Pendengar Baru

536 Words
Gelap menyelimuti seluruh rumah. Raka berdiri membeku di dapur sambil menggenggam ponsel erat. Suara napas dari telepon masih terdengar pelan. “Pendengar baru sudah mulai masuk…” Klik. Sambungan terputus. Hening. Lalu… Krrtttt… Suara kursi dari ruang kerja terdengar lagi. Pelan. Seperti seseorang baru saja duduk. Jantung Raka berdetak tidak normal. Ia mundur satu langkah. Pikirannya kacau. Studio sudah hancur. Mikrofon sudah dihancurkan. Arumi seharusnya hilang. Jadi kenapa semuanya kembali? Tiba-tiba laptop di ruang kerja menyala sendiri. Cahayanya menerangi lorong rumah yang gelap. Dan dari speaker laptop… Terdengar musik opening Podcast Horor. Versi lama. Yang sudah dihapus. “Tidak…” Raka berjalan perlahan mendekati ruang kerja. Setiap langkah terasa berat. Seolah rumahnya sendiri menolak ia masuk. Begitu sampai di depan pintu… Napasnya langsung tercekat. Ada seseorang duduk di kursinya. Membelakangi pintu. Memakai headset hitam. Tubuhnya kurus. Diam. Raka tidak berani bergerak. “Siapa lo…?” Sosok itu perlahan memutar kursi. Krrtttt… Dan wajah yang muncul membuat darah Raka serasa berhenti mengalir. Dirinya sendiri. Namun versi itu terlihat lebih pucat. Matanya hitam kosong. Dan senyumnya terlalu lebar. “Akhirnya balik juga,” katanya pelan. Suara itu sama persis dengan suara dari podcast live tadi. Raka mundur cepat. “Lo bukan gue.” Versi dirinya tertawa kecil. “Semua penyiar bilang begitu.” Lampu laptop berkedip. Dan layar live podcast terbuka sendiri. Jumlah pendengar terus naik. 50.000 LISTENERS 100.000 LISTENERS Komentar membanjiri layar. PENYIAR ASLI SUDAH KEMBALI SIARAN JANGAN DIHENTIKAN MANA EPISODE SELANJUTNYA Versi lain Raka menatap layar penuh kagum. “Mereka suka suaramu.” “Apa yang lo mau?” Sosok itu perlahan berdiri. “Kamu menghancurkan mikrofon.” “Tapi kamu lupa…” Ia mendekat perlahan. “…frekuensi tidak hidup di alat.” Raka menelan ludah. “Frekuensi hidup di penyiar.” Tubuh Raka langsung dingin. Tiba-tiba semua speaker rumah menyala bersamaan. KRRRRKKKK— Suara Arumi terdengar samar. “Dia menemukanmu lagi…” Versi lain Raka tersenyum lebih lebar. “Karena kamu membuka pintunya.” “Tapi gue udah nutup semuanya!” “Tidak,” jawab sosok itu pelan. “Kamu hanya memutus studio lama.” Monitor laptop berubah hitam. Lalu muncul gambar peta kota. Ada puluhan titik merah berkedip di sana. Satu per satu terus bertambah. “Apa itu…” “Pendengar baru.” Versi Raka menunjuk layar. “Mereka mendengarkan siaran jam tiga pagi.” Titik merah bertambah semakin cepat. Seluruh kota hampir penuh. Dan di setiap titik… Terdengar suara samar keluar dari speaker laptop. Bisikan. Tangisan. Tawa kecil. Raka mulai sadar sesuatu yang mengerikan. Frekuensinya menyebar. Tidak lagi terikat studio. “Lo siapa sebenarnya…” bisiknya. Versi lain dirinya berhenti tersenyum. Wajahnya perlahan rusak seperti noise televisi. KRRRKK— Dan dari balik wajah itu… Terdengar ribuan suara berbicara bersamaan. “Kami adalah suara yang didengarkan.” Lampu rumah berkedip liar. Dinding mulai mengeluarkan suara bisikan. Podcast live semakin keras. Dan tiba-tiba… Komentar baru muncul paling atas. LISTENER #000001 JOINED Nama akun itu membuat tubuh Raka membeku. ARUMI Versi dirinya menatap Raka pelan. “Dia belum pergi.” Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu depan rumah. Tok. Tok. Tok. Lalu puluhan ketukan lain menyusul dari jendela. Tok. Tok. Tok. Seperti banyak orang berdiri di luar rumahnya. Versi lain Raka berbisik lembut, “Pendengarmu datang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD