Milly melesat secepat kilat menuju arah belakang butik dimana kamar Cathy berada. Perintah Laudya dengan nada tinggi membuat Milly melepas heels yang dia pakai agar memudahkannya segera sampai ke kamar Cathy.
“Mbak ….”
Napas Milly terengah-engah saat mendapati Cathy yang sedang mengunci pintu kamar setelah mengambil uang yang dia janjikan untuk keempat rekannya.
“Kamu kenapa?” Cathy memicingkan mata melihat Milly yang sedang mengatur napas dengan keringat yng seperti kristal bening di pelipisnya.
Milly tidak langsung menjawab, dia masih tersengal sehingga membuatnya kesulitan untuk berbicara.
“Milly, are you okay?” tanya Cathy dengan kening yang mengerut melihat Milly memegang dadanya dan masih berusaha mengatur napasnya berulang kali.
“I’m Okay, Mbak, tapi Mbak Cathy dipanggil Nyonya Laudya, katanya bahaya,” ujar Milly dengan terbata-bata karena napasnya masih ngos-ngosan.
“Kamu panggil aku sampai lari maraton, napas kamu ngos-ngosan kayak habis dikejar s*tan,” sindir Cathy.
“Ah, Mbak jangan meledek, sudah sana cepat. Tadi si Nyonya kasih perintahnya dengan nada sepuluh oktaf ditambah dengan mata bulat lebar yang terbuka sepenuhnya. Tahu kan kalau si Nyonya dalam mode seperti itu lebih seram dari s*tan.”
Cathy cekikikan mendengar alasan Milly, Milly memang benar kalau di hadapan pelangg*n dan calon pembeli. Cathy akan terlihat ramah dan sopan dengan kalimatnya yang mendayu dan penuh kelembutan. Sangat berbanding balik ketika memberi perintah pada para pekerjanya. Untungnya, mereka berlima selalu saling menguatkan dan saling support sehingga tidak ada satupun yang lari ketakutan saat kena omelan si Nyonya.
“Ini, bagi berempat,” kata Cathy menyerahkan empat lembar uang seratus ribuan dan langsung bergegas menuju ruangan Laudya.
‘Bahaya?’
‘Bukannya tadi baik-baik saja, apa desainku ditolak keluarga Malaysia itu?’
‘Ah, tidak mungkin. Aku lihat sendiri chat dari Nyonya Nurlisa yang memuji hasil karyaku.’
“Ada apa?” Evin yang kini berdiri di meja kasir bertanya tanpa suara saat melihat Cathy hendak masuk ke ruangan bos mereka.
Cathy hanya mengangkat kedua bahunya karena dia sendiri pun tidak tahu apa yang membuat Milly sampai ngos-ngosan berlarian menuju kamarnya.
“Nyonya ….” Cathy mendorong pintu ruangan sang bos sembari memanggilnya.
“Cathy, bahaya Cathy. Kamu undur cutinya,” tegas Laudya yang langsung berdiri dengan ponsel di tangan saat melihat Cathy membuka pintu ruangan.
“Bahaya?” desis Cathy yang tidak mengerti bahaya seperti apa yang dimaksud bosnya.
Dia pun mengikuti Laudya untuk duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.
“Ibu negara akan datang untuk memesan batik di tempat kita. Ibu negara loh Cathy, ibu negara, orang nomor satu di negeri kita,” ujar laudya dengan hebohnya membuat mata Cathy terbelalak.
Pantas saja kalau Laudya menyebut ini bahaya, karena calon pembeli yang akan datang bukan dari kalangan sembarangan. Namun, orang nomor satu negara ini yang pastinya akan membuat pamor butik Nyonya Laudya semakin famous.
“Dia sedang dalam perjalanan ke sini,” tambah Laudya masih dengan binar bahagia yang terpancar jelas dari wajah Laudya.
“Berapa desain yang beliau pesan?” tanya Cathy lirih karena tidak mungkin dia mengundur kepulangannya, jelas hal itu akan membuat Martina sedih dan kecewa karena kemarin Cathy sudah memberitahu sang Mama kalau dia akan pulang lusa. Otomatis dia harus bisa menyelesaikan pesanan sang ibu negara secepatnya agar tidak membatalkan rencana kepulangannya.
“Satu, untuk acara pertemuan para ibu negara di Bangkok minggu depan.”
Jawaban dari Laudy membuat Cathy menghembuskan napas lega. Satu desain bisa sangat mudah dia selesaikan. Sehingga dia tidak perlu membatalkan cutinya. Setahunya para pejabat negara yang beberapa kali datang ke tempat ini, tidak akan memesan desain yang rumit kalau mereka akan memakainya ke pertemuan formal.
Mereka lebih suka desain batik yang minimalis, tapi terlihat elegan dengan rancangan busana yang juga tidak neko-neko. Namun, tetap terkesan mewah jika dipakai mereka.
“Aku bisa menyelesaikannya hari ini juga Nyonya,” janji Cathy.
“No … no ….” Laudya menggelengkan kepala dengan menggoyangkan telunjuk kanannya.
“Saya tidak mau kamu asal-asalan mendesain gara-gara memaksakan diri untuk pulang besok,” katanya.
Cathy tidak mampu lagi membantah titah sang Nyonya, biarlah dia membuktikan dulu kalau dirinya mampu menyelesaikan desain dari ibu negara dengan sempurna, baru kemudian kembali merayu Laudya untuk mengizinkannya tetap pulang besok.
“Nyonya, di luar banyak ….”
“Ibu presiden sudah datang?” tanya Laudya memotong kalimat Elsih.
“Beserta pengawalnya,” imbuh Elsih setelah menganggukan kepala.
Laudya langsung berdiri menyambut wanita nomor satu di negeri ini, dia membuka pintu ruangan lebar-lebar dan tentu saja memastikan kalau tampilannya masih terlihat rapi dan berkelas untuk bertemu dengan sang ibu negara.
Dari tempat Laudya berdiri, dia melihat tamu paling istimewa yang ditunggu sedang berjalan menuju ke ruangannya ditemani empat orang pengawal.
Tentu saja hal itu mencuri perhatian pengunjung butik yang lainnya, ibu negera memang tidak meminta Laudya mengosongkan butik dia ingin melihat-lihat koleksi butik Laudya sembari memesan sebuah busana yang akan dia gunakan ke pertemuan para ibu negera yang diadakan di Bangkok. Sesekali ibu negera menyapa para pembeli yang berada di butik sembari melihat batik yang mereka pilih.
“Selamat datang Ibu presiden, saya Laudya pemilik butik Batik Ny. Laudya. Kedatangan ibu adalah suatu penghormatan buat kami,” ucap Laudya menyambut Ibu negara dengan senyum terbaiknya.
“Butik ini memang pantas saya datangi, gaungnya sudah terdengar hingga negara tetangga, tidak mungkin saya melewatkan tempat terbaik yang menampung karya anak bangsa,” puji ibu negara yang langsung membuat Laudya membungkukkan badan sembari berulang kali mengucapkan terima kasih.
Beliau memang tidak lama singgah di sana, hanya melihat-lihat sesaat, kemudian berkonsultasi dengan Cathy, sang perancang busana dan langsung kembali meninggalkan butik batik Ny. Laudya setelah menyempatkan diri berfoto dengan seluruh karyawan di butik beserta para pelangg*n yang kebetulan ada di sana.
“Wuaaaahhhhh Nyonya keren ih,” teriak Naura saat rombongan mobil tamu paling istimewa mereka sudah meninggalkan area parkir butik.
Jangan lupakan tatapan kagum dan bisik-bisik para pelangg*n yang mengetahui butik yang sedang mereka kunjungi didatangi wanita nomor satu di negeri ini.
“Keren lah Nau, nanti fotonya dicetak besar dan dipajang sebagai magnet penarik pembeli,” sahut Laudya dengan menunjuk satu shape kosong di tembok.
“Yeeee, pasti tambah laris Nyonya, bisa-bisa gaji kita juga naik ya,” seru Evin dnegan semangat.
