Batas Suara

628 Words
Raka menatap bergantian antara Dimas yang tergeletak di lantai dan sosok perempuan di ujung lorong. Darah di sudut bibir Dimas terlihat nyata. Tangannya gemetar, matanya masih sadar—masih manusia. “Ra…” Dimas berusaha bangun. “Gue… gue beneran ini.” Raka mundur setengah langkah, napasnya tidak stabil. “Gue gak tahu mana yang bener…” Di ujung lorong, perempuan itu tetap berdiri diam. Kepalanya miring seperti mendengarkan sesuatu yang hanya ia sendiri bisa dengar. Lalu ia berbicara. “Terlambat.” Suara itu tidak datang dari mulutnya saja. Tapi dari dinding. Dari speaker. Dari udara. KRRRRKKK— Semua tape recorder di ruangan tadi menyala lagi bersamaan. Klik. Klik. Klik. Suara-suara memenuhi lorong: “Pilih…” “Pilih…” “Pilih penyiar…” Dimas menahan sakit, meraih pergelangan Raka. “Gue gak bohong… itu gue…” Namun saat Raka menatap Dimas lebih lama, ada sesuatu yang membuatnya ragu. Napas Dimas tidak sinkron. Kadang terlalu cepat. Kadang berhenti sesaat. Seperti sinyal yang putus-nyambung. Perempuan di ujung lorong melangkah satu kali. Tok. Cahaya lampu berkedip. Sekejap. Dan saat kembali menyala… Perempuan itu sudah lebih dekat. “Waktu siaran tidak boleh kosong,” katanya pelan. “Kalau tidak, semua suara akan pecah.” Raka menggeleng. “Apa maumu?!” Perempuan itu tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar lebih jelas. “Aku bukan yang memilih.” “Aku hanya menjaga frekuensi.” Tiba-tiba dari arah studio utama terdengar suara ON AIR menyala. Klik. “Rekaman dilanjutkan.” Suara mikrofon kembali aktif sendiri. Dan dari speaker, suara Raka kembali terdengar. “Selamat malam…” Namun kali ini… suaranya berbeda. Lebih dalam. Lebih banyak lapisan. Seperti banyak orang berbicara sekaligus di dalam mulut yang sama. Dimas berbisik panik. “Ra… itu bukan lo.” Raka menoleh ke arah studio. “Gue harus matiin itu.” Ia mulai berlari. Namun lorong berubah lagi. Dinding yang tadi ada kini menjadi kaca hitam. Dan di dalam kaca itu… Raka melihat dirinya di studio. Duduk di kursi penyiar. Memakai headset. Tersenyum. “Tidak!” Raka berhenti. Di dalam kaca, dirinya berkata: “Episode terakhir sudah dimulai.” Perempuan di belakangnya dalam pantulan itu menaruh tangan di bahunya. Dan Raka yang asli merasakan sentuhan itu di dunia nyata. Padahal perempuan itu masih berdiri jauh di lorong. Dimas tertatih berdiri. “Ra… gue gak ngerti ini apa, tapi kita harus keluar sekarang.” Namun sebelum Raka bisa menjawab… Speaker di lorong kembali aktif. “Penyiar harus tetap di studio.” Perempuan itu kini tepat di depan mereka. Sangat dekat. Wajahnya jelas. Kulitnya retak seperti kaca pecah. Mulutnya terlalu panjang. Dan matanya— bukan mata. Hanya lubang suara kosong yang bergetar seperti speaker rusak. Ia menatap Raka. “Suaramu paling stabil.” Raka mundur. “Gue gak mau jadi penyiar apa pun!” Perempuan itu mengangkat tangan. Dan semua suara di lorong berhenti. Sunyi total. Lalu ia berbisik: “Kalau kamu keluar… suara ini akan mencari dunia lain.” Dimas menatap Raka. “Ra… jangan percaya dia.” Namun suara Dimas terdengar lagi dari speaker studio. “Percaya dia.” Raka langsung memegang kepala. “Berhenti…!” Perempuan itu melangkah mendekat. “Ada satu cara memutus siaran.” “Matikan sumbernya.” “Dan ganti penyiar.” Raka terdiam. “Ganti…?” Perempuan itu tersenyum. Dan menunjuk Dimas. “Atau dia.” Dimas langsung mundur. “Jangan.” Suasana berubah menekan. Lampu lorong berkedip cepat. Klik. Klik. Klik. Dan jam di mixer studio terdengar jauh kembali. 02:59 Satu menit menuju sesuatu yang lain. Perempuan itu berbisik terakhir kali. “Pilih sekarang.” Dan semua suara di gedung itu kembali hidup. MENJADI PENYIAR MENJADI PENYIAR MENJADI PENYIAR Raka menatap Dimas. Dimas menatap Raka. Dan untuk pertama kalinya… Raka sadar. Ini bukan tentang melawan. Tapi tentang siapa yang akan tersisa untuk bersuara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD