Gelap.
Total.
Tidak ada cahaya sedikit pun di dalam studio.
Raka hanya bisa mendengar suara napasnya sendiri yang memburu. Tangannya gemetar saat mencoba menyalakan flashlight ponsel.
Tidak menyala.
“Dimas?” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Suasana terasa aneh.
Terlalu sunyi.
Lalu…
BEEP.
Jam digital mixer berbunyi lagi.
Dan angka merahnya berubah.
03:00
Sekejap kemudian seluruh speaker studio menyala bersamaan.
KRRRRKKKKK—
Suara statis meledak memenuhi ruangan.
Raka menutup telinganya sambil berteriak kesakitan.
Lalu…
Semua suara mendadak berhenti.
Digantikan oleh suara perempuan lembut.
“Selamat datang di siaran jam tiga pagi.”
Lampu ON AIR menyala merah terang.
Namun lampu ruangan tetap mati.
Cahaya merah itu membuat studio terlihat seperti dipenuhi darah.
“Pendengar malam ini,” suara itu kembali berbicara, “akhirnya lengkap.”
Klik.
Sebuah kursi di depan mikrofon bergerak sendiri.
Perlahan.
Menghadap Raka.
Dan di kursi itu…
Ada headset tergantung.
Seolah seseorang memintanya duduk di sana.
Raka mundur satu langkah.
“Dimas!” teriaknya lagi.
Masih tidak ada jawaban.
Tiba-tiba terdengar suara Dimas dari speaker.
“Ra… tolong…”
Raka langsung membeku.
“Itu gue!” suara Dimas terdengar panik. “Gue di bawah!”
“DIMAS?!”
“Tolong cepet!”
Suara itu dipenuhi statis.
Seolah berasal dari tempat yang sangat jauh.
Raka berlari keluar studio menuju tangga.
Lorong lantai dua gelap gulita.
Hanya lampu merah ON AIR yang berkedip dari kejauhan.
“Dimas!” teriaknya.
Lalu terdengar jawaban dari bawah.
“Di sini!”
Raka menuruni tangga cepat.
Namun langkahnya perlahan melambat.
Karena…
Lantai satu tidak lagi terlihat seperti studio tadi.
Kini lorong bawah berubah menjadi koridor panjang sempit.
Dindingnya penuh busa peredam suara hitam.
Dan di sepanjang lorong…
Berdiri banyak pintu besi.
Masing-masing diberi nomor.
001
002
003
Semua pintu itu sedikit terbuka.
Dan dari balik celahnya terdengar suara orang berbicara.
Menangis.
Berbisik.
Berteriak.
Seperti ribuan rekaman diputar bersamaan.
Raka mundur perlahan.
“Apa ini…”
Tiba-tiba salah satu pintu terbuka lebih lebar.
Kriet…
Suara perempuan terdengar dari dalam.
“Masuk…”
Raka menahan napas.
Dari celah pintu nomor 006 muncul tangan pucat panjang.
Jarinya kurus dan basah.
Mencengkeram sisi pintu perlahan.
Raka langsung berlari menjauh.
Namun semakin ia berlari…
Lorong itu semakin panjang.
Tidak ada ujung.
Lampu merah berkedip di atas kepalanya.
Kelap-kelip.
Kelap-kelip.
Dan suara siaran perempuan terus terdengar dari speaker tersembunyi.
“Malam ini kita akan mendengar kisah pendengar terakhir…”
Tok.
Tok.
Tok.
Langkah kaki terdengar di belakangnya.
Pelan.
Menyeret.
Raka tidak berani menoleh.
Napasnya semakin cepat.
Lalu suara itu memanggilnya.
Dengan suara Raka sendiri.
“Kenapa lari?”
Tubuhnya langsung membeku.
Suara itu tertawa kecil.
“Bukannya kamu yang mencari kami?”
Raka memberanikan diri menoleh perlahan.
Dan jantungnya hampir berhenti.
Versi lain dirinya berdiri di ujung lorong.
Wajahnya pucat.
Matanya hitam kosong.
Memakai headset studio.
Senyumnya terlalu lebar.
“Aku sudah lama menunggu,” katanya pelan.
Lampu lorong mati sesaat.
Dan ketika menyala lagi…
Sosok itu sudah berdiri jauh lebih dekat.
Raka langsung berlari sekuat tenaga.
Namun tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pergelangan kakinya dari bawah pintu.
Raka jatuh keras.
BRAK!
Puluhan tangan pucat keluar dari celah-celah pintu lain.
Mencoba meraih tubuhnya.
Bisikan memenuhi lorong.
“Tinggal di sini…”
“Jadi suara berikutnya…”
“Masuk…”
Raka meronta panik.
Lalu di tengah kekacauan itu…
Ia mendengar suara Dimas sangat dekat.
“RAKA!”
Seseorang menarik tangannya keras.
Dan seketika lorong menghilang.
Raka terjatuh di lantai studio utama bersama Dimas.
Lampu ruangan kembali normal.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Raka terengah-engah sambil melihat sekeliling.
Studio kembali seperti semula.
Namun wajah Dimas sangat pucat.
“Lo kenapa?!” tanya Raka.
Dimas gemetar sambil menunjuk mixer audio.
Raka menoleh.
Dan napasnya langsung tercekat.
Karena semua mikrofon studio menyala sendiri.
Dan dari headset…
Terdengar suara ribuan orang berbisik bersamaan.
“Episode terakhir dimulai…”