Episode Terakhir

604 Words
Semua mikrofon menyala bersamaan. Lampu indikator hijau berkedip cepat di meja mixer. Dan dari setiap headset terdengar bisikan berbeda. Tangisan. Tawa kecil. Suara orang memanggil nama mereka. Studio terasa hidup. Bukan seperti bangunan kosong. Melainkan seperti sesuatu sedang terbangun. Raka perlahan mendekati salah satu mikrofon. “Jangan sentuh!” bentak Dimas. Namun terlambat. Begitu jari Raka menyentuh mikrofon… Suara statis langsung memenuhi ruangan. KRRRRKKKK— Lampu ON AIR menyala merah terang. Lalu terdengar suara operator radio perempuan. “Rekaman dimulai.” Klik. Dan tiba-tiba semua pintu studio terkunci sendiri. BRAK! Dimas memaki panik sambil menarik handle pintu. “Anjir! Kebuka WOI!” Tidak bergerak. Sementara itu speaker studio mulai memutar musik opening Podcast Horor. Musik lama. Versi yang sudah dihapus Raka bertahun-tahun lalu. Jantungnya berdetak semakin cepat. Karena kali ini… Ada suara lain ikut bernapas di balik musik itu. Napas panjang. Pelan. Dekat. “Selamat malam…” Suara Raka terdengar dari speaker. Namun bukan dia yang berbicara. “Kembali lagi di Podcast Horor…” Lampu studio mulai redup perlahan. Dan monitor komputer menyala sendiri. Di layar muncul tulisan: LIVE — 1 LISTENER Raka mengernyit. “Satu pendengar?” Tiba-tiba angka itu berubah. 2 LISTENERS 5 LISTENERS 20 LISTENERS 100 LISTENERS Naik semakin cepat. Padahal studio itu bahkan tidak tersambung internet. Komentar mulai bermunculan di layar live chat. AKHIRNYA DIMULAI SUARANYA KEMBALI KAMI MENUNGGU Dimas mundur pelan. “Ra… gue gak suka ini.” Namun layar terus bergerak sendiri. Jumlah pendengar kini ribuan. Dan semua komentar memakai foto profil hitam kosong. Tiba-tiba salah satu komentar muncul paling atas. BAYU JOINED THE STREAM Tubuh Raka langsung dingin. Speaker memunculkan suara tawa pelan. “Hehehe…” Lalu suara Bayu terdengar jelas. “Aku gagal menghentikannya…” Monitor menampilkan video live kamera studio. Raka dan Dimas terlihat berdiri di sana. Namun ada sosok tambahan di belakang mereka. Perempuan itu lagi. Kini wajahnya terlihat lebih jelas. Kulit pucat retak-retak. Mulut robek sampai telinga. Dan matanya hitam kosong seperti lubang. Ia berdiri sangat dekat di belakang Dimas. “DIMAS!” teriak Raka. Dimas langsung menoleh. Kosong. Namun di layar… Perempuan itu perlahan menempelkan wajahnya ke pundak Dimas. Tersenyum. Tiba-tiba headset di kepala Dimas menyala sendiri. Padahal ia tidak memakainya. Dan suara perempuan langsung berbisik dari dalam headset. “Aku memilihmu.” Dimas menjerit sambil melempar headset ke lantai. Namun suara itu tetap terdengar. “Aku memilihmu…” “Aku memilihmu…” Semakin keras. Dimas memegang kepalanya kesakitan. “Bikin berhenti!” Raka mencoba mencabut kabel mixer. Namun semua kabel terasa panas. Seperti hidup. Monitor live chat kini dipenuhi satu kalimat yang sama. PILIH PENYIAR BERIKUTNYA PILIH PENYIAR BERIKUTNYA PILIH PENYIAR BERIKUTNYA Tiba-tiba mikrofon utama menyala. Lampu merahnya berkedip. Dan suara perempuan itu berbicara sangat jelas. “Hanya satu yang bisa keluar.” Hening. Raka dan Dimas saling menatap. “Kalau siarannya selesai…” suara itu melanjutkan, “…satu suara akan tinggal di sini.” Dimas menggeleng cepat. “Gue gak mau ikut permainan ini.” Namun monitor berubah lagi. Kini menampilkan video Bayu tiga tahun lalu. Ia duduk di kursi penyiar dengan wajah penuh ketakutan. “Aku juga pernah diberi pilihan,” katanya lirih. Bayu menatap kamera lama. “Dan aku memilih sahabatku.” Raka membeku. Bayu mulai menangis. “Tapi dia tetap mengambil kami berdua.” Video mendadak rusak. Krrrkkkk— Lalu layar menjadi hitam. Dan muncul satu pertanyaan besar berwarna merah. SIAPA YANG AKAN MENJADI SUARA BERIKUTNYA? Lampu studio mati. Gelap total. Lalu… Terdengar satu mikrofon menyala sendiri. Klik. Dan suara Dimas terdengar dari dalamnya. Padahal ia tidak berbicara. “Raka…” Suara itu pelan. Kosong. Tidak manusiawi. “Jangan percaya siapa pun setelah jam tiga pagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD