Senyuman perempuan di layar laptop itu terlalu lebar.
Tidak manusiawi.
Raka langsung membalik tubuh sambil mundur panik hingga menabrak rak buku.
Brak!
Namun kamar di belakangnya kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
“Ra…” suara Dimas gemetar. “Dia masih ada di layar.”
Raka menoleh kembali ke laptop.
Perempuan itu masih berdiri di belakang mereka di dalam rekaman live kamera.
Diam.
Kepalanya miring sedikit.
Seolah sedang memperhatikan mereka.
Lalu perlahan…
Ia mengangkat satu tangan pucat dan menunjuk layar.
Menunjuk sesuatu di belakang Raka.
Jantung Raka langsung terasa berhenti.
Dengan napas berat ia menoleh perlahan.
Kosong.
Tetap tidak ada apa-apa.
Namun suara napas mulai terdengar lagi.
Dekat.
Sangat dekat.
Seperti seseorang berdiri tepat di telinganya.
“Hentikan…” bisik suara perempuan itu.
Laptop tiba-tiba mati sendiri.
Gelap total.
Dan seketika semua suara menghilang.
Sunyi.
Hanya ada suara hujan di luar rumah.
Dimas langsung menarik lengan Raka.
“Kita keluar sekarang.”
Raka mengangguk cepat.
Mereka membanting pintu kamar sekuat tenaga.
BRAK!
Kali ini pintu terbuka.
Mereka langsung berlari menuju ruang tamu tanpa menoleh ke belakang.
Namun saat melewati meja makan…
Raka mendadak berhenti.
“Apa lagi?!” bentak Dimas panik.
Raka menunjuk pelan ke arah meja.
Di atas meja kini ada tape recorder tua berwarna hitam.
Basah.
Seperti baru diangkat dari air.
Padahal benda itu tadi tidak ada.
Lampu ruang tamu berkedip redup.
Tape recorder itu tiba-tiba menyala sendiri.
Klik.
Kasetnya berputar.
Lalu terdengar suara pria berbicara.
“Log rekaman… 12 Oktober 2023…”
Raka dan Dimas saling pandang.
“Itu suara Bayu,” bisik Dimas.
Suara dalam rekaman terdengar berat dan lelah.
“Aku rasa mereka mulai datang…”
Terdengar suara napas gemetar.
“Aku gak tahu siapa yang bakal denger ini nanti. Tapi kalau kalian menemukan kaset ini… jangan pernah selesaikan Episode 0.”
Suara statis menyela.
Krrrkkk…
“Aku terlalu jauh masuk.”
Lalu terdengar suara ketukan pelan dalam rekaman.
Tok.
Tok.
Tok.
Bayu langsung diam.
Napasnya terdengar cepat.
“Mereka ada di luar ruang rekaman…”
Ketukan kembali terdengar.
Lebih keras.
TOK!
TOK!
TOK!
“Astaga…”
Suara kursi bergeser kasar.
Lalu Bayu berbisik panik.
“Kalau kalian mendengar suara perempuan itu… jangan jawab dia.”
Raka langsung teringat telepon misterius malam pertama.
Tape recorder mendadak mengeluarkan suara dengung keras.
Krrrkkkk—
Kemudian terdengar suara perempuan.
“Bayu…”
Sunyi beberapa detik.
Lalu suara Bayu berubah ketakutan.
“Jangan masuk…”
BRAK!
Terdengar pintu didobrak.
Bayu berteriak keras.
Rekaman dipenuhi suara langkah dan benda jatuh.
Lalu…
Hening.
Kaset berhenti berputar.
Klik.
Ruangan kembali sunyi.
Dimas menatap tape recorder dengan wajah pucat.
“Ini gak mungkin…”
Raka menelan ludah.
“Dia direkam sebelum hilang.”
Tiba-tiba ponsel Raka bergetar.
Pesan baru.
Nomor tak dikenal lagi.
Kali ini hanya berupa alamat.
STUDIO ARDANA — JL. MELATI 17
Di bawahnya ada satu kalimat tambahan.
TEMPAT EPISODE 0 DIBUAT
Dimas langsung menggeleng cepat.
“Jangan bilang lo mau ke sana.”
Raka menatap layar ponselnya lama.
Perasaan takutnya semakin besar.
Namun rasa penasaran jauh lebih kuat.
“Kalau gue gak cari tahu,” katanya pelan, “semua ini gak bakal berhenti.”
Dimas mengusap wajah frustrasi.
“Ra, ini bukan konten horor YouTube. Ini beneran.”
“Aku tahu.”
Hening beberapa saat.
Hujan di luar mulai reda.
Lalu…
Tape recorder yang tadi mati mendadak menyala lagi sendiri.
Klik.
Kaset berputar pelan.
Namun kali ini bukan suara Bayu yang terdengar.
Melainkan suara Raka sendiri.
Padahal ia belum pernah merekam apa pun di kaset itu.
“Selamat malam…”
Tubuh Raka langsung dingin.
Suara dalam kaset melanjutkan,
“…kembali lagi di Podcast Horor.”
Dimas perlahan mundur.
“Ra…”
Suara Raka dalam rekaman tertawa kecil.
Lalu berkata,
“Malam ini… kita akan membahas tentang dua orang yang seharusnya tidak datang ke Studio Ardana.”
Mata Raka membelalak.
Karena rekaman itu…
Menyebut nama mereka berdua.
Lengkap.
Dan di akhir kaset terdengar satu kalimat pelan.
“Mereka tidak akan pulang.”