Tidak seperti biasanya Vanka dan Cia hanya menikmati makan siang dengan menu-menu yang ada di kantin sekolahnya.
Kali ini Vanka mengajak Cia makan siang di salah satu restoran yang ada di Jakarta selatan. Hari ini sekolah dibubarkan lebih awal karena para guru sedang mengadakan meeting untuk menyusun materi pelajaran yang akan digunakan sebagai soal uji kompetensi untuk kakak kelas Vanka yang hanya beberapa bulan lagi bersekolah di sini.
Vanka mengajak Cia makan di salah satu warung makan, yang menyediakan menu spesial daging iga.
Menu iga barbar seberat 1 kilogram. Dengan empat jenis sambal yaitu sambal bawang, sambal matah, sambal terasi dan sambal dabu-dabu. Menjadi menu andalan di tempat ini.
"Lo jadi? Mau gantian sama gue buat ke rumah si Aeere?" tanya Vanka menatap Cia yang baru selesai menuliskan menu pesanan mereka di secarik kertas. Lalu memanggil pelayan untuk memberikan secarik kertas tadi.
"Jadi kak, kan kita sepakat buat gantian," jawab Cia setelah pelayan pergi dari meja mereka.
"Yakin? Lo nggak akan kuat, mending nggak usah aja ya. Biar Gue aja."
"Nggak kak biar gue aja, kita harus adil kak, yang satu sakit, yang lain juga harus merasakan sakit. Sahabat yang benar itu. Ada dikala kita susah maupun senang."
"Uhh sweetnya kata-kata bocil kesayanganku ini," ujar Vanka gemas menangkup gemas pipi Cia.
"Is apaan sih kak, aku nggak bocil ya. Kita hanya beda setahun. Ukuran bra gue aja lebih besar dari lo. Punya gue 36 punya lo 34," celetuk Cia yang membuatnya mendapat sentilan di dahinya. Gadis manja itu pun meringis kesakitan.
Vanka ingin mengomeli sang sahabat yang dia ketahui sangat polos, ternyata bisa bercanda seperti itu. Namun gadis itu mengurungkan niatnya, karena pelayan sudah datang membawakan makanan untuk mereka.
Dua sahabat yang seperti kak beradik ini mulai tenggelam dengan makanan yang ada di depan mereka.
Iga juga minuman yang kedua gadis itu pesan, kini sudah tandas berpindah tempat.
Kedua gadis itu pun beranjak dari tempat duduk mereka, setelah meninggalkan uang di nampan kecil sesuai dengan jumblah rupiah yang ada di bil tagihan mereka.
Awan mendung mulai menyelimuti langit siang hari ini, Membuat kedua gadis itu berlama-lama berkandara dengan motor ini, ingin menikmati sejuknya udara siang hari ini.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah Aeere, sebelum turun dari motor. Sekali lagi Vanka bertanya apa benar Cia yakin ingin bergantian dengannya. Jawaban gadis manja itu tetap sama.
Vanka pun mengalah. Dia mengantar Cia bertemu Aeere. Sebelum iya pergi dari rumah gadis yang sering mengganggunya itu. Vanka sempat berbisik kepada Aeree jika berbuat macam-macam. Gadis akan akan mendapat balsan dari dirinya.
Gadis itu pun hanya mengangguk samar saat mendapat bisikan mengancam seperti itu. Tapi bukan Aeree namanya jika ia megindahkan ancaman Vanka.
Hujan deras tiba-tibah tercurah saat Vanka masi di jalan hendak pulang ke rumah Hara. Dia sedikit mempercepat laju motornya untuk mencari teduhan.
"Oh god, kenapa saat gue bawa motor hujan selebat ini. Nyesal nukar mobil tadi pagi tau gini kan pulang sekolah aja gue tukar mobilnya," gerutu Vanka kesal mengelus tangannya kedingin saat sudah berdiri di salah satu ruko.
Mendadak dia kepikiran Cia. Perasaan Vanka tidak enak. Bagaimana jika Aeree meminta Cia untuk melakukan pekerjan di tengah hujan lebat seperti ini.
Dengan Segara Vanka kembali menghidupkan mesin motornya, mulai melajukan motornya menembus hujan yang masih lebat.
Gadis manja cenderung bodoh itu pasti akan menurut apa yang di minta oleh Aeree. Cia akan menurut meski hanya dengan bentakan.
Kalau dulu Mamanya yaitu Adel, dengan semangat yang mengebu, akan menghadapi siapapun yang mencari masalah dengannya.
Lain halnya dengan Cia yang bahkan mematikan semut saja tidak tega. Benar saja dugan Vanka, saat dia baru saja sampai di pelataran rumah Aeree. Gadis itu melihat Cia sedang memindahkan pot bunga dengan keadaan yang basah kuyup.
Cia yang kaget melihat sang sahabat balik lagi. Hanya mengerjab beberapa kali, lalu menaruh kembali pot bunga yang ada di tangannya.
"Bodoh! Kenapa lo mau aja di suruh hujan-hujanan seperti ini?" tanya Vanka setelah menarik Cia ke teras rumah Aeree.
"Ya ... kan gue cuma melakukan apa yang diminta dia kak. Perjanjiannya kan gitu," jawab Cia dengan bibir bergetar karena kedinginan, tanganya juga meraup air yang membasahi wajahnya.
"Dasar o'on, mau aja di suruh seperti ini, seharusnya lo ngelawan dong. Nggak mesti lo lakukin permintaan dia yang nggak masuk akal itu. Seandainya lo diminta nabrak orang pakai mobil dia, masih mau lo lakuin juga?" tanya Vanka gemas sedikit mencengkram bahu sahabatnya itu.
"Ya … ya nggak mau lah kak,"
"Ya sudah ambil tas lo sekarang kita pulang."
Cia pun melangkahkan kakinya ke dalam rumah untuk mengambil tas.
Aeree juga Zea yang melihat Cia masuk pun beranjak dari sofa yang didudukinya menghampiri Cia.
"Mau kemana lo? Emang pekerjan lo sudah selesai?" tanya Aeree menarik tas Cia.
"Iya, kalaupun sudah selesai bukan berarti lo boleh pulang. Masi banyak pekerjaan yang menanti lo," timpal Zea memberi tatapan sinis.
"Siapa yang bilang kalau dia nggak boleh pulang?"
Aeree juga Zea pun kaget mendengar suara lembut Vanka tapi terdengar menakutkan di telinga kedua gadis itu.
"Lo nggak ada takut-takutnya dengan peringatan gue tadi! Jangan sampai lo menyesal karena udah mengabaikan pringatan gue."
"Dengar baik-baik, gue juga Cia mau melakukan beberapa printah lo itu. Bukan karena takut sama lo, tapi kami hanya menepati janji yang sudah dibuat. Jadi hanya karena lo yang menang bukan berarti lo bisa semena-mena sama kami," tukas Vanka lalu menarik tangan sang adik untuk segera keluar rumah. Meninggalkan Aeree yang ingin menjawab Vanka namun urung takut semakin membuat emosi Vanka meledak.
Karena sudah terlanjur basah kuyup. Setelah memasang helem di kepala Cia. Vanka pun memilih segera pulang, berkendara meski sedang hujan.
Sampai di rumah Cia dan Vanka bergantian mandi, lalu menghampiri. Hara yang tengah memberi s**u ke baby chloe.
"Minum ini, kak Vanka. Cia. Agar nggak masuk angin, bik ana juga lagi buatkan teh untuk kalian," ucap Hara memberi dua sachet obat anti masuk angin. Agar tidak sakit setelah hujan-hujan tadi.
Cia menolak untuk minum obat, karena gadis itu memang tidak pernah suka meminum obat jenis apapun. Kalau sakit harus susah paya Mama dan Papanya membuatnya meminum obat.
Vanka pun berhasil membuatnya Cia membuka mulut, saat gadis itu ingin menyuapkan obat yang dipegangnya.
Dengan wajah masam Cia berusahan menelan obatnya lalu dengan segera meneguk air mineral yang ada dihadapannya.