Langit berada di ufuk barat ketika kami melanjutkan perjalanan, warna jingga menyoroti hingga tembus kaca, begitu silau hingga Ahin berkedip beberapa kali.
Kami belum naik kapal karena semua kapal penuh, supir trevel harus berputar putar mencari kapal yang baru bersandar, menunggu beberapa saat hingga kapal kosong dan mengantri masuk bersama kendaraan lain.
Pertama kalinya Ahin melihat dermaga dengan kapal besar berjejer. Mata anakku terlihat kagum, berbinar senang dan terus mendekat ke kaca.
"Wahh bangus, Ma."
"Nanti Ahin naik ke sana."
Aku mendekatkan wajahku di sampingnya, mengikuti arah pandangannya, pipinya yang tembem itu sangat suka aku usel-usel. Menggemaskan.
"Bisa?" tanya Ahin sembari menoleh.
Aku mengangguk, ingin menunjukkan berbagai hal kepada Ahin setibanya di dalam kapal.
Selama ini Ahin hanya melihat kapal nelayan yang kecil, ia juga tidak pernah naik kapal meskipun sering merengek.
Aku tidak mengizinkan karena takut ia terluka, ditambah tidak ada yang bisa dipercaya membawa Ahin pergi. Kami terlalu tertutup. Terutama aku, tidak terlalu dekat dengan tetangga.
Mobil yang kami tumpangi naik ke dalam kapal, Ahin tambah kagum melihat isinya yang luas, aku menggandengnya menaiki tangga.
Kami menuju lantai dua, Ahin tidak suka duduk di dalam, ia langsung berlari di teras kapal. Aku segera menggandeng tangannya. Takut dia terjatuh.
"Jangan lari kayak gitu, nanti kalau jatuh gimana?"
"Kok gak tenggelam?" tanya Ahin, dia tidak mengindahkan ucapanku sama sekali.
Ahin malah melihat ke bawah, kapal tidak tenggelam di lautan, ia terlihat sangat penasaran. Aku langsung ingat pada Wikra, ayahnya. Mirip sekali.
Ahin suka melakukan penelitian sendiri, banyak bertanya dan selalu penasaran. Sama seperti ayahnya yang dulunya seorang peneliti. Menciptakan produk inovatif dan kreatif.
"Ma, kenapa gak tenggelam?" tanya Ahin sembari mendongak padaku.
Bagaimana cara aku menjelaskannya? Mungkin kalau ayahnya yang ditanya bisa menjawab, kalau aku mana bisa.
"Kalau Ahin sudah besar nanti belajar kenapa kapal nggak tenggelam."
"Kenapa gak belajar sekalang?"
Karena mamamu tidak pintar, tidak bisa menjelaskan kenapa kapal tidak tenggelam. Aku meneguk ludah, hal seperti ini sering terjadi karena Ahin terlalu pintar. Membuat ku kadang harus belajar lagi.
"Kalau udah ketemu Papa, Ahin bisa tanya sama Papa. Pasti Papa bisa menjawab pertanyaan Ahin."
Mendengar itu raut wajah Ahin berubah, menjauh dari pinggiran pagar.
"Gak mau tanya," ucap bocah itu, seolah tidak tertarik lagi tentang kapal.
Aku tidak bisa memaksakan perasaan Ahin, dari kecil tidak kenal Wikra, wajar kalau tidak suka. Tapi seiring berjalannya waktu, Ahin pasti bisa menerima Wikra sebagai ayahnya, karena hal itu tidak bisa dipungkiri.
Kapal mulai bergerak, suaranya menggaetnya Ahin, bocah itu melihat sekitar. Dia melihat daratan yang mulai menjauh. Wajahnya kembali kagum. Tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya tentang kenapa kapal tidak tenggelam dan bisa bergerak di tengah lautan.
"Ahin mau keliling kapal?" tanyaku.
Bocah itu mengangguk, ia bersemangat. Aku ingin memperlihatkan banyak hal dan membuat kenangan indah bersamanya.
Aku memberitahu Ahin nama Ayahnya. Supaya dia tidak memanggil Ez ayah. Juga agar ketika nanti bertemu Wikra, Ahin tidak terkejut.
Kening Ahin berkerut ketika pertama kali mendengar nama Wikra. Anak itu tidak menyukainya. Apapun yang berhubungan dengan ayah kandungnya membuat Ahin kesal.
"Wikramawardhana, itu nama Papanya Ahin."
"Nama Papa Ahin Es."
Aku menggeleng, sekali menegaskan nama ayahnya adalah Wikra bukan Ezhar.
"Ahin harus mengingat nama Papa Wikra."
"Ahin gak enal."
"Nanti di Jakarta Ahin bakal ketemu Papa."
"Ain mau ketemu Om Es."
"Nanti juga ketemu Om Ez. Tapi Ahin harus ketemu dulu sama Oma, Opa, Tante Reina dan Papa. Ahin harus bersikap baik sama mereka. Kalau Ahin nakal nanti Mama sedih."
Bibirnya cemberut, dia tidak menyukai orang-orang baru. Ahin merasa sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, ada aku, Bude dan Ezhar.
Pasti sulit untuknya jika semuanya tiba-tiba berubah. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menitipkan Ahin selain pada Tante Zara. Hanya beliau yang bisa menyayangi Ahin dan membesarkan dengan sepenuh hati.
Di bawah pengasuhan Tante Zara, aku yakin Ahin akan tumbuh menjadi pemuda hebat, saat aku tiada nanti, aku tidak akan khawatir lagi tentang kehidupan Ahin. Dia akan terjamin karena punya Opa dan Oma yang bisa memenuhi semua kebutuhannya serta memberikan kasih sayang.
Sekarang aku memeluk Ahin, jika bisa memilih maka aku juga ingin tetap bersamanya. Melihat Ahin tumbuh besar dengan sehat dan bahagia. Hanya saja Tuhan memisahkan kami lebih cepat.
Ahin harus tumbuh menjadi pemuda yang kuat, bahunya harus bisa berdiri kokoh tanpa aku di sampingnya.
"Mama angis?" tanyanya ketika air mataku menetes di pipinya yang tembem.
Aku segera mengusap air mataku, tersenyum kepada putraku yang menggemaskan.
"Mama cuma silau."
Kepala Ahin menoleh ke matahari yang hampir tenggelam, tangannya menunjuk ke sana. "Cepat enggelam! Jan buat Mama angis!"
Dialah putraku, tidak mengizinkan apapun menyakiti bundanya. Matahari pun diperintah.
Ahin mirip ayahnya yang suka memerintah, aku jadi ingat cerita Tante Zara ketika menamai Wikra. Katanya nama itu memiliki arti penting.
Wikramawardhana adalah nama raja Majapahit ke 5. Menantu Hayam Wuruk. Kuat, gagah dan cerdas. Tante Zara ingin anaknya tumbuh seperti itu.
Benar saja, Wikra tumbuh seperti raja Majapahit, dia sangat tampan, gagah dan cerdas. Siapapun yang melihatnya bisa langsung jatuh cinta dengan segala pesona.
Hanya saja, Wikra tidak memiliki kehangatan untuk orang sekitar. Apakah dia bisa menjadi ayah yang baik untuk Ahin? Aku tidak berharap banyak.
Bahkan sebenarnya aku khawatir kalau Wikra merawat Ahin, dia bukan suami yang baik, tidak yakin apakah bisa jadi ayah yang baik untuk Ahin.
Aku takut Wikra mengajarkan hal buruk, Ahin masih terlalu polos dan tidak mengerti tentang dunia, aku akan banyak berpesan pada Tante Zara tentang didikan Ahin.
Kapal berlabuh dua jam kemudian, kami kembali naik trevel, keluar dari kapal dan melaju di jalan tol menuju Jakarta.
Sepanjang perjalanan aku melihat ke samping, Ahin tertidur di pangkuan ku, dia kelelahan karena perjalanan panjang.
"Mbak, ini belok kanan atau kiri?" tanya Pak supir sembari menoleh ke belakang.
"Ke kiri, Mas. Lurus sampai ada rumah lantai empat pagar besi warna coklat."
"Baik."
Kami hampir sampai, jantungku berdebar kencang. Tanganku semakin memeluk Ahin yang berada di pangkuan.
Tepat setelah azan magrib, mobil trevel berhenti di depan gerbang. Rumah keluarga Wikra tidak banyak berubah. Satpam juga masih mengenaliku dan mengizinkan kami masuk. Beliau juga membawakan barang-barang kami.
"Sudah lama ndak ke sini, Non. Selama ini ke mana aja?" tanya Pak satpam, sesekali melirik Ahin yang sibuk mengamati sekitar.
"Hehe iya, Pak. Aku sibuk ngurus anak."
Kami berjalan melewati jalan kecil menuju rumah utama, semua lampu sudah dinyalakan. Rumah mewah itu membuat Ahin terpesona. Dulu aku sempat tinggal di sini beberapa hari setelah orang tuaku meninggal.
"Ini anaknya Den Wikra?"
"Iya, Pak. Tapi aku belum ngasih tahu siapapun."
"Ya Allah, selama ini Non Yifei besarin anak sendiri?"
Aku hanya tersenyum dan terus menarik koper, di atas koper ada kandang Miao Miao. Sementara tanganku satunya menggandeng Ahin.
"Kenapa Non Yifei menanggung semuanya sendiri? Kalau Nyonya Besar tahu, pasti Non Yifei nggak akan diizinkan bercerai."
"Waktu itu nggak ada pilihan lain selain pergi, Pak. Aku ngambil keputusan ini juga supaya bisa menenangkan diri."
"Tapi-- ah, saya nggak bisa berkata-kata lagi, Non."
Pak satpam membawakan koper dan tas ransel, dia masih tidak percaya aku bercerai dalam keadaan hamil. Berulang kali menyayangkan tindakan Wikra.
"Yifei!" Teriak Tante Zara begitu melihatku.
Wanita paruh baya itu berlari menuju halaman, langsung memelukku dengan erat hingga aku melepas koper. Aku mengusap punggungnya yang begitu merindukanku.
"Akhirnya kamu kembali, Tante udah kangen banget sama kamu."
"Yifei juga kangen banget sama Tante," balasku.
Pelukan dilepaskan, aku menunduk, memperlihatkan Ahin pada neneknya untuk pertama kali.
"Si kecil imut ini siapa?" tanya Tante Zara penasaran.
"Ini putraku, Ahin. Ahin cepat salim sama Oma."
Mata kecil itu berkedip ragu, perlahan dia mengulurkan tangannya yang mungil untuk salim. Sepertinya Tante Zara menyadari sesuatu. Anak kecil yang mirip Wikra.
"Be-berapa usia Ahin?"
"Tiga setengah tahun," jawabku.
"Fei... bagaimana bisa kamu ...."
Tante Zara sadar bahwa Ahin adalah cucunya. Sekilas saja terlihat bahwa wajah Ahin adalah Wikra ketika kecil. Seperti duplikat Wikra versi mini.
"Maaf Tante, aku nggak bilang sebelumnya," kataku menunduk.
Aku tak kuat melihat mata Tante Zara yang berkaca-kaca. Dia pasti marah karena aku membawa pergi cucunya. Dia pasti kecewa.
"Aku sungguh minta maaf," ulangku. Masih dengan mata menunduk. Melihat ke Ahin yang bingung.
Tante Zara menunduk dan memeluk Ahin. Dia menangis tersedu-sedu.
"Ini semua salahku karena tidak bisa mendidik Wikra dengan benar."
Dari kejauhan, aku melihat Om dan Reina keluar dari pintu rumah. Mereka bingung apa yang terjadi. Aku tidak bisa berkata apapun. Mereka semua pantas menyalahkan ku.
"Oma?" tanya Ahin ketika Tante Zara melepaskan pelukannya.
"Iya, Ahin. Ini Oma. Maaf Oma baru tahu Ahin sekarang, pasti selama ini Ahin menderita?" tanya Tante Zara lalu memeluk Ahin lagi.
Om dan Reina menatapku bingung, meminta penjelasan tentang bocah kecil di hadapan mereka.