Bab 9. Curahan Hati Eloise

1743 Words
Eloise masih tertegun sampai tidak berani memberontak ketika Noah menarik tangannya keluar dari klub favoritenya itu. Niatannya kesana untuk merasakan fasilitas Klub Melati nyatanya ia malah disuguhi sisi gelap seorang Noah. “Masih takut?” “Hah! Aku ngak bilang takut.” Sangkal Eloise namun tidak berani menatap balik Noah yang menoleh ketika mobil mereka sedang berhenti di lampu merah. “Kalau ngak takut kenapa ngak berani lihat sini.” Tantang Noah mengulum senyum membuat Eloise terpaksa menoleh memandang Noah sebentar. “Tuh, udah kan.” Lalu kembali memandang lurus ke depan. Selama beberapa menit keduanya larut dalam pikiran masing-masing membuat hening di dalam mobil. “Klub itu dulunya milik Opa aku, sebenarnya klub itu sempat diserahkan ke papa tapi sempat kacau manajemennya karena papa sendiri memiliki perusahaan pribadi. Sejak Opa menyerahkan klub ini ke tanganku, aku mengubah hamper keseluruhan gedung itu mulai merombak ulang bangunan juga mengubah tata cara pemesanan para tamu. Konsep yang kami usung adalah eksklusif premium, artinya hanya orang berpendidikan dan beradab yang bisa memesan tempat kami. Orang dengan pemikiran beradab tentu saja akan menaati segala peraturan dimanapun mereka berada bukan?” Eloise masih diam mendengarkan penjelasan Noah, ia juga tidak menyangka kalau Noah adalah pemilik dari klub tersebut. Dalam hatinya ia pun memuji cara Noah mengelola bisnis karena El tahu sekali sepak terjang klub ini sejak dibuka kembali dua tahun lalu memang merubah penilaian publik tentang nilai sebuah klub di mata orang-orang yang biasanya dianggap sebagai tempat tidak benar. Malahan hamper tidak percaya pengelola baru tempat itu masih muda sekali. “Orang yang kamu lihat di layar itu adalah tangan kanan pemilik klub, dia selalu merasa tersaingin sejak Opa Brahm dirikan. Apalagi sekarang, dipikirnya dengan konsep yang kubuat pendapatan klub akan berkurang karena dia berpikiran langganan Klub Melati pasti pindah ke sana tapi ternyata justru sebaliknya. Makanya dia terus-terusan recokin klub mengirim anak buahnya bergantian. Dan hari ini sudah pada batasan pembiaran kami.” “Tapi apa perlu harus pakai cara kekerasan seperti tadi?” Noah menoleh sekilas dan menghela nafas. Dirinya tidak heran mendengar sanggahan Eloise karena perempuan disebelahnya ini belum memahami seperti apa dunia para red flag. “Memang harus begitu. Menyerahkan pada hukum negara itu memang terdengar bijak tapi yang dihadapi bukanlah pencuri atau perampok biasa yang akan takut mendengar kata polisi. Mereka bahkan memiliki seribu cara licik untuk menjatuhkan orang lain tanpa perlu terlihat buruk di mata hukum. Aku, Juan, Jav juga Lido dan Mike sudah melihat sendiri kelicikan dan sifat kejam mereka semua, meskipun usahaku legal tapi mental kami harus lebih kuat dan galak dari orang-orang munafik itu. Aku mengerti kalau kamu ketakutan seperti tadi karena pasti baru pertama kali kamu lihat sekasar apa Roy menyerang anak buahku kan.” Eloise menunduk, menghela nafas dan tersenyum. Namun enggan membalas ucapan Noah lagi. Hingga mereka sampai di apartemen, entah kenapa El merasa uring-uringan. “Kamu salah.” Ucapnya setelah menutup pintu membuat Noah yang hamper masuk kamar berbalik. “Maksudmu?” “Aku sering melihat orang-orang seperti cerita kamu itu. Dan kamu benar kadang si korban tidak bisa mengadu pada hukum karena mereka seperti rubah yang pintar berakting.” Sahut Eloise menatap Noah. Meskipun bibir Eloise memperlihatkan senyuman namun Noah bisa melihat ada luka dalam tatapan mata perempuan itu. “Siapa saja orang-orang itu?” Tanya Noah mulai memancing membatalkan niatannya ke kamar dan beralih duduk. “Duduk.” Noah merasa Eloise butuh bercerita dan mungkin karena kejadian hari ini ditambah dengan ucapan Noah membuat perang dalam batin yang dipendamnya sejak kemarin bergejolak kembali. Bahkan Eloise malah duduk di samping Noah padahal masih ada sofa lainnya. “Kenapa sampai malam itu kamu berakhir di tepi danau?” Eloise menunduk mengeratkan belitan kedua tangannya di atas pangkuan, rasa sakit itu masih belum hilang sama sekali. Pedih menyayat hingga rasanya remuk memikirkan ketidakadilan yang dirasakannya. “Aku memiliki orang tua yang masih lengkap namun rasanya seperti yatim piatu. Yang aku pahami mungkin papa ku menikah lagi karena setiap kali mama memarahiku selalu mengatakan kalau dia tidak pernah menginginkan aku berbeda dengan Tania adikku yang selalu diperhatikan juga dimanja sama mama. Awalnya hanya kakak tiriku yang selalu membelaku di rumah namun ketika beranjak remaja sampai sekarang aku justru takut berdekatan dengan Kak Tristan.” “Tristan itu kakak kandungmu?” “Bukan. Anak bawaan mama waktu nikah sama papa. Tapi sejak tahu aku merasa risih, Kak Tristan memutuskan untuk keluar kota. Dan aku lagi yang disalahkan mama.” “Kenapa kamu kabur dari rumah?” “Mama memaksaku untuk mau menikah dengan pria yang usianya sama seperti papa ku. Tentu saja aku menolak, karena itu aku diusir dari rumah. Ditampar, diusir, jadi kambing hitam sudah seperti makanan sehari-hariku sejak dulu tapi rasanya aku tidak kuat lagi kalau terus menerus ditekan dengan alasan membalas budi orang tua.” Genangan air mata yang sudah berkumpul akhirnya jatuh membasahi pipi Eloise. “Kadang aku bertanya-tanya sendiri, apa sesulit itu menyayangiku seperti mama sayang sama Tania atau kak Tristan. Kalau di masa lalu aku pernah melakukan kesalahan fatal yang aku tidak ingat sama sekali aku mau kok untuk minta maaf. Tapi justru aku tidak tahu dimana salahnya. Aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk tidak menyusahkan mereka, meskipun kuliah di London aku tidak memakai uang papa sama sekali karena mendapatkan beasiswa. Disana pun aku bekerja paruh waktu demi mencukupi kebutuhan hidupku. Orang tua teman-temanku dulu selalu memujiku sebagai anak mandiri dan pintar tapi orang tua ku sendiri malah tidak pernah menanyakan apa kabarku.” Pecah tangisan Eloise memukuli dadaanya sendiri terasa sesak. Sambil mengatur nafasnya untuk meredakan tangis, Eloise melanjutkan kisah hidupnya. “Aku mempunyai pacar, Namanya Reza. Cukup lama kami pacaran, karena kabur dari rumah aku tidak memiliki tujuan selain ke tempat dia. Tapi justru aku melihat serigala lain dalam hidupku.” Noah yang bersimpati masih mendengarkan cerita Eloise membiarkan gadis itu mengeluarkan semuanya. Biasanya setelah meluapkan semua beban yang dipendam dan menceritakannya pada orang lain akan menenangkan batin orang tersebut. Dan inilah yang dilakukan Noah menjadi pendengar untuk Eloise. “Apartemen Reza tidak jauh dari danau itu. Waktu tiba di sana justru Tuhan seperti sedang menyadarkanku betapa buruknya perangai Reza selama ini. Dia tidur dengan temanku sendiri, sahabat yang sudah kuanggap seperti keluarga bagiku justru menusukku di belakang.” Eloise memukuli dadaanya berkali-kali, bahkan tangisnya sesegukkan lirih terasa menyayat. “Kenapa mereka memperlakukanku sebagai orang bodoh selama ini. Reza dan Fani adalah satu-satunya tempatku membagikan segala kesedihanku di dalam keluarga. Tapi justru mereka juga bersekongkol membohongiku dengan cara menjijikkan. Keparatt mereka!” Noah pun menarik Eloise dalam pelukannya membiarkan wanita itu terus menangis. Tragis memang kisah hidup wanita itu dalampikiran Noah. Kalau selama ini ia hanya mengurusi orang lain yang berperangkai seperti binatang, tapi Eloise justru harus menghadapi orang-orang yang seharusnya memberikan kasih sayang dan perhatian kepadanya. Kalau jadi Eloise mungkin Noah akan merasa sama hancurnya, bagaimana mungkin bisa bersikap seperti tidak terluka kalau yang melukainya adalah orang tuanya sendiri dan kekasihnya. Sungguh kurang ajar mereka semua dalam hati Noah ikut terbawa emosi. Menyadari air matanya sudah membasahi kaos Noah, Eloise menarik diri mundur menghapus kasar air mata dengan tangannya. “Maaf, maaf sudah bikin kaos kamu jadi basah.” “Yah, padahal baru saja aku ngerasain meluk cewek lain. Kok malah dilepas.” Ucap Noah konyolnya kambuh lagi dan membuat Eloise berdecak kesal mendelik tajam sedangkan Noah terkekeh. Ia memang sengaja melakukannya untuk menghibur Eloise meskipun kemampuannya dalam hal menghibur wanita terbatas. “Kamu boleh tinggal di sini selama mungkin, mulai sekarang anggap saja aku temanmu, itupun kalau kamu ngak takut.” “Kan aku bilang ngak.” Eloise menghela dalam nafasnya, suaranya sudah tidak serak. “Setelah dengar alasan kamu dan teman-teman melakukan perbuatan tadi, aku juga paham karena aku juga pernah dalam situasi seperti itu. Bedanya situasi kamu bisa pakai kekerasan tapi masalahku tidak.” “Dan kamu biarkan mereka terus melakukan kekerasan fisik dan mental ke kamu?” Sahut Noah sarkas. “Mulai sekarang, belajarlah jadi cewek kuat dan tidak cengeng. Kalau kita hidup benar tidak perlu takut menghadapi mereka sekalipun orang tua kamu. Apalagi mantan dan sahabat kamu itu, mereka berdua tidak layak ada di samping kamu karena mereka sampah. Camkan itu. Menangis sebagai bentuk meluapkan emosi itu wajar, tapi tidak perlu berlebihan. Setelahnya bangkit, berdiri tegap. Tunjukkan pada mereka yang sudah merendahkanmu kalau kamu malah menjadi Eloise versi yang semakin baik justru tanpa mereka.” Mendengarkan nasihat Noah membuat El berpikir jangan-jangan Noah pernah mempunyai pengalaman yang sama dengannya. “Apa orang tua kamu juga seperti orang tuaku?” Noah terkekeh lalu menggeleng. “Pengalaman hidup memang proses pendewasaan seseorang menjadi pribadi yang lebih kuat. Tapi bukan berarti harus mengalami sendiri juga. Aku sudah sering melihat lika-liku drama manusia beberapa tahun ini mungkin ini yang membuatku berpikir demikian.” Eloise pun mengangguk tanpa berkomentar lagi entah setuju atau justru enggan berargumen. Hanya saja ia melihat sisi dewasa seorang Noah meskipun anak ini masih dikatakan sebagai mahasiswa.. “Tidurlah, besok aku harus ke kampus.” Mendengar kata kampus, Eloise langsung teringat dengan tanggung jawab yang ia harus jalani demi menyambung hidup. “Besok aku sudah masuk kerja.” “Pakai supir saja, aku sudah suruh orang untuk antar jemput kamu. Namanya Joan, dia adik Juan.” “Hah! Ngak usah, aku bisa sendiri naik angkot.” Noah yang akan masuk ke dalam kamarnya berbalik badan dan menghampiri Eloise menatapnya dengan wajah ketus. “Nurut, mau diculik sama mantan kamu?” Saking terpana dengan kelakuan Noah, El hanya menggeleng kemudian mengangguk sebagai tanda setuju meskipun dalam hatinya mendongkol. “Good. Jangan susah diatur kalau mau aman.” Ucap Noah sambal meninggalkan El yang sedang cemberut. Esok paginya Noah sudah bangun dan rapi ketika El keluar dari kamar. “El, kenalin ini Jane. Jane kenalin ini El. Cukup lakukan yang gua bilang saja tanpa perlu menarik perhatian orang lain.” “Siap, Bos.” Noah sudah berada di dalam kelas dimana hari ini adalah pertemuan pertamanya bersama beberapa mahasiswa lain yang juga satu dosen pembimbing. Nama dosen itu sudah tertera di email dari kampus hari ini. Noah bahkan tersenyum melihat nama tengah dosen itu sama dengan nama perempuan yang sudah ditolongnya. Benar-benar sebuah kebetulan lucu. Ponselnya bergetar, Noah mengambil benda pipih itu dari saku celananya. Sebuah pesan dari Juan masuk namun belum sempat dibuka, ketukan pintu dibarengi dengan suara pintu terbuka membuat Noah urung melihat pesan dari Juan. Ia letakkan ponselnya kembali ke saku. “Selamat pagi semua.” Sahut sang dosen. Noah terperanjat mengenali suara itu lalu mendongak untuk melihat siapa dosen pembimbingnya. “Kamu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD