Studio Ardana

706 Words
Jam menunjukkan pukul 01.13 dini hari ketika Raka dan Dimas berhenti di depan bangunan tua itu. Studio Ardana. Bangunannya berdiri di ujung jalan sempit yang nyaris tidak diterangi lampu. Cat temboknya mengelupas. Papan nama di atas pintu sudah berkarat dan hampir jatuh. Tempat itu terlihat seperti bangunan mati. “Gue masih bisa muter balik,” kata Dimas pelan dari atas motor. Raka menatap bangunan itu tanpa menjawab. Sejak tape recorder memutar suara misterius tadi, kepalanya dipenuhi satu pertanyaan yang sama. Apa sebenarnya Episode 0? Angin malam berembus dingin. Raka melangkah mendekati pagar studio yang setengah terbuka. Kriet… Suara besi berkarat membuat bulu kuduknya berdiri. Halaman studio dipenuhi rumput liar. Jendela-jendelanya gelap. Namun satu hal langsung membuat langkah Raka berhenti. Ada cahaya redup di lantai dua. “Seseorang masih di sini?” bisik Dimas. Raka menggeleng pelan. “Studio ini katanya udah tutup lama.” Dimas menatapnya tajam. “Dan itu gak bikin keadaan jadi lebih baik.” Mereka masuk perlahan. Pintu utama studio tidak terkunci. Begitu terbuka, bau debu dan lembap langsung menyeruak keluar. Ruangan depan dipenuhi peralatan rusak. Kabel berserakan. Poster-poster acara radio lama menempel lusuh di dinding. Dan tepat di dekat meja resepsionis… Ada foto Bayu. Raka mengambil bingkai berdebu itu perlahan. Di foto tersebut Bayu sedang tersenyum sambil memakai headset studio. Namun seseorang mencoret matanya dengan tinta hitam. Di bawah foto tertulis: PENYIAR TERBAIK 2023 “Dia pernah kerja di sini…” gumam Raka. Tiba-tiba terdengar suara langkah dari lantai atas. Tok… Tok… Tok… Raka dan Dimas langsung membeku. Langkah itu pelan. Seperti seseorang berjalan sambil menyeret kaki. Dimas menelan ludah. “Lo denger kan?” Raka mengangguk pelan. Langkah itu berhenti tepat di atas kepala mereka. Lalu terdengar suara kursi digeser. Krrtttt… Seolah ada seseorang sedang duduk di ruang siaran. Lampu lorong mendadak menyala sendiri. Kelap-kelip. Kelap-kelip. Menerangi tangga menuju lantai dua. Raka menarik napas panjang. “Kita naik.” “Kenapa setiap ide lo selalu buruk?” gumam Dimas. Mereka menaiki tangga perlahan. Setiap anak tangga berbunyi keras. Kriet… Kriet… Udara di lantai dua jauh lebih dingin. Lorongnya panjang dan gelap. Di ujung lorong ada pintu kaca bertuliskan: RUANG REKAMAN B Dari balik pintu itu terdengar suara statis samar. Krrrkkkk… Dan suara seseorang berbicara. “…selamat datang kembali…” Raka mendorong pintu perlahan. Ruangan itu langsung membuat napas mereka tertahan. Studio rekaman lama. Mikrofon besar masih berdiri di tengah meja. Mixer audio menyala sendiri. Lampu ON AIR merah di atas pintu berkedip pelan. Dan di kursi penyiar… Ada seseorang duduk membelakangi mereka. Memakai hoodie hitam. Headset besar menutupi telinganya. Tubuhnya diam. “Bayu?” panggil Raka pelan. Sosok itu tidak menjawab. Namun kepalanya perlahan miring. Seperti mendengar sesuatu. Lalu speaker studio menyala sendiri. Krrrkkkk— Dan suara perempuan terdengar jelas di seluruh ruangan. “Penyiar baru sudah datang…” Lampu langsung mati. Gelap total. Dimas memaki panik. “ANJIR!” Terdengar suara kursi berputar pelan. Krrtttt… Kemudian… Suara napas. Tepat di depan Raka. Padahal ia tidak bisa melihat apa pun. Klik. Lampu merah ON AIR menyala terang. Sesaat kemudian lampu studio kembali hidup. Dan kursi penyiar kini kosong. Sosok tadi menghilang. Namun di meja rekaman… Kini ada laptop tua menyala. Di layarnya terbuka folder bernama: EPISODE TERAKHIR Raka mendekat perlahan. Di dalam folder hanya ada satu video. Tanggal rekamannya tiga tahun lalu. Judul file: JANGAN PUTAR “Jelas ini jebakan,” bisik Dimas. Namun kursor laptop bergerak sendiri. Klik. Video otomatis terbuka. Layar menampilkan Bayu di ruang studio yang sama. Wajahnya pucat dan matanya merah seperti kurang tidur berhari-hari. Ia menatap kamera sambil berbisik cepat. “Kalau kalian lihat video ini… berarti dia udah menemukan kalian.” Suara statis terdengar di belakang rekaman. Bayu menoleh ketakutan ke pintu studio. Lalu berkata pelan, “Jangan percaya suara apa pun setelah jam tiga pagi.” Tiba-tiba dalam video itu… Terdengar suara pintu studio terbuka. Bayu langsung pucat. Dan perlahan… Seseorang masuk ke belakangnya. Perempuan berambut panjang. Wajahnya tertutup rambut basah. Persis seperti yang dilihat Raka di rumahnya. Bayu mulai menangis. “Jangan ambil suaraku…” Perempuan itu mendekat ke telinganya. Lalu berbisik sesuatu. Seketika layar video dipenuhi gangguan. Krrrkkkk— Namun sebelum videonya mati… Bayu menatap kamera dengan wajah penuh ketakutan. Lalu berkata satu kalimat terakhir. “Dia hidup di dalam suara.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD