*** Brianna menatap gaun putihnya yang sampai di mata kaki. Menemukan satu wajah yang balas menatapnya dalam kelamnya hati dan juga raga. Dia sangat lelah, dia tidak melakukan apapun tapi dia begitu merasa lelah. Tapi segala penantiannya akan terbayarkan hari ini. Segala lara sedihnya akan berakhir hari ini. Dia tidak bisa tidak mensyukuri hal itu tapi juga dia tidak bisa merangkai senyuman untuk kesenangannya. Setidaknya dia bisa merasakan setitik lega di hatinya. Walau pada dasarnya senyum memang tidak pernah bisa lagi ada di bibirnya. Dia tidak tahu lagi cara tersenyum. Segala senang dalam dirinya telah terenggut paksa sejak kejadian satu minggu yang lalu. Ketika kekasihnya pergi menyongsong mautnya di depan matanya. Demi memuaskan hasrat egois Brianna yang menginginkan sebuah penebus

