab sopan. Tatapannya lalu teralih pada Rasyidan yang juga sedang menatapnya. “Ngomong-ngomong, itu asli, gak pakai filter.” “Masa di fotonya cantik gini, tapi aslinya .... ” Rasyidan menggantung ucapannya, menelisik wajah serta tubuh Dea dari atas sampai bawah. “Lumayan, sih.” “Syid?” Elvina menoleh cepat. “Aku gak bilang cantik, cuma lumayan aja.” Rasyidan baru sadar kalimatnya yang ambigu. “Kamu jangan kepedean. Cantikan anak asisten rumah lagian,” sungutnya pada Dea. “Kamu boleh keluar.” William kembali meminta Dea untuk pergi. “Terima kasih, Pak, Bu.” Dea buru-buru mengangguk hormat, tak mau berlama-lama lagi. Tepat ketika Dea melewati Rasyidan yang sedang berdiri di depannya, pintu ruangan tersebut terbuka. Tanpa aba-aba, Rasyidan menarik tangan Dea hingga tubuh wanita itu berada di sampingnya. Tatapannya mengarah pada wanita cantik di depan pintu, wajahnya berubah muram seketika. “Bella?” sapa Elvina ramah. “Tante di sini?” Wanita itu, mantan kekasih Rasyidan, tampak tak karuan usai mengetahui siapa saja yang ada di ruangan itu. “Iya, ini Rasyid mau ngenalin—” “Calon menantu Abizard,” potong Rasyidan dengan cepat dan percaya diri. “Oh ....” Bella lantas melihat Dea dari atas sampai bawah dengan tatapan remeh. “Selamat buat kalian,” ucapnya malas. “Kamu mau ketemu Rasyid?” tanya Elvina, menatap curiga. “Aku ada perlu sama Kak Rasya, tapi kayaknya dia lagi gak ada di kantor, ya?” Bella hanya beralasan saja. “Dia lagi liburan sama keluarganya.” Elvina memberitahu. “Kalo gitu, aku pamit, Tante, Om.” Bella lalu pergi tanpa menatap Rasyidan, apalagi Dea. Baru sadar bahwa sedari tadi memegang tangan Dea, Rasyidan langsung melepaskan genggaman itu cukup kasar. “Ngapain?” tanyanya risih. “Pergi sana,” usirnya. “Rasyid!” Elvina melotot tak santai. Ia melihat sendiri, tanpa disengaja putranya itu telah membawa Dea ke dalam dramanya bersama Bella. “Eh, tunggu.” Rasyidan mencoba menghentikan Dea yang hendak pergi. “Urusan kita belum beres, ya. Saya mau cari bukti dulu kalo kamu udah meras adik saya.” “Silakan cari bukti sebanyak-banyaknya, Pak.” Dea tersenyum sinis, lalu pergi begitu saja. Hari ini sangat menyebalkan bagi Dea. Tadi pagi motornya tiba-tiba mati, terpaksa dia menggunakan taksi, padahal keuangannya sedang memprihatinkan. Di tempat kerja, selain sering diomeli atasannya, eh dituduh yang tidak-tidak pula oleh anak pemilik perusahaan. Bukan salah Dea yang kini uring-uringan tak jelas, mood-nya sudah hancur sejak pagi. “Hallo, De. Bapak lo masih Pak Haji Subagja, 'kan?” Sandi alias PWXYZ datang dengan cengar-cengir tak jelasnya. “Mending lo pergi deh sebelum gue gebukin ampe jadi abon!” Dea bersungut-sungut, malas bercanda. “Bisa gak sih, sehari aja liat muka lo kayak manusia normal gitu? Semrawut aja tiap hari.” Sandi lalu duduk di samping temannya itu. “Gue mau resign!” ucap Dea penuh amarah. “Peak, baru juga masuk.” Sandi mendengkus. “Mending jadi anak Bapak, deh. Enak gue tiap bulan ditransfer duit, gak perlu kerja ampe gila begini.” Dea menyesali sesuatu, yaitu tekadnya untuk bekerja di Jakarta. “Ya sabar. Dunia kerja itu emang keras. Entar juga lo terbiasa.” Sandi berkata sok bijaksana. “Terbiasa gila?” Dea melirik tajam. “Yaiya. Emang lo berharap terbiasa apa? Helow.” Sandi mendadak sewot. “Bangke!” umpat Dea sembari menahan kesal. “Harusnya lo bangga kerja di sana. Secara perusahaan ternama di muka bumi ini.” Sandi mengingatkan, tidak semua orang beruntung seperti Dea yang diterima di Abizard Group. “Bangga gue gak sebanding ama gila yang gue rasain.” Dea jadi teringat sebawel apa atasannya yang bernama Saroh, belum lagi kejadian tadi siang. “Percaya gak, hari ini gue cekcok sama anak yang punya kantor!” “Cekcok ngapa lo? Rebutan kulit ayam?” Sandi menanggapinya dengan candaan. Melirik sebentar, Dea langsung berdiri dan pergi begitu saja tanpa membayar kopi pesanannya. Terpaksa, mau tak mau Sandi yang membayarnya. Wanita itu terlihat sudah anteng di samping motor Sandi, berdiri dengan memasang wajah yang hendak melabrak seorang pelakor. “Duduk lo belakangan. Gue gak mau ya ternoda sama t***k rata lo.” Sandi kembali berniat mencairkan suasana, hanya saja Dea malah semakin kesal. Plak! “Anjir! Amnesia gue lama-lama,” gerutu Sandi usai helm-nya terkena tamparan Dea. “Awas aja kalo ada acara abis bensin!” Dea memperingati, berharap tak ada lagi drama di hari ini. “Ya tinggal jalan kaki. Lebih sehat,” sahut Sandi santai. “Lo gak ada niatan buat ganti motor?” Dea merasa malu diperhatikan pengendara lain perkara knalpot motornya yang mengeluarkan asap hitam. “Eh, gini-gini dia masih bisa lo tumpangin.” Sandi membela motornya yang dinamai Julay. “Lagian ya, mau ada yang nawar 100 juta juga ... ya gue jual lah anjir. Orang bego mana lagi yang mau ini motor butut dengan harga segitu?” “Serah.” Dea malas menanggapi. “Gak usah nempel-nempel. Geli gue.” Sandi kembali menyinggung, padahal Dea sengaja nempel agar wajahnya tertutupi. “Gue mau turun!” pinta Dea yang kesabarannya sudah habis. “Ngambek, ngambek.” Sandi malah mengolok-olok dengan memonyongkan bibirnya. “Turunin gue!” pinta Dea sekali lagi. Tak berniat menghibur ataupun meminta maaf, Sandi menghentikan motor di bahu jalan, sedangkan Dea langsung berjalan tergesa-gesa meninggalkannya. Mustahil pergi begitu saja, Sandi mengikuti Dea dengan menuntun motornya seolah motor itu mogok. Tet Tot! Tet Tot! Dea dan Sandi menoleh ke arah belakang secara bersamaan karena yakin suara klakson mobil itu ditujukan untuk mereka. Ternyata Rasyidan, yang tiba-tiba keluar dari mobilnya dengan gaya sok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD