Ribuan pendengar berdiri bersamaan.
Ruangan hitam itu dipenuhi suara retakan tulang dan dengungan frekuensi rendah yang membuat kepala Raka berdenyut hebat.
“Jangan hentikan siaran…”
Suara mereka menggema seperti ombak.
Pelan.
Namun menekan.
Raka mundur satu langkah dari panggung kecil itu. Bayu berdiri di depannya dengan tubuh yang terus dipenuhi noise hitam bergerak.
“Apa maksudnya suara asli?!” teriak Raka.
Bayu mencoba menjawab, namun suaranya pecah-pecah.
“Su… ara… per… tama…”
KRRRRKKKK—
Tubuh Bayu mendadak bergetar hebat seperti sinyal rusak.
Perempuan penyiar pertama langsung menarik lengan Raka.
“Kita harus pergi sekarang.”
“Gak sebelum dia jawab!”
Namun para pendengar mulai berjalan mendekat.
Langkah mereka serempak.
Tok.
Tok.
Tok.
Dan setiap langkah membuat ruangan semakin gelap.
Perempuan itu menatap Raka dengan panik.
“Kalau mereka sampai ke panggung, kamu akan jadi bagian siaran selamanya.”
Raka mengepalkan tangan.
“Terus gimana cara keluar?!”
Perempuan itu menunjuk mikrofon di tengah panggung.
“Hancurkan suara pertama yang membuka frekuensi.”
“Tapi suara pertama itu siapa?”
Hening sesaat.
Lalu perempuan itu berbisik pelan.
“Aku.”
Raka membeku.
Perempuan itu menunduk.
“Dulu aku penyiar radio malam. Aku menemukan frekuensi ini tanpa sengaja.”
Ia menatap lautan pendengar yang terus mendekat.
“Aku pikir itu hanya siaran kosong.”
“Tapi ternyata… ada sesuatu yang mendengarkan balik.”
Raka menatapnya tanpa bicara.
“Suara pertamaku menjadi pintu,” lanjut perempuan itu lirih. “Dan sejak saat itu… semua penyiar setelahku hanya memperpanjang siaran.”
Langkah para pendengar semakin dekat.
Kini wajah-wajah mereka mulai terlihat jelas.
Kosong.
Retak.
Beberapa tidak memiliki mata.
Namun semuanya tersenyum.
“Kalau aku dihancurkan,” kata perempuan itu, “frekuensinya ikut runtuh.”
“Terus kenapa gak dari dulu?”
Perempuan itu tersenyum sedih.
“Karena penyiar tidak bisa menghancurkan dirinya sendiri.”
Raka perlahan mulai mengerti.
“Makanya kamu butuh gue…”
Perempuan itu mengangguk.
Bayu mendadak berteriak dari panggung.
“CEPAT!”
Tubuhnya mulai ditarik noise hitam dari bawah lantai.
Para pendengar kini hanya beberapa meter dari panggung.
Mereka mulai mengangkat tangan perlahan.
Seperti ingin meraih Raka.
“Jangan hentikan siaran…”
“Jangan tinggalkan kami…”
Raka menatap mikrofon di tengah panggung.
Satu-satunya benda yang bercahaya di tempat itu.
Perempuan itu berjalan mendekat ke mikrofon.
“Kalau kamu lakukan ini…” katanya pelan, “…semua suara di sini akan hilang.”
Raka menelan ludah.
“Termasuk Bayu?”
Bayu tertawa kecil pahit.
“Gue udah lama mati.”
Hening.
Raka menatap perempuan itu.
“Siapa nama lo sebenarnya?”
Perempuan itu terdiam lama.
Seolah lupa.
Lalu akhirnya menjawab lirih,
“Arumi.”
Nama itu terasa anehnya familiar.
Arumi tersenyum kecil.
“Sudah lama gak ada yang manggil aku pakai nama itu.”
Para pendengar mulai naik ke atas panggung.
Bayu berteriak lagi.
“RAKA SEKARANG!”
Raka langsung meraih mikrofon.
Begitu disentuh—
Seluruh ruangan bergetar hebat.
Suara statis meledak di udara.
KRRRRKKKK—
Dan tiba-tiba ribuan suara masuk ke kepala Raka sekaligus.
Semua siaran.
Semua rekaman.
Semua jeritan.
Ia melihat potongan-potongan kejadian:
Bayu menangis di studio.
Pendengar bunuh diri sambil memakai headset.
Arumi sendirian di ruang radio puluhan tahun lalu.
Dan sesuatu…
Sesuatu besar di balik frekuensi.
Sesuatu yang tidak memiliki bentuk.
Hanya suara.
Makhluk itu berbisik langsung ke kepala Raka.
“Jangan…”
Suara itu begitu dalam hingga membuat tubuhnya gemetar.
“Kami butuh pendengar…”
Raka menjerit sambil mengangkat mikrofon tinggi-tinggi.
Arumi menatapnya tenang.
“Terima kasih… penyiar terakhir.”
Dan Raka menghantam mikrofon itu ke lantai sekuat tenaga.
BRAKKKKK!
Mikrofon pecah.
Seketika seluruh ruang siaran retak.
Para pendengar menjerit bersamaan.
Bayu tersenyum kecil.
Arumi memejamkan mata.
Dan seluruh dunia berubah putih.