Demi Mama

2228 Words
“Minggir ....” Brakkk Suara dentuman motor yang jatuh terdengar jelas di kesunyian malam ditambah dengan teriakan kaget Mama yang melihat aku tepat berada lurus dengan motor yang kini pengendaranya jatuh terkapar di halaman rumah kami karena menabrak pagar bambu saat membanting stir agar tidak menabrak aku yang saat itu berada di tengah jalan. Ada sedikit rasa bersalah karena keteledoranku menyebabkan dia jatuh terguling. Aku melangkah mendekatinya berusaha untuk menolong. Namun, baru dua langkah dia sudah berdiri dengan telunjuk yang lurus mengacung ke arahku. “Gila ...! Lo mau mati tengah malam berdiri di tengah jalan,” maki pria yang masih mengenakan helm di kepalanya. Makian yang sudah jelas dia tujukan padaku yang kini malah berdiri bak patung karena kaget dengan teriakannya dan hanya melongo saja saat pria itu memandangku dengan sorot mata penuh kebencian. “Cantik-cantik budeg,” tambahnya sebelum menyeret kaki untuk membangunkan motor. “Maaf,” desisku merasa bersalah. “Kamu pikir maaf bisa membuat motorku kembali mulus! Untung cewek, kalau laki langsung Gue hajar,” geramnya sebelum kembali mengendarai motor tanpa menunggu komentar apapun keluar dari mulutku. Motornya sudah melesat jauh meninggalkan aku dan Mama dalam kesunyian malam. “Sayang, kamu tidak apa-apa?” tanya Mama memeriksa seluruh bagian tubuhku kemudian menarikku ke dalam pelukannya. Aku hanya menggeleng karena masih berusaha menguasai rasa kaget. Mama menuntunku masuk ke dalam rumah dan dengan sigap dia memberikan segelas air minum pada. “Minumlah Cat, kamu pasti kaget,” ujarnya penuh kelembutan. Cara Mama memperlakukan aku yang selalu membuat rasa rindu kerap mendera. Hanya saja saat teringat dengan banyaknya utang yang harus aku bayar, aku menunda keinginanku untuk pulang. Apalagi setiap kali teringat gunjingan panas nan pedas dari saudara-saudara Mama. Rasanya, pulang ke rumah tidak ada dalam agenda hidupku sebelum bisa membayar lunas utang Mama dan menyumpal mulut orang-orang yang begitu ringannya mencemooh keluarga kami. Kami memang miskin, tapi aku tidak terima setiap kali Bibi, Uwa, atau pun kerabat Mama lainnya mengolok-olok kemiskinan kami dan membandingkan dengan keadaan mereka yang jauh lebih baik di atas kami. Menurutku, sepatutnya sesama saudara itu saling membantu, bukan malah membanggakan kesuksesan dan menginjak saudara lain yang kurang beruntung dan kejadian tadi seolah menjadi sambutan luar biasa atas kepulanganku ke tempat ini. Ternyata bukan hanya aku yang enggan menginjakkan kaki di tanah kelahiranku ini, bahkan mungkin tempat ini pun enggan kembali lagi menerimaku setelah sekian lama ditinggalkan. “Kamu sudah makan Cat?” tanya Mama setelah aku menenggak habis gelas yang dia berikan tanpa sisa setetes air pun. “Sudah Ma. Mama sudah makan?” aku takut dia tidak makan karena menunggu kepulanganku. “Sudah sayang … kamu istirahat saja dulu, lumayan masih ada waktu menunggu pagi.” “Iya Mah, kita bicara besok, aku lelah,” pamitku yang hanya diangguki lemah oleh wanita yang selalu memandangku penuh cinta. Tak banyak interaksi yang terjadi malam ini, aku benar-benar lelah dan belum siap bicara apapun dengan Mama. Apalagi membahas tentang lamaran yang menjadi alasan dari kepulanganku saat ini. Aku meninggalkan Mama yang masih duduk di tikar yang tergelar, keriput di wajahnya kian banyak. Beban yang Mama pikul selama ini membuat wajahnya lebih tua dari usia Mama yang sebenarnya. Seandainya aku mampu, rasanya aku ingin Mama hanya diam dan bersantai di rumah tanpa harus lelah mengais rejeki dan memikirkan aneka beban yang masih menjadi tanggungannya. Aku tidak tega, tapi apa dayaku. Gaji yang aku hasilkan belum mampu mengangkat Mama dari jurang keterpurukan. Padahal Mama adalah segalanya bagiku. Mama adalah hartaku yang paling berharga. Dia wanita yang begitu gigih dan tangguh berjuang untuk kedua anaknya. Tak pernah aku mendengar keluhan sedikit pun keluar dari mulutnya tentang rasa lelah yang Mama alami. Hanya ketika orang-orang mulai membicarakanku, Mama seolah menjadi sosok melankolis yang selalu menangis karena hal itu. Akhirnya, aku bertemu lagi dengan kasur dan ranjang usang di kamarku. Aku sudah siap untuk tidur, terserah esok nanti aku akan bangun jam berapa. Aku langsung membaringkan tubuhku ke ranjang kayu dengan kasur tipis, tempat tidurku sejak masih bocah hingga aku memutuskan merantau ke kota. Paginya, aku disambut suara ribut beberapa orang yang terdengar sedang membahas robohnya pagar bambu rumah kami yang mau tidak mau memaksa mataku terbuka. Luar biasa. Aku yang biasanya bangun sebelum matahari muncul, kini malah baru membuka mata saat jarum jam dinding hampir menggapai angka sembilan. “Tinah, ini roboh kenapa?” “Semalam tertabrak pengendara motor,” jawab Mama yang entah sedang mengobrol dengan siapa saja. Telingaku menangkap bukan satu dua orang yang berada di depan rumah, mungkin para tetangga yang iba melihat robohnya pagar bambu milik Mama, atau mungkin juga saudara Mama. Entahlah, yang pasti aku sama sekali tidak berniat keluar menampakan diri. Aku lebih memilih langsung mencari handuk dari dalam lemari dan langsung keluar kamar menuju kamar mandi yang berada di bagian belakang rumah, dekat dengan dapur. Air dingin yang menerpa selalu mampu membuat tubuhku lebih rileks. “Sudah mandi?” tanya Mama yang sedang mengangkat nasi dan telor dadar beserta tempe goreng untuk di bawa ke ruang serbaguna. Aku menyebutnya ruang serbaguna karena satu ruangan dengan luas enam kali empat meter itu dibagi dua, bagian depan yang dekat dengan pintu dijadikan ruang tamu. Namun, tanpa kursi karena kursi set jati yang dimiliki Mama dijual saat kakakku hendak menikah. Di sana hanya digelari karpet dengan sebuah meja persegi panjang yang diletakkan di bagian tengahnya. Setengah bagian ruangan itu di jadikan ruang televisi dimana televisi 21 inchi diletakkan di sebuah meja kayu dan tergelar tikar lebar dengan kasur yang terlipat. Di sanalah Mama akan meletakan nasi dan lauk pauk, kemudian menyuruhku untuk segera berpakaian dan makan bersamanya. Celana jeans panjang dengan kaos model V shape berlengan panjang yang aku kenakan pagi ini rasanya cukup sopan dikenakan di sini. Tentu saja semua pakaian di lemari rumah ini isinya berbanding terbalik dengan semua pakaian milikku di kota. Aku tak membawa satu pun pakaianku pulang. Mulut-mulut usil warga kampung akan semakin ramai memperbincangkan aku yang digembor-gemborkan menjadi p*****r kalau mereka melihatku berpakaian terlalu seksi. Lihat saja, hanya memakai jeans dan kaos lengan panjang saja lekuk tubuhku tetap terlihat menggoda karena bagian b****g dan payudaraku tetap tercetak jelas, bulat dan padat. “Cathy, ayo makan,” teriak Mama yang mungkin sudah duduk di tikar untuk menungguku keluar. “Ya ampun kenapa kamu berpakaian seperti itu,” teriak Mama saat aku keluar dari kamar. Aku berputar sejenak untuk memindai diriku. Aku rasa tidak ada yang salah dengan pakaianku. “Memangnya kenapa, Mah?” tanyaku bingung. “Susumu kelihatan gede pakai kaos itu, sampai nyembul keluar,” protes Mama menunjuk dadaku. “Masa aku mesti pakai daster,” balasku memprotes kalimat Mama. “Ini kaos lengan panjang loh, Mah.” “Iya tapi susumu jadi terlihat gede,” tunjuk Mama ke arah dadaku. “Emang dadaku seperti ini, Mah. Asli, dari dulu juga seperti ini. Mama sudah tahu itu, masa aku harus operasi buat mengempiskannya,” celetukku menekan kedua d*da agar terlihat mengecil kemudian menggoyangkannya. Mama tertawa melihat aku sengaja menggoyangkan d**a besarku di depannya. “Edan kamu, Cat,” komentar Mama sebelum mengisi piring dengan nasi. “Ya wis, ayo makan,” ajak Mama. “Lezatnya,” gumamku saat melihat sambal terasi buatan Mama begitu menggoda hingga membuat air liurku hampir menetes. Dari sekian banyak makanan di sisi, hanya sambal terasi buatan Mama yang tidak kutemukan di kota. Pedas dan sedapnya terasa pas dimakan dengan apapun, bahkan tanpa lalapan sama sekali. Aku mengambil sepotong telor dadar dan mencolekannya ke sambal sebelum masuk ke dalam mulutku bersama nasi putih yang dimasak Mama dengan menggunakan kompor, dandang, kukusan, cara manual untuk menanak nasi hingga hasilnya lebih pulen daripada dimasak dengan menggunakan magic jar. Usai makan Mama mengajakku duduk, hari ini dia terlihat santai karena libur berjualan. Biasanya sejak jam tujuh pagi Mama akan keliling menjajakan kue-kue buatan Bibi Sarah, tetangga kami. “Cathy, Nyonya Valeria melamarmu untuk anaknya,” cetus Mama menyebutkan satu nama yang sama sekali tidak aku kenal. “Siapa Nyonya Valeria?” “Dia pelanggan kue Mama,” jawab Mama menatapku. “Pemilik rumah paling besar, paling megah dan orang paling kaya di wilayah kita,” imbuh Mama. Orang paling kaya di wilayah ini, bahkan orang paling kaya di kotaku adalah keluarga Demetria. Tuan Shaqa, pemilik toko emas yang cabangnya tersebar di berbagai wilayah. Hanya saja aku tidak tahu nama istri dari Tuan Shaqa. “Bukannya orang paling kaya di sini Tuan Shaqa? Berarti Nyonya Valeria itu istrinya?” tebakku dan Mama pun membenarkan perkataanku dengan anggukannya. “Jadi, Nyonya Valeria itu istri Tuan Shaqa,” ulangku untuk memastikan kalau tebakan aku tidak meleset. “Iya, awalnya Nyonya Valeria hanya rutin membeli jajanan Mama setiap pagi. Hingga suatu hari, dia mendengar selentingan kabar dari orang-orang yang membicarakanmu.” Mama menarik napasnya sebelum melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan padaku. “Akhirnya Mama menceritakan tentang kamu dan pekerjaanmu. Setidaknya Mama tidak ingin dia menganggap kamu seperti apa yang dikatakan orang-orang, bahwa kamu jadi pelac*r di kota.” Aku bisa membaca raut kesedihan dalam wajah Mama saat mengatakan itu. Namun, Mama terus melanjutkan ceritanya yang berawal dari keinginan tahuan Nyonya Valeria tentang aku, hingga Tuan Shaqa pun suatu pagi menyatakan niatnya untuk menjadikan aku menantu tunggalnya. “Mama tidak tahu bagaimana cara menolak lamaran dari keluarga Demetria,” ungkap Mama di depanku. “Tuan Shaqa yang langsung memintamu untuk menikah dengan putra tunggalnya, Dean,” sambung Mama yang jelas membuatku bingung harus berkomentar apa. Bayangkan kalian seorang upik abu, seorang anak dari janda miskin dan tiba-tiba dilamar oleh seorang pangeran, seorang putra tunggal pewaris semua harta milik keluarga Demetria. Pasti akan sama sepertiku yang hanya bisa diam, tidak memberikan jawaban apapun atas apa yang sudah Mama ungkapkan. Mamaku hanya seorang janda miskin dengan tumpukan utang yang entah kapan bisa kami lunasi. Janda yang memiliki dua anak, Joshua Carlos dan aku, Cathy Adelicia. Josh sudah terlebih dahulu menikah dengan teman mainnya, Mariana. Mereka kini sudah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Juanda Carlos dan tinggal di kota karena pekerjaan Josh sebagai satpam yang kadang merangkap menjadi sopir pribadi dari suami Nyonya Laudya. Josh juga yang membawaku bekerja di butik Nyonya Laudya meskipun tetap saja kami sangat jarang bertemu karena lokasi butik dan rumah keluarga Nyonya Laudya memang cukup jauh, ditambah dengan kemacetan yang selalu menghiasi jalan-jalan protokol di ibu kota. “Bicaralah, Cat, Mama bingung kalau kamu hanya diam,” pinta Mama yang membuyarkan lamunanku. Lamunan yang mengingatkan siapa diriku dan siapa keluarga yang melamarku. Bagai pantai dan gunung yang jelas berjauhan dan terasa sulit untuk digabungkan. Ah, katakan bagaimana aku harus menimpali semua perkataan Mama? Aku belum ingin menikah, aku masih ingin bebas. Namun, adakah cara yang mampu aku lakukan untuk menolak lamaran ini dengan sopan? Tentu saja tidak! Siapa aku, berani-beraninya menolak keluarga mereka. Jelas itu akan membuat keluarga Demetria merasa terhina. Menikah dengan Dean Demetria, bukan sesuatu hal yang buruk. Namun, aku sama sekali belum tahu seperti apa tampangnya. Aku hanya mendengar kalau Dean menjadi seorang guru seni di salah satu SMA terbaik di daerah ini. Tentu saja kekuasaan keluarga Demetria yang berhasil membuatnya berada di sana. “Aku pikir Dean Demetria bukan tipe laki-laki yang bertanggung jawab seperti ayahnya ...,” kataku memberanikan diri mengungkapkan pendapatku tentang Dean dengan menatap bola mata Mama yang dipenuhi ribuan kecemasan saat aku mengatakan kalimat tersebut. “Namun, apa ada yang bisa menolak keinginan mereka? Apalagi keluarga miskin seperti kita?” tanyaku dengan menggenggam jemari Mama yang kini terasa begitu dingin. “Apapun akan aku lakukan demi Mama, demi keluarga kita. Meskipun aku harus menikah dengan Dean,” putusku yang seketika membuat Mama langsung mendekap erat tubuhku dengan bertubi-tubi mengucapkan terima kasih karena keputusanku membuatnya begitu lega. Lega yang bukan hanya dirasakan Mama, Aku pun merasa lega, sudah memberikan sebuah jawaban yang membuat Mama terlihat begitu bahagia. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya saat aku mengalah dan memutuskan untuk menerima lamaran dari keluarga Demetria yang dialamatkan padaku. _______________I.S_______________ Sore ini, aku menyempatkan untuk keliling kampung dengan sepeda mini yang dulu aku gunakan untuk bolak-balik ke sekolah dan kini sepeda ini digunakan Mama untuk berjualan kue dengan memasang sebuah keranjang di boncengannya. Aku harus melepas keranjang yang terikat terlebih dahulu sebelum membawa sepeda ini keluar menemaniku mengingat kembali masa kecilku di sini. “Cathy ...,” teriak seorang pria yang sedang duduk berkumpul bersama teman-temanya di sebuah jondol yang di bangun di tepi sawah milik keluarga Demetria. Sebagai tambahan informasi, usaha toko emas tuan Shaqa bukan hanya satu-satunya yang dimiliki. Tuan Shaqa juga memiliki ratusan hektar sawah di kampungku. Aku menghentikan laju sepedaku dan berbalik ke arah tiga pria yang sedang duduk di sana menghisap rokok dengan beberapa botol minuman beralkohol di depan mereka. Pria yang memanggil namaku pun berlari mendekat. “Sam ...?” desisku lirih mencoba menebak nama si pria. “Samuel, your soulmate, Beib,” teriaknya sambil terus berjalan mendekat ke arahku. “Oh My god, kamu makin keren Sam,” pujiku saat menyadari dia adalah Samuel sahabatku. “Long time not see, Cathy. Kamu juga semakin cantik dan seksi,” desisnya memujiku dengan aroma alkohol yang menyengat dan bisa aku rasakan meskipun jarak kami tidak terlalu dekat. “Kamu mabuk, Sam?” tanyaku berusaha menjauh darinya. Aku benar-benar tidak suka dengan bau alkohol yang kerap membuat perutku mual. “No, Beib. Hanya sedikit minum yang bikin aku terbang,” jawabnya kembali berusaha mendekatiku. “Aw, Sam ...!” bentakku kaget saat dia menarik pergelangan tanganku dengan begitu kencang. “Sam, lepaskan!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD