Entah mengapa hari ini aku sedang dipermainkan oleh mood yang tidak jelas. Sejak tadi siang aku merasa sedih tapi tidak tahu sedih untuk apa, karena siapa membuatku seperti orang gila bukan hanya karena mimpi buruk seorang gadis yang sedang memohon minta tolong kepadaku. Hanya karena mimpi itu langsung membuat suasana hatiku berantakan.
“Noh, muka loe asem amat kayak minum cuka.” Ucap Javier sepupuku yang tengilnya saingan denganku.
“Mau skripsi bentar lagi, kusut kali.” Sahut Juna salah satu orang yang selalu setia mendampingiku.
Juna adalah putra dari asisten mama ku dulu di kantor. Usia Juna lebih tua dariku bahkan menurut mama, Juna lebih sering mengasuhku dan menemaniku bermain dengan Jav dan Ben. Makanya aku menganggap Juna sudah seperti abangku sendiri.
“Gua pulang ke apartemen, Bang. Udah bilang Mama, sekalian nyusun skripsi awal dulu lah.”
“Yaelah, kuliah juga belum mulai loe udah sibuk mikirin tuh skripsi bulan depan. Hidup dibawa santai aja, Noh. Toh habis kuliah jatoh-jatohnya ke kantor juga. Udah nikmatin aja cuci mata hari ini.” Seru Jav mencoba menahanku untuk tidak pulang.
Jav baru lulus kuliah, usianya memang setahun lebih tua dariku. Ucapannya memang tidak salah karena aku dan Jav sama-sama terlahir sebagai pewaris perusahaan orang tua kami. Aku dan Jav nantinya sama-sama akan memegang jabatan di Damian Corp dan juga perusahaan lainnya. Jav juga dilatih untuk menjadi CEO hotel Farhan milik kakeknya yang sekarang dipegang oleh Jason sang daddy. Sedangkan aku nantinya akan menggantikan posisi CEO papa di ACG deptstore.
Maka dari itu masa depan kami sudah ditentukan dengan keiistimewaan yang sudah kami bawa sejak lahir.
“Ck, gua lagi ngak mood. Lagian gua kemari bukan buat cuci mata.” Beranjak tanpa mengindahkan panggilan mereka lagi aku pun keluar dari klub milik Opa Brahm.
Aku sengaja mengendarai mobil dengan santai sambil menikmati suasana jalanan di malam hari kota Jakarta.
Namun pandanganku tertarik ketika melihat seorang perempuan berlari sambil membekap mulutnya sendiri. Aku yakin perempuan ini pasti sedang menangis. Awalnya aku berusaha untuk mengacuhkan perempuan itu namun ketika aku melihat arahnya berlari naluriku seolah membawaku ke dalam sebuah skenario buruk yang biasa dilakukan oleh orang-orang dengan gelagat seperti perempuan tadi.
Meskipun tengah merutuki diri karena tangan ini memilih memutar stir ke kanan dan mengikuti diam-diam kemana gadis itu pergi tapi jantungku ikut berdebar memikirkan kalau ternyata skenario itu jadi kenyataan. Rasanya aku akan jadi orang yang berdosa kalau sampai benar terjadi dan aku mengacuhkannya.
Dan disinilah mobilku berhenti tidak jauh dari danau dimana gadis itu berhenti dan menangis. Sialnya hujan deras malah mengguyur membuat tubuhku basah, mau balik ke mobil dan mengambil payung sudah terlambat karena pakaianku sudah basah semua. Apalagi teriakan gadis itu tertangkap oleh gendang telingaku membuat urung kembali ke mobil.
Perlahan-lahan aku mendekati di belakang gadis itu. Aku menoleh ke kiri kanan tempat ini ternyata sepi hanya ada satu atau dua kendaraan yang lewat setelah lima menit aku berdiri memperhatikan gadis itu.
“Hais, ngapain juga mesti bunuh diri sih. Nyusahin amat.”
Akhirnya memberanikan diri mencoba mendekati dan membujuknya supaya urung bunuh diri. Tapi karena aku bukan tipe orang yang pintar bicara, sepertinya ucapanku malah membuatnya tambah frustasi dan akhirnya dia malah mau melompat.
Dengan cepat aku berlari ketika gadis itu naik ke pembatas akhir danau, dari gestur tubuh juga tangisan lirihnya aku tahu gadis ini sedang dipenuhi keputusasaan. Tepat ketika tubuhnya bergerak dan kaki kanannya maju lebih dulu, aku mengangkat tubuh gadis itu. Dia sempat berteriak dan membuatku hilang keseimbangan.
Perhitunganku dengan posisi sekarang pasti kepala gadis itu akan membentur beton pembatas maka dengan cepat aku mengubah haluan hingga akhirnya kami jatuh dengan posisi tubuhku membentur aspal lebih dulu demi melindunginya.
Karena canggung dengan posisi jatuh kami aku berusaha bangun untuk berdiri, sayangnya gadis itu malah meronta hingga aku terpaksa menekan kedua tangannya ke atas.
Anehnya ketika mata kami saling beradu, aku baru menyadari gadis dihadapanku ternyata cantik meskipun matanya sedikit membengkak. Entah kenapa rasanya sisi tengilku kambuh dan ingin menggodanya padahal aku tahu dia sedang depresi berat.
“Kamu mau ngapain?” .
“Menurut kamu kalau seperti ini kita mau ngapain?”
Sialnya gadis itu malah meronta dan berteriak minta tolong, takut terciduk aku terpaksa membekap mulutnya dan akhirnya disinilah aku berada untuk membereskan kesalahpahaman yang terjadi..
Setelah aku mengantar Pak Rahmat pulang ke rumahnya, aku tidak mungkin menurunkan gadis ini di jalan tadi. Bisa-bisa dia melanjutkan usaha bunuh diri edisi ke dua nanti.
Tapi ketika aku menanyakan alamat rumahnya dia malah menangis. Rasanya depresi yang diderita perempuan ini berpindah. Aku belum pernah diajarkan cara menghadapi cewek menangis, tidak mungkin dirayu juga kan.
Sambil menggaruk kepala frustasi karena lelah, aku mencoba melakukan tehnik pernafasan untuk menenangkan diri. Di saat itu aku merasakan ujung lengan kaosku di tarik-tarik olehnya. Aku pun membuka mata dan menoleh.
“Kenapa? Kamu kabur dari rumah?” Lalu aku mendengus sejenak melepas emosiku untuk tidak meledak.
“Dengar, kalau memang kamu tidak mau pulang ke rumah itu hak kamu. Tapi aku juga cape dan ingin cepat pulang trus tidur.” Kemudian aku merubah posisi dudukku menghadapnya.
“Kalau kamu ngak keberatan dan ngak tahu mesti kemana, kita pulang ke apartemen aku. Janji aku ngak akan berbuat macam-macam.” Sambil mengangkat dua jariku membentuk huruf v.
Entah kenapa gaya bicaraku pada gadis itu berubah memakai aku kamu, tapi aku sendiri merasa nyaman dan tidak canggung ketika mengucapkannya jadi yah sudahlah.
Gadis itu menatapku dalam cukup lama berpikir dan menilai membuatku mendengus seakan aku ini pria berengsek yang sedang mencari mangsa seperti kebanyakan pria di klub malam yang sering aku dan Jav lihat. Akhirnya ia pun mengangguk membuatku mendesah lega.
“Oke, kita pulang.” Lalu aku pun melajukan mobilku menuju apartemen yang aku beli sendiri dengan gaji hasil bekerja dua perusahaan orang tuaku.
Sebagai mahasiswa, penghasilanku boleh terbilang cukup fantastis mengalahkan staf biasa. Jadi tidak heran bekerja paruh waktu sejak SMA sampai sekarang tabunganku bisa membeli tempat ini.
“Aku boleh tahu nama kamu kan? Kenalin namaku Noah.” Sambil mengulurkan tangan dan gadis itu membalasnya.
“Na-namaku Eloise. Panggil El saja.”
“Oke, El. Pertama-tama aku ngak akan maksa kamu untuk cerita soal masalah pribadi kamu sampai kamu putus asa begitu. Tapi satu hal, bunuh diri itu perbuatan dosa.”
El menunduk dan menangis lagi memberikan kesan dirinya juga menyesali sikap gegabahnya tadi.
“Iyah, aku tahu. Maaf jadi merepotkan kamu.”
“Bukan, maksud aku bukan mau nyalahin kamu soal bunuh diri tadi itu. Begini, kamu pasti frustasi karena masalah kamu dan masalah itu pasti penyebabnya dosa orang lain bukan?”
“Iyah.” Kemudian nafasnya terdengar.
“Dosa orang itu ke kamu pasti banyak dan mungkin besar sampai sulit dimaafkan, katakanlah ucapanku lebay. Tapi yang kamu lakukan dosanya jauh lebih besar juga bodoh!”
Bibir El maju cemberut kesal mendengar ocehan apa adanya yang keluar dari mulutku.
“Tadi aku sudah minta maaf sama kamu, kenapa juga masih ngatain aku bodoh sih!”
“Yah bodoh banget lah. Kamu bunuh diri tuh lompat, airnya bau gitu trus endingnya kamu mati dong. Kamu pikir orang yang sudah nyakitin mental kamu bakalan merasa bersalah gitu? Yang ada mereka malah ngetawain kamu dan bersyukur karena usaha mereka berhasil buat jatuhin kamu.”
Rengutan bibir El semakin maju dan membuat sesuatu dalam diriku seperti ingin sekali menarik bibirnya. Ternyata gadis ini lucu juga, baru tahu kalau ada gadis cemberut bisa terlihat menggemaskan. Hais, cepat-cepat aku menggelengkan kepala. Kenapa juga jadi bahas bibir dan gemas sih!
“Kamu benar, Noah. Aku memang bodoh. Maaf, tapi kalau kamu mau tahu hari ini mentalku bukan hanya dibuat hancur oleh satu orang saja melainkan beberapa orang. Makanya aku tidak mau pulang ke rumah.”
Aku mendengus sambil menganalisa ucapannya barusan, sepertinya masalah dengan keluarga.
“Yah sudah, dibahas besok saja. Apartemenku di depan, ada kamar kosong cuma belum ada kasurnya. Nanti kamu tidur di kamar aku biar aku tidur di sofa depan.”
“Aku tidur di depan juga ngakpapa kok. Kamu ijinin aku menginap sudah bersyukur dan berterima kasih.”
“Kenapa? Kamu takut aku bakalan masuk ke dalam kamar dan berbuat seperti di film-film gitu?”
“Hah! Ngak bukan gitu! Ish terserahlah!”
“Kalau gitu nurut aja. Udah jangan ngajak ribut, bagus aku masih kasih numpang.” Ketusku karena aku benar-benar sudah malas berdebat dengannya. Namun ternyata reaksiku ini salah dan malah membuat panjang drama di parkiran basement apartemenku.
“Aku bisa cari penginapan sendiri. Jangan karena sudah jadi penyelamatku trus kamu boleh ngatain aku seenaknya. Usia kamu bahkan lebih muda dari aku, jangan kurang ajar!”
Bola mataku melebar bercampur kesal, pantas saja Papa selalu bilang jangan suka berdebat sama perempuan bisa panjang akibatnya. Dan sekarang aku sedang mengalaminya.
“Ayo turun!”
El memang keluar dari mobil tapi langkahnya menuju arah berlawanan dari lift di hadapan kami. Benar-benar merepotkan kalau perempuan sudah mode ngambek gini. Mau dibiarkan aku ngak tega, diladenin ternyata menyebalkan sekali. Benar-benar merepotkan!
“Kamu mau ngapain, turunin!”
Terpaksa aku berlari menghampiri dan menggendongnya seperti karung beras karena aku benar-benar lelah hari ini. Lagian susah apanya juga tinggal nurut saja, aku juga yakin dia pasti capek.
“Teriak aja kalau mau seluruh gedung apartmen di sini keluar dan kita akan jadi berita trending besok pagi.” Ancamku dan berhasil membungkam mulut bawelnya.
“Lepasin! Ini namanya pemaksaan!” Sahutnya ketus merajuk, lucunya dia tidak berani berteriak dan hal ini membuatku tersenyum geli. Untung saja tidak dilihat langsung.
Ternyata menyenangkan juga membuat El kesal, bukannya kesal tapi aku merasa gadis ini menggemaskan.
“Aku bisa memaksa sesuai permintaan kamu kalau masih ngak mau diam!” Seketika itu pukulannya di punggungku langsung terhenti dan membuatku mengulum tawa.