“Sialann!! Loe semua paham kan pembeli itu raja! Gua nyuruh loe bawa bir lagi kemari, budek apa guoblok loe hah!”
Suara bentakan Roy pada Lido dan Juan masih terdengar ketika Noah juga Javier baru tiba di depan ruang VIP.
Noah membuka pintu ruangan dengan hentakan kencang berhasil mengejutkan Roy dan yang lainnya. Anak buah Roy yang sedang berseteru dengan Juan dan Lido ikut diam. Tanpa basa-basi, Noah mengambil botol bir kosong dari atas meja dan memukul kepala Roy hingga pria yang usianya setara dengan papa nya itu jatuh kelojotan tidak menduga akan mendapati hadiah luka dikepalanya.
Sebelum anak buah Roy hendak menyerang, Lido menjepit leher Roy lalu menancapkan sisa botol pecah yang masih dipegangnya setelah memukul kepala anak buah Roy ke arah lehernya menjadikannya seperti sandera agar anak buahnya tidak macam-macam..
Bukan tanpa alasan Roy membawa beberapa anak buahnya beberapa minggu ini ke klub yang dikelola Noah, mereka memang sengaja mencari keributan untuk membuat nama baik Klub Melati hancur karena perinta atasannya. Noah sudah menyadari sejak Lido memberitahu kedapatan seorang pengunjung membawa pil ektasi ke dalam. Untungnya sejak dikelola Noah pemeriksaan ketat para tamu saat masuk sudah diberlakukan.
Klub elite yang didirikan opa Noah semakin ramai ketika konsepnya diganti oleh Noah sejak dipercayakan Opa Brahm. Sistem pemasaran dengan mengangkat nilai eksklusif dan pelayanan premium dengan menyediakan ruang serba guna kedap suara membuat para pengusaha berlomba-lomba ingin menjadi member klub ini.
Ronald yang sejak dulu selalu menjadi saingan Opa Brahm tidak senang karena pengunjung di klub nya semakin berkurang apalagi tamu VIP yang biasa jadi pelanggannya satu per satu pindah ke Klub Melati. Jadi dia memakai cara kotor untuk membuat nama baik Klub Melati jelek kalau perlu ditutup sekalian oleh pihak pemerintah.
Sejak mengurusi Klub ini ditambah dengan perubahan metode baru yang dibuat Noah, resiko menghadapi bahaya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Tidak ada kata takut dalam kamus Noah dan lainnya ketika berhadapan dengan musuh yang iri dengan klub mereka padahal Noah sendiri tidak pernah memusingkan urusan klub lainnya. Justru dengan peraturan ketat yang dibuat Klub Melati malah menjadikan klub mereka makin disegani dan masuk ke dalam jajaran sepuluh besar klub bersih di Indonesia.
Kehadiran Roy sejak beberapa minggu lalu di klub ini sudah diantisipasi oleh Noah juga Juan. Roy tahu sekali siapa pemimpin klub ini dan bukannya tidak tahu sepak terjang anak muda yang dianggapnya masih ingusan itu ternyata tidak bisa disepelekan. Oleh sebab itu waktu Noah sengaja tiba lebih dulu, staf Noah memberitahu Roy yang sudah datang balik lagi setelah anak buahnya melihat kehadiran Noah di sana. Sebab itu hari ini Noah baru datang setelah mendapatkan informasi kedatangan Roy sekaligus menuntaskan permainan mereka.
“Jangan macam-macam. Gua kesini bayar, bangsatt!”
“Ngaca dulu sebelum nuduh! Orang beradab tahu aturan, mau di luar aturan klub ini boleh saja. Kita ke ruangan gua sekarang, gua sendiri yang akan menjamu loe. Mau?” Ucap Noah menyeringai menantang Roy.
“Cih! Gua bisa nuntut tempat ini karena melakukan kekerasan!”
Noah mendecih tawa dengan Roy.
“Silahkan, karena rekaman kekerasan loe tadi sama staf gua tinggal kita serahin ke polisi sekaligus memberitahu siapa bos loe. Sekalian saja gua jadi informan polisi dan bilang apa bisnis bos loe. Lumayan juga sekali tepuk cecunguk kayak loe beserta bosnya masuk bui.” Tutur Juan.
“Sialann! Klub macam apa ini! Gua bayar disini buat minum senang-senang dan loe bilang klub ini elit dari servis macam ini! Cewek ngak ada, minum dijatah loe kira yang kesini itu anak piyik hah!”
Noah terkekeh menyeringai seram berdiri menatap lekat Roy. “Gua juga ngak minta loe kemari. Jangan loe piker gua ngak tahu maksudnya loe dan orang suruhan loe kemari beberapa minggu ini. Sekedar bocoran, orang suruhan loe yang loe suruh bawa barang sialann kemari ngak pernah ngasih laporan kan.”
“Apa maksud loe! Jangan main nuduh tanpa bukti!”
“Loe bilang sama si tua bangka Ronald, bos loe itu. Jangan pernah lagi ngirim loe atau siapapun kemari buat sengaja cari perkara di sini. Melati klub bersih beda level sama klub bos loe itu yang punya fasilitas esek-esek. Termasuk loe, ngak level masuk klub gua.”
“Cih, baru tahu cucu Brahm bego. Dari dulu yang Namanya klub itu tempat buat bersenang-senang, minum, disko juga menikmati cewek. Kalau loe ngak paham ngak usah megang klub bocah ingusan!”
“Udah bosan hidup loe, hah!” Ucap Lido kesal mendengar bos besar mereka direndahkan.
Mau dicecar seperti apapun Noah yakin Roy akan terus berkelit menggunakan keangkuhannya. Noah mengendikkan dagunya, Lido melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Roy.
“Mau keluar sendiri atau perlu diajarin caranya?” Ucap Noah membuat Javier dan lainnya tertawa dengan pikiran kotor mereka.
Lido mendorong Roy keluar ruangan bersama beberapa anak buahnya.
“Masih mau begaduh? Ayo gua ajak begaduh di tempat yang benar. Orang-orang suruhan loe sebagian sudah merasakan nikmatnya jadi santapan.” Ucap Noah menyeringai namun tatapan matanya menyeramkan menikam nyali Roy hingga gemetar.
Paham melihat situasi tidak kondusif nyali Roy ciut meskipun wajahnya masih menunjukkan kemarahan.
Noah berdiri masih terus memberi tatapan menantang, sialnya lagi anak buah Roy tidak berkutik melihat bos nya sedang di tarik rambutnya ke belakang oleh Noah membuat pria itu meringis menahan sakit luar biasa dari luka bekas pukulan dikepala serta rambutnya yang serasa sudah mau lepas bersama kulitnya.
“Argh! Gua pasti balas, lihat saja nanti!” Umpat Roy masih berani menuding terlunjuknya ke wajah Noah meskipun mengerang kesakitan.
“Kita lihat nanti, Pak Tua. Kalian boleh ngerusuh di klub lain tapi ngak disini. Paham loe!” Jawab Noah terkekeh menyeringai menakutkan. Melepaskan tangannya dan membiarkan Roy keluar dari ruang VIP mereka.
Di luar ruangan sekitar sepuluh anak buah Lido bertubuh kekar sudah berdiri bersiap membantu kalau sampai Roy berbuat nekat ribut di tempat membuat nyali Roy benar-benar ciut. Juan sengaja merangkul Roy mengajaknya turun ke bawah seolah-olah keduanya sedang asyik mengobrol. Anak buah Roy hanya diam mengikuti di belakang Juan dan Roy dengan beberapa bodyguard dibelakang mereka. Noah sendiri berjalan paling belakang bersama Jav.
“Sampai jumpa, Om. Titip salam buat Om Ronald.” Ucap Noah sengaja melambaikan tangannya pada Roy yang sudah masuk ke dalam mobil di parkiran basemen. Luka pecahan botol di kepalanya sudah dibersihkan secara kasar oleh Juan sebelum turun tadi. Anak buah Roy semua dalam keadaan tidak kalah parahnya dengan atasan mereka.
“Bye Om Roy. Jangan balik lagi yah, nanti eike susah ngajarin Om keluar..” Seru Javier konyol dengan suara melambai genit membuat yang lain tertawa.
Dari ruangan pengendali, Eloise mulai mengerti kenapa Noah bilang jangan keluar dari sana sebelum Noah sendiri yang menjemputnya.
Bahkan pandangan matanya hampir tidak berkedip melihat kekerasan yang dilakukan oleh Noah dan bawahannya di televisi. Tante Gina yang duduk menemani Eloise di ruangan itu Nampak tertawa setiap kali melihat Roy meringis kesakitan membuat Eloise menggeleng kepala tidak habis pikir.
“Tan..”
“Yah, Sayangku..”
“Apa mereka selalu melakukan hal seperti itu?” Tunjuk Eloise ke arah layar masih dengan wajah setengah pucat membuat Tante Gina tertawa geli dengan tingkah gadis bawaan bos besarnya sekarang kemudian mengedikkan bahu seolah memberikan jawaban ambigu pada Eloise.
Ketika Noah membuka pintu, Eloise terkejut sampai bahunya naik turun sontak membuat Tante Gina terbahak-bahak melihat reaksi gadis itu.
“Noh, Noh… Baru juga kamu ajak sudah mulai kena mental kayaknya tuh. Kasihan anak orang sampai kaget gitu.” Ledek Tante Gina sambil mengusap bahu Eloise dengan seringai tawanya.
Tanpa merasa bersalah Noah pun duduk di sebelah Eloise membuat gadis itu menjauh menghindari Noah membuatnya menoleh. Sedangkan Tante Gina mengulum tawa sengaja berdiri agar Noah tidak melihatnya tengah menahan geli.
“Kenapa? Kamu takut?”
“Hah! Ng-ngak cuma kaget saja baru pertama kali lihat film action secara live.”
Ucapan menyindir Eloise membuat Noah menyeringai, sepertinya ia harus mengajak Eloise bicara setelah ini sebelum gadis ini salah paham.
“Lebih seruan mana?” Konyolnya malah Noah balas bertanya dengan pertanyaan konyol.
“Hah! Apaan sih. Film kan bohongan kalau kamu tadi itu beneran semua. Orang yang dipukulin tadi berdarah beneran juga kan.”
“Menurut kamu?”
“Hais!” Eloise benar-benar dibuat gedek dengan jawaban Noah.
Tante Gina tidak dapat lagi menahan geli ia pun tertawa melihat keusilan Noah kambuh dan parahnya si gadisnya begitu polos menanggapi.
Ketika Juan, Jav dan yang lainnya masuk, Noah berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Ayo kita pulang.” Sambil menarik tangan Eloise yang masih saja duduk membeku.
“Lah main balik aja dia.” Ledek Javier terkekeh geli melihat sepupu konyolnya seperti sedang kepincut hanya saja Noah belum menyadarinya.