“Nona Cathy, apa nona bersedia menikah dengan anak saya?”
‘What?’
Mata Cathy terbelalak seketika. Bukan hanya Cathy, Nurlisa dan Laudya pun terlihat sama kagetnya mendengar permintaan yang diucapkan Bara pada Cathy.
“Menikah dengan Cathy?” desis Nurlisa bertanya pada sang suami.
Bagaimana bisa suaminya berkata seperti itu padahal sudah jelas semalam pertemuan yang menjodohkan anak mereka menyepakati tanggal pertunangan untuk Yohan. Sekarang tiba-tiba Bara malah melempar satu pertanyaan yang seolah melamar Cathy untuk putra mereka.
“Lelucon apa ini, Pa,” decih Nurlisa yang sama bingungnya dengan Cathy.
Kening Cathy berkerut, tak ubahnya seperti Nyonya Nurlisa dia juga mengalami kebingungan yang sama. Rasanya pagi ini semua yang dia lakukan masih sama dan sesuai dengan hari-hari sebelumnya. Tidak ada sesuatu yang istimewa sehingga Cathy sama sekali tidak pernah memprediksi kalau pagi ini dia benar-benar akan dilamar oleh ayah dari laki-laki asing yang baru ditemuinya beberapa menit tadi.
Laki-laki yang awalnya bertingkah sangat menyebalkan hingga membuat stok sabarnya menepis dan memilih untuk segera kabur dari hadapannya.
“Nona Cathy, saya ulangi lagi. Apakah Nona bersedia menikah dengan putra saya?” ulang Bara menanyakan hal yang sama pada Cathy.
“Maaf Tuan, ini seperti mimpi but saya. Suatu kehormatan pagi ini tiba-tiba saya dilamar keluarga terhormat,” jawab Cathy dengan sunggingan senyum untuk menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyergapnya.
“Jadi, apa lamaran saya diterima?” tanya Bara.
Dia tidak mempedulikan sang istri sedari tadi melempar tatapan heran atas perilakunya. Yang terpenting bagi Bara, dia bisa menuruti kemauan sang anak yang mungkin bisa merubah sedikit sikap Yohan agar tidak lagi membangkang dia ataupun istrinya.
“Maaf tuan, sepertinya saya tidak bisa memenuhi permintaan anda karena ibuku sudah menyiapkan jodoh untukku di kampung,” elak Cathy menolak lamaran dadakan yang diungkapkan salah satu customer butik yang sama sekali tidak dikenalnya. Tentu saja Cathy menolak dengan suara yang dia buat sesopan mungkin agar Bara tidak tersinggung dengan penolakannya.
“Dijodohkan?” tanya Yohan dengan menatap wajah Cathy yang terlihat begitu datar saat mengucapkannya.
‘Mana bisa zaman modern seperti ini, wanita cantik seperti dia terlihat santai saja dijodohkan dengan pilihan sang ibu. Aneh!’ batin Yohan tak mengerti dengan jalan pemikiran Cathy.
“Iya Tuan Yohan. Saya sudah dijodohkan, maaf kalau saya menolak lamaran Tuan.” Cathy kembali menjawab dengan suaranya yang lembut disertai senyuman agar Yohan tidak lagi berpikir untuk mengajaknya menikah.
Seandainya dia tidak dijodohkan oleh sang Mama, Cathy pun belum tentu akan menerima lamaran dari Bara. Menikah dengan Yohan setelah perjumpaan awal yang begitu sengit membuat Cathy sama sekali tidak tertarik dan menaruh respek padanya meskipun Yohan tampan, gagah dan yang pasti dia anak dari kedua orang tua yang memiliki kekayaan di atas rata-rata.
“Jadi jaman modern seperti ini masih ada yang menerima perjodohan dengan sukarela?” tanya Yohan yang seolah bermonolog dengan dirinya sendiri.
“Tentu saja ada. Pilihan orang tua itu pasti mempertimbangkan banyak hal, tidak seperti kaum muda yang hanya menjatuhkan pilihan karena satu sisi ketertarikan. Mama saya tidak akan asal saja memilih pria yang akan menjadi suami saya.
Beliau tentu sudah mempertimbangkan semuanya sebelum menyerahkan anak gadisnya pada laki-laki yang akan menjadi suami sekaligus pemimpin untuk sang anak.”
Sebuah balasan dari Cathy yang membuat Yohan tersindir karena apa yang Cathy katakan memang benar. Dia meminta sang ayah untuk melamar Cathy untuknya hanya karena ketertarikan matanya yang tidak bisa hengkang sejenak pun dari lekuk tubuh Cathy yang begitu menggoda.
Dia tergoda dengan kemolekan tubuh Cathy yang disertai dengan paras cantiknya dan bibir sensual yang seolah memiliki magnet hingga membuatnya sangat tertarik dan jiwa laki-lakinya sangat tergoda dengan tampilan Cathy meskipun dengan seragam SPG yang sama dengan rekan kerja Cathy yang lainnya.
“Tuan Bara, Nyonya Nurlisa dan Tuan Yohan … saya minta maaf karena tidak bisa memenuhi keinginan Tuan Bara.
Baik, saya rasa cukup untuk konsultasi desainnya Nyonya Nurlisa. Secepatnya akan saya proses supaya pesanan Nyonya bisa segera kami selesaikan. Saya permisi Nyonya, Tuan dan Tuan Yohan,” pamit Cathy sebelum berdiri, kemudian membungkukkan sedikit badannya tanda berpamitan pada pelanggannya.
Yohan menarik napas sesaat saat dad* Cathy terlihat menyembul ketika badannya membungkuk. Ah, kenapa dia menolakku padahal aku sudah membayangkan begitu nikmatnya berada di atas tubuhnya yang luar baisa menggoda.
“Jadi, mau bersikeras mendapatkan Nona Cathy?” tanya Bara yang tentu saja dijawab gelengan kepala oleh Yohan.
“Saya minta maaf Tuan, Nyonya … saya tidak punya hak untuk memaksa Cathy menerima lamaran dari kalian,” sesal Nyonya Laudya dengan kalimat lembut yang mendayu.
Padahal aslinya Laudya merasa beruntung kalau Cathy menolak lamaran dari Yohan. Bagaimanapun keberadaan Cathy di butik ini sangat menguntungkan untuknya. hasil goresan tangan ajaib Cathy mampu membuat butiknya lebih ramai sejak Cathy yang menjadi desainernya.
“Tidak apa-apa Nyonya. Lagian kami ke sini karena memang memesan busana untuk pertunangan Yohan,” balas Tuan Bara.
“Jadi bagaimana Yohan?” sambungnya kembali melirik Yohan yang sudah tampak gelisah di tempat duduknya.
“Lanjutkan saja pertunangannya, kalian tentu tidak asal-asalan memilih istri untukku. Jangan lupa pastikan wanita itu seseksi Nona Cathy agar aku tidak sia-sia menerima perjodohan ini,” jawab Yohan. Dia langsung beranjak menyusul Cathy keluar dari ruangan Laudya meskipun berulang kali Nurlisa dan bara memanggilnya. Namun, Yohan tidak peduli, ada sesuatu yang harus dia sampaikan pada Cathy.
“Nona …,” panggil Yohan saat melihat Cathy sedang berdiri di depan meja kasir.
“Iya Tuan Yohan, ada yang bisa saya bantu?” tanya Cathy dengan senyum yang dia paksakan. Padahal dia sudah tidak berminat lagi berbincang dan berhadapan dengan Yohan.
“Yohan, cukup panggil saya Yohan,” ralat Yohan dengan mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Cathy.
“Cathy.” Cathy menyebutkan namanya saat menjabat tangan Yohan.
“Maaf untuk yang tadi.”
“Sudah saya maafkan, Tuan Bara dan Nyonya Nurlisa juga sudah memintakan maaf untuk Anda,” jawab Cathy masih dengan mimik wajah yang dia paksakan untuk tetap ramah saat berhadapan dengan makhluk yang sempat membuat moodnya memburuk.
“Terima kasih,” jawab Yohan singkat.
“Terima kasih untuk apa Tuan?”
“Terima kasih untuk teori perjodohan yang sudah kamu utarakan.”
“Oh … saya hanya menyampaikan apa yang ada dalam pikiran saya Tuan, tanpa ada maksud lainnya,” balas Cathy yang tanpa dia ketahui apa yang sudah dia utarakan di hadapan Yohan membuat dia berpikir ulang untuk mencoba menggagalkan pertunangan dengan wanita pilihan kedua orang tuanya.
“Terserah itu, sekali lagi terima kasih dan maaf untuk pertemuan awal yang kurang menyenangkan,” ucap Yohan sebelum berjalan menuju pintu keluar tanpa menunggu jawaban Cathy karena dia tidak tahan terus berhadapan dengan makhluk cantik nan seksi yang membuat imajinasi liarnya berlarian kemana-mana.
Tidak lama setelah kepergian Yohan dari hadapan Cathy, Nurlisa dan Bara pun terlihat keluar dari ruangan Laudya. Laudya tentu saja akan mengantarkan pelangg*n istimewanya hingga pintu keluar. Bara dan Nurlisa juga melemparkan senyum saat melewati Cathy, setidaknya alasan yang Cathy kemukakan saat menolak lamaran Yohan membuat anak mereka menerima perjodohan yang sudah disepakati Minggu lalu.
_______I.S______
Tidak butuh waktu lama untuk Cathy bisa menyelesaikan pesanan design untuk Nyonya Laudya, keadaan sang Mama yang terlilit banyak utang membuat otaknya bekerja dengan cepat.
The power of kepepet memang sering membuat seseorang menjadi lebih kreatif dan mampu melakukan segala cara yang awalnya masih mustahil untuk dilakukan. Setelah bersemedi semalam di kamarnya. Pagi ini rancangan gambar untuk keluarga Nyonya Nurlisa sudah dia selesaikan.
“Nyonya, boleh saya masuk?” izin Cathy dari depan pintu ruangan Laudya yang tertutup.
Di tangannya tiga lembar rancangan busana batik sudah siap disetorkan pada Laudya. Satu untuk Nurlisa dan satu lagi untuk Bara dan Yohan serta yang terakhir rancangan terbarunya untuk koleksi butik Laudya.
“Silakan,” kata Laudya memberi izin.
Cathy masuk dengan langkah penuh kepastian. Kedatangannya kali ini ke ruangan Laudya bukan hanya untuk menyerahkan rancangan busana yang dia bawa. Namun, juga untuk berpamitan, meminta izin sejenak untuk cuti dan pulang karena selama bekerja di butik batik ini, Cathy sama sekali belum pernah mengambil jatah cutinya.
Dia hanya fokus bekerja dan terus bekerja meskipun semua hasil kerja kerasnya tetap belum bisa membuat dia dan sang Mama terbebas dari lilitan utang.
“ini, Nyonya ….” Cathy menyerahkan tiga lembar rancangan batik yang dia bawa.
Dalam hatinya dia merasa khawatir setiap kali menyerahkan hasil gambarnya pada Laudya. Selama ini apa yang dia gambar memang sesuai dengan ekspetasi para pelangg*n meskipun terkadang dia juga harus menambah atau meralat lagi gambarnya kalau pelangg*n yang memesan kurang puas dengan design yang dia hasilkan.
“Sempurna,” puji Laudya setelah beberapa saat memindai ketiga gambar satu persatu.
“Saya yakin Nyonya Nurlisa pasti puas dengan hasil karyamu,” sambungnya.
“Terima kasih Nyonya.”
“Model ini juga pasti laku keras dipasaran,” imbuh Laudya setelah dia mengamati gambar terakhir cukup lama.
Laudya langsung mengambil ponsel dan memfoto kedua gambar dengan sangat hati-hati agar menghasilkan gambar yang bagus, baru kemudian dia mengirimkannya pada Nurlisa.
[Good job, I like them so much.]
Sebuah balasan langsung diperlihatkan oleh Laudya pada Cathy. Cathy hanya bisa berterima kasih dengan senyum puas karena hasil kerjanya semalam suntuk. Akhirnya, memberi kepuasan pada pelangg*n tanpa harus melakukan revisi lagi.
Gambar-gambar yang Cathy berikan nantinya akan dikirim Laudya ke rumahnya. Dimana suami dan beberapa orang penjahit profesional yang semuanya laki-laki akan merealisasikan gambar yang dihasilkan Cathy menjadi sebuah gaun batik yang cantik dan berkelas.
“Empat juta?” tanya Cathy saat dia membaca sebuah notifikasi di ponsel Laudya yang ditunjukan padanya.
“Iya, plus bonus karena hasil karya kamu selalu membuat para pembeli puas,” jawab Laudya yang langsung membuat Cathy berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Cathy berdehem, sebelum mengutarakan keinginannya untuk meminta cuti dari Laudya.
“Kenapa?” tanya Laudya saat menyadari Cathy seperti ingin menyampaikan sesuatu padanya. Padahal biasanya setelah mengucapkan terima kasih Cathy langsung keluar dari ruangannya.
“Aku mau minta izin pulang,” ucap Cathy dengan ragu-ragu.
“Mama kamu sakit?” tebak Laudya karena tidak biasanya Cathy izin pulang di hari kerja.
“Mama sehat, hanya saja dia meminta saya pulang.”
“Kapan?”
“Besok,” jawab Cathy yang membuat Laudya membelalakkan mata.
“Saya kira kamu pulang Weekend nanti,” ujar Laudya dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Cathy.
“Dua hari cukup?” tanya Laudya. Dia masih sangat membutuhkan Cathy di butiknya.
“Mungkin empat hari, Nyonya,” tawar Cathy, mengingat perjalanan dia pulang ke rumahnya memakan waktu yang cukup lama, hampir sepuluh jam.
“Dulu kamu izin empat hari pun tidak masalah, tapi sekarang saya berat memberikannya. Saya butuh kamu di sini,” ujar Laudya yang membuat Cathy sedikit kecewa karena mengira permohonan izinnya ditolak.
“Oke empat hari, tapi ponselmu harus stand by dan bisa dihubungi saat ada pelangg*n spesial kita datang,” putus Laudya dan langsung ditanggapi Cathy dengan berkali-kali mengucapkan terima kasih.
“Gajimu bulan ini juga langsung saya transfer beserta bonus,” sambungnya sambil kembali menunjukan layar ponsel pada Cathy.
“Terima kasih, Nyonya,” ujar Cathy dengan senyum merekahnya. Sepuluh juta rupiah kini berada di dalam rekeningnya.
Cathy langsung keluar dari ruangan Laudya, tentu saja di sambut dengan tampang-tampang penuh harap yang menantikan hari ini Cathy kembali mentraktirnya makan.
“Uangnya di transfer,” cetus Cathy yang langsung membuat teman-temannya mendesah kecewa.
“Tenang, masing-masing seratus ribu buat jajan sendiri.”
“Ye, hore,” sorak Milly, Elsih, Evin dan Naura hampir bersamaan.
Untung saat itu masih pagi, sehingga belum ada satu pelangg*n pun yang datang dan menyaksikan kehebohan mereka yang terus bersorak-sorai menanggapi berita gembira dari rekan mereka yang cukup boral berbagi rejeki.
“Empat juta?” bisik Naura di telinga Cathy.
Cathy mengangguk, “buat sangu pulang, besok.”
“Serius?” tanya Naura tidak percaya kalau benar-benar memutuskan untuk pulang.
“Lima rius,” kekeh Cathy dengan menunjukan kelima jari tangannya.
“Tapi nanti balik ke sini lagi, kan?” Naura bertanya dengan penuh harap.
Keberadaan Cathy di butik Ny. Laudya memang menguntungkan untuk dia dan teman-temannya. Cathy yang sering menyelesaikan desain busana pesanan para pelangg*n spesial dan istimewa membuat Naura, Milly, Elsih dan Evin sering kecipratan rejeki dari Cathy sehingga mereka bisa menghemat sedikit pengeluaran untuk ditabung dan dikirimkan pada orang tua mereka di kampung.
“Aku ambil uang dulu ya,” bisik Cathy pada Naura yang ditanggapi dengan kedua jempol Naura yang digoyangkan secara bersamaan.
Cathy melangkah meninggalkan meja resepsionis menuju ke arah belakang butik untuk menuju kamarnya dan mengambil uang untuk dibagikan kepada keempat rekan kerjanya.
“Cathy … Cathy …,” teriak Laudya memanggil nama Cathy.
“Milly, mana Cathy?”
Milly mengusap dadanya karena kaget dengan jeritan Laudya mencari Cathy dengan mimik wajah yang begitu terlihat menyeramkan.
“Bahaya Milly, cepat panggil Cathy,” perintah Laudya yang diangguki Milly.
“Sekarang!” teriak Laudya meli