Kasih Sayang

1162 Words
Malam semakin larut, kebersamaan tiga keluarga ini pun harus berakhir. Keluarga Deff pun sudah pamit pulang lebih dulu. "Kami juga pamit Mihu. Om dan Onty," pamit Vanka bersiap untuk pulang. "Loh kalian nggak menginap di sini? Menginap lah. Mihu masih kangen dengan anak gadis satu-satunya ini," tandas Luna yang menghentikan perbincangannya dengan Adel. "Iya, Cia juga ikut pulang ke rumah Mama, Papa yah. Kalian ini kalau nggak diminta pulang ke rumah jarang sekali pulang," timpal Adel. "Gimana ini kak, Kalau kita menolak untuk menginap mereka akan curiga?" tanya Cia mengirim chat kepada Vanka. "Hem … terpaksa kita harus menginap, tapi gue khawatir dengan babynya," balas Vanka. "Iya deh Mi, Vanka menginap di sini. Besok pagi pulang," ujar Vanka kaku. "Kalau begitu kami pulang ya Lun, salam buat Tuan Agam." "Menginaplah di sini Del." "Bagaimana Pa, Kita menginap disini?" tanya Adel kepada suaminya. "Menginaplah Rik," titah Agam yang kembali bergabung setelah urusan dengan toiletnya selesai. Jika sudah Agam yang meminta. Erik tidak akan bisa menolak, karena ini seperti perintah baginya. "Baiklah Tuan." "Kalian beristirahatlah, aku dan Erik ingin membicarakan sedikit hal penting di ruang kerjaku." Kedua pasangan ibu dan anak itu mengangguk, lalu beranjak ke kamar masing-masing. "Mihu ikut masuk ke kamar kamu ya nak." "Ayo, masuk Mi," ajak Vanka memberi ruang untuk Mihu nya. Luna memandangi sang putri yang tengah membersihkan wajahnya juga, mengaplikasikan skincare. "Bagaimana sekolahmu nak?" tanya Luna membuka pembicaraan. "Baik, Mihu tidak ada masalah yang berarti." "Oh, iya Mihu, tadi pagi ke apartemen ya? Maaf Vanka sibuk seharian ini, lupa ingin menghubungi Mihu," tutur Vanka menghampiri Luna. Lalu merebahkan kepalanya di paha sang Mihu nya. "Heem … apa terjadi sesuatu, sampai kamu nggak pulang ke rumah nak?" tanya Luna mengelus pucuk kepala sang putri. "Enggak ada masalah apa-apa kok Mi, Vanka hanya menginap di rumah temannya Cia, yang lagi butuh teman untuk sementara waktu ini." "Jadi Mihu nggak perlu khawatir. Vanka bisa jaga diri Mi. Vanka juga tahu batas-batas apa saja yang tidak boleh dilanggar oleh remaja seperti Vanka saat ini," imbuh gadis dengan senyum manis itu, mencoba menenangkan Mihu nya yang terlihat resah. Luna menangkup wajah sang anak, lalu mengecupi hampir seluruh wajah Vanka. Dia merasa sangat beruntung punya putri yang baik seperti Vanka. "Kamu emang anak kesayangan Mihu yang manis. Jika kamu punya masalah jangan ragu untuk cerita ke Mihu Mu ini nak. Mihu sangat menyayangimu nak. Istirahat lah," ucap Luna kembali mengecup kening sang putri. "Oh, iya Mihu. Untuk beberapa hari ini Vanka juga Cia bolehkan menginap di rumah Hara. Dia anak baik kok Mi. Orang tuanya ada di Itali." Luna mengangguk memberi senyum tipis. "Uhh, Mihu yang terbaik. Nice dream My Mihu," tutur gadis manis mengecup pipi Luna. "Nice dream to." Luna pun membenarkan selimut sang putri, lalu beranjak keluar kamar sembari mematikan lampu. Setelah kepergian Mihu nya. Vanka menghubungi Hara. Untuk bertanya apakah sahabat adiknya itu kewalahan menjaga bayinya. • • • Mentari tidak pernah lupa membawa sinarnya, seperti pula Dia yang tidak pernah lupa memberikan nikmat pada kita. Pagi ini semua orang yang mengumpul di meja makan Luna. Terlihat penuh semangat terkecuali Vanka yang terlihat lesu mungkin kurang tidur. Gadis Cantik itu, kemarin malam tidak nyenyak tidurnya. Karena kepikiran baby nya yang agak rewel saat dia menghubungi Hara kemarin malam. "Vanka kelihatan kurang sehat giitu, sakit kah?" tanya Luna memegang wajah sang anak guna mengecek, apakah putrinya itu sakit. "Nggak Mihu, cuma kurang tidur aja kok." "Kalau sakit libur aja sekolahnya." "Vanka nggak sakit kok Mihu." "Ya baiklah kalau begitu, tapi kalau nanti di sekolah makin memburuk harus kabari Mihu ya ." Luna kembali duduk melanjutkan sarapannya. ______________¥______________ Pagi Galent juga tidak baik, saat tengah sarapan ingin pergi ke kantor. Art yang bekerja di rumah Mamanya. Menghubunginya untuk memberi kabar jika Mama Nury jatuh sakit. Tanpa melanjutkan makannya. Galent segera mengambil tasnya. Dengan tergesah berlari kecil menuju mobilnya, lalu melajukan kendaraan itu dengan kecepatan di atas rata-rata, menuju rumah wanita satu-satunya yang di sayanginya. "Ma, kenapa bisa seperti ini? Mama jangan terlalu banyak berpikir." "Kita ke rumah sakit ya sekarang," ucap Galent mengelus jemari tangan Mama Nuri. "Mama, mau Meira kembali Ga. Mama takut dia kenapa-napa." "Galent juga lagi nyari Meira Ma! Tapi butuh waktu untuk menemukannya. Mama tinggal tunggu kabar dari Galent aja, gak perlu berpikir yang enggak-enggak sampai sakit seperti ini." Galent meminta Art menyiapkan keperluan Mamanya selama di rumah sakit, sementara dia memapah sang Mama perlahan masuk ke dalam mobil. Saat sudah di rumah sakit, dengan cemas Galent menunggu dokter mendiagnosis Mamanya. Setengah jam berlalu dokter keluar dari ruangan. Menyampaikan hasil pemeriksaan Mama Nuri. Galent lemas saat dokter mengatakan kinerja jantung Mama Nuri melemah. Galent memasuki ruangan Mama Nuri dirawat. Setelah dokter pamit meninggalkannya. "Ma! Mama harus sehat, katanya Mama mau bertemu dengan Meira. Jangan sakit seperti ini kalau sakit, gimana bisa bertemu dengan Meira." Galent mengelus punggung tangan sang mama dengan tatapan sendu, dia paling tidak bisa melihat mamanya terbaring lemah seperti ini. "Kamu janji ya akan bawa Meira bersama kita lagi," lirih Mama Nuri yang di anggukin Galent. "Sekarang Mama istirahat, biar cepat sembuh," tandas Galent merapikan bantal sang Mama agar lebih nyaman. Setelah mendapati Mama Nuri tertidur. Galent pun berangkat ke kantor. Jadwal Galent di kantor tidak terlalu padat hari ini, hanya memeriksa beberapa laporan juga melakukan pertemuan dengan seorang klien-nya. Setelah itu dia akan, menyambangi lokasi proyek yang sempat bermasalah kemarin. Melalui meeting darurat yang diadakan kemarin. Lumayan mengatasi masalah yang ada. • • • Makan siang bersama klien yang ingin bekerjasama dengan perusahaan Galent pun telah usai, menandakan pertemuan ini juga selesai. Mencapai kesepakatan sesuai kontrak kerja yang disepakati kedua belah pihak. Galent pun pamit kepada klien-nya untuk melanjutkan agenda yang akan dilakukan selanjutnya. Dengan langkah panjang dia keluar dari ruang pertemuan menuju mobilnya. Pria yang patut dijuluki hot daddy itu pun segera meminta sopir melajukan mobilnya ke lokasi konstruksi. Setelah memakai helm konstruksi. Galent memanggil kepala bagian Quality Control dalam proyek ini. Meminta data yang nantinya akan dimasukan ke dalam monthly certificate (MC) atau laporan bulanan. Dengan teliti Galen. Memeriksa kualitas bahan material yang digunakan dalam pembangunan ini apakah sama dengan yang tertulis di laporan. Juga melihat langsung saat kepala bagian Quality control. Melakukan pengujian terhadap komposisi material yang akan dipergunakan. Tidak lama Max datang menghampirinya. Galent kembali memberikan laporan itu kepada kepala bagian Quality Control. Lalu mengajak Max ke ruangan yang disediakan untuknya. "Bagaima ada perkembangan apa denga pencarian Baby Meira?" tanya Galent tanpa basa-basi. "Em … begini Tuan, kami berhasil mendapatkan rekaman CCTV dari salah satu tetangga anda Tuan." "Terus?" "Sebuah mobil sports hampir menabrak stroller baby itu saat melintas di tengah jalan, dua gadi turun melihat bayi itu, merasa tidak ada yang kehilangan dia membawa baby itu." "Wajah kedua gadis tidak terlalu jelas dilihat, karena hampir membelakangi CCTV itu Tuan." "Jadi kau belum tau siapa kedua gadis itu?" "Saya masih belum dapat memastikannya Tuan, karena gambar yang didapat kurang jelas." "Kau cari mobil itu, pasti tidak banyak yang memiliki mobil itu!" "Saya mau, Baby Meira segera ditemukan," timpal Galent lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD