Kemungkinan terburuk

1085 Words
Panik melanda kedua gadis yang kini berputar-putar mengitari jalan di hadapan mereka, tanpa tau arah tujuan. Bingung harus melakukan apa sekarang. "Bagaimana ini kak, kita harus apa?" tanya Cia sembari menyelimuti bayi yang mereka bawa dengan jaket yang digunakan Vanka tadi. "Gue juga bingung Cia, Kalau kita bawa pulang ke apartemen. Pasti buat geger seluruh penghuni apartemen. Kalau ke hotel makin ribet kalau ada yang kenal kita." "Mobil ini banyak dikenali orang, bisa aja kita ketiban apes. Ada paparazi yang melihat mobil kita masuk hotel, runyam urusnya." Vanka menepikan mobilnya mencoba menenangkan diri. Agar dapat memikirkan apa yang akan mereka lakukan. Mendadak Cia, memukul lengan Vanka. Membuat gadis itu tersentak. "Kok, kita bodoh banget sih kak! Kenapa kita nggak bilang aja kalau baby ini keponakan yang dititipkan ke kita." "Iya mau sampai kapan? Terus kalau Bik Iyem datang bekerja untuk bersihkan apartemen gimana? Gue yakin dia pasti mengadu ke Mihu." Otak Cia yang hanya dipenuhi, para oppa yang bergentayangan. Di drama-drama romantis Korea. Membuat gadis manja itu tidak akan kepikiran sampai sejauh itu. "Ya … ya coba kita rayu aja Bik Iyem untuk tutup mulut." Cia mengusap tengkuknya kaku, merasa ragu dengan ucapannya. "Em … atau kita ke rumah sahabat juga teman sebangku gue di kelas kak, dia sih tinggal sendiri di rumahnya, Nyokap. Bokap dia di Italia. Hanya sebulan sekali pulang ke rumah. Kakak mau kesana?" "Lo yakin nggak? Kalau dia bisa jaga rahasia?" "Gue yakin dia orang baik kak, buku-buku yang dia baca saat jam kosong, juga mencerminkan orang yang religius." "Ok deh, Kita ke tempat itu, siapa nama teman lo itu?" Vanka mulai melajukan mobilnya kembali mengikuti, arahan Cia menunjukan jalan ke alamat temannya itu. "Hara namanya kak, oh iya kak. Kita harus beli s**u buat bayi ini." Cia teringat kalau bayi ini harus minum s**u. "Minimarket udah pada tutup Cia, uda jam 12 malam. Gimana dong ini?" "Perlambat sedikit laju mobilnya kak, siapa tau di depan masih ada kios yang buka." Vanka memperlambat laju mobilnya, melihat jalan sekitar mencari kios yang masih buka. Beruntung masih ada kios yang masih buka, Vanka turun dari mobilnya. Membeli s**u juga botol susunya. Setelah itu melanjutkan perjalanan kembali. • • • Akhirnya mereka sampai di rumah teman, Hara. Dari dalam mobil. Cia sempat menyapa scurity yang menjaga rumah Hara. Bertanya apakah sahabatnya itu ada di rumah. "Tumben Mbak? Sudah larut malam seperti ini main kemari," tanya security itu saat menghampiri mobil mereka. "Iya ada keperluan yang sangat mendesak pak, kalau begitu kami masuk dulu pak." Security itu mengangguk sembari memberi jalan. Setelah menekan bell, sebanyak tiga kali. Seseorang membuka pintu. Asisten rumah tangga di rumah ini, membukakan pintu untuk Cia. Sementra Vanka masih menunggu di mobil. "Eh Non Cia, tumben malam banget datang ke sini," ujar Art yang memang sudah mengenal Cia yang beberapa kali main ke rumah majikannya ini. "Hehehe iya Bik, ada kepentingan yang nggak bisa ditunda, Hara ada di rumah kan Bik?" "Ada Non, tapi mungkin Non Haranya sedang istirahat." "Aku izin ke kamarnya ya bik, boleh kan?" "Iya silahkan Non." Cia naik ke lantai dua rumah ini, tempat dimana kamar sang sahat berada. Hara terlihat terkejut melihat sang sahabat berada di rumahnya saat larut malam seperti ini. Cia pun menceritakan kepada sang sahabat, mengenai tujuannya dia datang di larut malam seperti ini. Hara pun segera meminta Cia membawa masuk Vanka. Saat sudah mendengar apa yang terjadi sebenarnya. "Kak yuk masuk." Vanka keluar dari mobil dengan perlahan. Agar tidak membangunkan baby yang tadi sempat menangis. "Hai, gue Vanka. Maaf buat lo repot saat larut malam seperti ini," sapa Vanka memberi senyum tipis kepada Hara. "Iya, kak. Mari gue tunjukan kamar kalian." Vanka juga Cia mengikut langkah Hara untuk ke kamar mereka. "Em, ini kamar kalian. Oh iya kak. Lo bisa nggak jaga bayinya. Kalau nggak, biar art gue aja yang merawat bayi itu." "Bisa kok, Makasih banget ya udah mau nerima kami disini." "Hehehe santai aja kak, anggap rumah sendiri. Emm … selamat istirahat kak Vanka. Cia, Hara masuk ke kamar dulu ya." Vanka juga Cia mengangguk memberi senyum tipis lalu melangkah masuk ke kamar mereka juga. Vanka meletakkan bayi itu perlahan di ranjang. Lalu melihat kotak s**u yang dibeli tadi. "Cia! Tau cara buat s**u nggak?" Vanka menoleh karena tidak mendapat jawaban. Ternyata gadis manja itu, sudah terlelap di samping bayinya. Cia memang seperti itu, pelor(nempel langsung molor). Vanka petunjuk takaran s**u yang sesuai. Lalu beranjak ke mini dispenser yang ada di kamar. Untuk mencoba membuatkan s**u. Setelah membuat s**u. Vanka berjalan ke balkon. Menghidupkan sebatang rokok.Dia tidak bisa tidur, memikirkan bayi itu. Kemungkinan buruk mulai menghantui pikirannya. Dia takut, dituduh sebagai penculik anak, dia juga berpikir, bagaimana jika memang orang tua bayi itu sengaja membuang bayinya. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang berkelebat di kepala gadis cantik itu. Membuatnya menghela napas panjang. Mencoba berpikir apa yang harus dia lakukan. ____________¥____________ Malam ini Galent baru saja tiba dari Singapura, perjalan bisnisnya sudah selesai. Dari bandara dia kembali melanjutkan perjalan ke rumah Mamanya, untuk mengambil bayinya yang dititipkan pada Mamanya itu. Awalnya Mama Nuri meminta Galent menginap, tapi sang anak tetap memutuskan akan pulang ke rumahnya sendiri. Sampai nya di rumah, Galent meletakkan bayinya di stroller sementara dia ingin membuka bagasi mobil, untuk mengeluarkan barang-barangnya. Saat membuka bagasi, ponselnya berbunyi. Galent pun mengangkat panggilan itu. Tanpa di sadari. Stroller bayi itu berjalan dengan sendirinya. Galent lupa mengunci stroller itu, menyebabkan benda itu berjalan sendiri jalan yang landai mempercepat laju stroller, sementara Pria itu masih fokus dengan panggilan dari asistennya yang memberi kabar, jika ada masalah dengan salah satu proyeknya. Setengah jam berlalu. Agam memutuskan panggilan di ponselnya lalu menurunkan barang yang ada, di bagasi. Setelah menutup kembali pintu bagasinya. Galent baru menyadari strollernya bayinya tidak ada. Galent berteriak memanggil scurity, untuk bertanya dimana bayinya. "Pak, kamu liat stroller bayi saya!" "Maaf Tuan, saya tidak melihatnya." "Dari mana saja kamu! Tidak tau ada orang yang masuk ke rumah ini!" Agam mulai gusar mendengar jawaban securitynya itu. "Maaf Tuan, saya tadi sedang ke toilet. Perut saya sedang mengulah sajak sore tadi Tuan." "Ayo cepat cari! Mungkin belum jauh dari sini!" Galent juga securitynya sudah mencari ke sekitar rumah juga komplek sekitar perumahannya tapi hanya menemukan stroller tanpa bayi di dalamnya. "Cepat check CCTV jalan sekitar rumah ini." Ternyata itu tidak cukup membantu karena CCTV milik Galent cuma memperlihatkan saat stroler bayi itu berjalan sendiri. Jarak jangkau CCTV yang dipasang Galent tidak dapat menyorot saat stroller bayinya yang hampir tertabrak. Galent terlihat gusar, menghubungi Asisten Nya Max. Untuk meminta Max juga beberapa orang-orangnya mencari bayinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD