Kenangan membawa perasaan ke masa yang sama, sekalipun jalanan Jakarta banyak berubah setelah 4 tahun. Tapi nuansanya masih sama ketika aku sibuk kuliah hingga tertinggal angkot.
Aku ingat, hari ketika aku jatuh cinta pada Wikra. Langit biru tanpa awan, angin berembus panas serta polusi membuatku batuk-batuk. Karena tertinggal angkot, aku harus merelakan uang jajan untuk naik taksi.
Semua itu demi mengikuti seminar yang ada di kampusku, pembicaranya adalah Wikra, sang pengusaha muda. Selama ini aku kenal Wikra hanya sebatas dia anaknya Tante Zara, orang yang membantu biaya kuliahku setelah orang tuaku meninggal.
Kami pernah bertemu beberapa kali saat acara keluarga, seperti lebaran atau acara yang lain. Sikapnya dingin dan tak acuh. Membuatku tidak berani mengajak ngobrol duluan.
"Tampan tapi dingin, untung cerdas."
Aku menilainya seperti itu setiap kali bertemu, kami tak banyak mengobrol, hanya saling tahu nama saja.
"Padahal aku pingin deket sama dia," gumam ku ketika dia hanya nanya kabar lalu pergi.
Seperti itulah pertemuan kami setiap lebaran, tidak saling menanyai tentang urusan pribadi, juga tidak berbasa-basi.
Padahal Tante Zara menganggap ku putrinya sendiri, tapi Wikra tidak mau akrab denganku, seakan tidak peduli.
Kuliahku juga biasa saja, usia Wikra jauh di atasku, dia orang yang terkenal, berprestasi dan sangat dibanggakan keluarga.
Sesampainya di gerbang kampus aku berlari, keringat bercucuran dan napasku terengah-engah di bawah terik matahari. Sejak tahu bahwa Wikra akan datang, aku menjadi sangat antusias dan menunggu-nunggu hari ini.
Sayangnya pekerjaan paruh waktu ku sulit diajak diskusi, aku harus selesai mengupas bawang sebelum pergi. Membuatku sangat terlambat.
Sesampainya di tempat seminar aku duduk di barisan belakang, melihat Wikra yang sudah memulai ceramahnya. Dia memakai jas biru tua dengan kemeja putih di dalamnya. Rahangnya tegas dan terlihat sangat tampan.
"Bukan masalah tinggal di negara berkembang, tapi yang jadi masalah adalah mental yang menganggap tinggal di negara berkembang tidak bisa maju. Pemikiran seperti itu yang harus ditinggalkan."
Aku mengelap keringat yang membasahi pelipis. Mulai fokus mendengar pidatonya. Napasku masih naik turun, orang di samping ku mengernyitkan, mungkin karena aku penuh keringat dan bau bawang.
"Generasi kita yang akan membuat perubahan lewat inovasi dan kreativitas," ucap Wikra di atas panggung sana. Dia sangat percaya diri bicara di depan banyak orang, seperti sudah keseharian. Dia punya jiwa pemimpin.
Aku terus mendengarkan pidatonya, dia sosok yang luar biasa. Di usia 25 tahun sudah berada di atas panggung sebagai motivator. Para dosen juga menghormatinya, katanya Wikra adalah ilmuwan, karena bisa menciptakan produk parabola digital.
Walaupun Wikra meneliti parabola demi perusahaannya, tapi penemuan itu tetap dihargai sebagai terobosan baru di dunia digital.
"Dengan bekerja keras, apapun bisa kita capai!"
Prok prok prok
Semua orang bertepuk tangan termasuk aku, baru kali ini aku mendengar suara Wikra panjang lebar. Biasanya dia begitu dingin dan irit bicara.
Dia yang berada di atas panggung, dikelilingi para mahasiswa yang mendengarkan pidatonya terlihat sangat menganggumkan.
Tanpa sadar, setelah hari itu aku terus memikirkan Wikra. Sering mencuri pandang dan memperhatikannya. Awalnya karena penasaran, lama kelamaan ingin lebih dekat dengannya.
Hanya saja Wikra seperti gunung es, sulit dipanjat dan dingin. Kadang aku berpikir dia membenciku lewat tatapan matanya. Apalagi ketika Tante Zara mengumumkan perjodohan kami.
"Bunda, Miao Miao maem." Tunjuk Ahin pada kucing kecil yang sedang makan.
Kami sedang istirahat di restoran dekat pinggiran Jakarta. Ini adalah perjalanan panjang pertama Ahin, beruntung anak itu tidak pusing ataupun mabuk. Kaki kecilnya goyah ke kanan dan kiri, dia menikmati burger sembari melihat kucing kesayangannya makan.
Kucing kecil itu sudah jauh lebih sehat dibanding pertama kali ditemukan, Ahin terlihat sangat menyayanginya.
"Ahin cepat habiskan makannya, bentar lagi kita harus berangkat."
Ahin sangat tampan, mirip sekali dengan ayahnya, anak kecil yang tidak tahu apapun ini tumbuh di antara hubungan rumit kedua orang tuanya.
"He.em." Kepala kecilnya mengangguk, aku mengelap bibirnya yang belepotan mayonaise.
Tidak ada yang menyangka aku akan melahirkan putranya Wikra, apalagi sikap Wikra padaku di awal pernikahan begitu dingin. Kupikir dia tidak akan menyentuhku.
Kalau diingat-ingat, sebenarnya dia seperti menahan diri untuk tidak menyentuhku. Tapi semua pertahanannya jebol sebulan setelah pernikahan.
Aku selalu membawa pakaian ganti ke kamar mandi, itu merupakan kebiasaan. Hanya saja hari itu aku lupa membawa baju tidur, setelah berpikir bahwa Wikra belum pulang kantor. Aku memakai handuk dan keluar kamar mandi untuk mencari baju tidur.
Sayangnya setelah aku berbalik hendak kembali ke kamar mandi, langkahku dikejutkan oleh Wikra yang menatapku.
"Apa kau sengaja menggodaku?" tanyanya, raut wajahnya marah.
Aku menggeleng, tidak ada niat sedikitpun menggodanya. Bahkan aku kira dia masih berada di kantor. Tanganku yang memegang handuk dipererat, kakiku otomatis mundur selangkah.
"Aku cuma mau ngambil barang," kataku.
Tatapannya tajam seperti elang, melihatku dari atas ke bawah. Itu membuatku risih, sungguh. Aku selalu berpakaian sopan, baru kali ini dia melihatku menggunakan handuk di atas lutut.
Aku segera berjalan melewatinya menuju kamar mandi dengan kepala menunduk, tapi tiba-tiba Wikra memelukku dari belakang. Ia membisikkan sesuatu di telingaku.
"Kalau kau mau menggoda, jangan setengah-setengah."
Dengan sekali angkat Wikra membawaku ke ranjang, permainannya kasar demi kepuasannya sendiri. Tak peduli aku menangis ataupun kesakitan.
Wikra menghentikan aksinya setelah pelepasan yang begitu kasar, membuat pangkal pahaku begitu sakit dan tidak ada kenikmatan sama sekali. Kupikir itu sudah selesai ketika Wikra memakai celananya dan menyulut rokok.
Dia duduk di tepi ranjang, memunggungiku yang masih terbaring lemas dengan penuh tanda merah di sekujur tubuh.
"Tak kusangka kau masih perawan," katanya sembari mengeluarkan asap rokok.
Ucapannya itu sungguh menyinggungku, bukan hanya mengambil kesucianku dengan kasar tapi dia juga menghina.
"Apa para wanitamu sudah nggak perawan sampai kamu pukul rata semua cewek? Kalau gitu aku merasa terhormat dibandingkan mereka."
"Tutup mulutmu!"
Wikra melempar rokok di lantai, menginjaknya hingga mati. Kalau hanya balas omongan, aku juga bisa. Hanya saja selama ini aku pilih diam untuk menghormatinya.
Wikra mendekat lagi, dia menciumku dengan kasar. Mulai menjelajahi tubuhku yang masih nyeri. Untuk kedua kalinya dia memasukiku dan membuat penuh di dalam sana. Aku hanya bisa meremas sprei dengan mata tertutup, berharap semuanya berakhir dengan cepat.
Sejak hari itu, setiap Wikra ingin maka dia akan menggauliku. Kadang kasar hingga aku kesakitan, kadang lembut sampai aku bisa ikut menikmati, semua tergantung suasana hatinya.
Hingga datanglah benih Wikra dalam rahimku yang sekarang menjadi Ahin, putra kesayanganku yang begitu menggemaskan.