Penyiar Pengganti

603 Words
Gelap masih menyelimuti studio. Hanya lampu merah ON AIR yang berkedip pelan di sudut ruangan. Klik. Klik. Klik. Raka berdiri membeku saat mendengar suara Dimas keluar dari mikrofon. Padahal sahabatnya berdiri tepat di sampingnya dengan wajah pucat. “Gue gak ngomong apa-apa…” bisik Dimas gemetar. Namun mikrofon itu kembali menyala sendiri. “Raka…” Suara Dimas terdengar lagi. Kosong. Seperti rekaman orang mati. “Dia sudah memilih…” Tiba-tiba semua speaker mengeluarkan suara dengung rendah. Nnnnnnggg— Lampu studio menyala kembali. Dan sesuatu langsung membuat napas Raka tercekat. Dimas menghilang. “Dimas?” Ruangan itu kini kosong. Hanya Raka sendirian. “DIMAS!” Tidak ada jawaban. Monitor komputer tiba-tiba hidup sendiri. Menampilkan live kamera dari ruangan lain. Raka langsung mengenali tempat itu. Ruang siaran kecil di ujung lorong studio. Dan di dalam ruangan itu… Dimas duduk di kursi penyiar. Diam. Memakai headset. Matanya kosong. “Dimas…” bisik Raka. Speaker menyala. Lalu suara perempuan tertawa kecil. “Hehehe…” “Kita mulai rekamannya.” Monitor memperlihatkan Dimas perlahan mendekat ke mikrofon. Lalu tanpa ekspresi ia berkata, “Selamat malam…” Tubuh Raka dingin. Karena suara itu bukan suara Dimas. Melainkan suara yang sama dari Episode 0. Suara yang meniru manusia. “Kembali lagi di Podcast Horor…” Dimas di layar tersenyum perlahan. Senyum yang terlalu lebar. Raka langsung berlari keluar studio utama. Lorong lantai dua gelap dan dingin. Lampu berkedip kacau. Ia terus mencari ruang siaran kecil yang muncul di monitor tadi. Namun lorong terasa berubah. Semakin panjang. Semakin sempit. Dan di setiap kaca jendela… Raka melihat pantulan dirinya sendiri. Semua pantulan itu tersenyum. Padahal ia tidak. Tok. Tok. Tok. Suara ketukan terdengar dari salah satu pintu. Pintu nomor 009. Perlahan terbuka sendiri. Kriet… Dari dalam terdengar suara Dimas. “Ra… tolong…” Raka mendekat pelan. Ruangan di balik pintu gelap gulita. “Dimas?” “Tolong…” Suara itu terdengar lemah. Raka membuka pintu lebih lebar. Dan langsung membeku. Ruangan itu penuh tape recorder tua. Ratusan. Bertumpuk di lantai dan dinding. Semua kasetnya berputar sendiri. Klik. Klik. Klik. Lalu bersamaan… Semua tape recorder memutar suara orang berbeda. Tangisan. Teriakan. Bisikan. Dan satu per satu suara itu mulai memanggil nama Raka. “Raka…” “Raka…” “Raka…” Ia mundur perlahan. Namun salah satu tape recorder di dekat pintu mendadak menyala paling keras. Dan suara Bayu terdengar jelas. “Jangan percaya suara Dimas.” Raka membeku. “Dia bukan Dimas lagi,” lanjut suara Bayu. Tiba-tiba seluruh tape recorder berhenti bersamaan. Sunyi. Lalu dari belakang Raka terdengar suara Dimas. “Lo dengerin dia?” Raka langsung menoleh. Dimas berdiri di lorong. Tersenyum tipis. Namun ada sesuatu yang salah. Matanya terlalu gelap. Dan suaranya terdengar sedikit bergema. “Dimas?” Sosok itu berjalan mendekat perlahan. “Kita harus pergi sekarang.” Raka menatapnya ragu. “Lo tadi ada di monitor.” Dimas berhenti melangkah. Lalu tertawa kecil. “Heh…” Tawa itu langsung membuat darah Raka membeku. Karena itu bukan tawa Dimas. Senyumnya perlahan melebar. Dan dari mulutnya keluar suara perempuan. “Dia mudah ditiru.” Lampu lorong langsung mati. Gelap. Tangan dingin tiba-tiba mencengkeram pergelangan Raka. Ia langsung menjerit dan mendorong sosok di depannya. BRAK! Tubuh itu jatuh keras. Lampu kembali menyala. Dan Raka langsung membeku. Karena yang jatuh di lantai… Benar-benar Dimas. Wajahnya penuh darah. Tatapannya bingung. “Ra…” suaranya lemah. “Kenapa lo dorong gue?” Raka mundur panik. “Lo… tadi…” Namun kalimatnya terhenti. Karena di ujung lorong… Sosok perempuan berambut panjang itu berdiri diam. Kepalanya miring. Mulut robeknya tersenyum lebar. Dan dengan suara Raka sendiri… Ia berkata pelan, “Penyiar pengganti sudah dipilih.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD