Kaki Bukit Dataran Suku Perbukitan Atas
“Jadi,” Teriak Alvyna, “Sampai kapan aku melawan mereka?”
Daisy tidak menjawab. Cengar-cengir seraya meyayat Mayat Hidup yang sedang menyerang mereka dengan tangan kosong. Awalnya Alvyna sampai melongo ketika melihat tangan Daisy yang transparan itu tiba-tiba saja berubah menjadi runcing seperti pedang perak. Lalu menghantam setiap Mayat Hidup yang menyerang mereka dari berbagai arah.
Awalnya bermula ketika Alvyna mengejar Daisy dengan sebatang kayu seperti orang kesetanan, lalu tanpa dia sadari mereka telah memasuki wilayah yang jauh berbeda dari tempat sebelumnya. Jika sebelumnya mereka berada di dalam hutan yang telah mati, kering, basah dan gelap, sekarang ada kebalikannya. Seolah-olah mereka telah memasuki dimensi yang berbeda. di luar dugaan wilayah tempat mereka berada tidak pengaruh Benih Kegelapan. Namun satu-satunya yang ada adalah sekumpulan Mayat Hidup.
Menurut penjelasan Daisy mereka adalah Bangsa Mortal biasa. Penduduk Fallenheim yang telah termakan oleh Benih Kegelapan. Meskipun tubuh mereka telah mati, ternyata jiwa mereka masih terperangkap di dalam tubuh yang telah membusuk. Jiwa yang menggila dan tidak dapat lagi membedakan apa pun. Tidak lagi memiliki kesadaran diri kecuali terperangkap dengan sifat-sifat alami mereka. Sehingga mereka akan menyerang siapa pun yang mereka temui. Mereka tidak akan pernah mati kecuali dengan Api. Sayangnya, Daisy adalah Roh Air yang tentu saja tidak memiliki sumber Api, sedangkan Alvyna, Yah,,dia sendiri tidak tahu betul siapa dirinya. Intinya mereka berdua tidak mampu membuat Mayat-Mayat hidup yang sedang mereka serang mati.
“Kau, terlihat sangat menikmati, Daisy” Alvyna melanjutkan dengan sindiran. dia melihat Daisy seperti sedang berdansa alih-alih memukul Mayat Hidup kesekian ratus yang dia tebas tapi tetap bangun juga.
Alvyna bergidik jijik melihat bentuk mereka. Meski pun Alvyna dan Daisy telah menebas mereka menjadi beberapa potongan tetap saja, mereka masih bergerak. Jika tangan yang di tebas, maka tangan itu pun masih tetap melata. Sangat menjijikkan. Sampai-sampai Alvyna muntah berkali-kali ketika sedang melawan mereka. Kali ini Alvyna bukannya frustasi karena takut pada mereka seperti sebelumnya. Tapi dia frustasi dan kelelahan menebas hal yang sama berulang-ulang kali.
“Ini bisa menjadi latihan, untuk Yang Mulia” Komentar Daisy, lalu sesekali meluncur kesana kemari menendang setiap Mayat Hidup yang akan mendekati Alvyna yang sedang istirahat. Masih tidak berdaya mengangkat batang kayu yang tadinya akan digunakan untuk melempar Daisy. Mungkin ada untungnya juga bagi dia, membawa-bawa batang kayu, pikir Alvyna.
“Aku sudah bilang! Aku tidak mau berperang! Aku mau pulang” Balas Alvyna mendengus kesal. Namun, seperti apa pun Alvyna mencoba protes pada Daisy, Jawaban Daisy selalu sama.
“Tidak ada jalan pulang, sampai Fallenheim bersih dari Benih Kegelapan. Hanya Dewi Norn yang dapat membuka gerbang menuju dunia luar”
“Kalau begitu, minta Dewi mu untuk membukakan gerbang”
“Itu mustahil, Yang Mulia. Dewi Norn telah kembali ke Tanah Para Dewa. Kita hanya dapat bertemu dengan beliau, jika Dewi sendiri yang datang ke Fallenheim” Jelas Daisy, lalu menarik tangan Alvyna berlari menjauh dari kejaran Mayat Hidup. Di luar dugaan jumlah mereka masih saja banyak.
Daisy dan Alvyna berlari, lebih tepatnya Alvyna lah yang berlari sedangkan Daisy meluncur seperti belut di samping Alvyna. “Buktinya,,, kau mampu memanggil Dewi ke,,tika ,,,hen,,,dak mengobati mataku” Protes Alvyna dengan napas putus-putus.
“Saat itu, Dewi masih berada di Fallenheim ketika beliau membuka gerbang yang kita lewati.”
“Berarti, kau membohongiku?” Lanjut Alvyna, “Kau tidak pernah berkata aku akan menjalani perang!”
Daisy terdiam sebentar. Lalu mendadak berhenti di hadapan Alvyna yang sontak membuat Alvynjna berhenti juga. “Sepertinya, tidak ada lagi Mayat Hidup yang mengejar” Beritahu Daisy melihat ke arah belakang Alvyna.
“Saya tidak pernah membohongi, Yang Mulia” Lanjut Daisy padanya. “Daisy tidak tahu jika Fallenheim sedang dikuasai Benih Kegelapan. Karena dimensi waktu antara dunia ini dan Fallenheim sangat berbeda”
“Sejak tadi, aku ingin bertanya tentang Benih Kegelapan. Apa yang kau tahu, Daisy? Jelaskan semuanya” Perintah Alvyna sangat serius. Bagaimana pun dia harus tahu apa yang sedang dihadapinya.
“Sebelum itu, Anda melihat bukit tinggi di balik hutan ini?” Tanya Daisy menunjuk kedepan. “Itu merupakan wilayah yang paling aman untuk anda” Tambah Daisy dan mengajak Alvyna berjalan ke arah yang dimaksud.
Alvyna memang melihat ada bukit tinggi tidak jauh dari tempat dia berada. Sepertinya mereka berada di kaki bukit. Sedikit aneh, dengan hutan lebat dan rimbun yang membatasi dirinya dengan perbukitan. Alvyna ingat, dia melihat banyak tempat dari mata ibu Alvyna. Tapi tempat-tempat yang ditujukan ibunya tidak benar-benar dapat dimengerti Alvyna. Dia bahkan telah lupa ketika Alvyna terbangun. Hanya bentuk ingatan samar-samar lalu perasaan aneh yang tertinggal setelahnya.
“Benih Kegelapan merupakan bentuk sihir hitam yang seharusnya tidak pernah dapat tercipta kecuali dengan pengetahuan terlarang. Siapa pun dan apa pun yang terkena Benih Kegelapan, akan menghancurkan mereka seperti racun.” Jelas Daisy.
Lalu dia melanjutkan, “Sepengetahuan Daisy, tidak satu makhluk pun yang mampu menciptakannya. Kecuali ,,,”
“Kecuali apa?” Tanya Alvyna tidak sabaran.
“Kecuali jika ada yang mencuri Pengetahuan Terlarang” Tambah Daisy dengan mata berkaca-kaca. Sampai kemudian Daisy tidak lagi terlihat fokus sedang berbicara dengan Alvyna. Daisy melayang tidak bergerak. Tampak seperti secarik kain yang kebetulan bergelantungan di udara. Tubuh Daisy yang tadinya sudah cukup transparan, sekarang malah semakin memudar.
“Daisy!” Teriak Alvyna ketakutan. “Daisy!”
Alvyna sangat takut, jika Daisy satu-satunya pendamping dan teman dia di Fallenheim malah menghilang di hadapannya. Meski pun mereka sering bertengkar, Daisy dan Alvyna cukup terikat satu sama lain.
“Daisy!” Panggil Alvyna kembali. “Jangan menghilang, ketika sedang berbicara denganku!”
“Yang Mulia, Daisy harus pergi!” Ucap Daisy tiba-tiba.
Alvyna yang sudah panik, semakin bertambah panik ketika mendengar ucapan Daisy. “Kenapa?!”
“Daisy akan kembali! Daisy harus bertemu seseorang.” Beritahu Daisy lalu puff. Dalam satu kedipan mata, Daisy telah menghilang dari hadapan Alvyna dengan satu pesan terakhir yang membahana di seluruh penjuru hutan.
“Mereka, akan melindungi Yang Mulia sampai Daisy kembali”
Alvyna membeku, “Daisy,,,” Ucapnya lirih.
Sesaat, Alvyna terdiam tidak bergerak dari tempat dia berdiri. Suasana hutan yang sudah sepi, semakin mencekam dengan diamnya dirinya. Dan kemudian lagi-lagi dia meledak.
“DAISY!!!” Teriak Alvyna dengan suara menggelegar lalu memantul di hutan yang kosong. Dia sedikit terkejut ketika merasakan kekuatan dalam suaranya. Dia tahu dirinya telah berbeda dengan Alvyna di dunia sana. Namun, tetap saja dia terkejut dengan hal-hal yang mampu dia lakukan.
“Aku benar-benar akan memburumu!!” Seru Alvyna sangat gusar.
Jika saja ada yang melihat Alvyna, berdiri di tengah hutan kosong sendirian, dengan gaun putih panjang yang sekarang berwarna hitam, lalu tubuh berlumuran lumpur dan kotor. Belum lagi dengan rambut panjangnya yang terurai sekarang kusut seperti jalinan benang sulam. Dia tampak tidak lebih baik dari Mayat Hidup yang ditemuinya itu.
“Kau akan menarik perhatian mereka, Jika teriak-teriak terus” Kata seseorang terdengar geli.
Alvyna berpaling ke arah belakangnya. Dia bertatapan dengan sepasang bola mata berwarna seperti rambutnya. Dia anak perempuan yang terlihat seperti baru berusia belasan tahun. Tingginya satu kaki di bawah Alvyna.
***
Kingdom Of Ymir,
The Great Tample
Seorang wanita yang memakai tunik Hijau Tua bertudung hitam sedang berdiri di hadapan sebuah Gapura setinggi lima meter yang terdapat di dalam sebuah bekas reruntuhan Kuil Suci. Kuilnya cukup luas untuk ditempati sebanyak seratus orang. Dahulunya, kuil tersebut merupakan kuil megah yang paling di hormati oleh penduduk di wilayah Ymir. Bukan hanya saja di hormati, melainkan satu-satunya Kuil yang pernah di berkahi oleh Valkyrie Reginleif.
Valkyrie Reginleif dikenal sebagai Kekuatan Para Dewa. Disebut sebagai kekuatan Para Dewa, karena Valkyrie Reginleif satu-satunya yang mampu melawan Dewa. Menurut legenda yang beredar, Valkyrie Reginleif terpaksa di rantai Para Dewa di sebuah gunung yang tidak mampu ditemukan oleh makhluk apa pun. Sekarang, cerita mengenai Sang Valkyrie hanya menjadi sebuah legenda yang beredar dari riwayat para leluhur. Tidak ada yang benar-benar tahu mengenai kebenarannya. Kecuali satu orang. Dia adalah Valkyrie Rota. Akan tetapi tidak ada yang pernah tahu, jika seorang wanita yang memakai Tunik Hijau itu adalah seorang Valkyrie. Mereka menyebut dirinya sebagai Outlander atau dengan kata lain, Orang Seberang.
“Lady Rota, Apa perintah anda?” Tanya seorang laki-laki.
Valkyrie Rota, berbalik untuk menatap laki-laki yang bertanya padanya. Dia adalah laki-laki yang tampan. Valkyrie Rota memanggil dia dengan Ractor. Sebuah nama yang ingin selalu dia ingat sebagai Jaminan Rencananya.
Ketika pertama kali Valkyrie Rota membawa laki-laki itu bersama dengannya, itu karena dia melihat sebuah ingatan-ingatan asing yang tidak pernah ada di Fallenheim. Ractor tidak ingat siapa dirinya. Atau dari mana asalnya. Valkyrie Rota berpikir, mungkin saja dia dapat menjadi senjata rahasia untuk dirinya. Dan ternyata, dalam waktu singkat, Ractor mampu menunjukkan perkembangan yang luar biasa sebagai seorang Prajurit. Bahkan mampu menjadi Wakil Komandan Prajurit Pengintai yang di bentuk oleh Valkyrie Rota.
“Carilah, seorang gadis untukku” Jawab Valkyrie Rota menyibak tudung kepalanya lalu menatap Ractor yang membalas tatapannya tanpa bergeming.
Salah satu hal lainnya yang disukai dari seorang Ractor, dia tidak pernah goyah ketika sedang berhadapan dengan dirinya. Sangat berbeda dengan prajurit dia yang lainnya, bahkan seorang Raja Ymir saja masih tidak mampu menatapnya lama-lama. Padahal, Valkyrie Rota telah bersama dengan Sang Raja sejak dia masih kanak-kanak.
“Siapa dia dan Bagaimana Rupanya?”
“Aku pun, tidak tahu namanya. Tugas kalian mencari tahu rupanya, hidupnya, siapa orang-orang yang bersamanya, kekuatannya bahkan kelemahannya” yang disukai Valkyrie Rota drai Ractor, tidak hanya dia tangguh melainkan Ractor sangat pandai dalam menjalankan misi yang di berikan olehnya.
“Yang perlu kalian tahu, dia adalah seorang anak perempuan yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang tidak pernah kalian saksikan” Sambung Valkyrie Rota.
Valkyrie Rota benar-benar tidak bisa melihat rupa “Dia” seseorang yang didesas-desuskan oleh Tanah Para Dewa. Bahkan sang Oracle pun telah menyampaikan berita tentang “dia”. Dengan kekuatan Valkyrie Rota yang sangat dasyat pun tidak mampu menyibak tabir penghalangan antara dirinya dan anak itu. Satu-satunya yang diketahui hanyalah, dia adalah seorang Anak Perempuan dengan kekuatan yang mampu memusnahkan Benih Kegelapan yang dia tanah di Fallenheim. Valkyrie Rota dapat merasakan kehancuran setiap makhluk yang telah terkena dengan Benih Kegelapan. Dia bahkan tahu siapa yang melakukanya. Namun saat itu, dia tidak dapat melihat apa pun. Kecuali sebuah kekuatan yang tidak pernah dia saksikan sebelumnya. Bahkan pada masa dia menjadi seorang Valkyrie. Dan hal itu membuat dia resah.
“Bagaimana pun caranya, temukan dia!”
“Apa yang harus kami lakukan setelah menemukannya?” Tanya Ractor.
“Bawa dia ke hadapanku, jika kalian tidak mampu, maka temukan segala cara, lalu bunuh dia!” Perintah Valkyrie Rota.
“Siap, Lady!!” Jawab mereka serempak.
Valkyrie Rota tersenyum puas. Dia tidak pernah merasa kecewa dengan prajurit yang berada di hadapannya. Saat ini jumlah mereka hanya Dua Puluh orang, namun dia telah melatih mereka sebanyak puluhan ribu prajurit. Cukup untuk memulai sebuah perang. Akan kupastikan, kau akan menyesal menghancurkan buah karyaku, pikir Valkyrie Rota.