Jam digital di mixer terus berjalan.
02:48
02:49
Angka merah itu terasa seperti hitungan menuju sesuatu yang buruk.
Dimas mengusap wajahnya kasar.
“Oke. Gue udah cukup lihat hantu radio buat semalam.”
Namun Raka masih menatap buku catatan Bayu.
107.7 FM.
Frekuensi itu terus terngiang di kepalanya.
“Ada radio di sini?” tanya Raka.
Dimas menunjuk rak tua di sudut studio.
“Kayaknya.”
Raka berjalan mendekat perlahan. Di atas rak berdebu itu berdiri radio analog tua berwarna hitam. Antenanya bengkok dan penuh karat.
Saat disentuh…
Radio itu langsung menyala sendiri.
Krrrkkkk—
Suara statis memenuhi ruangan.
Dimas langsung mundur.
“Jangan bilang lo mau nyalain itu.”
Raka memutar tombol frekuensi perlahan.
Suara-suara radio acak muncul bergantian.
Musik.
Berita.
Lalu statis lagi.
Jarum radio bergerak mendekati 107.7 FM.
Semakin dekat…
Suara statis berubah aneh.
Seperti banyak orang berbisik bersamaan.
“Jangan…”
“Putar…”
“Masuk…”
Tangan Raka gemetar.
Jarum radio berhenti tepat di angka 107.7.
Mendadak seluruh lampu studio mati.
Klik.
Gelap.
Radio mengeluarkan suara dengung rendah.
Nnnnnggg—
Lalu terdengar suara perempuan tertawa kecil.
“Hehehe…”
Dimas memaki panik.
“MATIIN!”
Namun tangan Raka seperti sulit bergerak.
Dari speaker radio mulai terdengar siaran.
“Selamat datang di siaran tengah malam…”
Suara itu bukan suara manusia biasa.
Terlalu banyak lapisan.
Seolah puluhan suara berbicara bersamaan.
“Kalian akhirnya mendengarkan kami.”
Lampu ON AIR menyala merah terang.
Dan di kaca studio…
Mulai muncul bayangan orang-orang berdiri.
Puluhan.
Diam.
Memakai headset.
Persis seperti sosok-sosok di luar rumah Raka malam itu.
“Pendengar baru…” suara radio berbisik lembut.
“Kami menunggu kalian.”
Tiba-tiba semua speaker di studio menyala bersamaan.
KRRRRKKKK—
Suara jeritan memenuhi ruangan.
Dimas langsung menutup telinga sambil berteriak.
Raka jatuh berlutut.
Kepalanya terasa seperti ditusuk sesuatu.
Lalu di tengah jeritan itu…
Terdengar suara Bayu.
“TUTUP FREKUENSINYA!”
Raka langsung meraih radio dan memutar tombolnya kasar.
Namun tombol itu macet.
Tidak bergerak.
Suara perempuan tertawa semakin keras.
“Hehehehehe…”
Lampu berkedip liar.
Dan satu per satu sosok di kaca mulai bergerak mendekat.
Mereka mengetuk kaca perlahan.
Tok.
Tok.
Tok.
Retakan mulai muncul.
Dimas meraih kursi lalu menghantam radio sekuat tenaga.
BRAK!
Radio jatuh ke lantai.
Suara siaran langsung terputus.
Gelap.
Sunyi.
Beberapa detik tidak ada apa-apa.
Lalu…
Lampu menyala kembali.
Sosok-sosok di kaca menghilang.
Dimas terengah-engah sambil menatap radio rusak di lantai.
“Gue sumpah pulang habis ini.”
Namun Raka masih membeku.
Karena dari speaker kecil radio yang sudah rusak itu…
Masih terdengar suara samar.
“Belum selesai…”
Tiba-tiba komputer studio menyala sendiri.
Monitor tua berkedip pelan.
Lalu muncul file baru di desktop.
LIVE_LISTENER.mp4
Dimas langsung menggeleng cepat.
“Jangan dibuka.”
Namun file itu otomatis terbuka sendiri.
Video menampilkan ruangan gelap.
Kamera bergerak pelan menyusuri lorong sempit.
Napas perekam terdengar berat.
“Ini rekaman siapa…” bisik Raka.
Kamera terus berjalan hingga berhenti di depan pintu studio.
Pintu yang sama tempat mereka berdiri sekarang.
Lalu kamera masuk ke dalam.
Dan Raka langsung merasa tubuhnya dingin.
Karena video itu memperlihatkan mereka berdua.
Artinya…
Seseorang sedang merekam mereka saat ini.
Dimas langsung melihat sekeliling ruangan.
“Siapa di sini?!”
Video terus berjalan.
Dalam rekaman itu, Raka dan Dimas terlihat berdiri membelakangi kamera.
Lalu perlahan…
Sosok perempuan berambut panjang muncul dari sudut ruangan.
Berjalan mendekati mereka.
Namun anehnya…
Di dunia nyata ruangan tetap kosong.
Raka menatap layar dengan napas tercekat.
Perempuan itu semakin dekat ke versi mereka di video.
Sampai akhirnya berdiri tepat di belakang Raka.
Lalu…
Ia mengangkat wajahnya.
Untuk pertama kalinya Raka melihat wajahnya dengan jelas.
Kulitnya pucat kebiruan.
Mulutnya robek sampai ke pipi.
Dan matanya…
Kosong hitam pekat.
Perempuan itu tersenyum ke kamera.
Lalu berkata pelan,
“Jam tiga… siarannya dimulai.”
Jam digital di mixer berbunyi.
BEEP.
02:59
Dan semua lampu studio mendadak mati bersamaan.