Kekacauan Di Kota Khansa

1360 Words
Pada masa akhir dinasty zhou, dan masa itu adalah masa kekacauan karna negara-negara kecil berperang dan banyak penguasa-penguasa di antara mereka mendirikan negara-negara kecil, dan saling serang dan banyak orang di tangkap dan dicurigai. Perguruan-perguruan silat bermunculan, sekte, aliran kepercayaan, dan banya penduduk tak nyaman dan mengungsi, dan jika mereka banyak teman, mereka memilih jalan mudah untuk menjadi kaya dengan cara menjadi rampok dan begal, dan mereka aman karna keadaan tidak menentu, membuat kerjaan juga malas untuk membrantas para rampok dan pengacau keamanan, karna mereka tak mempunyai banyak prajurit untuk menanggulangi, sehingga banyak yang dibiarkan oleh kerajaan tempat mereka melakukan aksi nya. Partai-partai besar, golongan merah maupun hitam saling berebut dukungan dan berupaya memperbesar partainya sendiri. Perguruan pedang perak yang di ketuai Tang San, adalah perguruan yang cukup besar, sedangkan adiknya Tang Sun, dan kedua anaknya Diao Chan dan Tang Chan, markas terbesar mereka ada di kota Khansa yang tak jauh dari tempat mereka di sergap oleh orang-orang berpakaian hitam di hutan itu. Xing Zaolin berjalan memasuki kota Khansa, Xing Zaolin sangat takjub dan matanya terus melihat ke arah rumah-rumah dan gedung, orang-orang yang hilir mudik berjalan, para pedagang yang menjajakan barang dagangan nya menambah suasana hangat kota Khansa. Xing Zaolin terus menatap ke arah keramaian yang belum pernah ia lihat dari kecil. Seorang pelayan rumah makan yang menjajakan masakan di rumah makan tempatnya bekerja ketika melihat Xing Zaolin berjalan di depannya, dan melihat pakaian nya yang hitam dan terbuat dari sutra lembut dan mahal. Pelayan itu langsung menarik-narik tangan Xing Zaolin. “Tuan sudah makan?” Pelayan itu bertanya. “Belum” Ujar Xing Zaolin menjawab pertanyaan pelayan itu. Mendengar perkataan Xing Zaolin, pelayan itu langsung menarik tangan Xing Zaolin, “Mari sini tuan!” Dirumah makan kami banyak makanan-makanan enak, tuan pasti tak akan menyesal, pelayan itu berkata sambil menarik Xing Zaolin masuk ke rumah makan milik nya. Karna tangan nya terus di tarik pelayan itu, Xing Zaolin akhirnya masuk dan tak lama kemudian, masakan-masakan yang masih mengepulkan asap dan wangi keluar, dan berada di meja tempat Xing Zaolin duduk, banyak tamu di rumah makan itu, dan sebagian melihat ke arah Xing Zaolin yang rambutnya acak-acakan, tapi memakai baju yang bagus dan mahal. Melihat makanan di meja berbau wangi dan perut nya yang sedang lapar, Xing Zaolin langsung menyantap makanan yang ada di meja di depan nya. Setelah semua makanan habis ia makan, Xing Zaolin lalu minun bir yang tersedia di meja, Xing Zaolin mengerutkan keningnya ketika merasakan bir yang baru ia minum, berasa pahit dan asam tapi semakin lama kepalanya mulai pusing dan wajah nya me merah. Xing Zaolin lalu berdiri dan hendak meninggalkan rumah makan itu. Pelayan yang menarik Xing Zaolin masuk ke rumah makan, melihat Xing Zaolin hendak meninggalkan rumah makan itu dengan langkah gontai, langsung berlari menghampiri. “Tuan, tuan tunggu dulu biaya makan dan bir semua nya dua tail perak,” Pelayan itu berkata. Xing Zaolin mengerutkan kening nya mendengar perkataan pelayan itu. “Dua tail perak apa?” Ujar Xing Zaolin, pelayan rumah makan itu terkejut dan mengerutkan kening nya. “Dua tail perak untuk makan dan minum yang sudah tuan habiskan tadi, tuan harus membayar nya,” Pelayan itu berkata. “Membayar...!!” Xing Zaolin memang masih tak mengerti, merasa bingung mendengar perkataan pelayan itu. “Bukan nya kamu yang tadi menarik dan mengajak aku makan, lalu bayar apa, dan apa itu perak?” Xing Zaolin berkata. Wajah pelayan itu berubah mendengar perkataan Xing Zaolin. “Jadi kau tidak mau bayar makanan dan minuman yang sudah kau habiskan?” Pelayan itu berkata. “Bayar, aku harus bayar pake apa?” Xing Zaolin berkata, sambil menatap heran ke arah pelayan itu. Perdebatan di antara kedua nya di depan rumah makan, mengundang banyak orang yang datang menghampiri dan melihat. Centeng rumah makan ikut keluar, melihat ada perdebatan mulut pelayan dan Xing Zaolin, lima orang pemuda membawa pedang di punggung nya juga ikut menghampiri mereka. Dua orang centeng rumah makan itu, mendengar cerita pelayan bahwa Xing Zaolin tidak mau membayar makanan yang sudah ia makan. Langsung meraih baju Xing Zaolin yang