“Pak Sombong,” ucap Naura membaca daftar kontak di ponselnya. Ia berharap sekali mendapat panggilan dari nomor tersebut. Ditinggal beberapa jam, rasanya ada rindu yang tiba-tiba menerpa sanubarinya. Apalagi jikalau teringat Sky pergi untuk menemui kekasih hatinya. Padahal, kondisinya pun sedang tidak baik-baik saja. Mata Naura masih terjaga, padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Biasanya wanita cantik itu sudah terlelap lebih awal. KIni, ia hanya berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamar, sembari mendendangkan lagu yang pernah didengar dalam mobil bersama Sky. “Apa ini cinta? Rasanya tidak mungkin. Aku bahkan sangat membencinya. Dia menghancurkan masa depanku, mimpi-mimpiku,” ucap Naura lirih. “Seharusnya aku membencinya bukan? Bukan malah menyukainya. Aku

