Aku memejamkan mata sejenak, ke Jakarta berarti bertemu Wikra lagi. Hatiku berdesir, sudah lama menutup mata tentang keadaan Wikra. Kali ini rasa penasaranku tidak dapat dihentikan.
Bagaimana kabar mantan suamiku, apakah dia bahagia dengan Yumna? Berapa anak yang mereka miliki? Apakah ada anak Wikra yang seumuran Ahin? Sepertinya mulai sekarang aku harus mendidik Ahin untuk menjadi seorang kakak.
"Apa kita nanti Ahin bisa akrab sama keluarga baru Wikra?" gumanku. Rasanya nyeri.
Anak-anak Wikra dan Yumna berarti adik Ahin, kuharap mereka bisa tumbuh besar dengan akur. Aku tidak berharap banyak Wikra menyayangi Ahin seperti dia menyayangi anak-anak dari Yumna.
Cukup mengakui Ahin sebagai anak, mengizinkan Ahin memanggilnya Ayah dan mengajak Ahin makan bersama setiap ulang tahunnya. Semoga permintaanku itu disetujui Wikra.
"Dia pasti membenci Ahin seperti membenciku," ucap ku lagi. Masih melihat ponsel.
Kesenjangan kasih sayang antara Ahin dan anak-anak Yumna membuat hatiku sakit, membayangkannya saja pasti membuatku ingin hidup kembali.
Aku sangat takut anakku terluka, merasa tidak diinginkan ayahnya dan itu melihat saudaranya. Kalau bisa memilih, aku akan tetap hidup seperti ini bersama Ahin.
"Bunda, pipis." Ahin memanggil ku, membuat lamunanku tersadar.
Aku meletakkan ponsel, tidak jadi melihat internet. Menoleh ke belakang dan mendapati putraku duduk sembari mengucek matanya.
"Ahin mau pipis?" tanyaku.
Dia mengangguk, aku segera membantunya turun dari ranjang dan masuk kamar mandi. Secerdas apapun Ahin, dia hanyalah anak kecil. Sikapnya polos, pemikirannya sederhana dan badannya lemah.
Aku suka sekali melihat ekspresi Ahin ketika mengantuk seperti ini, pipinya yang tembem terlihat begitu imut. Bibirnya kecil berwarna merah muda.
Setelah selesai pipis dia kembali berbaring, memeluk boneka Spongebob pemberian Ezhar. Kembali ke dunia mimpi.
Selama ini, Ahin tidak pernah menanyakan keberadaan ayahnya. Pernah suatu hari aku mendengar dia ditanya temannya tentang keberadaan ayah. Ahin menjawab bahwa Ez adalah ayahnya.
Aku menegurnya, jangan menganggap Ezhar sebagai ayah. Tetapi Ahin malah marah dan merajuk. Dia sulit dikendalikan kalau mengenai Ezhar. Aku mewajari hal itu karena Ezhar adalah sosok ayah untuk Ahin.
"Om Ez bukan ayahnya Ahin," kata ku memberitahunya, itu adalah sebuah fakta.
Aku takut orang akan bergosip dan karir Ezhar akan goyah, aku tidak bisa membalas kebaikan Ezhar, jadi setidaknya aku tidak ingin membuatnya susah.
"Om Ez bilang, boleh." Bocah itu menyangkal.
"Boleh apa?" tanyaku tidak mengerti.
"Boleh ayah, om Ez ayah Ahin."
Ah, mungkin maksudnya Ezhar mengizinkan Ahin menganggapnya ayah. Sebagai anak yang tumbuh di lingkungan dekat tentang seperti ini.
Pertanyaan siapa ayah Ahin pasti membuatnya bingung, Ezhar sering ke sini, orang-orang juga sudah kenal Ezhar dari kecil karena kerabatnya ada yang di sini.
"Walaupun boleh tapi Ahin nggak boleh kayak gitu, nanti Om Ez bisa dapat masalah, Ahin nggak mau 'kan kalau Om Ez kena masalah?" tanyaku lembut.
"Om Ez masalah gak sini lagi?" tanya Ahin, raut wajahnya berubah sedih.
"Iya, kalau Om Ez kena masalah, dia akan susah buat ke sini lagi."
"Om Ez gak boleh masalah!"
Aku tersenyum, mengusap kepala Ahin. Dia anak yang cerdas dan mudah memahami sesuatu. Hanya saja sifat keras kepalanya mirip sekali dengan Wikra.
Sama seperti Wikra, Ahin sangat cerdas dan melindungi orang yang disayangi, Wikra berani menentang keluarganya demi Yumna. Padahal Ayahnya pernah mengancam tidak akan mewariskan perusahaan jika Wikra menyakiti ku. Tapi tidak hanya menyakiti ku, dia juga menceriakan ku serta mengusir.
"Suatu hari nanti, Bunda akan mengajak Ahin ketemu sama ayah."
Ahin menggeleng.
"Mau mau!"
"Kenapa?"
"Ayah Ahin Om Es, Om Es baik."
"Ayahnya Ahin juga baik kok."
"Nggak suka."
"Nanti kalau udah ketemu Ahin akan suka."
Ahin tetap bersikeras tidak mau, dia lebih suka menganggap Ezhar sebagai ayah dari pada mencari ayahnya sendiri. Ini cukup sulit. Tapi seiring berjalannya waktu, aku yakin dia mau.
Apalagi sekarang kami akan kembali ke Jakarta, menghadapi masa lalu dan menatap masa depan untuk Ahin sebelum aku pergi dari dunia ini.
Malam itu rasa penasaran tentang Wikra aku redam, tidur di samping Ahin sembari memeluknya. Aku takut jika melihat kebahagiaan Wikra dengan wanita lain, hatiku kembali goyah.
Keesokan harinya kegiatanku dimulai seperti biasa, Tante Zara terus menghubungi, katanya dia tak sabar berjumpa denganku. Berulang kali dia minta maaf atas sikap kurang ajar Wikra.
"Si bodoh itu sudah dapat karma, kamu harus segera melihatnya." Tante Zara mengomel tentang Wikra di telepon.
"Dapat karma gimana, Tan?"
"Tepat seminggu sebelum si bodoh menikahi Yumna, wanita gila itu ketahuan selingkuh. Akhirnya pernikahan mereka batal. Tante puas banget liat Wikra hancur setelah nyakitin kamu."
"Gimana pun Wikra anak Tante," jawabku.
Berarti sekarang Wikra lajang, dari pada Yumna memang lebih baik Wikra mencari perempuan yang bisa menyayangi Ahin.
"Kalau bisa tukar tambah anak, pingin Tante tukeran Wikra sama kamu."
Aku tertawa mendengarnya, dari dulu Tante Zara tidak berubah, ia lebih menyayangiku dibandingkan Wikra. Katanya anak yang terlalu jenius tidak peka dan hanya melihat semuanya berdasarkan logika.
"Da, Ain nemu mao," ucap Ahin mengagetkanku.
Bocah itu membawa kucing kecil lusuh dan kotor.
"Itu siapa, Fei?" tanya Tante Zara mendengar suara Ahin.
"Anu itu Tan, udah dulu ya, wassalamu'alaikum."
Aku segera mematikan telepon, 3 hari lagi ke Jakarta. Aku ingin memberitahu soal Ahin ketika di sana saja. Tidak ingin membuat kepanikan lebih awal.
Ahin mendekat, wajahnya memelas sembari memegang ekor kucing kecil. Selama ini aku tidak mengizinkan Ahin memelihara hewan, pasalnya takut dibuat percobaan oleh Ahin yang rasa ingin tahunya tinggi.
"Ahin nemu mao di mana?"
"Celokan, asihan."
"Kalau Ahin mau merawat mao, Ahin harus jaga baik-baik, tidak boleh pegang ekornya kayak gitu."
Aku mengambil kucing kecil yang meraung kesakitan, Ahin mengangguk. Sepertinya memiliki hewan peliharaan tidak buruk. Setelah kepergianku, Ahin akan sibuk mengurus kucing.
"Ahin paham nggak?"
"Ain aham," jawabnya. Bola matanya bulat berwarna hitam.
Anggota keluarga kami bertambah, Ahin memanggil si anak kucing dengan Miao Miao. Dia ikut merawat dan memandikan. Saat aku memberi obat ke kucing, tangan kecil menutup mulut. Ahin tidak suka obat.
Waktu berjalan cepat, hari kepergian kami ke Jakarta tiba. Aku berpamitan kepada tetangga dan Bude.
"Ahin harus sering berkunjung, ya?"
"Ain pelgi iat onas."
Anak itu tidak paham bahwa akan meninggalkan rumah ini selamanya, dia hanya berpikir pergi ke Jakarta untuk lihat Monas.
Bude mencium Ahin kanan dan kiri, putraku itu memejamkan mata karena risih semua wajahnya dicium. Aku berpamitan kepada Bude, memeluknya erat.
"Makasih Bude buat semuanya," kataku.
"Kamu sudah Bude anggep anak sendiri, jaga diri baik-baik, kalau keluarga sana jahat sama kamu. Pulanglah ke sini."
"Iya, makasih banyak."
Kami melepas pelukan, supir trevel memasukkan koper ke mobil. Sekali lagi aku melihat pesisir pantai. Menghirup udara dalam-dalam sebelum bertempur dengan masa lalu. Yakni Wikra, ayahnya putraku.