Bab 5. Mimpi Buruk

1327 Words
“Hei, El. El! Bangun, El!” “Mami!!” “Hei.. hei.. Shhh, udah. Cuma mimpi buruk sudah ngakpapa.” Ucapku memeluk El yang masih terengah bakan tanganku merasakan basah dari keringat di sekujur pelipis dan keningnya. Mimpi apa yang membuatnya seperti ini. Semakin membuatku penasaran apa sebenarnya yang terjadi dengan El. Hidup seperti apa yang sudah dijalaninya sampai-sampai tidur saja terganggu. “Shh.. Sudah ngakpapa. Ada aku disini.” El mengeratkan lingkaran tangannya di pinggangku, tangisnya masih terdengar lirih sesegukkan. Setelah tangisnya tak lagi terisak, perlahan melepaskan pelukanku di bahunya untuk mengambil segelas air putih. “Minum dulu, kamu pasti haus.” Eloise menegak habis air putih yang kuberikan barusan membuatku tanpa sadar menggeleng kepala menebak mimpi buruk apa yang hadir dalam bunga tidurnya barusan. “Sudah lebih tenang?” “Hem. Maaf ganggu tidur kamu.” “Ngak, kebetulan belum tidur.” “Hah!” El Nampak terkejut mendengar aku belum tidur seolah aku hanya mengatakan itu untuk membuatnya nyaman. Dia bahkan mengambil ponsel di meja sebelah ranjang untuk mencari tahu. “Jam segini kenapa belum tidur?” “Ada yang harus aku kerjakan dan baru bisa mikir tenang semalam ini.” “Kamu masih kuliah atau baru lulus sekolah?” Pertanyaan Eloise barusan langsung membuatku tertawa geli. “Lagi muji apa nyindir?” “Ck, serius ngak tahu makanya nanya.” “Sebentar lagi mau lulus. Kamu sendiri sudah semester berapa?” Gantian sekarang El tertawa mendengar pertanyaanku dan aku jadi bisa mengerti rasanya jadi dia waktu aku tertawakan. Sial… Bisa-bisanya langsung dibalas. “Terima kasih kalau masih disangka anak kuliah.” Jawab El membuatku terkejut. “Loh memangnya sudah lulus?” Bukannya apa, wajah El masih terlihat seperti anak kuliahan yang sepataran denganku meskipun terlihat lebih dewasa. Wajar dong kalau aku pikir usia kami tidak beda jauh palingan lebih tua dua atau tiga tahun dariku. Eloise mengangguk. “Sudah cukup lama. Sekarang aku mengajar.” “Oh, jadi kamu guru.” “Iyah.” Senyumku mengembang, kenapa rasanya senang membayangkan El sedang mengajar anak-anak kecil. “Mau cerita tadi mimpi buruk apa? Tadi aku dengar kamu sebut-sebut mami. Apa kamu kangen sama mami kamu?” Melihat Eloise menunduk menyembunyikan wajah sendunya akupun menghela panjang nafasku. “Tidak apa kalau belum mau cerita. Yah sudah aku balik ke kamar dulu, sudah ngantuk. Kamu ngakpapa kan aku tinggal.” “Iyah. Makasih. Sekali lagi maaf ganggu kamu.” Tidak lagi menyahuti ucapannya aku pun berlalu pergi keluar dan masuk ke dalam kamarku. Tidur nyenyakku terganggu lagi, kali ini bukan karena mimpi buruk El tapi karena harum aroma masakan sedang berkelana di depan hidungku. Membuka mata dan memastikan memang tidak salah penciumanku, aroma margarin. Sudah bisa aku tebak pasti Eloise sedang di dapur memasak sesuatu. Turun dari kasur dan keluar kamar seperti kebiasaanku setiap hari, aku melangkah menuju dapur dan melihat El sedang membuat sesuatu tanpa menyadari aku baru saja melewatinya untuk mengambil botol plastik air mineral dari kulkas. Setelah menutup pintu kulkas aku malah dikejutkan dengan pekikan suara Eloise. “Kamu kayak makhluk jadi-jadian sih main nongol aja.” “Kamunya yang ngak nyadar!” Jawabku dengan entengnya menegak minuman sampai habis. Awalnya aku tidak menyadari ada yang aneh dengan El sampai aku membuang botol plastik sampah di box yang aku biasa aku gunakan untuk mengumpulkan limbah plastik di sini barulah senyumku mengembang tipis. Sengaja mendekatkan tubuh atasku yang tidak mengenakan apapun di samping Eloise. “Masak apa? Wangi banget.” “Ish, jangan dekat-dekat kamu bau baru bangun tidur.” Ucapnya menggeser posisi berdiri menghindariku namun bola matanya mencuri lirik melihat tubuh polosku. Menggemaskan bukan? “Siapa bilang aku bau? Sebelum tidur aku selalu mandi dulu. Ngaco saja.” Lalu sengaja mengambil garpu dan mengambil telur omlet di piring El dan mencicipnya. “Itu makan dari piring kamu saja. Sengaja banget sih nempel-nempel gitu.” Ketusnya sambal cemberut tapi pipinya merona. “Sengaja.” Membuat El melotot kesal menghadapi tingkah konyolku dan akhirnya menusuk sosis goreng dari piringnya lalu memakannya segali gigitan menahan diri untuk tidak mengumpatiku mungkin. Aku pun mengambil sebuah apel dari kulkas mencuci bersih kemudian memotongnya jadi 8 potongan kemudian meletakkannya di tengah meja diantara kami dan duduk berhadapan dengan El. “Jangan lupa makan buah. An apple a day keeps you away from the doctor.” Lagi-lagi hanya delikan kesal dari responnya. “Kenapa aku ngak dibangunin?” “Memangnya kamu minta?” Betul juga ucapannya, memang aku yang salah bergadang tidur jam dua pagi. Oke, aku kalah atau mungkin salah nanya. “Kamu masak, artinya sudah bongkar-bongkar isi dapur. Setahuku ini apartemenku bukan? Bukankah harusnya tamu minta ijin dulu sebelum melakukan sesuatu di tempatnya menginap yah.” Kemudian suara dentingan keras garpu yang jatuh ke piring mengagetkanku. Rupanya mulutku benar-benar tidak lihat tempat. Sudah tahu serigala lagi ngambekan malah aku pancing. “Maaf sudah lancang. Setelah ini saya pamit jadi tidak merepotkan kamu lagi. Ijin bawa makanan ini nanti, sayang kalau harus dibuang. Boleh tahu kamu punya kotak bekal? Oh ngak perlu, bisa pakai tisu atau kertas bekas ngak masalah.” Oke, aku benar-benar keterlaluan kali ini. Saat Eloise sudah melangkah hendak meninggalkan area dapur aku menghadangnya dengan merentangkan kedua tanganku. “Maaf, aku ngak bermaksud nyinggung perasaan kamu. Tadi maksudnya mau bercanda biar kamu ngak seriusan terus. Maaf yah.” Air mata Eloise benar-benar mengalir, matilah aku. Kenapa juga mulut ini mesti lemes ngak mikir situasi. “Iyah, iyah. Aku benar-benar minta maaf. Jangan nangis dong. El…” Tangis El semakin menjadi, membuatku tambah panik. Kalau hal ini terjadi sama Laurent adikku, bisa-bisa habis aku dihukum sama Papa dan Mama. Tapi aku merasa puas melihat muka kesal Lau ataupun Ben bahkan aku semakin tertawa kalau berhasil melihat Lau menangis karena kesal. Tapi kenapa melihat El menangis justru hatiku yang merasa dicubit. Perasaan khawatir, merasa bersalah, ingin membalik waktu semuanya campur jadi satu. Mungkin karena El orang asing, yah anggap saja aku merasa bersalah karena sudah bersikap semena-mena dengan orang yang lemah. Memberanikan diri akhirnya aku memeluk Eloise seraya mengusap rambut dan punggungnya. “Maaf, jangan marah yah. Baru kali ini aku tinggal bareng dalam satu apartemen sama perempuan, maksudnya mau bercanda biar kamu happy tau-taunya malah bikin kamu tersinggung.” Eloise mendorong ku menjauh kemudian mengambil tisu dan menyeka mata dan hidungnya lalu duduk sarapan kembali. Aku pun ikut duduk masih terus memperhatikan wajahnya dengan rasa cemas. “Aku juga salah, harusnya ijin dulu sudah benar kok kamu. Tapi tadi aku kebangun karena lapar dan waktu ketuk pintu kamar kamu ngak buka jadi aku putusin buat sesuatu yang ada di sini saja.” “Ngakpapa, malah senang bangun tidur ada yang buatin sarapan.” Suasana pun hening hanya dentingan suara garpu dan piring yang terdengar. Aku juga bingung mau bicara apa takut membuatnya tersinggung lagi. Baru kali ini egoku dikalahkan oleh seorang wanita selain Mama. “Mimpi itu sering datang.” Tutur El sambal menunduk, wajahnya masih menyendu. “Buruk banget memangnya?” Eloise mengangguk. “Sepertinya aku dibawa lari dari mami kandungku perempuan yang ada di mimpi, aku nangis manggil mami supaya membawaku lepas dari gendongan papa. Tapi mami seperti ngak peduli dan sengaja membiarkan aku dibawa pergi papa.” “Jadi papa sama mami kamu sudah cerai?” Gelengan kepala El membuatku mengernyit. “Orang yang ku panggil mami itu bukan istri papa ku beda sama mama yang jadi istri papa ku.” “Tunggu. Orang di mimpi yang ninggalin kamu itu bukan orang tua kamu? Tapi kamu panggil dia mami?” “Iyah. Rasanya sedih banget, sesak setiap kali bermimpi melihat mami itu memalingkan wajahnya tidak mau melihatku. Aku juga bingung dia siapa sebenarnya. Kalaupun hanya mimpi buruk kenapa juga aku selalu mimpi hal yang sama sejak berusia delapan tahun.” Benar sekali, aku saja sampai bingung coba menafsirkan mimpi Eloise. Dalam benakku ada satu pikiran yang terlintas mencoba menebak, tapi apa mungkin sedangkan barusan Eloise mengatakan istri papanya berbeda dari mami di mimpinya itu. Istri papanya kan berarti mama Eloise. Atau jangan-jangan…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD