Sunyi.
Tidak ada suara.
Tidak ada bisikan.
Tidak ada statis.
Raka perlahan membuka mata.
Langit-langit putih rumah sakit menyambut pandangannya.
Lampu neon di atas kepalanya terasa menyilaukan.
Ia mengernyit pelan.
“Kamu sadar?”
Suara itu membuat Raka menoleh.
Dimas duduk di kursi samping ranjang dengan wajah kusut dan mata sembab. Ada plester kecil di pelipisnya.
Beberapa detik Raka hanya diam.
Mencoba mengingat.
Studio.
Arumi.
Mikrofon pecah.
Dan cahaya putih itu.
“Gue…” tenggorokannya kering. “Kita di mana?”
“Rumah sakit.”
Dimas menghela napas panjang lalu tertawa kecil lega.
“Anjir, gue kira lo gak bangun lagi.”
Raka perlahan duduk.
Kepalanya masih berat.
“Studio…”
Wajah Dimas langsung berubah serius.
“Ra… studio itu kebakaran.”
Jantung Raka berdetak pelan.
“Kebakaran?”
Dimas mengangguk.
“Kata warga sekitar ada ledakan kecil semalam. Pas pemadam datang… bangunannya hampir habis.”
Raka diam.
“Kita ditemukan di luar gedung,” lanjut Dimas lirih. “Pingsan.”
“Dan yang lain?”
Dimas mengernyit.
“Lain siapa?”
Raka menatapnya.
“Bayu. Arumi.”
Dimas terdiam beberapa detik.
Lalu menggeleng pelan.
“Ra… gak ada siapa-siapa selain kita.”
Sunyi.
Raka menunduk pelan.
Mungkin memang begitu akhirnya.
Semua sudah selesai.
Atau setidaknya… ia ingin percaya begitu.
⸻
Tiga hari kemudian, Raka kembali ke kontrakannya.
Rumah itu terasa berbeda sekarang.
Lebih hangat.
Lebih normal.
Tidak ada suara aneh.
Tidak ada bisikan dari speaker.
Laptopnya mati total akibat korsleting.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama…
Raka bisa tidur tanpa mimpi buruk.
Namun ada satu hal yang masih mengganggunya.
Semua file Podcast Horor hilang.
Channel podcast miliknya kosong total.
Seolah tidak pernah ada.
Dimas menganggap itu hal bagus.
“Anggap aja mulai hidup baru,” katanya.
Dan Raka mencoba melakukannya.
Ia berhenti membuat konten horor.
Berhenti begadang.
Berusaha kembali hidup normal.
Hari-hari mulai terasa tenang.
Sampai seminggu kemudian.
Malam itu hujan turun lagi.
Raka sedang membuat kopi di dapur ketika ponselnya berbunyi.
Notifikasi email.
Ia awalnya mengabaikan.
Namun subjek email itu membuat tubuhnya membeku.
EPISODE BARU TELAH DIUPLOAD
Tangan Raka langsung dingin.
Dengan jantung berdegup keras ia membuka email itu perlahan.
Tidak ada pengirim.
Hanya satu link audio.
Judulnya:
PODCAST HOROR — EPISODE TERAKHIR
“Gak…”
Raka mundur perlahan.
“Gak mungkin…”
Tangannya gemetar saat membuka aplikasi podcast miliknya.
Dan napasnya langsung tercekat.
Channel Podcast Horor kembali muncul.
Lengkap.
Semua episode ada lagi.
Bahkan jumlah pendengarnya jauh lebih banyak.
Namun itu belum yang terburuk.
Di bagian paling atas…
Ada episode baru.
Durasi: 03:00:00
Status: LIVE NOW
Raka langsung menekan tombol play dengan tangan gemetar.
Suara statis terdengar beberapa detik.
Krrrkkkk—
Lalu…
Suara Raka sendiri muncul.
“Selamat malam…”
Tubuhnya membeku.
Karena ia tidak pernah merekam itu.
“Kembali lagi di Podcast Horor…”
Suara itu tertawa kecil.
Dan melanjutkan:
“Malam ini… aku akan menceritakan kisah seseorang yang mengira siarannya sudah selesai.”
Ponsel Raka tiba-tiba bergetar.
Telepon masuk.
Nomor tak dikenal.
Persis seperti malam pertama.
Dengan napas gemetar ia mengangkatnya perlahan.
“Halo…?”
Beberapa detik sunyi.
Lalu terdengar suara perempuan.
Lembut.
Pelan.
Dan sangat familiar.
“Pendengar baru sudah mulai masuk.”
Lampu rumah mendadak mati.
Gelap total.
Dan dari ruang kerja Raka…
Terdengar suara kursi bergerak sendiri.
Krrtttt…