Bab10. Dia Dosenku?

1517 Words
“Halo, Kak. Aku panggil kakak saja yah biar lebih nyaman. Kenalin aku Jane.” Ucap wanita berambut panjang dikuncir kuda. Wajahnya lumayan cantik andai penampilannya tidak setomboi ini dan dipoles sedikit pasti cantik sekali. “Eloise, boleh terserah kamu sama, Joan. Panggil Kak El saja.” “Siap!” Teriaknya sambil menghentak sebelah kaki dan tangannya diletakkan di pelipis seperti sedang memberi hormat. Membuatku terkejut dan pria konyol yang menolongku malah tertawa menyebalkan. Aku tidak menyangka tinggal bersama pemuda ini semakin membuat hidupku rasanya semakin terkekang. Bayangkan saja dia menyuruh supir untuk mengantarku bekerja, sedangkan dia saja tidak memakai supir. Saking cueknya sampai tidak bertanya dimana aku bekerja. “Kita mau kemana sekarang, Kak?” Tanya Jane sambil berkendara keluar dari apartemen. “Ke Kampus Nusantara yang di alam sutera. Kamu tahu?” “Loh!” Jane menoleh menatapku keheranan. “Kenapa, Jane? Aku share lokasi kalau kamu belum pernah ke sana.” “Bukan begitu. Aku tahu itu dimana, Kak. Tahu banget sampai bosan malahan.” Sahut Jane membuatku semakin bingung. “Trus kenapa kamu kaget?” “Itu kampus kita. Aku sama Bang Juan lulusan sana, Noah juga mahasiswa semester akhir disana.” Giliran aku yang dibuat terkejut. “Loh, Noah mahasiswa di sana?” “Memangnya Noah ngak tahu Kak El mahasiswa di sana?” Pertanyaan Jane membuatku tertawa geli sekaligus senang masih dikira mahasiswi. “Memangnya aku masih pantas jadi mahasiswi yah, Jane?” Lagi-lagi Jane menoleh sambil tersenyum mengerti maksud ucapanku. “Jadi Kak El dosen? Kok aku ngak pernah lihat?” “Iyah aku baru pindah ke Nusantara dua tahunan ini.” “Oh pantes. Wah wah wah, gimana sih Noah sampai ngak tahu Kak El itu dosen. Memangnya dia ngak nanya?” Aku mengendikkan bahu membuat Joan terkekeh seolah memahami sifat Noah dan aku bisa menebak secuek apa pria itu. “Kamu sudah kenal lama sama Noah, Jane?” Jane mengangguk. “Saya dan Abang teman main Noah dan Jav sejak kita kecil. Orang tua mereka sangat baik dan sudah banyak menolong orang tua kami. Mamaku sekretaris dari orang tua Noah sekaligus bodyguard mereka sedangkan Papa dulu bodyguard Opa Noah sampai sekarang. Sekolah kami selalu dibiayai sampai lulus kuliah, jadi rasanya membalas budi mereka dengan mengabdi di keluarga ini adalah sebuah kehormatan buat kami sekeluarga.” Jawaban Jane membuatku cukup takjub dan penasaran seperti apa kebaikan orang tua Noah juga kakek neneknya sampai keluarga Jane setia berbakti pada keluarga ini turun temurun. Jane menoleh menyunggingkan senyumnya. “Pastin gak percaya kan si pecicilan Noah itu dari tampangnya ngak kelihatan pecicilan. Papa dan Opa Noah juga sama, jadi ngak heran turunannya kayak Noah hanya saja aslinya di lingkungan terdekat mereka itu baik banget, memperlakukan kita semua sangat manusiawi dan usil.” Yang diucapkan Noah semalam benar karena keluarganya terdengar baik dan harmonis dari cerita Jane. Sampai di kampus, Jane sengaja parkir di basemen agar tidak menarik perhatian orang. Aku pun jalan lebih dulu kemudian Jane mengikuti di belakangku sampai aku masuk kelas dan Jane menunggu di depan ruangan. “Selamat pagi semua.” Ucapku memberi salam lebih dulu pada mahasiswa bimbinganku dan dibalas salam oleh mereka semua. Setelah meletakkan tas laptop di atas meja aku pun mengangkat kepala untuk memperhatikan wajah para mahasiswa bimbinganku selama empat bulan ke depan. Sampai mataku tertuju pada seseorang membuat ritme jantungku naik setengah oktaf. “Kamu!” Aku dan Noah saling menunjuk dan mengatakan hal yang sama hingga jadi bahan tertawaan mahasiswa lain. Noah menggaruk tengkuknya sendiri sambil cengegesan sedangkan aku pura-pura berbalik dan bersandar dimeja kerja. “Kalian sudah punya bahan dan tema untuk skripsi yang akan kalian garap?” Sambil bertanya aku berjalan menuju papan tulis besar di depan kemudian menuliskan tahapan membuat skripsi kemudian kembali ke depan meja ku. “Karena jurusan kalian adalah business management internasional maka kalian harus bisa menganalisa masalah pada sebuah perusahaan rekanan kalian. Kembangkan kemudian cari solusi berikut praktek kerja nyatanya supaya kalian melihat true and false dari pemecahan masalah yang kaian buat nantinya.” “Bu, kalau kita langsung terjun misalnya entrepreneur dengan bisnis yang kita buat sendiri boleh?” Salah satu mahasiswa mengemukakan pendapatnya. “Bagus juga kok. Kalian bisa langsung belajar untuk bisa mengembangkannya dari trial and error.” “Ada disini yang sudah buat bab 1? Atau setidaknya judul?” Semua diam tidak ada yang mengulurkan tangan, beberapa detik kemudian Noah menjulurkan telunjuknya ke atas membuatku menarik garis senyum. Ternyata selama ini dia bergadang memang benar-benar membuat bahan skripsi. Oke, satu poin plus dariku. “Sudah ada judulnya? Tolong bacakan.” “Sudah. Pengaruh Perkembangan Teknologi Dalam Bisnis Food and Beverage.” Suara riuh suilan kagum dari beberapa mahasiswa terdengar setelah Noah membacakan judul skripsinya dengan lantang. “Dia mah udah punya perusahaannya, Bu. Masalah juga banyak di klub dia. Gampang banget tuh tinggal buat judul langsung jadi.” Ucap salah satu mahasiswa yang terdengar nyinyir tertawa meledek dan membuatku cukup kesal. Aku paham sekali perusahaan apa yang dimaksud anak itu karena aku pernah ke sana. “Nama kamu siapa?” “Thomas, Bu.” “Yang saya nilai bukan soal perusahaan orang tua kalian melainkan cara pikir kalian dalam menganalisa masalah sebuah perusahaan kemudian metode apa yang kalian lakukan sebagai jalan keluarnya. Perusahaan apapun buat saya tidak masalah. Mengerti?” “Iyah, Bu.” “Kalau ada pertanyaan kalian boleh tanyakan dari sekarang karena sesi pertemuan kita hari ini singkat saja dan kita akan lebih banyak tanya jawab serta diskusi.” Beberapa mahasiswa yang sudah mempunyai bahan mulai bertanya satu per satu membuatku cukup senang dengan antusiasme mereka, hanya Thomas yang terlihat bersiap-siap kemudian berdiri. “Kalau tidak ada yang ditanyakan boleh keluar, Bu?” “Yah silahkan. Minggu depan pertemuan kita diadakan sesuai perjanjian, saya akan memasukkan nomor kontak kalian dalam satu grup untuk update janji temu di ruangan saya nanti. Jadi minggu depan Bab 1 seharusnya sudah rampung.” “Kalau gitu saya keluar, Bu.” Ujar Thomas kemudian meninggalkan ruang kelas seperti tidak berniat menyelesaikan kuliah saja dari kampus ini. Aku hanya bisa mendengus melihat kelakuan Thomas. Setiap tahun ada saja anak seperti Thomas yang selalu meremehkan tugas akhir ini. Padahal tujuan dari skripsi ini adalah pelatihan mereka sebelum terjun ke dunia bisnis yang sesungguhnya. Dan biasanya mereka mengalami kegagalan saat uji tes lima bulan kemudian lalu akhirnya menyalahkanku dengan memanggilku dosen killer. Padahal yang tidak melakukan tanggung jawab itu mereka namun mengalihkan kesalahan mereka padaku. Lucu tapi kenyataan orang-orang begini hampir setiap tahun ada dan selalu jadi bahan pembicaraan para dosen pembimbing sepertiku. Selama 90 menit kelas hari ini begitu menyenangkan membimbing para mahasiswa apalagi ketika mereka sudah mendapatkan ide dan membuat judul skripsi mereka. Berbeda dengan Noah, yang dia sodorkan ke aku adalah bab satu dari skripsinya dan membuatku cukup terkesima. “Waktu saya tidak cukup untuk bahas bab ini sekarang. Ini saya baca singkat sekilas saja dan menurut saya sudah cukup bagus tinggal perbaiki font dan typo nya saja.” “Kalau begitu saya bisa lanjut ke bab dua, Bu?” Tanyanya antusias menatapku bahkan aku bisa menangkap senyuman usilnya dan sialnya berhasil membuat wajahku memanas padahal pendingin di kelas ini sudah cukup besar. “Boleh. Yang penting masih sesuai dengan konsep yang sudah saya buat di papan tulis.” “Oke thanks, Madam.” Ucapnya mengedipkan sebelah mata tersenyum. Hais, betulkan dia sengaja membuatku semakin malu dan salah tingkah. “Panggilan kamu yang sopan.” Ucapku sedikit tinggi menutupi rasa gugupku. “Maaf, Bu. Baik saya ubah.” Jawabnya sambal terkekeh menyebalkan sekali anak ini. Bukan malu salah tingkah dalam artian buruk namun sejujurnya aku gelisah takut Noah akan memanfaatkan keadaanku sebagai ancamannya untuk meluluskan skripsinya kelak. Apalagi aku sendiri sudah melihat semafia apa Noah waktu di klub kemarin malam. Hais, ada-ada saja sandiwara hidupku. Bisa-bisanya cowok yang menolongku adalah mahasiswaku sendiri. Harusnya aku sadar waktu Joan bilang mereka semua kuliah di kampus ini dan Noah sedang bersiap untuk skripsinya. Kenapa juga tidak terpikir sampai sana. Bel di ruangan menggema tanda waktu sesi kuliah selesai. Semua mahasiswa meninggalkan ruangan satu per satu hanya tersisa Noah. Dia berdiri setelah memasukkan laptop ke dalam tas ranselnya. “Pulang sama Jane lagi jangan ngeluyur. Aku mesti ke kantor baru pulang sore. Di apartemen bahan makanan habis, beli saja di supermarket sama Jane.” Ucapnya sengaja berdiri di depan mejaku menutupi pandangan kaca pintu ruangan. “Pakai ini buat bayar. Pin nya sudah aku rubah seperti pin pintu apartemen.” Mengeluarkan sebuah kartu hitam dan ia letakkan di atas mejaku. “Ngak perlu. Saya bisa bayar sendiri, anggap saja biaya sewa untuk menumpang tinggal di sana.” “Pantang buat aku memakai uang perempuan. Pakai ini, saya pastikan Joan untuk melapor kalau kamu nakal. Paham.” Tanpa menunggu jawabanku, Noah berbalik dan meninggalkan ruanganku. Menyebalkan sekali bukan pria itu hingga aku hanya bisa mendengus pasrah. Aku pun masuk ke dalam ruanganku bersebelahan dengan beberapa ruangan dosen lainnya. “Halo, El. Nambah cantik aja nih yang baru masuk. Liburan Panjang pasti jalan-jalan ke luar negri kan. Mana oleh-olehnya buat gua.” Ucap Marini teman sesama dosen yang membuatku mendesah lagi enggan menanggapi omongannya yang selalu saja membuatku terlihat buruk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD