Ruangan Rekaman

635 Words
Pagar rumah bergerak pelan tertiup angin. Kriet… Raka dan Dimas berdiri membeku di depan kontrakan itu. Hujan gerimis turun tipis, membuat suasana terasa makin dingin. “Lo yakin tadi pagi pagarnya dikunci?” tanya Dimas pelan. “Yakin.” Raka menelan ludah. Lampu teras rumah mati. Padahal biasanya otomatis menyala menjelang malam. Entah kenapa rumah itu terasa berbeda. Seperti… ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Dimas mengambil sapu kayu di dekat warung kosong sebelah rumah. “Kalau ada maling, gue pukul.” “Kalau bukan maling?” Dimas langsung diam. Mereka melangkah perlahan masuk ke halaman. Rumput basah. Udara lembap. Dan sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada suara televisi tetangga. Tidak ada suara motor lewat. Bahkan suara jangkrik pun hilang. Raka menggenggam ponselnya erat sambil membuka pintu rumah. Ceklek. Pintu terbuka perlahan. Gelap. Bau lembap langsung menyambut dari dalam rumah. “Ra…” bisik Dimas. “Lo denger gak?” Raka menahan napas. Dari dalam rumah terdengar suara samar. Krrrkkk… Suara statis. Seperti radio rusak. Mereka saling pandang. “Itu dari kamar lo,” kata Dimas pelan. Jantung Raka berdetak semakin cepat. Mereka berjalan perlahan menyusuri ruang tamu. Lantai kayu berderit di setiap langkah. Krrtt… Krrtt… Semakin dekat ke kamar, suara statis semakin jelas. Dan di sela suara itu… Ada suara orang berbicara. Pelan. “…selamat datang kembali di Podcast Horor…” Tubuh Raka langsung dingin. “Itu suara di audio,” bisiknya. Pintu kamar terbuka sedikit. Lampu di dalam berkedip redup. Raka mendorong pintu perlahan. Dan ia langsung membeku. Laptopnya menyala sendiri. Audio Episode 0 terputar otomatis. Namun bukan itu yang membuat darahnya seperti berhenti mengalir. Di kursi rekaman… Ada seseorang duduk membelakangi mereka. Diam. Memakai headset milik Raka. Rambutnya hitam pendek. Tubuhnya kurus. “Woi!” teriak Dimas. Sosok itu perlahan berdiri. Lalu memutar kursi menghadap mereka. Raka langsung mundur satu langkah. Wajah pria itu… Sangat mirip dengannya. Kulit pucat. Mata cekung. Bibirnya tersenyum tipis. “Itu…” napas Dimas tercekat. “Bayu,” bisik Raka. Pria itu menatap mereka tanpa berkedip. Lalu berkata pelan, “Episode terakhir belum selesai.” Suara itu sama persis dengan suara di audio. Dingin. Kosong. Tidak manusiawi. Dimas langsung meraih sapu kayu dan mengayunkannya. BUGH! Sapu itu menembus tubuh Bayu begitu saja. Kosong. Seperti memukul asap. Lampu kamar langsung mati. Gelap total. “ANJIR!” Dimas panik. Suara statis memenuhi ruangan. Krrrkkk… Krrrkkkk… Lalu terdengar banyak bisikan bersamaan. Pelan. Dekat. Mengelilingi mereka. “Putar sampai habis…” “Dia mendengarkan…” “Jangan berhenti…” Raka mundur sambil gemetar. Tiba-tiba layar laptop menyala terang sendiri. Tulisan merah muncul di sana. PENDENGAR TERAKHIR SUDAH DATANG “Ra…” suara Dimas mulai panik. “Gue gak suka ini.” Tiba-tiba pintu kamar tertutup keras. BRAK! Mereka berdua tersentak. Handle pintu bergerak sendiri. Ceklek. Ceklek. Seolah ada sesuatu menahan mereka dari luar. “Buka!” Dimas membanting pintu. Tidak bergerak. Sementara itu audio di laptop berubah. Kini terdengar suara langkah kaki. Perlahan. Semakin dekat. Tok… Tok… Tok… Suara langkah itu terdengar dari speaker laptop. Namun… Di luar kamar juga terdengar langkah yang sama. Tok… Tok… Tok… Raka menoleh perlahan ke arah jendela kamar. Dan napasnya langsung berhenti. Di balik kaca jendela… Ada puluhan wajah berdiri di luar rumah. Pucat. Mata hitam kosong. Diam menatap ke dalam kamar. Beberapa tersenyum. Beberapa berdarah. Dan semuanya memakai headset. Dimas mundur ketakutan. “Apa itu…” Tiba-tiba semua sosok di luar jendela membuka mulut bersamaan. Lalu berkata dengan suara serak yang sama, “Kami pendengarnya.” Lampu berkedip liar. Laptop mulai mengeluarkan suara pecah. Krrrkkkk— Kemudian layar berubah menampilkan rekaman live kamera laptop. Raka dan Dimas terlihat di layar. Namun ada satu sosok tambahan berdiri di belakang mereka. Perempuan berambut panjang. Wajahnya tertutup rambut basah. Padahal… Saat Raka menoleh ke belakang… Tidak ada siapa-siapa. Lalu perempuan di layar itu perlahan mengangkat kepala. Dan tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD