Ketika di kantor tadi, Wikra hampir terkena serangan jantung, tidak menyangka Yifei pergi sembari membawa anaknya. Sejak kapan Yifei hamil saja dia tidak tahu sama sekali.
"Aku akan pulang sekarang," ucap Wikra menghentikan kemarahan Papa di telepon.
Wikra membatalkan pertemuannya dengan para peneliti, dia bergegas pulang, mengendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa wanita itu harus kembali? Apa dia ingin mengacaukan hidup ku lagi?"
Wikra tidak suka Yifei, wanita itu mencuri semua perhatian keluarganya, seolah Yifei lebih berharga dari pada dia.
Sesampainya di rumah, Yifei sudah ada di sana, sekaligus kemarahan orang tuanya. Pasti Yifei senang dia dimarahi seperti ini. Merasa menang. Itulah yang diinginkan Yifei sejak dulu, yakni memisahkan dia dan keluarganya. Mempengaruhi mereka untuk menguasai dirinya.
"Tolong jangan terima perjodohan ini, aku mencintai orang lain."
Itulah permohonan Wikra untuk Yifei, tapi Yifei tidak membalasnya, mengabaikan seolah tidak pernah tahu perasaan Wikra.
Pernikahan itu pun terjadi, membuat Yifei bahagia dan dia kehilangan wanita yang dia cintai, selama ini Wikra sudah menjalani kehidupan palsu, dia hanya ingin menikah tidak dengan kepalsuan juga.
Sayangnya Yifei menghancurkan semua itu, membuatnya menjadi pria paling berdosa karena tidak tahu keberadaan anaknya sekaligus menjadi anak durhaka.
Kini Wikra melihat wanita yang ada di depannya, mantan istri yang hampir dia pukul. Tangannya yang sudah berada di udara mengepal. Tatapan mata wanita itu berbeda dari 4 tahun lalu. Tak ada lagi sorot canggung dan ketakutan.
"Jangan pukul Mama!" Teriak bocah kecil yang berusaha menjauhkan dia dari Yifei.
Wikra memandang Yifei. "Kamu pasti suka melihat pemandangan ini, anak ini akan membenci ku di hari pertama kita bertemu."
Yifei diam saja, ia menunduk ke bocah kecil yang mirip Wikra itu, membasahi bibir, terlihat miris dengan adegan ini.
Wikra menurunkan tangan, si anak kecil kisaran usia 4 tahun itu terus memukuli kakinya. Tidak sakit sama sekali. Hanya saja dia juga merasa miris.
Pertengkaran terjadi setelah sekian lama berpisah dengan mantan istri, disaksikan di depan anak yang baru pertama kali Wikra ketahui keberadaannya. Suasana ini begitu memilukan sampai dia bertanya pada diri sendiri, sejak kapan hidupnya sekacau ini?
"Hhh kenapa jadi kayak gini?" tanya Wikra pada diri sendiri, ia mengusap wajahnya.
Bagi Wikra, keluarga adalah segalanya. Dia yang dibesarkan di panti asuhan, setiap hari berdoa, semoga ada keluarga yang mau mengadopsi.
Wikra tidak mau lagi hidup di jalanan bersama mayat ibunya yang membusuk, mengemis kepada orang lewat supaya jenazah ibunya bisa dimakamkan dengan layak.
Wikra juga tidak mau mengemis hanya untuk sepotong roti atau menunggu orang menjatuhkan makanan. Ia lelah kelaparan berhari-hari hingga hampir mati.
Setelah dibawa ke panti asuhan, setiap hari dia melihat teman-temannya diadopsi. Wikra kecil berharap ada keluarga yang mau mengambilnya juga.
Sayangnya, dia selalu gagal adopsi. Baru sebulan atau paling lama tiga bulan. Orang tua asuhnya mengembalikan dia ke panti asuhan dengan berbagai alasan.
Beberapa kali diambil lalu dikembalikan membuat luka tumbuh besar di hatinya, harapan yang membumbung tinggi untuk memiliki keluarga kian membesar, ketika dia sudah sayang, orang tua angkatnya malah sebaliknya. Berulang kali dia kecewa.
Sebelum masuk SD, Wikra berharap memiliki keluarga. Keinginannya adalah diantar sekolah oleh kedua orang tua, diberikan nasi bekal serta lambaian tangan penuh kasih. Keluarga yang sederhana atau pas-pasan juga tidak masalah. Ia berjanji akan membuat keluarganya bahagia apapun yang terjadi.
Setiap hari dia berharap dan berdoa, hingga datang Zara dan Yuda. Pasangan pengusaha muda, mengadopsinya yang saat itu terlihat murung di jendela panti.
Rupanya tatapan matanya yang memelas menarik simpati Zara, wanita itu tersenyum pada Wikra sebelum masuk ke ruang kepala panti. Setelah itu Wikra dan beberapa anak lain dipanggil, Zara memilih Wikra untuk diadopsi.
"Mulai sekarang namamu Wikramawardhana."
Usapannya sangat lembut di kepala Wikra, membuatnya berharap adopsi kali ini berhasil. Yuda menggandeng tangannya keluar panti menuju mobil.
Kali ini keluarga yang mengadopsinya orang kaya, mobilnya bagus dan rumahnya besar. Hanya saja, ada satu hal yang tidak boleh dia beritahukan ke orang lain, yakni dia anak adopsi.
Selama sebulan dia bersikap baik dan menuruti semua ajaran Zara dan Yuda, mereka mencuci otak Wikra supaya bersikap seperti anak kandung mereka yang sudah meninggal.
"Di hadapan kakek, kamu harus merajuk. Ngerti?" tanya Zara.
"Ngerti, Ma."
"Terus, jangan tunjukkan kebodohanmu sedikitpun. Kamu harus keliatan pinter." Tambah Yuda.
Wikra mengangguk. Sebulan pertama dia belum mengerti kenapa harus bersikap seperti itu di depan kakek, dua bulan berikutnya dia sudah beradaptasi. Tiga bulan kemudian dia baru tahu bahwa Zara dan Yuda memiliki anak laki-laki seumuran dengannya yang telah meninggal.
Nama anak itu adalah Wikramawardhana, nama yang sekarang dia pakai. Hatinya sakit ketika mengetahui bahwa dia hanya dijadikan pengganti.
Dia ingin kabur, lari dan bersembunyi. Hanya saja tinggal dia tidak mau tinggal panti asuhan lagi. Dia sudah bekerja keras supaya orang tua barunya suka padanya.
Wikra mengalami dilema yang sangat besar. Pada akhirnya dia hanya bersembunyi di gudang sembari menangis. Tak tahu harus berbuat apa. Dia kecewa.
"Wikra!" Teriak Zara ketika menemukan Wikra di gudang.
Wanita itu berlari memeluk Wikra yang hatinya terluka, anak yang menginginkan kasih sayang keluarga itu malah dijadikan pengganti.
Di pintu, napas Yuda terengah-engah, melihat istrinya menenangkan Wikra.
"Kamu kenapa di sini? Kenapa buat Mama khawatir?"
Sembari berlinang air mata Wikra menjawab, "kalian hanya menjadikanku pengganti."
Mendengar itu Zara dan Yuda tersentak, sekali lagi Zara memeluk Wikra. Mencium kening bocah itu. Padahal mereka merahasiakan hal ini rapat-rapat.
"Kamu bukan pengganti, kamu anak Mama. Mama bisa meneruskan hidup karena ada kamu."
Mendengar itu tangisan Wikra semakin kencang, hatinya terluka tapi tidak bisa berkata apa-apa. Dia menyayangi Zara yang setiap malam membacakan dongeng. Dia juga bangga memiliki Yuda sebagai ayahnya yang mengajarinya naik sepeda, ini keluarga sempurna yang dia inginkan.
Yuda mendekat, lalu berjongkok di depan Wikra, tangannya terulur mengusap air mata bocah itu.
"Wikra, kamu dan anak kandung kami berbeda. Kami tahu itu. Karena satu hal dan lainnya, kamu harus menggunakan namanya, tapi itu bukan berarti kami menganggap kamu adalah dia. Kamu tetap kamu, dua anak yang berbeda. Kasih sayang dari kami memang untuk kamu, bukan untuk anak kandung kami yang sudah meninggal."
"Kalian sayang aku?" tanya Wikra.
Mama dan Papa mengangguk. "Mama sangat menyayangi kamu."
"Papa juga."
Saat itu Wikra berkata pada diri sendiri, inilah keluarga yang harus dia bahagiakan. Dia akan membuat orang tuanya bangga dengan segala prestasinya sampai melupakan anak kandung yang sudah meninggal.
Namun, tak semudah itu. Anak kandung tetaplah anak kandung dan anak angkat tetaplah anak angkat. Reina lahir dan mencuri semua perhatian kedua orang tua angkatnya. Padahal dia baru saja merasakan perhatian dari mereka.
"Ini adik Wikra, namanya Reina. Cantik banget kan?" tanya Mama.
Ternyata Mama hamil sejak Wikra datang ke rumah ini. Membuatnya tidak bisa mendapatkan penuh perhatian Mama dan Papa.
"Cantik," jawab Wikra.
Meskipun demikian, Wikra berusaha menerima Reina sebagai adiknya, tidak apa, dia bisa berbagi orang tuanya.
"Mulai hari ini Wikra harus jagain Reina ya?" Bujuk Papa.
Wikra mengangguk, menganggap itu tugasnya kalau masih ingin dianggap di rumah ini, dia harus menjaga anak kandung Papa dan Mama. Tidak boleh membuat Reina yang berharga terluka.
Hingga, beberapa tahun kemudian, Papa dan Mama mengenalkan Yifei. Wikra tak acuh, tapi Mama dan Papa terlihat sangat menyayangi anak temannya itu.
"Mulai hari ini Papa dan Mama adalah wali Yifei," ucap Mama seminggu setelah orang tua Yifei meninggal.
"Kenapa harus Mama?" tanya Wikra tidak terima.
"Yifei masih di bawah umur, dia tidak punya kerabat."
Wikra tidak bisa menerima hal itu, dia tidak suka ada orang lain yang menjadi anak angkat selain dirinya. Wikra merasa itu persaingan.
Sekarang Yifei memenangkan persaingan tersebut, membuatnya dibenci keluarga, anaknya sendiri dan semua orang memihak Yifei. Pasti wanita itu puas dia dikucilkan.