“Pacar kamu?” tanya Rasyadan sembari memincingkan sebelah alisnya.
Melihat gaya pria itu yang sungguh tak enak dipandang, Dea tak bisa meredam emosinya seperti tadi. “Kalo iya kenapa, kalo bukan juga kenapa?!” bentaknya dengan berani.
“Buset.” Rasyidan terdiam sebentar, cukup getir mendengar nada yang biasa ibunya serukan. Tapi detik selanjutnya, ia baru menyadari sesuatu. “Ohhh ... Sekarang saya tau kenapa kamu morotin uangnya Ricky. Pacar kamu gak bisa diharepin, kan? Atau jangan-jangan pacar kamu juga pake uangnya Ricky?” tanyanya sembarangan.
“Bisa ga kalo ngomong itu pake logika? Tampangnya doang kayak orang pinter!” Dea makin mencak-mencak.
“Udah, udah. Cepet naek!” Sandi yang tak tahu persoalan Dea dengan Rasyidan mengganggap temannya itu sedang frustasi hingga memarahi orang asing.
“Males!” Dea mendelikkan matanya tajam, lalu berjalan tergesa-gesa.
Rasyidan dan Sandi melongo. Mereka tak tahu saja, keduanya sama-sama menunggu siapa yang akan menyusul Dea lebih dulu.
“Kenapa gak dikejar?” Rasyidan bingung sendiri melihat Sandi yang malah bengong.
“Cuma bapaknya yang bisa nenangin dia.” Sandi ogah duluan mesti baik-baikin Dea. “Lagian kenapa lo bikin dia darting, sih? Tuh orang kalo udah begitu susah sembuhnya!”
“Eh, jaga mulut kamu, ya! Kamu gak tau pacar kamu itu udah morotin uang adik saya?” Rasyidan balik memaki.
“Bodoamat! Siapa juga yang bilang dia pacar gue?” Sandi tak peduli sekalipun temannya merobohkan gedung. “Urusin, noh. Males gue,” titahnya sebelum pergi balik arah.
Melihat Dea yang masih berjalan di depan sana, hati kemanusiaan Rasyidan pun muncul. Wanita itu pasti kelelahan, belum lagi cuaca sedang panas-panasnya. Ditambah bising kendaraan, perutnya juga mungkin lapar. Ah, Rasyidan jadi kasihan. Dengan segera ia memasuki mobil dan menyusul Dea yang masih terjangkau olehnya.
“Masuk.” Rasyidan memberi isyarat meski Dea tak dapat mendengarnya.
Tanpa penolakan, Dea yang sudah benar-benar berkeringat langsung memasuki mobil Rasyidan. Tak peduli siapa pria yang bersamanya kini, ia hanya ingin berteduh untuk beberapa saat, atau mungkin sampai dia tiba di kosan.
“Mau ke mana?” tanya Rasyidan baik-baik.
“Serah.” Dea sedang tak ingin bicara, sungguh.
“Katanya mau pulang?” Rasyidan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
“Ya udah berarti bener pulang.” Dea baru sadar bahwa Rasyidan tak mungkin tahu kosannya.
“Ya rumah kamu di mana?” tanya Rasyidan mulai kesal.
Dea berpikir sejenak. Tadinya ia ingin mengunjungi sebuah restoran, karena kebetulan ia mendapat voucher diskon dari sebuah aplikasi. Tapi... ia malu jika meminta Rasyidan untuk mengantarkannya ke restoran itu hanya karena sebuah voucher diskon.
Huh. Dea jadi teringat keluarga, terutama ayahnya yang sangat perhatian. Meski tinggal di perkampungan, ayahnya itu punya banyak kontrakan. Selama kuliah, ayahnya selalu mengirimkan uang bulanan. Tapi sekarang Dea sudah wisuda, ia malu jika terus bergantung pada orangtuanya.
Dengan percaya dirinya Dea bertekad untuk bekerja di Jakarta, yakin bisa membuat kedua orangtuanya bangga. Niatnya tak hanya mencari uang untuk dirinya sendiri, tapi juga menyenangkan orangtuanya. Apa daya, ternyata mencari pekerjaan tidaklah mudah. Berbulan-bulan menganggur, akhirnya dia diterima di perusahaan Abizard Group.
Sedang asyik melamun, ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Matanya langsung berkaca-kaca, hatinya mendadak melow hanya karena melihat nama ayahnya di layar ponsel. “Assalamu'alaikum, Pak.”
“Wa'alaikumsalam. Neng udah pulang kerja?”
“Udah, Pak.”
“Udah makan?”
“Masih di jalan.”
“Ada uang, gak?”
“Ada.”
“Yang bener? Kalo gak ada Bapak transfer.”
“Ada, kok. Kan aku kerja.”
“Ya udah atuh. Sok pulang dulu, terus makan.”
“Tapi kalo....”
“Kalo apa?”
“Kalo Bapak mau ngirim duit mah kirim aja.”
“Tuh, kan. Firasat Bapak gak pernah salah. Kamu lagi gak ada uang.”
“Aku laper...”
“Iya, nanti Bapak kirim. Nunggu Mama dulu, Bapak gak tau cara transfernya.”
“Makasi, Bapak.”
Dea tersenyum lega sembari menghapus ingusnya. Akhirnya ada dana untuk memperbaiki motor sekaligus makannya sehari-hari. Sempat ingin meminta bantuan ayahnya, hanya saja Dea terlalu malu untuk melakukan itu.
Di sisi lain, Rasyidan berdecih mengetahui begitu manjanya Dea. Walau begitu, ada juga perasaan bersalah yang entah karena apa. Berhubung perutnya juga lapar, baiklah, tidak ada salahnya Rasyidan mengajak Dea untuk makan siang.
“Turun, yuk. Kita makan di sini.” Rasyidan lalu keluar dari mobilnya yang terparkir di sebuah restoran.
“Kita?” Dea membatin. Kata 'kita' begitu aneh di telinga dan pikirannya.
Sekali lagi, Dea tak peduli siapa yang membawanya kini, yang jelas perutnya memang sudah sangat lapar. Kapan lagi bisa makan enak di restoran mewah? Meskipun hubungan Dea dan kelima temannya masih terjalin, tapi mereka sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, kecuali Sandi yang masih menganggur.
“Ehem.” Seseorang sengaja berdeham keras untuk menghentikan langkah Dea. “Sendirian aja, nih.” Pria itu tersenyum kecut usai Dea menatapnya sinis, sementara Rasyidan berjalan di depannya. “Gak ada yang lebih baik dari gue, kan?”
“Gak ada cewek muda yang mau sama lo, kan? Makanya nenek-nenek aja lo embat!” Dea balik mengatainya.
“Wih...” Pria itu, mantan kekasih Dea sejak kuliah, tampak tersinggung oleh ucapan Dea barusan. “Yang jelas dia lebih baik dari lo.”
Rasyidan sudah menggeser salah satu kursi untuk dia duduki, tapi niatnya gagal ketika melihat Dea bersitegang bersama seseorang. Langkahnya yang lebar berhasil membuatnya menghampiri mereka lebih cepat.
“Sayang, kita pindah restoran! Aku gak mau makan di sini!” Dea langsung menggamit lengan Rasyidan tanpa persetujuan.
Rasyidan terdiam, tak mengerti. Namun, Dea mengedipkan matanya berulang kali bak kelilipan garpu. Baru setelah itu, ia tahu apa yang harus dia lakukan. Hampir saja Dea akan mengamuk jika saja Rasyidan menolak untuk menjadi kekasih pura-puranya di hadapan sang mantan.
“Kenapa emangnya? Kamu gak suka tempat ini? Padahal tadinya mau aku beli,” sahutnya dengan gaya yang sangat sombong.
“Masih banyak restoran yang lebih bagus dari tempat ini,” ucap Dea seenaknya.
“Oke.” Rasyidan manggut-manggut seolah mengerti saja. “Oh, iya. Ini siapa?”
“Tukang parkir di kampus!” Dea buru-buru menarik tangan Rasyidan sebelum pria itu bersuara.
***********
BENTAR DEH. AKU BELUM NGE-FEEL DI NASKAH INI. WKWKWK. PERLU ADAPTASI DULU. MAAPKAN KALO NARASINYA GA NGENA, KERASA KAKU, GRASAK-GRUSUK, ATAU YANG LAINNYA.