Bab 18. Yang Keras Kepala Siapa?

1442 Words
Kelakuan Noah benar-benar membuat Eloise kelimpungan sampai jantungnya kocar-kacir tidak karuan dibuat oleh mahasiswa didikannya ini. Dipeluk laki-laki sudah bukan hal baru bagi El, waktu bersama Reza mantan pacarnya itu kerap merangkul bahunya atau memeluknya dari belakang seperti ini bersikap manja. Hanya saja yang dilakukan Reza seringkali membuat El tidak nyaman karena setelahnya Reza sengaja memanfaatkan momen romantis mereka dengan hal-hal yang membuat Eloise risih, seperti mengecup lehernya. Bukannya senang diperlakukan begitu, justru El malah menjauhi Reza jika pria itu sudah mulai terlalu berani. Namun berbeda dengan Noah. Harusnya El marah apalagi yang memeluknya sekarang adalah pria yang lebih pantas menjadi adik atau mungkin juga keponakannya. Tapi justru perlakuan Noah sekarang malah membuat darahnya mendesir merasakan kehangatan dalam hatinya. Rasanya berbeda padahal bibir Noah saat bicara sekarang dekat sekali dengan pipinya. Sedikit saja bergerak maka bibir Noah akan menyentuh kulitnya. Pengakuan Noah yang memintanya untuk tidak meneruskan marahnya terasa menyebalkan dalam benak Eloise yang malah terbawa emosi rasa haru seolah perkataan Noah barusan terasa manis dan menggelitik hatinya memerintahkan untuk menuruti perkataan pria itu. Noah sendiri tidak mengerti dengan perasaannya terhadap Eloise. Kalau yang sedang ngambek adiknya, dengan mudah ia mengacuhkan Laurent ataupun Benedict menunggu sampai emosi mereka mereda. Namun berbeda ketika menghadapi sang dosen, rasanya gelisah kesal sendiri kalau belum mendengar suara El berbaikan dengannya lagi. “Jangan marah lagi.” Ucap Noah melembut membuat bulu kuduk El meremang. “Hem.” “Tuh kan tapi jawabnya masih kayak gitu.” “Kamu sadar ngak meluk aku kayak gini ngak sopan banget, Noh.” Suara kekehan Noah terdengar menggelitik telinga El. “Habisnya kamu serem kalau ngambekan. Janji dulu jangan marah.” “Ck, iyah. Lepasin, Noah..” Terpaksa Noah melepaskan rengkuhan dua tangannya kemudian menarik tangan El menuju sofa ruang tamu. “Ayo, kita ngobrol baik-baik.” Meskipun menurut namun El masih terlihat masam di wajah cantiknya. Benar-benar tidak terlihat wanita berusia tiga puluh tahunan. Cantik? Yah, Noah memang mengakui dalam hatinya wajah Eloise memang cantik. Meskipun matanya bulat dengan lipatan namun lekukan wajahnya memperlihatkan ciri khas keturunan oriental. Berbeda dengan Noah yang mendapatkan wajah setengah bule dari pihak kakeknya. “Sekarang cerita jujur sama aku, kejadiannya bagaimana sampai Jane kecolongan terlambat lindungi kamu di kampus. Aku janji ngak akan nyalahin kamu karena Jane juga kelihatan sedih banget merasa lalai menjalankan perintah aku. Dan kalau kamu mau tahu, aku tidak marahin Jane karena dia bukan Tuhan yang bisa memprediksi semuanya kan.” Helaan nafas panjang Eloise mempelihatkan rasa lega. Dia juga merasa bersalah waktu melihat raut kekhawatiran Jane mengantarnya ke rumah sakit. “Aku yang salah, bukan Jane. Tadinya aku pikir tidak perlu merepotkan Jane harus menghampiri ke ruanganku segala hanya untuk ke parkiran saja. Mana aku tahu kalau mama, Reza dan Kak Tris datang bersamaan ke kampus. Aku juga kaget dan takut banget waktu mama narik tangan aku di depan banyak orang.” Noah mendengus meskipun sudah diberitahu Jane, tapi melihat raut wajah Eloise sekarang membuatnya geram. “Aku ngak habis pikir sama mereka bertiga. Padahal sengaja aku menghilang dari mereka, kata mama selama ini aku hanya kuman yang bisanya cuma nyusahin keluarga tapi kenapa juga dia masih saja maksain aku buat nikah sama Pak Pramudi yang jelas-jelas lebih tua dari papa aku sendiri. Kok tega sih mama ke aku sampai-sampai nekat datang ke kampus trus bikin onar. Belum lagi Reza, berani banget dia bilang kalau selama ini sudah dijebak Fani. Mana ada cowok dijebak tapi sadar banget pas begituan. Jijik aku lihat mukanya tadi sok memelas merasa tidak salah. Belum lagi Kak Tristan, walaupun dia yang membelaku dari mama dan Reza tetap saja aku was-was kalau sampai dia bawa aku entah kemana. Untung saja Jane datang tepat waktu pura-pura jadi mahasiswa dan menarik paksa tanganku menjauhi mereka.” “Memangnya kenapa kamu juga takut sama Kak Tristan? Bukankah wajar seorang kakak menyayangi adiknya? Aku juga punya adik perempuan dan aku akan selalu jadi tamengnya terdepan setelah papa untuk menjaga kehormatan serta melindunginya.” “Tapi dia bukan kamu. Dia hanya memakai statusnya itu di depan mama dan papa, tapi dibelakang mereka aku takut sekali. Kamu ngak tahu bagaimana rasanya tinggal seatap dengan abang gila. Sebelum masuk ke kamar aku selalu melihat ke belakang memastikan tidak ada Tristan lalu masuk dan mengunci pintu rapat. Saking takutnya pintu kamar sampai aku pasang beberapa kunci slot.” Noah tampak bingung mendengar penuturan Eloise. Pikirannya mulai menuju pada hal buruk namun berusaha ia tepis bersabar mendengar kelanjutan penuturan El. “Cerita sama aku, El. Tristan itu, apa yang sudah dia lakukan ke kamu sampai kamu takut?” Deru nafas kencang seperti orang sesak semakin kentara terlihat oleh Noah. Bahkan tangan Eloise saling meremas erat. Noah sendiri terkejut ketika meletakkan tangannya diatas tangan dingin El mencoba untuk menenangkannya. “Anggap aku teman baikmu. Kamu percaya kan sama aku?” Ujar Noah perlahan dan lembut menghangat di hati perempuan itu. “Dia pernah bilang kalau kami tidak memiliki hubungan darah dan Tristan pernah mengatakan cinta sama aku. Tapi langsung ku tolak karena aku tetap menganggapnya sebagai kakak meskipun hanya Tristan yang selalu membelaku di rumah. Makanya aku setuju waktu diajak pacaran sama Reza, pikirku supaya Tristan menyerah dan tidak lagi mengajakku pacaran. Tapi ternyata dia malah semakin marah waktu Reza datang ke rumah dan mengatakan ke papa ingin mengajakku bertunangan. Mama menentang waktu itu dan Tristan marah besar sama aku.” “Jadi kamu memang berpikiran serius sama Reza?” Gelengan Eloise membuat Noah mengernyit tidak mengerti. “Reza yang maksa datang dan melamarku bahkan aku sama sekali ngak tahu sama rencana dia. Besoknya kami bertengkar dan bilang ke Reza kalau perbuatannya itu secara tidak langsung tidak menghormati keputusanku. Sebenarnya aku sempat minta putus menggunakan kesalahannya dia tapi Reza malah minta maaf dan berkeras tidak mau putus. Aku hanya dia tidak menanggapi dan mulai menjauh, berusaha tidak memberikan harapan lebih dari hubungan kami. Malam harinya kebetulan semua orang sedang pergi, mbak rumah sepertinya sedang pergi dan aku tidak tahu kalau ada Tristan di rumah karena biasanya dia mulai jarang pulang. Dia menyeret aku masuk ke dalam kamarnya hari itu, mengunci pintu dan dia… dia…” Rasanya masih sakit juga takut memikirkan kejadian malam itu yang membuatnya semakin menjauh dari Tristan. Berusaha tegar sambal menyeka air matanya, Eloise menghela panjang nafasnya. Sedangkan Noah sepertinya bisa menebak apa yang sudah dilakukan kakak durjana itu pada El. “Dia hampir saja merengut kesucian aku dikamarnya malam itu. Aku takut banget sampai berteriak memohon supaya Tristan ngak melakukannya tapi dia malah semakin memojokkan aku sampai tangan aku memegang benda keras, tanpa pikir panjang aku memukul kepala Tristan lalu kabur dari sana. Dua hari aku tidak pulang menginap di rumah Fina.” “Jadi Fina teman kamu yang tidur sama Reza tahu?” Eloise mengangguk. “Benar-benar biadabb! Kakak macam apa dia!” Seru Noah terpancing emosi. “Maafin aku sudah mengorek luka kamu, El. Sekarang ada aku dan Jane yang bisa kamu andalkan. Kamu ngak sendirian lagi, aku janji akan melindungi kamu kalau perlu membalas kelakuan kurang ajar Tristan dan Reza juga si Fina itu.” El buru-buru menggeleng. “Ngak, Noh. Aku ngak suka keributan. Setidaknya seperti sekarang saja aku sudah cukup senang.” “Tapi mereka pasti bakalan ganggu kamu terus kalau tidak dibuat jera, El. Percaya sama aku.” Eloise mendelik kesal pada Noah sambal mengeringkan basah diwajahnya dengan tisu. Baiknya memang diacungi jempol tapi keras kepalanya Noah tidak kalah besar dengan kebaikannya. “Tuh kan, susah ngomong sama kamu. Keras kepala! Aku bilang ngak mau perpanjang masalah, yang penting aku nurut sama Jane. Pokoknya aku ngak akan jauh dari Jane kalau lagi di luar biar mereka ngak bisa mendekat.” “Tapi..” Argumen Noah terpaksa berhenti mendengar bunyi dering suara ponselnya. Dari Juan, kalau sampai dia menghubungi Noah artinya ada yang penting dan Noah terpaksa mengurungkan perdebatannya dengan El dulu. “Kenapa Bang?” “Oke, gua kesana sebentar lagi. Kali ini kasih pelajaran berat.” Paham apa yang dibahas Noah, Eloise langsung terpikir dengan Klub Melati. Waktu datang kemarin dia tidak sempat menikmati musik disana. “Aku mau ke sana.” Seru Eloise memaksa tersenyum dan membuat Noah mendecak tidak suka. “Ngapain sih, aku ada urusan penting disana.” “Yah kamu urus saja urusan kamu, aku juga berhak kok datang kesana sebagai tamu. Lupa apa aku ini dosen kamu dan usiaku jauh lebih tua dari kamu, Noah. Lagian cuma mau nikmatin musik aja kok. Kalau kamu takut aku kenapa-napa kasih tahu Jane saja buat nemanin, selesaikan masalahnya.” Lihat saja wanita ini, baru saja terbebas dari ketakutannya di kampus siang tadi. Sekarang keras kepalanya kambuh lagi. Benar-benar merepotkan dalam hati Noah tapi entah kenapa sulit sekali bersikap keras dengan Eloise.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD