Bab17. Keras Kepala

1319 Words
Memiliki keluarga bobrok bukanlah impian setiap orang, terlebih lagi bagi seorang anak. Tidak pernah meminta untuk dilahirkan kalau pada akhirnya hanya untuk disakiti. Kalau boleh Eloise melakukan protesnya pada sang pencipta mungkin akan ia lakukan. Diperlakukan buruk dalam lingkaran terdalamnya sendiri sudah, disusul dengan kelakuan menjijikkan mantan dan sahabatnya sendiri juga sudah. Eloise pun sudah mengikhlaskannya seiring berjalannya waktu. Namun dikala El hendak melanjutkan hidupnya dengan menghilangkan keberadaan masa lalunya, justru mereka semua yang belum mau melepaskannya dan masih berusaha untuk mendorongnya dalam lubang penderitaan baru. Selama dua hari ini, Noah tidak pulang ke apartemen seperti ucapannya. Tadinya Noah berencana untuk menuruti keinginan sang nenek untuk menginap sehari lagi di rumah, namun otaknya terus memikirkan dosen cantik yang sekarang tinggal bersamanya sampai-sampai ia jadi bawel meminta laporan Jane tiap beberapa jam. Dilatih untuk mengikuti instingnya sejak kecil Noah terpaksa mengecewakan Karina juga Ciara, mamanya. Kebersamaan dengan keluarganya ini tidak akan pernah luntur hanya karena jarangnya dia pulang ke rumah ini. Toh pikir Noah mama dan neneknya masih sering datang ke kantor Damian. Dengan alasan harus membereskan masalah di klub jadi harus pulang lebih malam dari biasanya. Dua wanita spesial di hati Noah itu pun mempercayai alasannya meskipun wajah mereka terlihat masam ketika Noah pamit ke kampus pagi tadi. Untung saja kakek dan papa nya tidak di rumah setidaknya Noah bisa berkelit tanpa mendapatkan tatapan curiga dua pria tangguh dalam keluarganya itu. "Kak, Eloise aman kan di kampus?" Tanya Noah ketika baru tiba di kantornya entah sudah keberapa kalinya. Kekehan suara Jane terdengar di telinga Noah, pria itu mengerti maksud tawa meledek adik Juan itu. Jane saja memanggil El dengan sebutan kakak, Noah juga memanggil Jane sesekali dengan sebutan kakak jika ada maunya tapi bocah tampan itu malah menyebut nama El ketika membahas sang dosen tanpa embel-embel ibu atau kakak. Lagipula tadi dia juga sudah bertemu langsung di kelas dan sekarang malah menanyakan kabar Eloise lagi. Bagaimana Jane tidak curiga dengan sikap teman abangnya itu. "Aman, Noh. Gua barusan nganter sampai depan ruangan dia. Lagi makan dulu trus nunggu aba-aba bu dosen selesai. Apa perlu gua pasangin pelacak sekalian biar loe tenang." Decakan bibir Noah di telinga Jane membuatnya semakin tertawa geli namun Noah berusaha mengacuhkan keusilan Jane. "Kalau sampai jam empat belum dikabarin, loe langsung samperin ruangannya aja." "Ck, tahu Pak Noah. Paham banget prosedurnya kok." Sahut Jane terdengar kesal karena Noah seperti pak tua yang sedang mengulang perintah kepadanya seperti kaset rusak. Namun selang beberapa menit kemudian senyum Jane hilang setelah sadar kecolongan, dia jadi ketar-ketir memberi kabar Noah. Waktu Eloise sedang ditangani di IGD, Jane menghubungi Noah dan memberitahukan kejadian beberapa jam lalu pada pria itu sambil terus mengucapkan permohonan maaf. Meskipun Noah tidak memarahinya di telepon tadi namun Jane tetap merasa bersalah lalai memantau keadaan El. Beberapa kali ia mengusap matanya yang selalu dipenuhi genangan terbawa perasaan bersalahnya sendiri. Eloise yang baru saja keluar dari kamarnya terperanjat ketika melihat Noah berada di dapur sedang memindahkan masakan yang ia beli sebelum pulang. "Loh katanya kamu nambah menginap, kok sudah pulang?" Bukannya memberi jawaban, pemuda itu malah menyipitkan tatapannya membuat El merengut berusaha menyembunyikan kejadian sore tadi. Bodohnya dia melupakan kesetiaan Jane pada Noah. "Kenapa? Muka kamu kayak mau makan orang aja!" "Iyah, mau makan kamu!" Sahut Noah yang terasa ambigu maksud ucapannya itu. "Ish.." "Jadi kalau aku tidak pulang kemari kamu makan mie instan, gitu.." Sambil mengendikkan dagunya ke arah mie instan yang tergeletak di atas meja dekat kompor. "Bukan karena aku numpang tinggal trus kamu sampai berhak ngatur apa yang harus aku makan, Tuan Noah.." "Ck.. Sini kamu, ayo makan mumpung sayurnya masih panas. Untung aku beli nasi putih." Ajak Noah enggan berdebat lebih panjang daripada si dosen cantiknya ngambek. Eloise yang mulai hafal sifat dingin Noah bergabung duduk berhadapan. Dibalik judes mahasiswanya ini, Noah memperlihatkan perhatiannya pada El seperti sekarang dan wanita yang haus perhatian itu menjadi lunak dengan hati berbunga-bunga dibalik wajah merengutnya. Eloise sesekali mencuri tatap memperhatikan wajah Noah, jantungnya berdebar-debar memikirkan apakah Jane meluluskan permohonannya. Wajah datar dan dingin Noah membuatnya sulit menebak apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Seperti sekarang saja, Eloise mengunyah makan malamnya dalam mode gelisah. Noah berucap ketus dia kesal merasa harga dirinya direndahkan, duduknya jadi tidak tenang memperlihatkan mode salah tingkah karena sikap diamnya Noah. "Kenapa kemari? Katanya nambah sehari lagi." Mencoba memulai percakapan ditengah kesunyian makan malam yang hanya terdengar dentingan suara alat makan. Lagipula makanan di piring mereka sudah mau habis. Hanya dengan merubah tatapannya ke atas saja, jantung El sudah ketar-ketir lagi paham sudah lancang dengan pertanyaannya barusan. "Maaf, aku ngak bermaksud lanca..." "Kenapa ngak mau nurut sih, kamu memang dosenku di kampus. Tapi di luar kamu hanya seorang perempuan yang sedang menghadapi situasi bahaya. Kalau tadi Jane ngak ngikuti instingnya, kamu bakalan balik lagi ke rumah neraka itu dan nikah sama pria tua bangka pilihan mama kamu. Atau memang maunya kamu begitu!" Ketus Noah panjang lebar memperlihatkan kekhawatirannya, sayangnya dengan khas bicaranya itu membuatnya terlihat menyebalkan bagi El namun ia berusaha bersikap acuh tidak menanggapi. Dentingan kencang sendok ke piring menjengkitkan bahu El dan menatap sengit Noah yang juga memberikan tatapan yang sama. Seperti lupa bagaimana sifat El kalau ngambekan, tersulut emosi karena dosennya itu bukannya menunjukkan sikap bersalah karena sudah lalai menuruti perintah malah pura-pura seperti tidak terjadi apapun. Bukan Jane yang melaporkan Eloise yang memintanya untuk mengajarkan anak buah Noah itu berbohong, tapi Noah sendiri yang menebaknya langsung hingga Jane terpaksa jujur meskipun hanya via telepon. Jangan lupakan bagaimana Noah bisa jadi pemimpin di klub, bukan semata hanya mewarisi dari kakeknya. Tapi kecerdikan Noah yang pintar memanipulasi mental orang lain hanya dengan sikap dingin dan tegasnya kepada Juan, Jane dan yang lainnya. "Mau kemana kamu. Lagi bahas soal kamu kenapa juga kabur." Seru Noah menyusuli Eloise yang hendak menuju kamarnya namun lengannya ditarik Noah. "Lepasin!" "Ngak. Sampai kamu jujur sama aku!" Oke, selesai sudah kesabaran El sampai sini. Mahasiswanya ini harus paham tidak semuanya harus ia laporkan hanya karena Noah sudah berjasa menolongnya. "Kamu bukan siapa-siapa aku. Hanya karena aku menumpang disini bukan berarti boleh bersikap seenaknya." "Aku akan tetap seperti ini selama kamu masih dalam pengawasanku!" "Oke, aku pergi dari sini. Biar kamu ngak perlu repot-repot jadi pengawas. Kalau kamu belum pikun, aku jauh lebih tua dari kamu jadi sopan sedikit! Dasar anak kecil!" Kalau El pikir Noah akan terpengaruh dengan ucapan pedasnya barusan maka wanita itu salah besar. "Dan aku akan menghormati jika kamu paham aturan. Jangan lupa kalau kamu seorang dosen yang lebih paham soal ini. Gimana mau dihormati kalau kamu sendiri bersikap kayak mahasiswa piyik! Yang merasa dewasa itu harusnya bisa diajak bicara baik-baik bukan memanfaatkan umur untuk membuat yang lebih muda merasa sungkan." Betul kan, balasan Noah tidak kalah pedasnya. "Kalau bisa jujur kenapa juga harus pura-pura, hal yang bisa dibicarakan baik-baik malah kamu perbesar. Siapa yang anak kecil sekarang!" Kali ini El tidak lagi membalas argument Noah. Apa yang diucapkan pemuda itu masuk di akal dan dia sendiri tidak mengerti kenapa El selalu saja menentang Noah padahal semarah apapun Eloise pada mamanya dia tidak pernah berani membalas marah. Mungkin dengan Noah dia merasa didengar makanya El lebih berani mengungkapkan ledakan emosinya pada Noah. Di sisi lain, sebenarnya El masih merasa ketakutan setiap kali memikirkan keributan di kampus tadi. Sebenarnya Eloise akan berniat memberitahu Noah soal kejadian tadi tapi keburu Noah kesal duluan. Niatnya ingin mengadu pada Noah tapi keburu dimarahi. Bahkan dadanya berdenyut nyeri merasa sakit hati, bukannya menenangkan ketakutannya tapi Noah malah memarahinya. Yang tidak disadari wanita itu saat ini sikapnya sedang memperlihatkan sisi manja Eloise yang sedang membutuhkan perhatian Noah. Menepis kasar pegangan tangan Noah, Eloise melangkah cepat menuju kamarnya. Namun terhenti bahkan tubuhnya menegang merasakan tubuhnya dipeluk Noah dari belakang. Jantungnya yang memburu cepat karena emosi kini berganti dengan alasan lain. Hatinya merasakan kehangatan sekaligus desiran aneh yang membuat perutnya merasakan tekanan aneh di dalam sana bahkan dia sendiri tidak memahaminya. “Maaf, aku hanya khawatir sama kamu, El. Jangan marah..”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD