Menolong

2014 Words
Empat orang gadis berseragam SMA tengah asik berbelanja di mall terbesar di kota bogor setelah beberapa jam berkeliling mereka memutuskan untuk membeli makanan di food court El membeli takoyaki, Sera membeli kebab, Jean membeli ramen, dan Clara membeli chicken katsu, sedangkan minumannya mereka memilih thai tea boba. Setelah menghabiskan semua makanan dan minuman yang mereka pesan, ke-4 gadis itu memutuskan untuk pulang. Mereka belanja hingga lupa waktu, saat masuk ke mall langit masih cerah tapi saat mereka keluar langit sudah gelap menandakan hari sudah malam. Rumah Sera dan Clara satu arah jadi Clara memutuakan untuk nebeng mobil Sera karena tadi pagi ia di antar supir, sedangkan Jean membawa motor. "El bareng gue aja" ucap Sera "Iya, cepet masuk" ucap Clara "Gausah, gue naik taksi aja" El tidak ingin merepotkan orang lain pasalnya rumah Sera dan El berlawanan arah, lagi pula El masih mampu bayar taksi "Ikut gue aja" Jean menawari tumpangan tapi lagi-lagi El menolak dengan alasan yang sama. "lo yakin?" tanya sera "iya" jawab El yakin "Yaudah kita duluan ya gaes, bye" ucap Sera yang di tanggapi anggukan oleh El, "hati-hati di jalan" ucap jean "hmm" Satu persatu kendaraan mereka pergi meninggalkan parkiran, tak lama taksi yang di pesan El sampai, karena hari sudah semakin gelap El bergegas naik. Saat di perjalanan tiba-tiba taksi yang di tumpanginya berhenti di tempat yang sepi. "Loh ko berhenti pak?" Tanya El penuh selidik, masalahnya sekarang mobil yang ia tumpangi berhenti di tempat yang sepi, sudah malam pula. Gimana kalau dia di begal, di culik, di ambil organya, terus di buang di hutan, ARGHHHHHH TIDAKKKK, El segera menyingkirkan pikiran negativnya dia harus tenang stay cool and berpikir positive. "Sebentar saya cek dulu ya neng" supir taksi itu keluar dari mobil untuk mengecek keadaan taksinya, El sedikit bernafas lega mungkin ia terlalu parno. "Gimana pak" El pun memutuskan untuk keluar juga. "Kayanya bannya bocor neng, bapak gak bawa ban serepnya" "Terus gimana pak" "Maaf ya neng, mendingan neng cari angkutan lain aja" suruh bapak "Yahh, yaudah ini ongkosnya pak" El memberikan dua lembar uang kertas bewarna merah. "Gausah neng, kan belum sampe ke tempat tujuan. Lagian ini uangnya kebanyakan" karena melihat supir itu sudah tua tapi masih semangat bekerja sampai larut malam, El jadi tidak tega. "Udah gak apa-apa pak. Ambil aja, rejeki" El berkata dengan senyuman "beneran neng?" tanya supir itu memastikan. "iya" "Makasih ya neng, alhamdulillah" supir taksi itu tersenyum penyuh syukur. El mencoba menyalakan hpnya tapi sepertinya batrainya habis, alhasil ia tidak bisa memesan transportasi online mau tidak mau harus menunggu tranportasi umum yang lewat. Sudah satu jam El menunggu di pinggir jalan namun kendaraan umum tak kunjung lewat juga, mungkin karena sudah larut malam ditambah jalanan yang jarang di lalui kendaraan. "s**l" pekik El dalam hati El memutuskan untuk jalan kaki menelusuri trotoar siapa tau nanti memenukan taksi agar ia bisa segera pulang sebelum penghuni rumah berubah menjadi reog. Ya, siapa lagi kalo buka Papa, Mama, dan kakaknya Ezra yang terlalu posessive. Saat ia berjalan menelusuri trotor tiba tiba matanya tak sengaja melihat seorang laki laki sedang di keroyok oleh tiga pria berpakaian mirip preman, ralat sepertinya mereka emang preman, laki laki itu sudah terkualai lemas dengan luka tusuk di perutnya. El pun memberanikan diri untuk menolong laki laki tersebut, ia berjalan mengendap-endap agar pergerakannya tak di ketahui oleh orang-orang tersebut, El memungut dahan pohon yang tergeletak , dahan itu seperti gagang sapu meski tidak lurus tapi lumayan kuat. El berjalan hati hati agar tidak menimbulkan suara, saat sudah dekat langsung saja ia pukul salah satu pria tersebut dengan sekuat tenaga. Pria itu pun tersungkur ketanah dan jatuh pingsan karena pukulan yang El berikan tidak main main membuat kedua pria lainnya merasa geram. Berani beraninya seorang gadis kecil melawan mereka yang notabene adalah seorang preman cari mati namanya, namun siapa sangka jika gadis kecil itu adalah seorang atlit taekwondo dengan sabuk hitam yang sudah beberpa kali memenangkan pertandingan. El memang atlit taekwondo bukan hanya El, Ezra pun sama, Gerald memasukan anak-anaknya ke club taekwondo untuk belajar bela diri agar saat dalam keadaan genting mereka bisa melindungi dirinya sendiri. Dan tadaa usaha Gerald tidak sia-sia, bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi El juga bisa membantu orang lain. Lima belas menit kemudian Preman-preman itu sudah tergeletak tak berdaya, dengan sisa tenaga yang ada El lantas membawa laki laki yang di perkirakan seumuran dengannya itu ke rumah sakit, beruntung ada mobil yang lewat langsung saja ia hentikan mobil itu untuk meminta pertolongan. *** Bau obat-obatan menusuk indra penciuman, gadis itu masih setia duduk di bangku rumah sakit sedari satu jam yang lalu, ia duduk tepat di depan ruangan laki laki yang ia tolong. Sebenarnya El ingin pulang tapi ia tidak tega. Ia juga tidak tau harus menghubungi siapa, mengenal laki-laki itu saja tidak, gimana mau mengabari keluarganya. Ceklek Dokter keluar menghampiri El dan mengatakan bahwa pasien sudah siuman bahkan sudah bisa di jenguk. El masuk ke dalam ruangan dimana laki laki itu dirawat, ia menarik kursi yang ada di samping ranjang. "Gimana keadan lo?" "Better" ucap laki laki itu sambil berusaha untuk bangkit dari pembaringan. Karena merasa kesulitan, El akhirnya membantu laki laki tersebut untuk duduk, laki-laki itu memperhatikan wajah cantik El. Melihat pakaian sekolah, jam tangan, tas dan segala yang El kenakan laki laki itu yakin bahwa gadis yang menolongnya adalah orang kaya buktinya dia juga bisa membayar biaya rumah sakit untuknya. "Lo yang nolongin gue?" "Ck, emang ada orang lain selain gue?" ketus El "Bodoh" lanjutna. "Bener juga, btw thanks ya" laki laki itu berkata tulus sambil memberikan senyumannya yang membuat kadar ketampanannya bertambah. El sedikit tertegun melihat senyuman itu, namun ia segera menetralkan kembali ekpresinya sebelum laki laki itu menyadarinya. "Hemm sama-sama" jawab El dengan nada datar. Laki laki itu terus saja menatap El membuat ia merasa tidak nyaman. "Ngapain liat-liat" berang El "Gua punya mata" bener juga, El lantas mengabaikan laki-laki itu. "Nama lo siapa? Gue Vino" Laki laki itu mengulurkan tangannya, El pun menyambutnya "Grizellie" singkat padat dan jelas "Nama yang cantik, secantik orangnnya" namun itu hanya ia katakan dalam hati. "Lo gak pulang? udah jam11 sekarang, keluarga lo pasti nyariin" tanya Vino sambil memperhatikan wajah cantik El "Gue gak mungkin ninggalin lo sendirian" Vino sedikit tertegun dengan jawaban El, meskipun terkeasan dingin, tapi gadis itu care juga. El memang cuek dan sedikit dingin pada orang yang tak di kenal, bukan berarti dia sombong, hanya saja ia terlalu malas berurusan dengan orang-orang terutama laki laki, kecuali keluarganya. El berpikir sejenak benar juga pasti keluarganya sangat khawatir sekarang, Papa dan kakanya pasti sedang kesulitan mencarinya. Ponselnya juga mati, ia tidak bisa menghubungi siapapun "Kenapa lo ga hubungin keluarga lo?" El menghembuskan nafas kasar kalo bisa El sudah menghubungi keluarganya dari tadi "hp gue mati" ucap El sekenanya. Disisi lain, tepatnya dimansion keluarga Abraham tengah dilanda kepanikan pasalnya putri satu satunya di keluarga itu tak ada kabar berita padahal hari sudah sangat larut. Gerald telah mengerahka seluruh anak buahnya untuk mencari putri kesayangannya, belum lagi istrinya tak henti menagis menambah suasana menjadi lebih kacau. Di tengah kepanikan tiba-tiba ponsel Gerald berdering tertera nomer telpon tak dikenal di layar, Gerald awalnya enggan untuk mengangkat telpon itu tapi setelah di pikir-pikir siapa tau ada kabar mengenai putrinya. "Hallo Papa" terdengar suara seorang gadis yang tengah ia cari di sebrang sana "Hallo El, ini kamu sayang, kamu dimana? Kamu baik baik aja kan sayang? Kenapa tidak memberi kabar sama Papa? Papa khawatir, cepet kirim lokasi kamu Papa jemput sekarang" cerocos Papa sepanjang kereta api, rasnya kuping El panas. Tangis Lily berhenti saat mengetahui yang menghubungi suaminya adalah putri kesayangannya, hatinya sedikit lega. "Papa satu satu dong kalo nanya, El kan bingung jawabnya. Papa kaya ibu ibu rumpi, cerewet" kesal El dengan nada manja tanpa sadar ia mengerucutkan bibirnya dan semua itu tidak luput dari pandangan Vino sedikitpun. "Gemes banget sih, ternyata lo manja ya.. tapi kenapa kalau sama gue, lo galak" batin Vino tak disadari sudut bibirnya tertarik sedikit menampilkan senyuman. Gerald terkekeh mendengar pernyataan putrinya "iya, tapi kamu baik baik aja kan? Sekarang kamu dimana biar Papa jemput" tanya Gerald sekali lagi "El baik baik aja Pa, tapi sekarang El ada di rumah sakit--" "APA!!?" belum sempat melanjutkan perkataannya, Gerald sudah berteriak memotong ucapannya "kamu di rumah sakit mana? biar Papa jemput sekrang!" Ucap Gerald dengan nada panik "El di rumah skait XXX Pa di ruangan anggrek No.215 tapi buk--" Tut Sambungan terputus sepihak sudah di pastikan papanya pasti pergi mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata alias ngebut. "Yah, dimatiin" "Makasih ya sus" El mengembalikan ponsel milik suster yang tadi ia pinjam "Sama sama" suster itu pun berlalu disertai senyuman manis tapi ke arah Vino, El memutar bola matanya malas "Genit" batin El "Lo gamau ngehubungin keluarga lo?" Kali ini El yang bertanya pada Vino, laki laki itu hanya menggelengkan kepalanya. El memilih diam tak bertanya lagi sebab itu adalah haknya, Vino pasti memiliki alasan mengapa ia tidak ingin menghubungi keluarganya, setelah itu tidak ada lagi percakapan antar keduannya hanya ada keheningan, hingga beberapa menit kemudian- BRAKK!! Pintu ruang inap Vino kerbuka dengan kencang, seorang pria paruh baya masuk di ikuti lima bodyguardnya. Pria dengan perawakan tinggi, tegap, berwajah tampan berhambur kearah El menarik gadis itu kedalam pelukannya. "Sayang kamu baik-baik aja kan?, kamu gak ada luka kan?" Pria itu kembali memutar mutar badan anaknya takut-takut ada yang lecet. "Pa.. El baik-baik aja, yang sakit itu bukan El Pa tapi dia" gadia itu melirik ke arah Vino Gerald menaikan sebelah alisnya, lalu pandangannya mengarah pada laki-laki yang sedang duduk bersandar dengan bantal sebagai tumpuan, laki laki itu menatap dengan kebingungan melihat tingkah pria yang ia yakini adalah Papanya El, sebab wajahnya mirip. "Hey boy.. siapa namamu?" Tanya Gerald "Nama saya Vino om" lalu Vino tersenyum. El baru sadar ternyata senyum Vino sangat manis ada lesung pipit di kedua pipinya. "Saya Gerald" "Apa yang terjadi hingga seperti ini?" "Tadi saya terkena musibah, tapi untungnya ada anak om yang menyelamatkan saya" "Dimana keluarga mu? Apa mereka tau keadaan mu?" Vino tersenyum kecut "orang tua saya di luar negri om, mereka sedang melakukan perjalanan bisnis" ucap Vino lirih "It's ok, kamu bisa ikut kami untuk sementara waktu kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di mansion kami sampai kesehatan mu pulih". "Tidak usah om, saya mau pulang aja sebentar lagi supir saya akan sampai" bohong, dia belum menghubungi siapapun, hp nya hilang saat melawan preman tadi, lagi pula Vino tidak ingin merepotkan orang lain. "Lo yakin? gue rasa lo masih butuh perawatan sampai beberapa hari mending lo ikut kita" sadar atau tidak ini adalah kata kata terpanjang El kepada Vino. "Gue di rawat disini aja" "Ya sudah kalau itu mau kamu kami pamit, jaga diri kamu baik-baik" Gerald menepuk bahu Vino, ia sangat senang dengan perlakuan Gerald seketika hatinya menghangat. "Besok gua jenguk, pulang sekolah" meskipun dengan nada datar tapi Vino senang karena masih ada orang yang perhatian terhadapnya. *** Baru saja El membuka pintu sang Mama dengan mata sembab berlari berhambur memeluknya dengan erat. "Ma.. El gak bisa napas Ma" Lily kerkekeh mendengar pengakuan anaknya "maaf, Mama khawatir" baru lepas dari pelukan Lily tiba-tiba datang manusia rusuh memeluknya dari belakang siapa lagi kalo buka Ezra. "Gue cari ke rumah temen-temen lo tapi gak ada, lo abis dari mana? jam segini baru pulang, kita semua kan khawatir" Ezra masih mendekap tubuh adiknya "Papa ke dua" gumam El pelan. Semua anggota keluarga sangat lega begitu pun dengan para maid dan pekerja lainnya karena nonanya sudah pulang dengan selamat, berlebihan memang tapi semua itu ada alasannya. Sampai dikamar El langsung membersihkan diri lalu ia merebahkan tubuhnya di kasur berukuran king sizenya, waktu sudah menunjukan pukul setengah 12 namun mata hazelnya masih belum bisa terpejam. Seketika El meringis merasakan sakit di sekitar bahu, ia baru tersadar bahwa bahunya memar akibat pukulan preman tadi dan rasa sakitnya baru terasa sekarang. El mencoba memejamkan matanya, ia tidak berniat mengobati memarnya "Besok juga pasti sembuh sendiri" pikirnya, tak lama kemudian El sudah terlelap di alam mimpi. *** Hy gaes, gimana suka gak sama ceritanya? Kalo kalian suka, gue jadi makin semangat nulisnya jangan lupa di follow ya. Thanks udah nyempetin waktunya buat baca cerita gue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD