Menjenguk

2072 Words
Flashback on "Tuan muda kabur lagi, cepat temukan sebelum nyonya dan tuan besar pulang" ucap pria berkepala plontos bertubuh kekar kepada anak buahnya. Sekitar delapan mobil rubicon hitam keluar melewati gerbang sebuah mansion megah, mobil-mobil itu berpencar menyusuri setiap jalanan kota mencari seorang anak laki laki yang mereka sebut tuan muda. Sementara di tempat lain Seorang laki laki sekitar umur 17 tahun tengah berjalan sempoyongan, sepertinya laki laki itu sedang dalam pengaruh minuman keras. Saat ia berjalan di jalanan yang sepi, ia di hadang oleh tiga orang preman, preman itu menelisik penampilan laki laki tersebut dari atas sampai bawah. "Keliatannya ni bocah orang kaya bos" seru pria berambut gondrong "Bener juga, jamnya pasti mahal" ucap pria yang di sebut bos. Matanya berbinar melihat jam tangan rolex yang berkilau melingkar cantik di lengan laki laki itu. "Udah sikat aja bos, dompetnya juga pasti tebel tuh" Pria bertubuh krempeng menunjuk saku celana laki laki itu yang terlihat mengembung. Dalam keadalan kesadaran 20% laki-laki itu berusaha memberontak tapi dengan memudah ke ketiga preman itu merebut barang-barangnya. Laki laki itu mengumpat, sumpah serapah keluar dari mulutnya sehingga membuat ketiga preman itu naik pitam dan salah satu dari preman tersebut menancapkan pisau di perutnya, ya laki laki itu adalah Vino. Flashback off Seorang gadis cantik dan laki laki tampan berjalan beriringan di koridor sekolah. Semua mata tertuju pada mereka karena pesona mereka begitu kuat, siapa lagi kalau bukan El dan Ezra kedua kakak beradik itu memang magnet untuk semua orang. Banyak pasang mata memperhatikan mereka, tapi keduanya tak peduli, mereka sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu, XII-IPA 1 adalah kelas Ezra setelah sampai di depan pintu Ezra segera masuk kedalam kelasnya, "Gue duluan, belajar yang rajin" Ezra mengelus kepala adiknya sebelum masuk ke kelas, pekikan siswi-siswi terdengar nyaring di telinga El. gadis itu melanjutkan langkahnya menaiki tangga satu persatu menuju kelasnya, XI-IPA 1 di lantai dua. El berjalan di koridor dengan santuy sampai tiba tiba- "ELLLLLLLLL" suara cempreng menggelegar di sepanjang koridor membuat si empunya nama mau tak mau menghentikan langkahnya. Ya siapa lagi kalau buka Clara, gadis itu berlari menghampiri El tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang seperti ingin menelannya hidup-hidup. "Apa liat liat, pengen gue colok?" Seru Clara sabil mengerakan tangannya seperti ingin mencolok, seketika mereka semua langsung mengalihkan pandangannya. "Si Clara buset dah cantik cantik suaranya, inalillahi" ucap salah satu siswa sambil mengusap kuping. "Iya cantik banget padahal, mukanya imut-imut tapi suaranya amit-amit, tadinya mau gue gebet jadi pacar. Tapi kayanya gue gak sanggup, bisa pecah gendang telinga gue" bisikan bisikan itu terdengar di telinga Clara dan El "Eww, lagian siapa juga yang mau pacaran sama baut tamia, huh" ucap Clara sambil memasang wajah sinis "Okay, back to the topic. El, lo semalem pergi kemana? Lo tau gak sih? kak Ezra ke rumah gue nyariin lo" ucap Clara sambil menyeimbangkan langkahnya dengan El. "Ya, gue tau" jawab El sekenanya. Sesampainya di kelas El langsung meletakan tasnya dan duduk di bangku. Bangku Clara tepat di depan bangku El, setelah meletakan tasnya, Clara berbalik menghadap ke arah El. "Terus lo kemana semalem?" Tingkat kekepoan Clara setinggi langit, seluas samudra, sedalam lautan. Canda, sayang. Lebay. "Rumah sakit" balas El "What!! Lo sakit?" "buka gue yang sakit" "Terus siapa?" Jean dan Sera yang baru sampai di kelas tiba tiba ikut nimbrung, El akhirnya menceritakan kejadian yang semalam ia alami pada mereka bertiga. "Cowoknya ganteng gak? Orang kaya bukan?" Tanya Clara bertubi-tubi "Yeu, jomblo karatan" ucap Sera enteng. "Mentang-mentang punya pacar, ngatain orang sembarangan!" ucap Clara sinis menirukan iklan permen s**u, yang jomlo bukan hanya Clara, El dan Jean yang merasa tersindir pun langsung mendelikan mata. "Ups gue lupa, yang jomblo ada tiga Wkwkwk" tawa Sera pun pecah. "Gue sumpahin lo, putus sama Revan besok!!" Ucap Clara berapi-api, ia tidak terima di sebut jomblo karatan karena menurutnya dia itu termasuk golongan jomblo terhormat dan berkelas. "Mulut lo ya Cla, belom pernah gue sumpel pake kaos kaki si didin" Sera yang gemas akhirnya menoyor dahi Clara hingga kepalanya terhuyung sedikit. Clara tidak memperdulikan ucapan Sera, lebih baik jomblo cantik ngomong yang berpaedah dari pada ngeladenin nyai ronggeng, Clara kemvali fokus ke El "Jadi cowoknya ganteng gak?" "Ganteng" jawab El singkat jelas padat. "Wah, lumayan tuh bisa gue embat" mata Clara langsung berbinar mendengar kata ganteng. "Si Clara mah semangat banget kalo denger cowok ganteng. Kalau liat cowo ganteng dikit aja di pandangin sampai ileran, apa lagi kalau gantengnya kaya Zayn Malik, bisa kejang tujuh hari tujuh malam" "Iya lah, liat cowok ganteng tuh kaya minum vitamin, segerrrrr, bagus untuk kesehatan jasmani dan rohani" "Lebay lo" "Lo mau jenguk dia lagi?" Tanya Jean pada El ia tak memeperdulikan ucapan unfaedah Clara El mengangguk pelan "Kalian mau ikut?" "Kuy lah" *** "OMG!!! jadi lo yang namanya Vino? ganteng banget ya lordddd" teriak Clara histeris sedangkan Vino miringis mendengar teriakan Clara. "Buset, gue rasa ni cewek abis nelen speaker tahu bulat. suara nya kenceng banget" batin Vino "Clara bisa diem gak? gak usah pecicilan!" sentak Jean "Ihh, bilang aja Jean iri" Jean memutar bola matanya "Kita lagi di rumah sakit Cla, bukan di hutan. Jangan triak, ganggu orang istitahat!" Sera memberi pengertian "Iya, maaf" "Ini kita bawain lo buah" Sera meletakan buah-buahan ke atas meja nakas sebelah kasur, sebelum kerumah sakit mereka pergi ke supermarket untuk membeli buah, kan gak enak kalau jenguk gak bawa apa-apa. "Thanks" ucap Vino tulus, meskipun iya masih bingun siapa gadis-gadis ini, yang Vino kenal haya satu yaitu El, mungkin mereka adalah teman- teman El pikir Vino. Clara mengulurkan tangannya "Hy ganteng, kenalin nama gue Clara Audya Mahesa cewek paling cantik, kembaran Gigi Hadid" ucap Clara penuh percaya diri, membuat Jean, Sera, dan El mual mendengarnya, Vino menyambut uluran tangan Clara "Xavino Alexander" "Omg tangannya halus banget, mukanya juga glowing, gue aja kalah glowing. Itu mata lo warnanya abu-abu, lo pake soflents?" Vino menggeleng "Asli" "Udah, minggir! kelamaan basa-basinya. Keburu lumutan gua liatin lo" Sera sedikit menggeser tubuh Clara menjauh dari Vino. "Hy, kenalin gua Serafina Brown. Sebelah gue Jeana Lincoln kita sahabatnya El" mereka mengulurkan tangan dan dibalas oleh Vino. "Gimana keadaan lo?" Akhirnya El buka suara setelah sekian lama diam. "Jauh lebih baik, niatnya gue mau pulang hari ini" "Kenapa? Luka lo kan belum sembuh." Nada ucapannya sih datar tapi menyiratkan kepedulian. "Lo gak usah khawatir, gue baik baik aja, bahkan gue udah pernah dapetin yang lebih parah dari ini" "Ck, siapa juga yang khawatir. PD lo" "Gausah malu gitu kali El, kalau khawatir ngaku aja" Sera menaik turunkan alisnya sambil merangkul bahu El. "Awww" El yang merasa kesakitan reflex menyentak tangan Sera kasar "Lo kenapa?" ucap Sera panik Tanpa banyak bicara Jean segera memeriksa bahu El, ia terkejut melihat bahu El yang sudah membiru. "Bahu lo memar. Ko bisa sampe gini?" Tanya Jean khawatir "Gak apa apa ko. Bentar lagi juga pasti sembuh" ujar El santai "Gak apa apa gimana, bahu lo biru-biru gitu" Sera sedikit menaikan intonasinya "Bentar, gua panggil dokter dulu" Clara berlari keluar ruangan Vino Tak lama kemudian, dokter datang untuk memeriksa keadaannya, dokter mengoleskan salep dan memberika resep untuk meredakan rasa sakit, seharusnya jika segera di obati memarnya tidak akan separah ini. "Sekarang jelasin, kenapa bahu lo memar?" tanya Sera penuh selidik "Jangan bilang, bahu lo memar kaya gitu gara-gara gue" ucap Vino merasa bersalah. "Ck, gua gak apa apa. Udah gausah lebay, ini kan cuma memar doang" "Maaf gue udah banyak repotin lo. Gue udah bikin lo celaka" Vino menundukan kepalanya. "Sekarang kan udah di obatin. Lo gak usah merasa bersalah kaya gitu, lagian gue ikhlas nolongin lo" "Thanks" "Hmm" Mereka bincang panjang lebar, dan bercanda ria meskipun yang paling banyak cerita adalah Clara ya kalian tau sendiri El sama jean irit ngomong, setelah satu jam Ke-4 gadis itu pun berpamitan untuk pulang. Tanpa mereka sadari ada seorang pria berpakaian serba hitam mengawasi mereka, pria itu menelpon seseorang di sebrang sana. "hallo, saya sudah menemukan keberadaan tuan muda dia berada di rumah sakit XXX di ruang anggrek No. 215 dalam keadaan terluka, sepertinya tuan muda terkena luka tusuk". "..." "Baik" Setelah kepergian ke-4 gadis cantik itu, Vino juga bersiap untuk pulang ke rumah. Saat ia bangkit dari kasur pintu ruangannya terbuka, dan seorang pria berkepala plontos masuk kedalam, Vino sangat mengenal orang itu. "Tuan muda, apa anda baik baik saja?" James menatap keadaan tuan mudanya penuh lebam, dan memar juga terdapat luka di perut yang sudah di perban, sangat menghawatirkan. "Gue baik baik aja James, sekarang gue mau pulang" "Baik, mari saya bantu tuan muda" Vino mengannguk dengan sigap James membantu Vino duduk di kursi roda. "James, gue minta rahasiain semua ini dari daddy dan mommy jangan sampai mereka tau" James mengangguk "Baik tuan muda" ia mengerti jika sampai tuan besarnya tau pasti akan marah besar. *** Seminggu telah berlalu Setelah El dan ke-3 sahabatnya menjenguk Vino di rumah sakit, itu adalah kali terakhir El dan Vino bertemu. Hingga saat ini mereka tidak pernah bertemu kembali. Kini gadis bermata hazel itu sedang berada di kelasnya, tengah fokus mengerjakan tugas fisika dari Pak Bambang. Tetttttt tettttttt "Yeyyy bell istirahat" semua murid bersorak sorai dengan riang membuat kelas yang tadinya hening menjadi gaduh. "Oke anak anak, sampai ketemu minggu depan jangan lupa megerjakan PR di buku paket halaman 53" setelah mengatakan itu Pak Bambang pergi meninggalkan kelas. "Kuy guys, kita ke kantin" ajak Sera, ke-4 gadis cantik itu langsung bangkit berjalan keluar kelas. Sepanjang koridor banyak pasang mata yang tertuju pada mereka, Ke-4nya memang sangat mempesona kaya, pinter, cantik dan bertalenta paket komplit sekali. Clara juga pinter guys cuma rada lemot. Sesampainya di kantin seperti biasa mereka duduk di meja favorite mereka dekat jendela. "Gue mau beli teh botol, ada yang mau?" "Mau" ucap ketiganya bersama. "Oke" El berjalan menuju lemari pendingin. "Berhubung hari ini gue lagi seneng karna bokap gue beliin hp baru, gue taktir kalian mie ayam bakso, gimana?" "Boleh tuh" ucap Sera girang sedangkan Jean seperti biasa hanya mengguk sebagai jawaban, senangnya hari ini penuh dengan teraktiran. El mengambil minuman di tempat pendingin sedikit kesulitan. Saat salah satu botol yang El pegang akan jatuh, tiba-tiba ada tangan kekar yang meraihnya. "Biar gue bantu" El yang tadinya menunduk seketika mendongak, menatap si empunya suara karena lebih tinggi darinya. Jovan, ya laki laki itu adalah Jovan "Gak usah, gua bisa sendiri" El ingin meraih minuman di tangan Jovan, tapi dengan sigap laki laki itu memundurkan tangannya, dan tanpa aba aba ia merebut satu lagi minuman yang ada di tangan El. "Udah gak usah nolak, gue liat lo kesusahan bawanya" ucap Jovan Akhirnya El pun pasrah karena ia malas berdebat, membiarkan Jovan membantunya. Jovan merasa senang sampai ia takhenti tersenyum. Setelah El membayar minumannya ia dan Jovan berjalan menuju meja yang di duduki oleh teman-temannya, sebenarnya tadi Jovan juga memaksa untuk membayar minuman yang di beli El, tapi gadis itu menolak keras, akhirnya Jovan pasrah. "Hy, nih minumannya" Jovan mengulurkan tangannya, meletakan minuman yang ia bawa di atas meja. "Ehh, ko lo sih yang bawa minumannya" Sera meraih minuman yang di bawa Jovan. "Iya, tadi gua liat El kesusahan bawanya" Sera mengangguk anggukan kepalanya mengerti. "Woii Jo, ngapain lo?" Teriak Ezra datang dari pintu kantin berjalan ke arah Jovan lalu merangkul bahunya. "Ng-nggak ngapa-ngapain ko, tadi cuma bantu El doang bawain minuman" jawab Jovan sedikit kikuk sebab Ezra tau Jovan menyukai adiknya. "Haha santai kali Jo" "Guys gue duluan ya ada rapat OSIS" Jovan melambaika tangannya lalu pergi meninggalkan kantin. Setelah kepergian Jovan, Ezra belum juga beranjak dari tempatnya, rasa haus tiba tiba menerpa dirinya saat melihat minuman dingin dengan bulir bulir embun yang menggoda tenggorokan, terpampang nyata di hadapannya, tanpa berpikir panjang ia langsung nyamber minuman itu tanpa permisi. "Kak Ezra ihh, itu minuman gue!!" Pekik El membuat pandangan orang orang yang ada di kantin tertuju padanya, tapi lagi lagi ia tak peduli. "Yaudah sih, minta dikit aja pelit amat jadi ade" adik kakak itu selalu bertengkar dimana pun dan kapanpun, setelah ngembat minuman El hingga sisa setengah, tanpa merasa bersalah Ezra pergi meninggalkan el, menghampiri teman-temannya yang duduk di meja belakang. "Dasar, Ezra k*****t!!" Walaupun kesal tapi tetap El minum juga tu minuman bekas Ezra yang tinggal setengah, tenggorokannya mendadak kering. "Yuhuuu mie ayam datangggggg, mang ujang mie ayamnya taro sini aja" Clara menunjuk meja yang di tempati ke-3 sahabatnya, ia datang bersama mang ujang di belakangnya membawa nampan ber isi empat mangkok mie ayam bakso. "Silahkan neng" mang ujang menaruh mangkok mie ayam satu persatu ke atas meja setelah itu pergi kembali ke asalnya. makasih guys udah baca cerita gue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD