Semuanya bisa menebak siapa Ahin hanya dengan melihat wajahnya yang mirip Wikra, kalau disuruh menjelaskan maka aku juga bingung harus mulai dari mana. Saat ini aku sedang duduk di ruang tengah. Ahin tidak memedulikan sekitar, balita itu memberi makan kucingnya yang baru dikeluarkan dari kandang.
Reina-adiknya Wikra menemani bocah itu, terlihat sayang sekaligus iba. Sementara Om dan Tante menatapku sembari terus mendesah berat. Aku hanya bisa meremas jemari dengan kepala menunduk.
Bisa dibilang aku tidak tahu malu, sudah pergi tanpa mengabari dan hanya memberikan salam perpisahan lewat pesan singkat. Lalu menghilang selama 4 tahun. Kini tiba-tiba muncul kembali dengan membawa cucu mereka.
"Kalau tahu kamu akan menderita begini, dari awal Om nggak bakal jodohin kamu sama anak kurang ajar itu."
Dari dulu ntah kenapa aku merasa Om dan Tante lebih sayang padaku dari pada Wikra, seolah Wikra anak orang lain dan aku anak kandung mereka. Mungkin karena dulu orang tuaku berteman baik dengan mereka. Lalu mereka iba melihat ku yang sebatang kara.
"Cepat telepon Wikra suruh pulang, Pa!" Tante berteriak.
Om membusungkan d**a, napasnya tertahan di sana. Dia membenarkan posisi duduk sebelum mengambil ponsel.
Kalau dulu, aku selalu melindungi Wikra dan mengatakan bahwa hubungan kami baik-baik saja. Aku takut Wikra marah padaku jika orang tuanya memarahinya. Sekarang, Wikra bukan siapa-siapa bagiku. Aku tidak mengatakan kebohongan untuk melindungi Wikra lagi.
Tanpa berkata pun pasti mereka tahu bahwa aku diceraikan dan Wikra menikahi serta membawa Yumna ke rumah. Membuatku terusir saat sedang mengandung Ahin.
"Wikra, cepat ke mari sekarang juga!" Teriak Om setelah mendengar penolakan Wikra.
Ponsel direbut Tante, tangannya mengepal. "Kalau kamu masih mau melihat Mama hidup, cepat pulang sekarang!"
Mendengar dari pembicaraan mereka, sekarang Wikra sedang rapat penting. Harus ditinggal demi kedatanganku dan Ahin. Lagi pula, masalah ini harus segera diselesaikan supaya aku bisa membicarakan tentang penyakitku dan menitipkan Ahin.
Mereka harus bersiap merawat Ahin tanpaku.
"Selama ini kamu tinggal di mana, Fei?" tanya Om.
"Aku tinggal di Lampung, Om. Tempat saudaranya Ezhar."
Tante Zara menyela, "Ezhar temenmu yang artis itu?"
"Iya, dia yang nolong aku waktu nggak punya tempat tujuan."
"Ya Allah, seharusnya waktu itu kamu langsung hubungi kami."
Aku takut, selain karena tidak mau Ahin diambil Wikra dan Yumna. Aku takut hatiku goyah, aku takut terus menerus memikirkan Wikra dan berharap kembali.
Memantapkan hati untuk mundur sangat berat, melangkah pergi melupakan Wikra juga bukan hal yang mudah. Aku mengambil keputusan besar waktu itu.
"Mama, lapel." Ahin memegang perutnya. Terakhir makan jam dua siang, sekarang sudah habis magrib.
"Sampai lupa sama cucuku yang belum makan," kata Tante.
Reina berdiri, dia mengucir rambutnya lebih tinggi. "Ce, Ahin nggak ada alergi, 'kan?"
Ciecie atau Cece, panggilan kakak perempuan dalam bahasa Mandarin. Sejak dulu Reina selalu memanggilku dengan panggilan itu.
"Ahin alergi udang," jawabku.
"Kok sama persis sama Bang Wikra, moga aja sifatnya nggak sama ya," kata Reina.
"Ayo kita makan malam," ucap Om sembari berdiri.
Seharusnya makan malam jam 7, itu kebiasaan keluarga ini. Sekarang baru setengah 7. Mereka menghargai Ahin yang lapar duluan. Cucu yang tidak pernah dilihat itu minta makan, mana bisa mereka mengabaikan.
"Ahin ayok makan."
Aku mengulurkan tangan, segera di sambut Ahin yang berlari ke arahku. Pertama kali masuk rumah ini, Ahin terlihat sangat canggung dan takut. Dia bahkan melepas sepatunya karena kebiasaan di kampung.
Aku mengajarinya untuk tidak usah melepas sepatu ketika masuk rumah, bocah itu biasa menghormati orang yang lebih tua. Tetapi di sini semua pelayan menunduk padanya. Ahin belum tahu bagaimana caranya bersikap kepada pelayan.
Ahin terbiasa hidup sederhana, dia belum pernah merasakan menjadi cucu orang kaya yang selalu dilayani.
"Ahim maem, akasih maemnya."
Setelah berdoa sebelum makan, Ahin aku ajari mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah menghidangkan makanan.
"Gemesin banget cucuku," kata Tante Zara.
"Dia mirip Opanya." Om juga ikutan.
Reina juga ikut menyela, "yang penting dia nggak kayak Bang Wikra."
"Ahin kalau dipuji bilangnya apa, Nak?" tanyaku.
"Telima kacih," jawabnya sembari malu-malu, kakinya terus bergerak di bawah meja.
Ini pertama kalinya Ahin makan sebanyak ini, aku sampai takut perutnya meledak. Ingin aku hentikan Tante Zara yang terus memasukkan semua lauk ke nasi Ahin.
Namun, bocah itu tidak bisa makan melebihi porsi biasanya. Dia menolak makan lagi ketika sudah kenyang. Aku mengelap pipinya yang belepotan, memberikan minum air putih hingga dia bersendawa.
Keceriaan itu berhenti ketika Wikra datang, menatapku dengan kening berkerut.
Belum saling sapa, Tante Zara menghampiri Wikra dan menamparnya. Om juga yang berdiri dari kursi memandang Wikra penuh kemarahan.
"Lihat itu anakmu sudah besar! Kamu menyianyiakan Yifei yang sudah hamil anakmu demi wanita itu!" Teriak Tante dengan menunjuk Ahin.
Pertengkaran ini tidak baik dilihat Ahin, aku mencoba mengalihkan pandangan Ahin ke kucingnya.
"Ahin main sama Miao Miao ya?"
Bocah itu mengangguk, mengambil kucing kecil yang sedari tadi menunggu Ahin makan di bawah meja.
"Otak kamu di mana Wikra?! Bisa-bisa aku memiliki putra tidak bertanggung jawab sepertimu!" Kali ini Om yang ikut memarahi.
Wikra mengusap pipinya yang merah bekas tamparan. Dia memandangku dan Ahin bergantian, mungkin sedang memahami situasi. Searogan apapun Wikra, di hadapan keluarganya dia selalu tunduk.
"Biarkan aku bicara dengan Yifei, aku tidak tahu kalau ternyata waktu cerai Yifei hamil," katanya lirih.
Wikra menghampiriku, matanya setajam elang. Dia tidak menanyakan kabar atau basa basi melihat Ahin. Dia menarik tanganku dengan kasar menuju teras samping.
Setelah sekian lama tidak bertemu, tindakan pertama yang dia lakukan adalah menyakitiku.
"Sakit, lepas!" Aku menghempaskan tangannya.
Dia geram, raut wajahnya sangat marah.
"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada keluargaku, tapi kumohon hentikan sandiwaramu."
Wikra menelangkupkan tangannya, memohon padaku.
"Aku nggak bersandiwara, Ahin memang anakmu."
"Kenapa kau nggak bilang waktu itu kau sedang hamil?!"
"Bukankah aku udah tanya, dan kau jawab akan mengambil anakku untuk diurus Yumna. Kau pikir aku mau darah dagingku dibesarkan wanita simpananmu?"
"Lalu kenapa sekarang kau tiba-tiba muncul? Seharusnya kalau mau menghilang bersama anak itu, menghilang saja! Nggak usah balik lagi! Ah, apa kau kehabisan uang dan mau mengemis ke sini? Akan aku berikan kau uang, tapi jangan muncul lagi di depan keluargaku!"
Wikra mengeluarkan dompetnya, dia mengambil semua uang cash dan melemparkannya ke wajahku. Sakit? Tentu, aku memejamkan mata ketika uang kertas itu mengenai mata.
Dia adalah orang paling arogan yang pernah aku kenal, selalu menganggap bahwa uang bisa menyelesaikan semua masalah.
Dia bahkan tidak bertanya tentang darah dagingnya sendiri. Mengabaikan Ahin saat pertama melihatnya. Tidak ada raut wajah penjelasan karena menelantarkan anaknya selama 4 tahun.
Aku semakin yakin untuk tidak menitipkan Ahin padanya, Wikra tidak akan pernah menjadi ayah yang baik untuk putraku. Dia tidak akan pernah menyayangi Ahin karena membeciku.
"Apa masih kurang? Berapa yang kau minta? Akan aku berikan!" Teriaknya, terus mengeluarkan sisa uang di dompet.
Tanganku mengepal, selama ini aku tidak pernah membalas semua perlakuan Wikra karena dia suamiku. Pemikiranku selalu mengatakan harus berbakti pada suami.
Aku berpikir kalau bersabar, maka Wikra akan berubah dan mencintai ku. Nyatanya pemikiran itu semakin menyakiti ku, sifat asli seseorang tidak akan pernah berubah hanya karena kita bersikap baik.
Sekarang, dia bukan siapa-siapa lagi bagiku. Aku juga tidak mengharapkan cintanya lagi.
Rasa cinta sudah menghilang dari hatiku dan menjadi beku, pertemanan seperti dulu pun tidak ingin aku jalin. Kami akan menjadi orang asing.
Plak!
Aku menamparnya dengan sangat keras. Dia tercengang, menatapku penuh kemarahan. Tidak menyangka sama sekali aku akan melawan karena biasanya aku hanya diam dan pasrah.
"Ambil saja uang recehanmu, aku nggak butuh."
Uang yang Wikra berikan dulu masih utuh, bahkan berkembang pesat. Aku tidak membutuhkan recehan darinya. Tanpa dia pun, aku mampu memenuhi kebutuhan Ahin.
"Beraninya kau!" Teriak Wikra.
Dia mengangkat tangannya, hendak memukulku. Selama ini Wikra memang kasar, tapi sebenarnya dia tidak pernah memukulku secara langsung.
"Jan pukul Mama!" Ahin berlari. Tangan kecilnya memukul kaki Wikra.
Pemandangan yang sungguh ironis, anak kami menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya di hari pertama kami berkumpul.
Wikra membeku di tempat, dia menurunkan tangannya. Ahin terus memukul kakinya.