Hilang akal karena cinta

1316 Words
Setelah sholat subuh. Vanka membangunkan Cia untuk cepat bersiap segera pulang ke rumah Hara. Meski dengan rengekan, akhirnya Cia mau bangkit dari ranjangnya. Setelah mencuci muka dan gosok gigi, kedua gadis itu turun ke lantai bawah. Menghampiri Luna juga Adel yang ternyata sudah berada di dapur. "Loh! Tumben para anak gadis ini pagi-pagi sekali udah mau melepas selimutnya," Celetuk Adel yang di angguki Luna. "Hehe iya Onty, kami mau pulang ke rumah Hara. Vanka juga Cia kan nggak bawa seragam saat ingin kemari," sahut Vanka sembari menuang air putih ke gelasnya. "Kenapa pagi sekali pulang ke rumah Haranya, di luar juga masih agak gelap. Nanti saja pulangnya setelah sarapan," Kini Luna menimpali ucapan Adel. "Nanti telat ke sekolahnya Onty Lun, kami juga belum mandi," balas Cia setelah meminum air di gelas yang diisi Vanka bersama gelasnya. "Mandi aja dulu disini, nanti suruh sopir ambil seragam kalian," tukas Adel membuat Vanka mengerjap, mencoba berpikir memberi alasan yang lainnya. "Kami juga harus tetap pulang Onty, untuk menyusun buku mata pelajaran hari ini," sanggah Vanka membuat Adel mengangguk berpikir ada benar juga yang di ucapkan Vanka. "Heem, ya sudah kalau gitu kalian harus hati-hati membawa mobilnya. Mihu nggak akan kasih kamu bawa mobil jika sekali saja mengalami kecelakaan, Mihu nggak akan kasih kamu bawa mobil lagi," ujar Luna memberi peringatan. "Siap Mihu, Vanka akan selalu hati-hati. Kalau begitu kami pamit dulu Mihu, Onty," pamit Vanka mengecup kedua pipi Mihunya juga menyalami Onty Adelnya. Cia pun melakukan hal yang sama kepada dua wanita yang kesayangannya itu, lalu mengengkor sahabatnya yang lebih dulu berlalu. Vanka melajukan mobilnya cukup cepat, di jalanan yang masih sepi dari lalu lalang kendaran lain. Cukup menenangkan berkendara saat pagi hari seperti ini, dengan terpaan khas angin pagi yang sejuk. Kini mobil Vanka, sudah sampai di pelataran rumah Hara. Kedua gadis itu keluar dari mobil sportnya, mencoba menekan bell dengan ragu, karena tidak ingin mengganggu penghuni rumah jika masih tidur. Tidak lama Bik Ana membukakan pintu untuk mereka. "Pagi Nona Vanka juga Nona Cia, silahkan masuk," sapa Bik Ana membuka lebar pintu memberi jalan masuk. "Pagi Bik," jawab kedua gadis itu bersamaan. Vanka menghampiri Hara yang masih tertidur di living room dengan satu tangannya berada di baby bounce milik baby Chloe. Vanka berinisiatif memberi nama itu, nggak lucu banget baby nggak dikasih nama. "Mandilah lebih dulu Ci, gue mau liat baby Chloe dulu." Cia pun mengangguk lalu berjak ke kamarnya. Perlahan menurunkan tangan Hara yang berada di atas baby Chloe. Gadis yang sedang tertidur itu pun tersentak karena sentuhan Vanka tadi. "Eh kak, sudah pulang! Jam berapa ini?" Hara melihat jam di ponselnya. "Astaga udah jam 06:15, cepat sekali pagi perasaan aku baru beberapa menit tidurnya," cicit gadis itu dengan suara parau khas bangun tidur. "Kamu kurang tidur ya? Baby Chloe rewel? Maaf ya, gue udah banyak merepotkan lo." "Eh nggak apa kok kak, cuma sedikit rewel aja nggak mau tidur di ranjang. Baby-nya baru nyenyak saat diayun." "Heem … tapi kalau tidur bareng gue dia nyenyak kok, tanpa diayun. Kenapa bisa gitu ya heran gue." "Gue nggak tau juga kak, mybee karena lo yang pertama gendong dia waktu baru ditemukan, terus lo juga kan yang menjaga dia semalam. Mungkin karena itu dia nyaman dengan lo, seperti saat bersama Mamanya sendiri." "Entahlah Ra, gue malah nggak kepikiran sampai sana. Intinya gue makasih banget atas semua bantuan yang lo berikan," pungkas Vanka tidak mau terlalu memikirkan hal seperti ini. "Iya kak, santai aja kalian berdua udah gue anggap keluarga gue sendiri, pamit mau mandi dulu ya." Luna mengangguk dengan senyum manisnya. Setelah puas memandangi, mengelus wajah mungil baby Chloe. Vanka pun beranjak ke kamar untuk mandi bersiap pergi ke sekolah. Ketiga gadis remaja yang sudah cantik dengan seragam wajib milik yayasan mereka. Kini tengan menikmati sarapan yang di siapkan oleh Bik Ana. "Ci! Sebelum ke sekolah, kita ke bengkel ya tukar motor gue. Nggak nyaman gue pakai tu mobil. Terlalu mencolok," tandas Vanka setelah menghabiskan sarapannya. "Iya gue ngikut lo aja kak, ya sudah ayok berangkat ntar jalanan terlalu ramai," ucap Cia beranjak dari meja makan. Saat Vanka kembali melajukan mobilnya yang sempat berhenti di perempatan karena lampu merah. Gadis itu merasa ada yang mengikuti mobil mereka. Dengan tetapi berusaha santai Vanka menambah kecepatan mobilnya. "Ada apa kak kok ngebut?" tanya Cia yang kaget karena tindakan Vanka yang mendadak. "Nggak apa biar cepat sampai di bengkel," jawab Vanka sembari berpikir mencari alternatif jalan lain. Setelah melewati beberapa ruas jalan yang baru kali ini dilewati Vanka. Mobil mereka sudah tidak diikuti lagi. Gadis itu pun sedikit memperlambat laju kendaraannya hingga mereka sampai di bengkel. Hanya menyapa sang montir dan memberi tau tujuannya datang ke bengkel. Vanka segera kembali melajukan motornya untuk sampai ke sekolah tidak sempat berbasa-basi dengan sang sopir. "Lo kenapa tadi kak? Itu tadi Mobil kita di ikuti ya?" tanya Cia setelah mereka sampai di parkiran sekolah. "Lo ngerasa juga ternyata," jawab Vanka santai sembari melepas helm Cia. "Kakak kenal kah siapa yang mengikuti kita?" tanya Cia mengikuti sang sahabat, yang sudah jalan lebih dulu. "Nggak tau itu siapa, kalau gue tau nggak mungkin gue ngebut." "Iya juga ya hehehe." Cia pun nyengir kaku. Menyadari kebodohan-nya. Vanka tidak mau ambil pusing dengan siapa yang mengikutinya, jika ada yang berniat jahat denganya. Sebisa mungkin dia akan membela diri dengan ilmu bela diri yang dimilikinya. Mereka pun berjalan masuk ke dalam kelas, menjalani kegiatan di sekolah seperti biasanya. Yang terkadang membosankan bagi Vanka. Mendengar para ciwi-ciwi yang merumpi cowok-cowok famous di sekolah, terkadang oppa-oppa yang sering Vanka dengar lagunya jika Cia memutar lagu itu saat mengacau di kamarnya. Tapi gadis itu tidak pernah hafal nama dari member grup idol itu. Gadis itu semakin bertambah jengah saat dirinya yang tengah di toilet, mendapati salah satu siswi meraung menangis curhat dengan salah satu temannya kalau siswi itu baru saja putus dengan pacarnya Vanka hanya berdecak miris saat mendengarkan tangisan siswi itu dari balik bilik toilet yang sebelah kirinya. "Ckh, dasar bodoh! Menangis hanya karena seorang pria yang tak patut ditangisi. Pria yang hanya tau memanfaatkan kelemahan wanita, membuatnya merasa sangat di butuhkan ckh," gumam Vanka menggelengkan kepala. "Jangan sampai gue jadi bodoh seperti mereka, kehilangan akal karena Cinta." timpalnya lagi. Vanka pun merapikan seragamnya, keluar dari toilet meninggalkan orang-orang bodoh itu. "Sudah selesai kak?" Tanya Cia yang Juga baru keluar dari bilik sebelah kanan. "Udah, yuk balik kelas. Gue mau ke perpus. Kelas sudah selesai kan?" "Iya kak, kelas selesai lebih awal karena ada turnamen basket antar sekolah. Ayok! Kelapangan kak, pasti banyak cogannya," ajak Cia penuh semangat. "Males ih, gue males dengar teriakan histeris gak jelas dari para cewek yang nonton pertandingan itu. Buang waktu dan tenaga tau gak yang dilakukan mereka." "Seru tau kak, ayo dong coba sekali-kali liat, pertandingan basket sekolah ini." "Gue udah sering liat kok, kalau kita sedang kelas olahraga." "Ih lain atuh kak, ini lebih seru kan antar sekolah," Cebik Cia dengan memanyunkan bibirnya. "Okelah, oke gue ikut, tapi gue gak mau lama-lama ya." "Yey, ya udah ayo kak." Vanka pun sedikit terseok karena Cia menarik tangannya, agar berjalan lebih cepat. Sampainya Cia dan Vanka di lapangan basket, hampir semua mata orang yang berada di situ menatap kedatangan kedua gadis itu. Sebab, pemandangan yang berada di arena basket ini benar-benar jarang terjadi. Mendapati Vanka duduk diantara barisan penonton yang riuh benar-benar pemandangan langkah, selama bersekolah di SMA Anahtar gadis itu tidak pernah mau ikut bergabung dengan keramaian yang ada di sekolahnya. Para pemain basket juga siswa lelaki lainya pun berlomba menebar senyum kepada salah satu deretan gadis tercantik yang memiliki senyum paling manis di sekolah ini, berharap mendapat balasan senyum dari Vanka. Sementara Vanka hanya, menatap datar yang melempar senyum kepadanya, gadis itu semakin jengah saat Bela bahkan Aeree mencoba mendekati ketua tim basket asal sekolahnya, berlomba mencari perhatian dengan memberi minuman ada juga mencoba membantu mengelap keringat menggunakan handuk kecil. .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD