Weekend itu Aldrich mengajakku menginap di apartemennya. Setelah kejadian kemarin hubungan kami mulai membaik, tapi belum sepenuhnya. Aku sudah tidak terlalu keras lagi, tapi aku jadi parno'an. Tapi cowok itu mengerti.
"Apa aja boleh kamu lakuin asal kamu percaya lagi sama aku..." sahutnya pasrah.
Aku lebih gampang curiga, sampai mensortir semua kontak di ponselnya. Rasanya tidak nyaman tapi mau gimana lagi, aku takut kejadian kemarin terulang lagi.
Aku merebahkan tubuhku di sofa. Melihatnya menyiapkan minuman hangat. Aku malas keluar rumah. Hanya ingin menikmati waktu berdua dengannya. Menggantikan dua weekend sebelumnya dimana kami sama-sama tersiksa dengan pertengkaran kami.
Aldrich duduk disebelahku dan aku merebahkan kepalaku di bahunya. Suasana ini yang aku rindukan. Rasanya tenang. Kami menonton film action. Saking seriusnya sampai aku tidak menyadari kalau ponselnya berbunyi.
Aldrich membuka pesannya dan menatapku cemas. Aku sudah tahu tatapan itu. Cowok itu menelan salivanya lalu tersenyum masam.
"Siapa? Dia lagi?"
"Suer Ta. Ini baru pertama kali dia hubungi aku lagi setelah kemarin itu. Aku gak tau." Dia menyerahkan ponselnya padaku.
?0818 xxxx xxx
Al.. ada waktu? Aku mau bicara...
Aku menyipitkan mataku saat menatapnya. Baru dua hari kami berbaikan, sekarang cewek itu udah ngerusak suasana lagi. Aku berdecak kesal dan masuk ke kamar. Rasanya hatiku sedih campur marah. Maunya apa coba tu cewek?
Aldrich menyusulku, cowok itu langsung memelukku dari belakang. "Ta, jangan marah lagi ya. Beneran aku gak pernah ketemu dia lagi setelah tahun baru itu. Dia ada chat aku, minta maaf tapi aku gak pernah gubris."
Aku menghela napas panjang. Tidak tau harus mikir apa, rasanya dongkol tapi penasaran juga mau apa dia hubungin Aldrich lagi.
"Mau dia apa sih? Kamu putus sama dia baik-baik gak sih?"
"Aku gak tau Ta. Dia tuh setelah putus gak pernah hubungi aku. Kemarin ketemu juga kebetulan kan. Lagian putusnya udah lama kan." Cowok itu membalik tubuhku.
"Terus kenapa sekarang nongol lagi? Gak mungkin ada asep kalo gak ada api." sahutku ketus.
"Aku gak tau Ta. Kalo kamu gak percaya nih km tanya aja sendiri ke orangnya!" Aldrich menyodorkan ponselnya.
Aku menatapnya tajam. Aku ambil benda tipis itu lalu aku membalas pesannya.
Mau bicara apa?
Tidak menunggu lama balasannya datang.
?0818 xxxx xxx
Aku gak enak Al, katanya kamu berantem sama cewek kamu. Aku mau minta maaf.
Kalau niat mau minta maaf ya bilang aja. Kenapa harus ketemu?
?0818 xxxx xxx
Ya aku gak enak aja,
gegara aku kamu jadi berantem.
Boleh kalo mau ketemu. Aku ajak cewekku ya..
Aku menyernyitkan dahi, cewek itu udah baca wa'nya tapi jawabnya lama. Aku mendengus, pasti ada yang gak beres ama ni cewek. Dia cuma alesan aja pengen ketemu Aldrich.
?0818 xxxx xxx
Aku gak enak kalo ketemu cewek kamu.
Halah modus! Pasti ada udang di balik capcay nih..
Udah Ca, urusan kita selesai. Cewekku udah gak masalah. Toh kemarin kita gak ngapa-ngapain. Lebih baik kita gak berhubungan lagi. Aku gak mau sembunyiin sesuatu dari dia.
Typing...
Lama amat ngetik apaan coba? Aldrich tetap diam membiarkan aku yang membalas pesannya. Sebenarnya aku kasihan, tampang cowok itu kayak lagi tunggu putusan penjatuhan hukuman dipengadilan. Tapi biarin aja, biar dia ngerti rasanya kesiksa.
?0818 xxxx xxx
Aku masih sayang kamu Al.
Aku pengen balik sama kamu.
Tapi kayaknya kamu sayang banget
sama cewek baru kamu. Aku gak punya kesempatan lagi, aku nyesel kita putus Al...
Aku tunjukkan wa dari cewek itu sambil tersenyum sinis. "Liat kan? Dia modus deketin kamu! Tapi kamu masih belain aja bilangnya dia gak ada niat apa-apa. Bullshit!!"
Aku melepaskan pelukan Aldrich, dia membaca wa dari cewek itu dengan tatapan tidak percaya. Wajahnya terlihat serba salah.
Aku ke kamar mandi membereskan barang-barangku. Sudah hilang moodku untuk ngabisin weekend ini sama Aldrich. Aku memakai sweater karena aku hanya pakai tanktop, lalu aku memasukkan baju lainnya asal ke dalam tas.
"Mau kemana Ta?"
"Pulang! Aku gak mau bareng kamu kalau kamu gak bisa nentuin sikap. Bayangin posisi kamu kalo ada di aku gimana..." Aku ingin menangis tapi aku ga mau memperlihatkan kelemahanku. Sudah cukup dua minggu kemarin aku merana.
"Ta... please Ta..." Aku tidak peduli tatapan memelasnya.
Aku keluar tanpa melihat lagi kebelakang. Rasanya muak dengan urusan kecil seperti ini yang menjadi besar karena cowokku tidak bisa mengambil sikap.
Saat keluar lobby tanpa sengaja aku bertemu Rangga. Aku tidak menyadari cowok itu memanggilku karena aku setengah berlari. Tangannya menahan lenganku.
"Ta.. astaga! Gw panggil-panggil lo dari tadi."
Aku menatapnya dan airmataku yang sudah kutahan sejak tadi akhirnya turun. Cowok itu menatapku bingung.
"Kenapa Ta? Ya Tuhan..." aku nangis sesegukan, tidak peduli bahwa kami ada diparkiran. Banyak orang lalu lalang memperhatikan kami. Rangga menuntunku ke mobilnya. Kami melihat Aldrich keluar dari lobby mencariku. Tapi aku menahan Rangga untuk memanggilnya.
"Anter gw balik Ga..." cowok itu mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya.
Aku masih terisak saat dijalan, aku tahu Rangga terus-terusan menatapku cemas tapi cowok itu tidak mengatakan kalimat apapun.
Tanpa sadar aku tertidur, aku cukup lelah dengan semua drama konyol ini. Hubungan ku dengan Aldrich mau menginjak satu tahun, mungkin ini yang orang bilang banyak cobaan di seumur jagung hubungan kami. Entahlah...
^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*
Aku menggeliat, astaga, rasanya leherku kaku. Badanku sakit semua. Aku membuka mata dan bingung, aku dimana? Aku ada diruangan asing yang sama sekali gak aku kenal. Aku duduk, dan memijat pelipisku, mencoba mengingat kembali penggalan kemarin malam. Aku pergi dari apartemen Aldrich, terus ketemu Rangga, terus naik mobil dia, terus... hah? Masa iya? OmG, aku pakai kaos siapa nih? Aku mengintip kedalam bajuku dan merasa lega masih memakai tanktopku.
Aku melihat sekeliling, kamar maskulin yang sangat rapih. Aku menurunkan kakiku, lalu beranjak mendekati pintu yang sepertinya pintu keluar kamar. Aku melongok keluar, sepertinya ruang keluarga. Aku berjalan pelan mencari tahu aku ada dimana.
"Udah bangun kak?" Aku terlonjak mendengar suara dibelakangku. Seorang gadis mungil tersenyum manis menatapku. Wajahnya cantik, dengan dua lesung di pipinya. Mengingatkan aku pada...
"Ta.." aku menoleh ke cowok dibelakangnya.
"Rangga? Gw.. kok... lo...?" Bibirku bingung sebingung otakku.
Gadis itu tersenyum. "Duduk sini kak Cinta.." tangannya menarik tanganku pelan ke arah sofa.
"Lo dirumah gw Ta." Sahut Rangga
"Hah? Kok bisa?"
"Semalem lo tidur, pas sampe kos lo, gw bingung, lo ga bangun-bangun. Terus gw gak enak mau anter lo ke kos. Tar disangka lo abis gw apa-apain. Jadi gw bawa lo pulang." Jelasnya.
"Nih kak minum dulu." Gadis itu menyodorkan segelas teh hangat yang membuat penat dikepalaku hilang.
"Ini adek Gw, Rainy."
Aku melambai pelan. Gadis itu tersenyum lagi. Wajahnya mirip Rangga tapi lebih imut. Wait, kalau aku dirumah Rangga, berarti...
"Bos gw tau gw nginep disini?" Aku memasang wajah cemas. Aku merasa tidak enak dengan Pak Ringgo.
Mereka berdua menggeleng. "Papa lagi pergi sama mama, pulang kampung kak. Papa lagi terapi karena pinggangnya sakit terus. Jadi sementara ya ini bos kakak.." sahut Rainy menunjuk wajah kakaknya. Aku manggut-manggut merasa lega.
"Kalian berdua aja?"
"Ada kakakku satu lagi, ka Radit tapi gak tinggal disini karena udah merit. Kak Cinta laper gak? Kita sarapan yuk.." Gadis itu berdiri mengulurkan tangannya. Aku jadi teringat chelsea. Aku menyambut tangannya. Kami berjalan bersama ke meja makan.
Adik Rangga sangat menyenangkan. Orangnya ceria, umurnya 16 tahun, kelas 2 SMA. Selesai makan aku ijin mandi lalu tidak lama aku pamit pulang. Rainy ingin ikut mengantarku, jadi aku tidak sempat ngobrol sama Rangga.
Aku mengecek ponselku, tidak ada kabar apa-apa dari Aldrich. Aku kecewa, dia mengacuhkanku. Apa mungkin saat ini mereka sedang bertemu? Entahlah, aku tidak ingin kembali menangis.
Rainy membuat moodku membaik. "Kapan-kapan kita jalan bareng ya kak..." aku mengangguk saat sampai di gang kosku.
"Makasih udah anter ya Ga. Ra.." gadis kecil itu mengangguk dan tersenyum. Rangga mengangguk sesaat sebelum melajukan mobilnya dan berlalu. Aku berjalan, dan melambat saat melihat Aldrich berdiri di depan kosku. Ya Tuhan, baru aja moodku membaik. Sekarang udah bete lagi. Aku berjalan mengacuhkan cowok itu.
"Ta..." tangannya menahan lenganku.
"Apa?" Jawabku ketus.
"Kamu kemana semalem?"
Aku diam, bimbang harus bilang atau tidak bahwa semalam aku bersama Rangga. Tapi Aldrich bertanya berarti Rangga tidak memberitahu apa-apa.
"Kemana aku apa peduli kamu" aku melengos masuk ke dalam. Aldrich mengikutiku tapi aku gak peduli. Aku masuk dan hendak menutup pintu. Tapi tangannya lebih gesit, cowok itu menahan pintu lalu masuk kedalam kamar kosku. Mengunci pintunya lalu membuangnya ke jendela samping kamarku.
Aku membelalak tidak percaya. "Al gila ya kamu!!"
*_*_*_*_*_*_*_*_*CUT*_*_*_*_*_*_*_*_*