Suara yang Meniru

553 Words
Video berhenti mendadak. Layar laptop berubah hitam. Ruangan studio kembali sunyi. Raka dan Dimas saling menatap tanpa bicara. Kalimat terakhir Bayu terus terngiang di kepala mereka. Dia hidup di dalam suara. “Apaan maksudnya…” bisik Dimas. Raka menggeleng pelan. Namun jauh di dalam pikirannya, semuanya mulai terasa masuk akal. Telepon misterius. Audio yang terputar sendiri. Bisikan dari speaker. Dan suara yang bisa meniru dirinya. Apa pun itu… makhluk itu tidak muncul lewat bayangan atau benda. Ia muncul lewat suara. Tiba-tiba speaker studio memunculkan bunyi dengung panjang. Nnnnnggg— Lampu ON AIR kembali berkedip merah. Lalu terdengar suara operator radio perempuan. “Rekaman dimulai dalam lima… empat… tiga…” Klik. Suara itu berhenti. Dan mendadak… Suara Raka terdengar dari speaker. “Selamat malam… kembali lagi di Podcast Horor.” Tubuh Raka langsung membeku. “Itu bukan gue,” bisiknya cepat. Namun suara itu terdengar sangat sempurna. Bahkan napas kecilnya sama persis. Dimas perlahan mundur dari meja mixer. “Ra…” Suara “Raka” di speaker tertawa kecil. “Malam ini kita kedatangan dua tamu spesial…” Lampu studio berkedip cepat. Kelap-kelip. Kelap-kelip. Lalu suara itu melanjutkan, “Mereka datang untuk mencari jawaban.” Tiba-tiba pintu studio terkunci sendiri. BRAK! Dimas langsung berlari mencoba membukanya. “KEBUKA WOI!” Handle pintu tidak bergerak. Sementara itu suara siaran terus berjalan. “Pendengar… pernahkah kalian merasa ada suara yang memanggil nama kalian saat sendirian?” Speaker mengeluarkan suara statis. Lalu terdengar puluhan bisikan samar. “Raka…” “Dimas…” “Masuklah…” Raka menutup telinganya. Namun suara-suara itu justru terdengar semakin jelas di dalam kepalanya. Lampu mendadak mati lagi. Gelap. Dan kali ini… Terdengar suara langkah di dalam studio. Tok… Tok… Tok… Bukan dari luar. Dari dalam ruangan yang sama. Dimas langsung menyalakan flashlight ponselnya. Cahaya bergetar menyapu ruangan. Kosong. Namun langkah itu masih terdengar. Berputar mengelilingi mereka. Tok… Tok… Tok… Raka menahan napas. Lalu flashlight Dimas tiba-tiba menyorot ke kaca studio. Dan mereka langsung membeku. Di pantulan kaca… Ada seseorang berdiri di belakang Raka. Wajahnya sama persis. Namun matanya hitam kosong. Versi lain dirinya. “RAKA!” teriak Dimas. Raka langsung membalik tubuh. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Saat ia menoleh kembali ke kaca… Pantulan dirinya tersenyum. Padahal Raka tidak tersenyum. Jantungnya terasa berhenti. Pantulan itu perlahan mengangkat tangan. Kemudian mengetuk kaca dari dalam pantulan. Tok. Tok. Tok. Retakan kecil muncul di permukaan kaca studio. “Anjir…” Dimas mundur panik. Tok! Retakan semakin besar. Tok! Kaca mulai pecah. Dan tiba-tiba pantulan Raka itu membuka mulut. Lalu berkata tanpa suara. AKU YANG ASLI BRAKKK! Kaca studio pecah berserakan. Lampu langsung menyala terang. Raka dan Dimas terjatuh ke lantai. Napas mereka memburu. Ruangan kembali kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya suara siaran yang masih berjalan pelan dari speaker. “Mereka akhirnya mendengar suara aslinya…” Raka berdiri gemetar. Lalu matanya tertuju pada meja siaran. Di sana ada buku catatan tua terbuka. Padahal tadi tidak ada. Halamannya penuh tulisan tangan berantakan. Beberapa kalimat dicoret keras. Namun satu halaman terakhir masih jelas terbaca. Raka mengambilnya perlahan. Tulisan itu milik Bayu. AKU MENEMUKAN FREKUENSINYA Di bawahnya ada deretan angka radio. 107.7 FM Dimas membaca pelan. “Frekuensi radio?” Raka mengangguk pelan. Di bawah angka itu ada satu kalimat terakhir. JANGAN PERNAH MENYALAKANNYA JAM 03.00 Jam digital di mixer studio tiba-tiba menyala sendiri. 02:47 Dan perlahan… Mulai menghitung mundur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD