Fallenheim
Wilayah Suku Perbukitan Atas
3 Tahun Kemudian
“Kau tidak pernah bosan memandangi langit” Komentar sebuah suara.
Alvyna sedang berbaring seraya memandangi langit biru di bawah Pohon dengan daun seperti jemari tangan. Namanya Pohon Sage. Berwarna hijau pekat di musim panas, lalu berubah orange kemerahan di musim gugur dan di musim turun salju daun-daunnya akan berguguran, sedangkan ranting-rantingnya yang memang berwarna keputihan akan semakin putih. Alvyna telah menghabiskan 3 kali musim panas dan musim dingin untuk melihat tiga bentuk Pohon Sage. Pohon ini terdapat di seluruh Perbukitan Atas, serta tidak pernah mati. Orang-orang di suku Perbukitan Atas memanggilnya sebagai pohon keramat.
Menurut Alvyna, wajar saja mereka menyebutnya sebagai pohon keramat. Tinggi Pohon Sage di atas rata-rata pepohonan yang ada di seluruh penjuru Fallenheim. Batangnya besar sampai-sampai dapat dibentuk sebuah gerbang tanpa harus menebang pohonnya. Lalu yang paling menakjubkan, Pohon Sage memiliki biji. Sebesar buah cherry liar berwarna merah dan sekeras kacang walnut. Jika di malam hari, biji-bijinya akan bersinar merah. Seperti lampion-lampion kecil. Namun, buahnya adalah racun. Racun yang mampu membuat seseorang lumpuh jika memakannya. Lumpuhnya memang tidak permanen, tetapi cukup membuat seseorang berbaring di tempat tidur selama beberapa hari karena demam. Keindahan yang mematikan.
“Jika anda pernah buta seperti saya, anda pasti akan melakukan hal yang sama dengan saya, Dewi” Balas Alvyna memposisikan dirinya dengan duduk bersila.
Alvyna menarik napas dalam-dalam ketika melihat Dewa yang datang setiap Akhir musim panas. Namanya Dewa Hoenir. Saudara laki-laki dari Dewi Norn. Jika Dewi Norn adalah penguasa takdir maka Dewa Hoenir adalah dewa yang mampu mengubah takdir.
“Aku tidak mengerti, apa menariknya warna langit untuk bangsa mortal” Kata Sang Dewa tersenyum lebar.
Dewa Hoenir memiliki para yang sangat tampan. Bersinar seperti cahaya matahari, seolah-olah setiap kali Alvyna melihat Sang Dewa tubuhnya dibaluti oleh sinar yang berpencar terang. Dia benar-benar memiliki sosok yang sangat berbeda dengan Dewi Norn. Ibaratnya Dewi Norn adalah malam dan Dewa Hoenir adalah siang. Rambut keemasan Dewa Hoenir selalu tampak berkilau, bahkan di bawah cahaya musim panas.
Alvyna ikut tersenyum membalas senyum Dewa Hoenir. Dia tidak pernah benar-benar dapat membencinya, padahal dia selalu datang dengan tugas-tugas yang sangat menjengkelkan Alvyna. Bahkan dimana pun atau kemana pun Alvyna bersembunyi, Dewa Hoenir selalu dapat menemukannya dengan seringaian khasnya.
“Tentu saja karena kami hidup dan tinggal beratapkan langit” Jawab Alvyna. Ngomong-ngomong soal tempat tinggal, di mana Tanah Para Dewa berada?” Sambung Alvyna penasaran. Dia sudah bertanya hal itu selama beberapa kali, tapi sang Dewa tidak pernah mau menjelaskan keberadaan Tanah Para Dewa.
“Kenapa?” Tanya Dewa Hoenir serius. “Apa kau masih mencari Dewi Norn?”
“Dia yang membawa saya ke negeri ini, jadi hanya dia yang bisa mengembalikan saya lagi ke sana” Jawab Alvyna berang melupakan untuk berbicara sopan santun.
“Dia akan mengembalikanmu ke sana setelah kau melaksanakan semua tugas darinya” Ucap Dewa Hoenir memunggungi Alvyna. Selalu jawaban yang sama dari waktu ke waktu. Dia sudah muak mendengarnya.
“Sampai kapan?!” Alvyna berdiri dan menghadap Dewa. “Saya sudah melaksanakan tugas darinya selama 3 tahun lebih. Saya telah membersihkan Fallenheim sampai langit biru di sana bisa muncul di sebagian wilayah! Saya juga sudah mencari sumber keberadaan Benih Kegelapan ke berbagai wilayah! Coba Anda pikirkan? Bagaimana perasaan saya yang menjalani itu semua di negeri asing ini? Apalagi yang diinginkan Sang Dewi?” sembur Alvyna meluap-luap.
Selama tiga tahun lamanya, Alvyna telah melakukan tugas dari Dewi Norn. Sebagai syarat untuk Alvyna kembali ke dunianya, maka dia terpaksa melakukan apa pun yang di minta Dewi Norn di negeri asing yang dia tidak kenal siapa pun. Satu-satunya makhluk yang dia pikir tidak akan pernah meninggalkan Alvyna, tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Keadaan dia cukup merana dan membuat dia frustasi. Hampir-hampir penglihatan yang dia dapatkan seperti di tukar dengan pertumpahan darah yang Alvyna tidak inginkan.
“Aku tidak punya kuasa untuk mengubah keadaan bagimu, wahai Putri Para Dewa” Ucap Dewa dengan lembut. Membelai rambut Alvyna seperti menenangkan seorang anak kecil. Waktu tiga tahun cukup panjang untuk membentuk ikatan seperti sebuah keluarga dengan Dewa Hoenir. Apalagi dia adalah Dewa yang sangat lembut dan bijaksana dengan manusia.
“Jika Anda ingin menolong saya, tolong pertemukan saya dengan Dewi Norn” pinta Alvyna memelas. Dia tidak sadar Air Mata telah membasahi kedua pipinya.
Dewa mengusap buku tangannya untuk menyeka Air Mata Alvyna yang terus mengalir. “Aku bahkan tidak tahu di mana keberadaannya. Dia adalah satu Dewi yang memiliki derajat tertinggi di antara para Dewa dan Dewi.” Beritahu Dewa. “Tidak ada seorang pun atau makhluk apa pun yang dapat bertemu dengannya kecuali jika dia berkehendak”
Alvyna tidak lagi berdebat panjang. Dia terus saja menangis tanpa henti. Dewa Hoenir menarik Alvyna ke dalam pelukannya. Rasanya seperti di peluk oleh sesuatu yang kenyamanannya sampai ke relung jiwa. Hanya saja tidak ada bentuk solid dari pelukan itu. Bagi Alvyna, Dewa Hoenir sudah seperti seorang kakak laki-laki, hingga dia tidak pernah menolak perhatian yang diberikan sang Dewa, yang ternyata cukup protektif terhadap dirinya.
“Lalu, tugas apalagi yang sekarang Dewi berikan untuk saya?” Tanya Alvyna setelah berhenti dari tangisannya.
Alvyna adalah wanita yang kuat. Dia tidak pernah menangis jika hal itu tidak benar-benar membuat dia frustasi. Bisa dikatakan, Alvyna sangat jarang menangis. Dia lebih sering marah-marah atau pun menggurutu dari pada menangis, akan tetapi apa mau di kata, perjalananan hidupnya di Fallenheim tidak lebih mudah ketika dia buta di dunianya. Seolah-olah kemalangan hidup telah menjadi makanan sehari-harinya. Terkadang dia curiga, mungkin saja dia penarik kemalangan.
“Apa kau tahu? Ada tiga pusaka yang dimiliki oleh seorang Valkyrie” Kata Dewa memandang lurus ke depan. Alvyna dan Dewa sedang berada di atas bukit. Di bawahnya ada hutan yang membentang sangat luas. Hutan yang membatasi antara Perbukitan Atas dan wilayah terluar Fallenheim. Di balik hutan itu, merupakan tanah tandus yang telah mati karena Benih Kegelapan. Jika berjalan selama 4 hari, akan bertemu dengan wilayah utara Baldr.
“Saya pernah melihatnya di dalam mimpi yang ditunjukkan oleh Valkyrie Eir” Alvyna telah lama mengetahui nama ibunya. Tapi dia tidak pernah menyebutkan nama itu. Jika dia sebutkan, hatinya sedikit perih. Perih karena rasa rindu. “Ada apa dengan pusaka itu?”
“Kau harus mencari 3 pusaka Valkyrie,” Kata Dewa. “Pusaka Pertama, Pedang yang terdapat di dalam hutan Ashland. Tapi, kau harus membangkitkan seluruh penghuni Pohon Ash untuk dapat menemukan lokasi Pedang”
“Tapi, selama beberapa waktu ini saya telah mencoba memasuki wilayah Ashland. Saya tidak pernah dapat menemukan Hutan Ashland” Jelas Alvyna. Itu benar, selama beberapa tahun ini Alvyna sudah berkeliling ke berbagai tempat di Fallenheim tapi dia tidak pernah bisa memasuki Hutan Ashland. Hutan yang dapat dia lihat tapi tidak dapat dia masuki.
“Hanya Penjaga Hutan Ashland, yang mampu memasukinya,” Kata Dewa. “Tapi, kau memiliki darah Valkyrie, hanya kau satu-satunya yang mampu membangunkan makhluk yang ada di dalam sana”
“Saya tetap tidak bisa masuk. Saya sudah mencobanya beberapa kali” Protes Alvyna.
“Itu karena caramu yang salah. Segel di punggungmu adalah kunci untuk masuk ke dalam sana.”
Alvyna meraba segelnya yang berdenyut dari balik gaun abu-abu pucat yang dipakainya. “Aku bahkan tidak tahu bagaimana segel ini bisa berada di pungguku” Gumam Alvyna.
“Alvyna, dengarkan aku baik-baik,” Dewa memegang bahu Alvyna, menatapnya dengan serius. Bola warna mata keemasan milik Sang Dewa berkilau terang. “Kau tidak diciptakan sebagai seorang Valkyrie, tapi kau terlahir dengan membawa darah dan jiwa seorang Valkyrie. Di dalam dirimu ada bentuk kekuatan yang lebih dasyat dari seroanng Valkyrie. Aku dapat merasakannya. Jadi, Kapan pun kau inginkan, kau dapat memanggil kekuatan itu” Kata Dewa Hoenir.
“Kau hanya harus mempercayai dirimu sendiri.” Sambung Dewa melepaskan genggamannya.
Alvyna menggangguk pelan. “Lalu bagaimana dengan pusaka lainnya?”
“Pusaka Kedua yang harus kau cari ada di dalam gerbang Bangsa Elfar.” Alvyna terkejut mendengarnya. Setahu Alvyna, wilayah bangsa Elfar merupakan tanah yang paling sulit untuk di masuki.
“Tepatnya, di dalam Sungai Hitam yang mengalir di bawah tanah Bangsa Elfar,” Sambung Dewa. “Tapi, berhati-hatilah. Sungai Hitam memiliki racun yang yang dapat menciptakan ilusi yang sangat berbahaya. Jika kau terlena, kau mungkin tidak akan bisa keluar dari sana.”
“Apa kau tidak bisa membantuku mendapatkan pusaka-pusaka itu?” Tanya Alvyna memandangi Dewa dengan mata peraknya yang besar dan memelas seperti anak anjing yang tidak mau ditinggal oleh tuannya.
Dewa Hoenir terlihat goyah. Alvyna tersenyum bangga dengan taktiknya. Dia tahu, senjata rahasianya untuk meluluhkan orang-orang, pertama matanya. kata si kembar, salah satu teman barunya dari Suku Perbukitan Atas, mata Alvyna adalah bagian yang paling menawan pada dirinya. Jika seseorang melihat Alvyna, hal yang pertama kali membuat seseorang tertegun dan kehilangan kata-kata adalah mata Alvyna. Entah itu karena matanya adalah mata seorang Valkyrie, ataukah itu memang bagian terindah pada dirinya.
“Kau kan tahu, Para Dewa tidak bisa dekat-dekat dengan Benih Kegelapan, Jika kami yang dikuasai oleh Benih Kegelapan, Negeri bisa ini bisa hancur tidak tersisa”
Alvyna mendesah panjang-panjang. Lalu bertanya, “Memangnya, Pusaka Kedua itu apa?”
“Pusaka Kedua adalah Tameng Valkyrie, bentuknya dapat berbeda-beda. Tergantung kepada para Valkyrie itu sendiri. Aku pun tidak tahu, tameng untukmu seperti apa. Itu dapat berupa apa saja.”
“Tapi, itu tidak menjelaskan benda seperti apa yang harus saya cari!”
“Aku percaya, kau akan menemukannya dengan baik” Kata Dewa tersenyum bangga.
“Anda, terlalu banyak menaruh harapan pada saya,” Ujar Alvyna pelan. “Lalu, seperti apa bentuk Pusaka Ketiga?”
“Baju Perang” Jawab Dewa singkat.
“Apakah aku harus menemukannya?” kata Alvyna enggan menjalankan misi-misi ini.
“Justru, Baju Perang Valkyrie adalah benda yang paling kau butuhkan. Bagaimana pun, tubuhmu bukan tubuh seorang Valkyrie dan bukan pula Makhluk Abadi. Karena kau dari dunia berbeda dengan dunia ini, kau sangat rentan dengan marabahaya.” Jelas Dewa Hoenir sangat serius. Matanya berkilat-kilat menatap Alvyna, lalu ada bayangan kekhawatiran di sana. Dewa Hoenir memandang Alvyna seperti sedang menatap gelas kaca yang sudah retak.
“Baiklah.” Desah Alvyna dengan berat. “Kemana saya harus mencari Baju Perang, ini?”
Dewa Hoenir terdiam sesaat. Tampak menimbang-nimbang. “Kau hanya dapat menemukannya, setelah kau mengambil Pusaka Kedua di Sungai Hitam.”
“Apa?!” Suara Alvyna naik satu oktaf. “Bukankah lebih baik mencari Baju Perang terlebih dahulu?”
“Informasi keberadaan Baju Perang, tertanam di dalam Sungai Hitam.” Jelas Dewa. “Sungai Hitam itu, salah satu tempat yang menyimpan pengetahuan-pengetahuan kuno dan terlarang.”
“Saya tidak mengerti, jika Sungai itu begitu berharga, kenapa Pusaka Valkyrie terletak di sana?” Kata Alvyna. “Bukankah semua orang juga tahu, Pusaka pasti di buru oleh banyak orang”
Dewa tersenyum mendengar perkataan Alvyna. “Hanya Para Valkyrie yang mampu menyentuh dan memiliki pusaka itu, Alvyna”
“Sebenarnya, siapa yang meletakkan benda-benda itu di tempat seperti itu?” Gerutu Alvyna jengkel.
Dewa Hoenir ragu-ragu sebelum menjawab. “Pusaka-pusaka yang diperintahkan untuk kau cari itu sudah ada pemiliknya. Dewi Norn, Terpaksa menyembunyikan mereka dari seseorang”
“Kenapa kalian memintaku mengambil benda milik orang lain? Apakah Pemiliknya tidak akan mencarinya lagi?” kata Alvyna memprotes.
Dewa tersenyum getir. Semburat kesedihan melingkupi wajahnya yang bercaya dan tidak pernah padam. Tiba-tiba, cahaya itu memudar. Membuatnya tampak seperti seseorang yang kehilangan dunianya. Alvyna tidak pernah melihat Dewa Hoenir seperti ini. Dia seperti melihat orang lain. Bukan Dewa dengan pancaran keagungan. Melainkan manusia-manusia berkabung.
Selama Alvyna berada di Fallenheim, banyak sekali pemandangan kelabu yang di lihatnya. Seperti ketika penduduk di Fallenheim kehilangan orang-orang terkasih mereka di lahap oleh Benih Kegelapan. Teriakan mereka saat itu, sangat memekakkan telinga. Terlalu menyedihkan, sampai-sampai terbawa ke dalam mimpinya. Saat ini, seperti itulah raut wajah sang Dewa.
“Pemiliknya telah tiada” Jawab Dewa Parau. Melihat Dewa yang bersikap tidak seperti biasanya, Alvyna mengurungkan niatnya untuk mengorek lebih jauh. Alih-alih dia berkata dengan lembut, “Apakah ada tugas lain yang harus saya lakukan?”
Sejenak, Dewa memandangi Alvyna penuh kasih. Lalu tersenyum lembut. “Tidak Ada, Semoga berkah dewa bersamamu, Wahai Putri Para Dewa”
Alvyna tersenyum kepada Dewa Hoenir, melambaikan tangannya dan mengucapkan salam perpisahan. Dia tinggal sendiri. Angin di akhir musim panas berhembus melewatinya, meninggalkan jejak dingin. Pertanda musim akan segera berganti.
Alvyna menyapu matanya ke seluruh penjuru hutan, samar-samar dia mulai dapat melihat pepohonan mulai kehilangan warna hijaunya, dan di beberapa tempat sudah mulai berwarna merah dan kuning.
Lagi-lagi Alvyna menarik napas dalam-dalam. Dia merasa sangat lelah. Bukan hanya tubuhnya yang lelah, tetapi jiwanya mulai meronta-ronta. Dia gelisah. Meninggalkan dunianya yang sekarang sudah terhitung lebih dari tiga tahun, membuat hatinya gelisah. Dia ingin bersedih. Ketika mengingat ada seorang ayah yang dia tinggalkan, lalu seorang lelaki berharga untuknya. Karena itu, demi menghapus jejak-jejak kesedihan itu, terkadang dia bersedia mengikuti setiap tugas-tugas dari Dewi Norn tanpa komentar.
Namun, dia mulai membutuhkan waktu untuk sendiri. Waktu baginya untuk berkabung. Setelah mendengar informasi dari Daisy, bahwa seluruh hidupnya telah terhapuskan dari ingatan orang-orang di dunia sana, seolah meruntuhkan mentalnya. Sering kali, dia terbangun di tengah malam. Lau mengingat segala hal yng terjadi dalam hidup Alvyna. Dia pun akan menangis tersedu-sedu. Sendirian. Namun dia berusaha kuat. Karena semua itu akan segera berakhir jika dia dapat menghapus seluruh jejak Benih Kegelapan di Fallenheim.
Sayangnya, perjalanannya tidaklah mudah. Selama dia turun ke berbagai wilayah, dia sering mendengar desas-desus, ada banyak pihak yang sedang mencari keberadaannya. Dia dikenal dengan Pahlawan. Tentu saja, mereka tidak tahu. Jika dia jauh dari seorang pahlawan. Dia bahkan tidak pantas mendapatkan sebutan itu.
Lady Sezeref, yang memimpin Suku Perbukitan Atas pernah berkata pada dirinya. Alvyna tidak seharusnya berada di Fallenheim. Jiwa seperti Alvyna adalah JIwa Terkutuk. Sama seperti Putra Mahkota negeri Fallenheim. Menurutnya, Alvyna dan Putra Mahkota memiliki takdir yang sama.
Karena itu, selama beberapa waktu dia berusaha mencari cara untuk bertemu dengan Putra Mahkota, dia suka mengikuti jejak Putra Mahkota yang tidak pernah berdiam di satu tempat. Selain itu, Alvyna juga sedang mencari keberadaan daisy.
“Vyan, Nenek Seze memanggilmu” Panggil sebuah suara menyadarkan Alvyna dari lamunannya.
Alvyna berputar, “Kau bisa kena marah, jika memangilnya nenek Terus!” Tegur Alvyna tersenyum geli pada anak perempuan dengan sepasang bola mata berwarna emas. Namanya Kara. Sedangkan kembarannya bernama Kian. Meski mereka baru berusia 16 tahun, Kara dan Kian adalah teman pertamanya di Fallenheim.
Alvyna sekarang berusia 21 tahun, jika di hitung dari ukuran hidup di dunia aslinya. Namun di Fallenhiem, ruang dan waktu bergerak sedikit berbeda. Sehingga dia masih tampak seperti pertama kali menginjakkan kakinya di Fallenheim. Seolah waktunya telah berhenti.
“Tidak masalah jika dia tidak dengar” Balas Kara tertawa.
Alvyna menggeleng-gelengkan kepala sembari berjalan ke tempat Kara yang telah mengulurkan tangannya. Alvyna menggenggam tangan Kara, lalu berjalan menuruni bukit tempat dia berada menuju ke pemukiman Suku Perbukitan Atas.
Kara menggenggam tangan Alvyna erat-erat. Dia punya kebiasaan aneh. Entah kenapa, Kara suka sekali menggenggam tangan Alvyna. Dia cukup protektif terhadap dirinya.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Kara lirih.
Alvyna mengangguk pelan. Dia sendiri tidak tahu apakah dia baik-baik saja. Terlalu banyak yang terjadi dalam hidupnya, yang terkadang masih sangat sulit untuk dia terima. Sesaat dia mendengar sebuah suara. Suara lolongan seekor binatang buas. Suaranya mungkin dari tempat jauh. Tapi semilir angin yang cukup kencang membawa suara itu ke tempat mereka.
Alvyna dan Kara berhenti mendadak. Kara melihat Alvyna dengan mata ngeri. Tanpa memperdulikan raut Kara yang ingin protes. Dia terus menarik tangan Kara untuk pulang. Alvyna tahu, suara itu hanya berarti satu hal. Benih Kegelapan mulai bertingkah lagi. Dan dia harus segera berangkat untuk bertarung dengan mereka. Apa pun taruhannya.