dadanya agak terbuka, dan ketika kelima orang pemuda yang membawa pedang di punggung nya melihat sekilas gambar naga merah di d**a Xing Zaolin langsung berbisik satu sama lainnya dan langsung pergi meninggalkan kerumunan. Xing Zaolin mengerutkan kening nya, ketika dua centeng rumah makan itu memegang pinggiran baju dadanya yang agak terbuka. Tangan Xing Zaolin langsung menampar kepala centeng itu. Plak,...kraak. Centeng yang terkena tamparan Xing Zaolin itu terlempar dan tidak bangkit lagi, karna kepala nya langsung pecah. Suasana di tempat itu langsung gempar, para penduduk yang melihat hal itu langsung mundur ketika sekali tampar centeng yang tubuh nya besar dan wajah nya beringas langsung tewas. Centeng yang tersisa, langsung mencabut golok, dan empat orang yang membawa pedang di punggung nya juga ikut mencabut pedang dan langsung mengurung Xing Zaolin. Xing Zaolin yang di kurung oleh lima orang, lalu tertawa. Ha ha ha. “Aku tidak tahu makan itu harus bayar,” Xing Zaolin berkata, dan jika kalian memaksa ku, jangan salahkan aku jika kalian akan ku bunuh semua. “Kau Pembunuh, tak usah banyak bicara,” Salah seorang dari empat pemuda itu berkata. Xing Zaolin mengerutkan kening nya, ketika mendengar perkataan pemuda di depan nya. “Baik, kau korban pertama,” Setelah berkata, Xing Zaolin langsung melesat ke arah pemuda yang tadi bicara. Whuut...taapp. Pemuda yang tadi berkata, wajahnya langsung pucat, ketika pemuda berbaju hitam dengan rambut acak-acakan di depan nya, tiba-tiba menghilang dan kini sudah berada di depan nya dan tangan kanan pemuda itu sudah memegang tenggorokan nya. Pemuda itu sudah pasrah, apalagi ketika merasakan tangan yang memegang tenggorokan nya mulai mengeras dan ia susah bernafas. Xing Zaolin yang sudah merasa kesal, ketika akan mematahkan leher nya pemuda yang menyebut nya pembunuh, terdengar suara keras. “Tahan tuan pendekar..!!” Terdengar suara nyaring, empat buah bayangan melesat dan berdiri tidak jauh dari Xing Zaolin. Xing Zaolin menoleh ke arah empat bayangan yang baru datang. Dan tiga di antara nya adalah orang yang bertemu dengan nya di hutan, dan seorang kakek berambut putih keperakan yang membawa sebuah pedang berwarna perak di punggung nya. Xing Zaolin lalu melepaskan leher pemuda itu, lalu menatap tajam ke arah, Tang San dan Tang Sun, kakak beradik pemimpin dari perguruan pedang perak. “Apa kalian juga ingin di bunuh?” Ujar Xing Zaolin Pemuda yang tadi tenggorokan nya di lepaskan oleh Xing Zaolin, melihat kedatangan ketua nya apalagi disitu juga ada Diao Chan gadis yang merupakan kembang di perguruan pedang perak, nyali pemuda itu bertambah besar, dan berkata. “Jaga mulutmu! Yang sopan bicara pada ketua,” pemuda itu berkata dengan suara kencang. Xing Zaolin langsung melesat ketika mendengar perkataan pemuda itu. Whuut, plaak, aarrgh. Sebuah tamparan keras, membuat beberapa gigi pemuda itu berhamburan keluar, dan pipi pemuda itu sembab dan berubah warna menjadi biru, dari mulut pemuda itu terdengar teriakan kencang dan darah berhamburan dari mulut nya. Tang San terkejut melihat kecepatan Xing Zaolin menampar murid nya, wajah nya mulai berubah kelam, tapi ketika tangan nya ketika di pegang sang adik, dan melihat adik nya menggelengkan kepala. Kemarahan Tang San mereda. “Tuan pendekar, maafkan kelancangan anak murid perguruan kami,” Tang Sun berkata selaku adik dari Tang San. “Jika kalian masih memaksa jangan salahkan, jika aku akan menghabisi kalian di sini,” Xing Zaolin berkata sambil menatap tajam ke arah Tang Sun dan ketua perguruan pedang perak Tang San. “Tuan pendekar, kami hanya ingin mengundangmu ke perguruan kami pedang perak, masalah di tempat ini biar kami bantu membereskan nya,” Tang Sun berkata. “Tang Chan, bereskan masalah di sini,” Tang Sun berkata kepada anak nya. “Baik ayah,” Ujar Tang Chan. “Mari tuan pendekar,” Tang Sun berkata sambil mempersilahkan Xing Zaolin berjalan bersama nya. Sementara itu di sebuah kedai arak, seorang berpakaian hitam dan bercaping menatap ke arah Xing Zaolin dan rombongan pedang perak. Pedang perak rupanya sudah tahu akan di serang, dan sekarang sedang mengumpulkan orang-orang berbahaya. Hmmm...!!! “Kau pikir siluman goa iblis akan gentar,” Kakek berwajah bengis itu berkata dalam hati, sambil melirik ke arah Xing Zaolin yang sedang berjalan bersama rombongan petinggi pedang perak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD