Saat membuka pintu apartemen aku dikejutkan oleh suasana apartemen yang berbeda. Padahal aku selalu menyewa orang membersihkan tempat ini setiap hari tapi ada yang berbeda, hidungku bahkan menghirup dalam sambil memejamkan mata memikirkan harum ruangan ini sama seperti di sebuah tempat. Sampai suara Eloise yang lembut itu berhasil menyentakku dan langsung berbalik melepaskan sepatu kerja.
“Kamu sudah pulang.”
“Hem. Habis di pel lantainya?”
Setelah menjawab dan meletakkan sepatu aku pun berbalik. Jantungku seketika berdebar melihat Laurent yang menyapaku. Bukan masalah pertanyaannya tapi apa yang melekat di tubuhnya sekarang. Eloise sedang memakai kaos milikku semalam yang terlihat kepanjangan dan menutupi celana pendek yang dipakainya juga membuat kaki jenjangnya terlihat putih sempurna sampai kerongkonganku terasa kering.
“Baru. Ehem, hem. Ini aku bawakan makanan juga nasinya. Kamu bisa pindahkan sayurannya? Setelah mandi kita makan.” Kemudian aku berjalan masuk ke kamar tanpa melihat ke arah Eloise lagi sambil memijit keningnya yang mulai terasa tegang.
Setelah segar mandi aku pun keluar dari kamar dan sayuran serta nasi di piring sudah disediakan oleh Eloise. Diam-diam aku tersenyum tipis, kalau punya istri mungkin seperti ini rasanya. Hais, ngaco, ngaco. Kuliah aja belum lulus udah mikirin kawin, otakku rasanya sudah tidak benar tertular Javier sepupuku itu.
“Kamu beli dimana semua ini? Lain kali aku mau pesan juga.”
“Enak kan.”
Eloise mengangguk menularkan senyumnya padauk untuk ikut tersenyum.
“Nanti aku bilang ke Mama sama Oma di rumah. Mereka yang suka masak di rumah.”
El melongo setelah kuberitahu. “Kalau begitu kenapa kamu ngak makan malam bareng sama mereka. Mama kamu pasti sedih.”
“Kalau aku makan sama mereka trus kamu makan mie instan gitu? Aku masih punya hati lah, lagipula harusnya baru pulang ke rumah lusa.”
Eloise merasa terharu melihat cowok berwajah datar dihadapannya ini. Sudah menyelamatkan dirinya dari keputusasaan, lalu memberinya tempat menumpang sementara disaat tidak tahu harus kemana.
Dan sekarang Noah bahkan memilih makan dengannya dibandingkan keluarganya sendiri. Entah bagaimana caranya Eloise harus membayar semua bantuan yang diberikan Noah.
“Maaf sudah membebani kamu.”
“Kalau tidak mau jadi beban yah nurut kata-kataku.”
Tuh kan, juteknya nongol lagi padahal El hanya mencoba tahu diri dan berterima kasih. Eloise juga tidak ingin menarik Noah untuk masuk ke dalam hidupnya lebih dalam lagi yang nantinya hanya akan semakin menyusahkan Noah. Sehari mengenal Noah, Eloise mulai mencoba membiasakan diri dengan sifat jutek Noah yang sebenarnya penuh perhatian.
“Terima kasih buat semua kebaikanmu, Noah. Terima kasih juga buat semua pakaian yang kamu belikan hari ini. Mungkin kedengarannya tidak tahu diri, tapi aku beruntung kamu selamatkan juga mau menampungku. Beri aku waktu seminggu, aku akan cari tempat kos supaya bisa cepat pindah.”
Noah menatap Eloise tidak suka dengan rencananya.
“Siapa juga yang ngusir. Apartemen ini bukan sewaan murni punyaku. Aku saja tidak minta kamu pergi, buat apa buang-buang uang. Lebih kamu tabungin buat bayar kuliah nanti.”
“Kuliah?” El cengok disangka Noah anak kuliahan tapi biarlah demikian. “Oh aku kuliah di Universitas Setia Mulya Abdi.”
“Wah, sama kalau gitu. Semester akhir juga?”
Eloise mengangguk dan ingat dengan laptop miliknya yang biasa digunakan masih di rumah papa nya. Tidak mungkin juga dia balik ke sana hanya karena laptop, cari mati namanya.
“Kenapa muka kamu cemberut gitu? Belum dapat bahan skripsi? Mau aku bantu?”
“Hah! Oh bukan. Laptopku tertinggal di rumah orang tuaku tapi tidak mungkin mengambilnya sekarang ke sana.”
Noah Nampak mendesah lega. “Kalau soal laptop mah gampang.”
“Maksud kamu?”
“Besok aku belikan.”
“Eh, jangan Noah. Aku ngak mau menambah hutang budi ke kamu. Nanti aku beli sendiri.”
“Ck, bawel amat. Lupa barusan aku bilang apa. Nurut aja susah amat sih. Aku ngak akan nagih sepeserpun juga, ikhlas, rido, tulus seribu persen.” Ucap Noah menggebu-gebu dan Eloise tertawa terkekeh melihat dengus kesal Noah dan akhirnya gadis itu memilih diam membiarkan Noah dengan maunya.
Ponsel Noah berdering dan ia pun bangun masuk ke dalam kamar mengangkat panggilan itu. Eloise memutuskan untuk tidak ikut campur dan memilih untuk membereskan peralatan makan mereka.
Lima belas menit kemudian Noah keluar dari kamar sudah berpakaian kasual rapi.
“Aku harus pergi sebentar, ngak perlu nunggu aku.”
“Mau ke rumah pacar yah…” Goda Eloise sambal menyeringai.
“Ck, aku ngak punya pacar. Aku ada urusan di Klub Melati.”
Bola mata El membulat. “Kamu member di Klub Melati? Aku ikut boleh ngak. Please. Penasaran banget sama klub elit itu dari dulu, mau ke sana tapi sayang karena biayanya mahal.”
Gantian Noah yang melongo melihat Eloise menangkup kedua tangannya memohon.
“Aku ganti baju sebentar saja.” Tanpa persetujuan Noah, gadis itu berlari masuk bergegas mengganti pakaian. Untung saja Noah membelikan banyak pakaian yang dikirim kurir siang tadi jadi Eloise tidak repot lagi meminjam kaos Noah.
“Hais kenapa juga gua tungguin dia.” Gerutu Noah kesal sendiri. Bukannya dia keberatan mengajak Eloise ke klub milik opa nya itu, tapi dia pasti akan jadi bahan ledekan semua teman-temannya jika melihatnya membawa seorang gadis ke sana karena sebelumnya hanya dia yang tidak pernah kelihatan bersama seorang wanita.
“Ayo jalan sekarang.”
Pandangan Noah ke depan, bibirnya mengulum senyum melihat penampilan Eloise yang mengenakan kaos putih bergambar beruang kuning malas dipadukan dengan celana jeans benar-benar imut seperti anak kuliahan.
Noah mengambil masker di balik lemari dekat pintu. “Pakai ini selama perjalanan nanti dan saat masuk ke Klub, jaga-jaga ada yang ngenalin kamu.”
Eloise pun menurut demi diajak ke Klub impiannya itu, bagaimanapun Noah melakukannya demi melindunginya. Lihat kan si jutek ini perhatian.
Sepanjang perjalanan menuju klub Noah terlihat gelisah sendiri memikirkan mulut-mulut menyebalkan teman-temannya nanti di sana. Sudah terlanjur biarkanlah piker Noah, lagipula masih wajar juga kan kalau dia membawa perempuan, toh umurnya masih sangat pantas.
Kedatangan Noah ke klub sebenarnya karena Juan memanggilnya karena melihat kehadiran Roy dan anak buahnya datang. Saat menggeledah mereka tidak menemukan barang terlarang di sana dan sengaja mencari keributan jadi Juan tidak dapat berbuat banyak.
Perkiraan Noah benar-benar terjadi. Baru melihatnya masuk bersama Eloise ke ruang VIP khusus wajah para pria itu sudah sumringah jelas-jelas bahagia karena setelah pertemuan hari ini mereka punya alasan untuk membullyku.
Sedangkan Eloise terlihat biasa saja bertemu dengan kawan-kawanku, menyebalkannya lagi dia malah tersenyum ramah pada mereka.
“Noh, kenalin kali. Halo, gua Jav sepupu rasa temannya Noah.” Ucap Jav lebih dulu maju memperkenalkan diri.
Baru saja Eloise mengulurkan tangan, Noah menurunkannya membuat El cemberut. Pria itu menunjuk satu per satu. “Itu Javier, Juan, Lodi dan Miko. Yang disana Tante Gina.”
“Wah wah wah pantesan gerimis tiba-tiba di luar. Tenyata akhirnya ada yang bawa gandengan juga kemari.” Goda Tante Gina membuatku tak berkutik tidak melawan apalagi marah.
“Kenalin semua namanya Eloise.”
“Panggil El saja.”
Pandangan Eloise terus menerawang ruangan besar VIP ini sungguh semewah penilaian yang sering di bacanya. Tapi dilihat dari tata letak di ruangan ini sepertinya ini adalah kantor mereka. Pertama penerangan di ruangan ini tidak seremang dari foto-foto yang dilihat Eloise, kemudian terdapat tiga televisi berukuran 40 inch yang menampilkan rekaman suasana tiap ruangan di klub ini. Salah satu televisi hanya menyorot sebuah ruangan saja, sepertinya mereka semua sedang mengamati ruangan tersebut.
Eloise yang hanya ingin memuaskan rasa ingin tahunya memilih acuh dengan pembicaraan mereka.
“Lihat, anak buah Roy mulai macem-macem sama staf kita. Mereka pesan langsung tiga bucket padahal hanya bertiga.” Ucap Juan.
“Pasti marahin staf karena pesanan tambahan mereka ditolak.” Ujar Lido salah satu anak buah Noah.
“Kelihatan banget cari gara-garanya.” Timpal Jav sambil menonjok ke telapak tangannya sendiri.
“Samperin, tegur baik-baik dulu. Kita punya rekaman CCTV jadi ngak usah takut kalau perlu pancing biar mereka duluan begaduh. Nanti gua nyusul, gua udah diam masih aja cari masalah. Hari ini harus dituntasin.” Ujar Noah memerintah berhasil membuat Eloise menoleh dan merasa salah ikut Noah kemari.
“Bergerak sekarang!”
Lido, Mike dan Juan langsung beranjak, keluar menuju ruangan Roy dan anak buahnya.
Sedangkan mood untuk menikmati suasana klub ini hilang sudah berganti dengan terus menatap tv besar yang sedang diperhatikan Noah, bahkan wajah Noah terlihat menyeramkan saat ini bagi Eloise.
“Me-mereka mau ngapain, Noah?”
Lupa kalau sudah membawa serta Eloise, Noah menoleh ke samping. Bagi Noah ia tidak merasa takut kalau Eloise akan berpikir buruk, kalaupun iya dia bisa melihat sendiri bagaimana caranya mengurusi berandalan pencari masalah.
“Klub ini punya aturan, setiap orang hanya boleh memesan bir maksimal satu bucket per orang. Aku mencegah orang-orang mabuk dan membuat onar di sini. Mereka itu sengaja cari onar sejak beberapa minggu ini bahkan sempat kecolongan salah satu anak buahnya mengedarkan obat terlarang di toilet klub.”
“Trus kalau mereka masih keras kepala bagaimana?”
Noah mendengus kesal melihat kelakuan Roy dan anak buahnya. Ia pun berdiri dan menatap Eloise yang terlihat bingung. “Kadang dunia kamu tidak bisa diselesaikan hanya dengan memanggil polisi. Nanti juga kamu lihat seperti apa. Duduk diam disini, jangan kemana-mana sampai aku sendiri yang jemput kalau kamu ngak mau diculik sama pria mabuk.”
‘Maksud dia apaan? Kalau ngak manggil polisi terus diapain?’
Bola mata Eloise membelalak dan menutup mulutnya ketika melihat rekaman live di ruangan itu dalam hatinya ketar-ketir mulai memikirkan orang seperti apa Noah dan kawan-kawannya itu.