Hanya saja kali ini Laudya tak menanggapi kehebohan Evin, dia langsung mengajak Cathy ke ruangannya. Kalau berurusan dengan kenaikan gaji atau bonus karyawan lain selain Cathy, laudya memang pelit dan cukup perhitungan. Menurutnya gaji bulanan yang dia berikan selama ini sudah lebih dari cukup untuk SPG butik yang kerjanya tidak terlalu berat.
“Aku bisa menyelesaikannya hari ini,” tegas Cathy yang langsung di persilakan untuk duduk di meja kerja Laudya.
Bukan hanya merancang busana, kali ini Cathy juga menggambar motif batik yang akan Laudya serahkan pada pembatik pribadinya. Cathy meminta waktu untuk berdiam di ruangan Laudya dan segera menyelesaikan pekerjaannya supaya dia bisa memastikan libur besok tidak akan diundur.
Goresan tangan ajaib Cathy kini menghasilkan sebuah batik dengan motif burung garuda di bagian d**a sebelah kanan, bunga melati yang digambar memanjang disertai beberapa bulu merak yang digambar mengisi bagian kosong membuat Laudya berdecak kagum tanpa berani mengganggu Cathy yang kini berganti menggambar model baju yang diinginkan ibu negera setelah menyelesaikan motif batik terlebih dahulu.
Laudya memutuskan ke luar dari ruangannya untuk menyapa beberapa pelangg*n yang sedang memilih beragam model dan motif batik yang di pajang di butiknya. Dia membiarkan Cathy berkonsentrasi dengan imajinasi yang disalurkan di atas kertas gambar khusus.
“Nyonya ini makan siang Cathy,” ujar Evin dari meja kasir saat melihat Laudya keluar dari ruangannya.
“Simpan saja dulu, Cathy sedang tidak bisa diganggu,” jawab Laudya karena satu jam lebih dia menemani Cathy di dalam ruangan, tidak satu kata pun yang Cathy ucapkan karena dia begitu fokus dengan kertas gambar dan aneka pensil warna yang berserakan di meja kerjanya.
“Gue laper gaes,” teriak Cathy dari arah pintu setelah hampir tiga jam dia berdiam diri di ruangan bosnya.
Mendengar teriakan Cathy Laudya yang sedari tadi menyapa para pembeli pun langsung berjalan menghampiri Cathy dan menanyakan hasil kerjanya.
“Sudah beres Nyonya. Ada di meja, boleh makan?” tanya Cathy dengan mengusap perutnya.
“Silakan,” jawab Laudya yang kembali ke ruangan saat melihat Cathy keluar dari ruangannya. Dia tidak sabar melihat hasil coretan tangan Cathy yang sangat berbakat.
Sementara Cathy tak sabar menuju tempat Evin karena ada sebuah kotak makan di hadapan Evin yang sudah dia siapkan untuk Cathy. “Thank you my sweety,” ucap Cathy sambil berlalu ke ruang istirahat yang berada di balik kasir dan tertutup tirai.
“Luar biasa,” decak Laudya memuji dua kertas gambar yang dipegangnya setelah netranya memindai hasil goresan tangan ajaib Cathy dan memastikan tidak ada celah salah yang cukup berarti di sana.
“Cathy benar-benar aset berharga,” lanjutnya yang tak henti mengagumi hasil karya Cathy Adelicia, gadis kampung yang datang bekerja sebagai pekerja biasa di butik. Namun, kini justru menjadi perancang busana andalannya.
Tidak mau membuang waktu, Laudya langsung mengirim hasil karya Cathy ke nomer asisten pribadi ibu negera dengan harapan karya dari Cathy memberi kepuasan tersendiri untuk mereka.
[Cantik dan sempurna, pastikan hanya ibu yang memiliki motif dan model batik ini.]
Satu pesan balasan yang membuat Laudya tersenyum puas.
“Evin, suruh Cathy ke ruangan setelah dia selesai makan,” pesan Laudya pada Evin dari ambang pintu.
“Baik, Nyonya.”
Evin segera membuka tirai untuk menyampaikan pesan dari Laudya.
“Siap,” kata Cathy yang baru selesai makan. Padahal Evin belum berkata apapun.
“Cat, dapat bonus lagi dong,” tebak Evin dengan seringai harap kalau dia akan kecipratan bonus dari Cathy.
Cathy hanya tersenyum menanggapi omongan Evin. Dia langsung berjalan masuk ke ruangan Laudya.
“Duduk,” perintah Laudya.
Dia sedang menghitung beberapa lembar uang ratusan ribu di tangannya, sedangkan di meja juga sudah tergeletak uang yang selesai dia hitung.
“Empat juta rupiah,” ujar Laudya sambil menyerahkan uang pada Cathy.
“Sebanyak ini Nyonya?” tanya Cathy yang tidak percaya dia menerima uang begitu banyak hari ini. Sementara Laudya malah berpikir uang yang diberikan pada Cathy jauh lebih murah dari bayaran yang harus dia keluarkan untuk perancang busananya yang dulu.
“Iya, hasil kamu sangat memuaskan, kamu bisa siap-siap pulang sekarang. Sopir saya akan mengantarkan kamu ke stasiun.”
“Sekarang Nyonya?” tanya Cathy tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
“Iya, sekarang,” tegas Laudya.
“Terima kasih,” ucap Cathy yang langsung keluar dari ruangan bosnya dengan wajah sumringah.
Teman-temannya sedang sibuk melayani pembeli, Cathy hanya menemukan Elsih, si office girl yang sedang membuat kopi di pantri.
“Elsih, ini dibagi ya,” pesan Cathy saat menyerahkan uang empat ratus ribu ke tangan Elsih.
“Lagi, Mbak? Tadi pagi kan sudah.”
“Kalau begitu bagian kamu kasih ke yang lain saja,” gurau Cathy.
“Enak saja tidak bisa gitu dong,” protes Elsih membuat Cathy langsung terbahak.
“Aku mau pulang, empat hari. Sampaikan salam buat yang lain.”
Dia langsung meninggalkan Elsih yang memborbardir dengan berbagai pertanyaan mengenai kepulangannya yang mendadak. Namun, Cathy sama sekali tidak menjawab satu pun pertanyaan Elsih.
______I.S______
Pulang.
Satu kata yang membuat Cathy harus bersiap diri dengan segala sesuatu yang akan diterimanya. Bukan hanya kedatangan orang-orang yang menagih hutang sang Mama. Namun, bisik-bisik serta desas-desus dari mulut-mulut yang tidak bertanggung jawab.
Pulang.
Satu kata paling horor yang membuat Cathy harus menyiapkan mentalnya dengan segala huru-hara yang akan dia terima saat orang-orang mengetahui kedatangannya. Sungguh, dia lebih memilih membawa sang Mama ke kota dari pada harus menetap di kampung dengan berbagai cibiran yang tak kunjung habis dialamatkan pada keluarganya.
Jam dua dini hari, grab yang dia tumpangi dari stasiun kereta sampai di depan rumahnya. Sebuah rumah di pinggir jalan yang sangat kontras dengan rumah-rumah di sekelilingnya. Rumah berdinding bata dengan lantai semen, sementara di kiri dan kanan rumah-rumah lain berjajar dengan tembok yang berwarna dan lantai keramik yang mengkilat.
Berbulan-bulan dia tidak menginjakan kaki di tanah kelahirannya, beruntung dia tiba di rumah malam hari. Setidaknya itu tidak membuat para penagih utang langsung datang saat melihat dia pulang.
“Terima kasih, Pak.” Cathy mengulurkan ongkos grab dengan uang tips sebagai tanda terima kasih karena sudah diantarkan dengan selamat menuju rumahnya.
Saat mendengar suara mobil berhenti di seberang rumahnya, Martina langsung keluar karena sudah menebak mobil tersebut pasti membawa Cathy, putri yang sudah teramat dia rindukan.
“Cathy ...,” panggil Martina saat melihat sosok putri yang dinantikannya berdiri di seberang jalan.
“Mama ....” Cathy langsung menyeberangi jalan tanpa sadar sebuah motor melaju kencang ke arahnya.
“Minggir ....”
Brakkk